
Resepsi pernikahan Wisnu dan Alana malam ini lebih mewah dibanding resepsi pagi tadi. Mungkin karena tamu yang diundang dari kalangan pejabat, pengusaha dan juga selebritis. Maka Ambar ingin menunjukkan jati diri keluarga Mahendra, yang menurut Wisnu tidak perlu.
Konsep pesta sangat jauh dari keinginan Alana, yang suka dengan kesederhanaan. Tapi Alana tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Selaon memyahkan dirinya sendiri yang telah menyerahkan semua masalah pernikahan dan rangkaian acara pada Sandra dan Ambar. Jadi dia harus terima, kan.
"Capek sayang?" tanya Wisnu pada Alana disela-sela mereka menyalami tamu.
"Sedikit." jawab Alana.
Untuk saat ini rasa lelahnya memang belum seberapa. Entah tiga puluh menit yang akan datang, atau satu jam kemudian. Apa Alana masih kuat menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang begitu banyak?
Melihat barisan panjang yang akan memberikan selamat pada mereka, Alana merasa tidak yakin. Saat ini saja kakinya sudah pegal dan selalu berpegangan pada Wisnu agar tidak terjatuh. Ini saja Alana sudah memakai sandal yang berhak rendah, karena memiliki tinggi badan yang tidak terlalu jauh dari Wisnu. Bagaimana kalau dia harus mengenakan sandal dengan hak tinggi? Mungkin tidak akan sanggup berdiri lagi.
"Jangan memaksakan diri. Kalau kamu lelah kita kabur saja." bisik Wisnu yang membuat Alana terkekeh.
Bagaimana suaminya bisa berpikiran untuk kabur dari acara resepsi peenikahan mereka. Apa suaminya lupa dengan banyaknya wartawan yang meliput dan juga sebagai undangan.
"Emang bisa, Bang?" ucap Alana menggoda suaminya.
"Kenapa tidak? Kan ada alasan karena kamu sudah tidak kuat." balas Wisnu.
"Abang kali yang tidak kuat?" sahut Alana lagi.
"Hemm. Tidak kuat untuk makan kamu." bisik Wisnu.
Alana memalingkan wajahnya. Bahaya pembicaraan mereka kalau diteruskan. Sudah sejak bagun tidur, Wisnu terus bicara tentang malam yang akan mereka lewati. Tidak tahukah suaminya itu, Alana jadi merasa tidak sempurna untuk Wisnu, mengingat ini bukan pengalam pertama ibu Arkana itu.
Barisan tamu yang ingin memberikan ucapan selamat, kembali menaiki pelaminan setelah di tahan sejenak untuk memberikan waktu pada Alana dan Wisnu untuk istirahat.
Wisnu merasakan Alana menguatkan rangkulan tangannya dilengan Wisnu, "Ada apa sayang?" tanyanya pada sang istri.
Alana menggeleng, dia hanya reflek melakukannya karena melihat Abimana berada dibarisan tamu yang akan memberikan selamat padanya. Abimana tidak sendiri, dia bersama Naren, Arman dan seorang wanita yang sepertinya pengganti Luci. Karena Alana melihat wanita itu merangkul lengan Arman dengan posesif.
"Selamat untuk pernikahan kalian, semoga samawa." ucap Arman yang merasa tidak punya masalah pribadi baik dengan Alana maupun Wisnu. Berbeda dengan dua pria yang ada dibelakangnya, yang pernah punya masa lalu dengan Alana.
"Terimakasih." Wisnu yang menjawab sambil menerima uluran tangan Arman. Sementara Alana hanya tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Abimana ikut menangkupkan kedua telapak tangannya pada Alana. Tahu diri, bahwa dia sudah tidak lagi bisa menyentuh Alana seperti dulu. Tidak ada satu katapun yang terucap dari pria itu. Karena Abimana tidak tahu, apa yang harus dia sampaikan pada Alana. Tidak mungkin kan dia meminta Alana membatalkan pernikahan ini dan kembali padanya?
Sebenarnya Abimana sudah memutuskan untuk tidak menghadiri undangan keluarga Mahendra. Tapi dia dipaksa dan ditarik keluar kamar oleh Arman dan Naren untuk turun ke ballroom hotel, dimana resepsi pernikahan Alana dan Wisnu berlangsung.
__ADS_1
"Sudah sampai disini, mengapa tidak hadir. Jangan melow jadi laki-laki." ucap Arman.
Calon mantan suami Luci itu menghampiri kamar Abimana. Tujuannya untuk menegur duda dari Alana itu, yang sudah berani mengabaikan wanita yang dia kirim untuk menemani Abimana. Bukan Abimana yang membukakan pintu kamar hotel Abimana, melainkan Naren.
"Udah bener gue kasih cewek cakep, masih gress pula. Barang baru itu, belum gue pake. Malah dianggurin." ucap Arman yang mendapat tatapan tajam Naren.
Naren tidak suka ajaran sesat Arman pada Abimana. Status Naren juga duda, sama seperti Abimana. Tapi bukan berarti bisa tebar benih seenaknya. Karena itu, Naren berani menjalin hubungan dengan Inaya. Dia pria baik-baik, hanya nasibnya saja yang tidak baik, gagal menikah dengan Alana.
"Nggak perlu bawa perempuan untuk menghadiri resepsi pernikahan Alana, Bi. Cukup tunjukkan wajah, tanda kamu mendoakan dia bahagia." ucap Naren menasehati.
"Setelahnya, buka hati kamu untuk menerima cinta yang lain." ucap Naren lagi.
"Cepat ganti pakaian Lo, bro." ucap Arman menimpali.
Dan disinilah akhirnya Abimana berada. Seperti saran Naren, cukup tunjukkan wajah bahwa dia mendukung Alana untuk bahagia.
***
Disisi lain hotel, ada sepasang ibu dan anak tengah menyusun rencana. Karena rencana mereka untuk menerobos masuk ke area resepsi pernikahan Alana dan Wisnu gagal mereka lakukan.
"Gimana? Bisa kita masuk?" tanya Tania.
Tidak ada satupun orang, mau membantunya masuk kedalam ballroom hotel tempat resepsi Alana dan Wisnu berlangsung. Orang yang sebelumnya berjanji akan megajaknya menghadiri resepsi tersebut mangkir dari janjinya. Dan sekarang Helen harus mencari cara sendiri untuk bisa masuk.
Jelas saja dia dilarang masuk. Helen dan ibunya punya rencana jahat untuk merusak acara resepsi pernikahan Alana dan Wisnu. Alasannya sakit hati ditinggal Wisnu yang seharusnya menikah dengannya.
Sakit hati? Sepertinya ada yang salah di pikiran Helen. Bukankah dia punya Amar selama ini?
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya David.
"Papa!" seru Helen senang dan menatap sang papa dengan berbinar. Seolah dia anak kecil yang mendapatkan hadiah dari ayahnya.
"Kami mau masuk ke acara resepsi itu." tunjuk Helen pada ballroom yang penuh dengan para tamu undangsn.
"Tapi kami lupa bawa undangan." ucap Helen lagi.
"Undangan?" beo David.
"Iya." jawab Helen. Sementara matanya mencari sosok istri sah David.
__ADS_1
"Mama Amara nggak ikut, Pa?" tanya Helen.
"Dia masih mengunjungi abang kamu." jawab David.
Helen mengangguk paham. Sementara Tania hanya diam saja. Tidak berani menegur mantan suami sirihnya itu. Rasa bencinya pada laki-laki ini tidak akan pernah hilang. Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan habis manis sepah dibuang. Dalam hati dia merasakan iri pada istri sah David yang hidupnya terlihat sangat bahagia. Wanita itu masih suka keluar negeri. Apa tidak takut suaminya selingkuh lagi?
"Kebetulan sekali. Papa bisa ajak aku untuk temani Papa. Bagaimana?" ucap Helen memberikan tawaran.
David terkekeh. Apa dia orang yang bisa dibohongi? Tentu saja David tahu jika putri dan mantan istri sirihnya itu tidak diundang oleh keluarga Mahendra.
"Papa tidak sendiri." jawab David.
"Sayang." suara seorang wanita memanggil David.
"Siapa dia, Pa?" tanya Helen menyelidik pada wanita yang memanggil sayang pada papanya.
"Baru saja aku katakan. Apa Amara tidak takut suaminya selingkuh lagi?" batin Tania sambil memperhatikan wanita yang dirangkul mantan suaminya sirihnya yang buaya itu.
"Ini istri Papa." jawab David tanpa merasa bersalah.
"Sayang, ini putriku yang bernama Helen." ucap David lagi memperkenalkan istri barunya.
Helen hanya bisa melongo melihat pada David yang semakin menjauh. "Dasar buaya darat." ucap Helen megumpat sang papa.
David masuk kedalam ballroom hotel bersama istri barunya. Dia langsung mengikuti barisan yang ingin memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
Begitu sudah dekat di pelaminan, dia menerobos barisan. Menepuk punggung seseorang yang sangat dia kenal.
Meeasa punggungnya ditepuk seeorang, Abimana menoleh dan terkejut melihat pria yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Paman." ucap Abimana pada adik ibunya.
"Alana!" seru David. "Kamu hebat, akhirnya bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya dari Abimana." ucap David.
Entah apa maksud David mengucapkan kata yang merendahkan Abimana? Atau untuk mengejek Alana?
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1