Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 59. Bayangan Hitam


__ADS_3

Jika Abimana bisa dengan legowo menerima Alana untuk menambatkan hatinya pada pria lain, tidak dengan Aditya. Ayah kandung Arkana itu tetap berusaha untuk mengikat Alana.


Aditya lupa, jika menikah itu buka hanya terikat oleh anak saja. Banyak hal lain yang harus dipikirkan, terutama masalah sebongkah daging yang bernama hati.


Memang tidak masalah untuk Aditya, karena dia mecintai Alana. Tapi tidak bagi ibu Arkana itu. Tidak ada cinta untuk Aditya. Selama ini Alana dekat dan bersikap baik pada Aditya, semata karena dia menghargai hubungan mereka sebagai saudara ipar. Tidak lebih dari itu.


Begitu semuanya terbongkar, Alana merasa Aditya adalah bayangan hitam dalam hidupnya. Pria yang dia anggap baik itu, adalah pria yang sudah melecahkan dan merendahkan dirinya.


Harusnya Aditya bisa belajar dan melihat apa yang terjadi pada Abimana. Hanya karena tidak percaya pada Alana, kakaknya itu digugat cerai ibu Arkana itu. Meskipun Abimana adalah pria yang dicintai Alana. Apa lagi dirinya yang sudah, berbuat kesalahan. Nama Aditya bahkan masuk dalam daftar hitam bagi Alana.


Setelah menitipkan mainan untuk Arkana, Aditya menyempatkan berbincang dengan dengan pak Agus. Dia bertanya tentang Alana tentunya. Apa saja yang terjadi dengan wanitanya dan bagaimana kehidupan Alana setelah bercerai.


Sayangnya kabar buruk yang Aditya dapatkan. Alana akan menikah dalam waktu dekat ini. Itu yang pak Agus sampaikan padanya. Tapi pak Agus tidak ingin memberitahu Aditya, siapa calon suami wanita yang dia cintai itu.


Bukan tidak ingin memberitahu, karena pak Agus sendiri memang tidak tahu Alana akan menikah dengan siapa. Rendi, Dirga dan Wisnu hanya berpesan untuk mengatakan bahwa Alana akan menikah lagi setiap ada yang bertanya tentang ibu Arkana itu tanpa memberitahu siapa calon suaminya.


"Janur kuning belum melengkung." gumam Aditya begitu terjaga dari mimpinya, mimpi tentang Alana yang berada dalam pelukannya.


Aditya lalu tersenyum, "Yang sudah melengkung saja bisa aku nikmati." ucapnya.


Senyum itu hanya sesaat menghiasi wajah Aditya. Setelahnya dia berpikir. Apa yag dia ucapkan tadi terjadi saat Alana masih menjadi kakak iparnya. Sekarang Alana akan menikah dengan orang yang Aditya tidak tahu siapa. Tentu saja dia tidak bisa melakukan hal yang sama. Maka dari itu, satu-satunya cara adalah menikung pria yang jadi calon suami Alana.


"Cari tahu siapa calon suami Alana." ucap Aditya pada seseorang yang dia percayakan untuk mengawasi dan menyelidiki Alana.


Tidak hanya membayar orang untuk mencari tahu siapa calon suami Alana. Aditya pagi ini kembali menemui Alana. Tentu saja dengan Arkana sebagai alasannya.


***


"Jadi siapa orangnya?" tanya Wisnu pada Rendi.


"Menurut pak Agus, mengakunya papanya Arka." jawab Rendi.


"Abimana?" Bukan bertanya, Wisnu hanya ingin meyakinkan saja.

__ADS_1


Rendi menggeleng, "Arka memaggil Abimana dengan panggilan ayah. Mungkin dia Aditya." ucap Rendi.


Baru saja Rendi selesai menyebut nama Aditya, pak Agus berlari menemui Rendi dan Wisnu.


"Den, di depan ada papanya den Arka." ucap pak Agus.


Rendi menggelengkan kepala, "Kenapa lari? Kenapa Pak Agus tidak pakai telepon di pos?" tanyanya pada pak Agus.


Pak Agus menepuk keningnya, "Karena papanya den Arka datang lagi, saya jadi lupa." jawab pak Agus jujur.


"Papanya Arka berkunjung mau apa?" tanya Wisnu.


"Katanya kangen sama den Arka. Orangnya masih saya minta tunggu diluar." jawab pak Agus sambil menjelaskan dimana Aditya sekarang berada.


"Bagaimana Nu?" tanya Rendi meminta pendapat Wisnu.


"Tanyakan pada Alana saja." jawab Wisnu.


Rendi mengangguk setuju. Ini tentang Arkana, tentu Alana lebih berhak memutuskan segalanya dari pada mereka berdua.


"Baik Den." jawab pak Agus dan langsung kembali ke pos tempat dia bertugas.


"Tidak perlu lari." teriak Rendi begitu melihat gerakan pak Agus yang siap berlari.


Rendi dan Wisnu bangkit dari sofa ruang keluarga yang mereka duduki. Keduanya naik ke lantai dua dengan tujuan yang berbeda.


"Al." panggil Rendi sambil berjalan mendekati adiknya yang sedang menemani Arkana bermain.


Berbeda dengan Rendi, Wisnu segera mengambil Arkana, membawa bayi laki-laki itu keluar dari kamar bermain agar tidak mendengarkan percakapan antara Rendi dengan Alana.


***


Mata Aditya terlihat sendu saat menatap Arkana yang tidak mau memanggilnya 'papa'. Putranya itu bersikukuh memanggil Aditya 'om' seperti biasanya.

__ADS_1


Tanpa Aditya tahu, semua karena peran Wisnu yang tidak ingin Arkana memanggil Aditya dengan panggilan 'papa'. Cukup Arkana tahu hanya dirinya saja ayahnya Arkana, tidak ada yang lain.


Terkesan egois memang. Tapi Wisnu punya alasan mengapa dia melakukannya. Wisnu memikirkan perkembangan Arkana yang belum waktunya tahu permasalahan orang tua. Karena dia yang akan menikah dengan Alana, jadi biarkan Arkana untuk sementara tahu bahwa Wisnulah ayahnya.


"Jangan dipaksa lagi Dit." ucap Rendi saat Aditya terus meminta Arkana memanggilnya papa.


"Kamu memang ayah biologisnya, tapi kamu bukan sosok ayah yang baik untuk Arkana. Kelakuan kau sungguh bukan contoh yang baik. Kasihan sekali keponakanku ini." ucap Rendi.


Rendi lah yang akhirnya membawa Arkana menemui Aditya di ruang tamu. Tentunya setelah Alana mengizinkan Aditya untuk menemui Arkana. Mau sebenci apapun Alana terhadap Aditya, namun tidak bisa memungkiri dalam tubuh Arkana ada darah Aditya. Alana tidak ingin berdosa, akhirnya dia mengizinkan Aditya menemui Arkana. Dengan catatan hanya Arkana, bukan dirinya. Karena itulah, Alana meminta Rendi yang menemani Arkana bertemu ayah biologisnya.


Sementara Alana memilih untuk berdiam diri di kamarnya, tanpa ada niatan sedikit pun untuk menemui Aditya. Entah sampai kapan dia terus menghindari laki-laki itu. Mungkin setelah ada sosok lain yang bisa melindunginya dari perbuatan gila Aditya yang mungkin saja kembali laki-laki itu ulangi lagi.


Wisnu sendiri kembali ke kamar bermain Arkana, setelah Rendi mengatakan bahwa Alana mengizinkan Aditya menemui Arkana. Tentu saja dengan sedikit perdebatan antara Rendi dan Alana, sampai ada kata sepakat diantara mereka berdua.


Sedangkan Wisnu, selama Rendi dan Alana bicara, dia menyempatkan untuk melatih Arkana untuk terus memanggilnya daddy.


"Saya ingin bicara dengan Alana." ucap Aditya setelah merasa tidak ada tanda-tanda Alana akan turun menemuinya.


"Sampaikan saja pada saya." jawab Rendi.


"Ini masalah saya dengan Alana." balas Aditya.


"Masalah Alana itu berarti masalah saya. Tepatnya setelah kamu mengacaukan hidupnya" sahut Rendi.


"Maaf." balas Aditya. Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.


Biarlah dia sekarang merendahkan dirinya pada Rendi, agar pria itu mau mendukungnya bersatu dengan Alana. Lebih baik dirinya yang sudah Rendi kenal dari pada pria lain yang tidak dikenal yang akan menikah dengan Alana.


"Masalahnya tidak selesai hanya dengan permintaan maaf kamu yang bahkan sudah sangat terlambat." balas Rendi yang membuat Aditya kehabisan kata-kata.


Aditya ingin sekali menyangkal dan melawan. Sayangnya apa yang keluar dari mulut Rendi benar adanya. Dia sangat terlambat untuk minta maaf dan perbuatan gilanya itu justru melukai Alana. Aditya tahu dan menyadarinya.


Namun, bukan aditya namanya jika dia harus mengalah begitu saja. Apapun halangannya, Aditya akan terus berusaha.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2