
Alana membuka mata, melihat dinding dimana sebuah jam terpajang disana.
"Sudah jam empat." gumam Alana.
Itu berarti sudah dua jam dia menikmati tidur siangnya. Tidur yang terbilang cukup lama, karena sebelumnya Alana tidak pernah tidur siang selama ini. Apa lagi dulu saat dia masih bekerja, tidak ada jadwal tidur siang untuknya.
Semenjak Arkarna lahir, Alana mengikuti jadwal tidur putranya. Itupun hanya sebentar saja, karena Alana akan mengerjakan pekerjaan yang lain saat Arkana tidur. Mengurus tokonya yang menjual pakaian anak-anak dan perlengkapan bayi.
Melihat kesamping, "Arkana!" teriak Alana karena putra kesayangannya sudah tidak ada disampingnya.
Bergegas Alana turun dari tempat tidur. Merapikan pakaiannya lalu keluar dari kamar.
"Ar...."
Alana menghentikan panggilannya untuk mencari Arkana. Bayi gembul itu sedang tertawa bersama Wisnu.
"Siapa yang membawa Kana keluar dari kamar? Tidak mungkin Wisnu berani masuk ke kamarnya, kan?" tanya Alana didalam hati.
"Bu." panggil Arkarna yang melihat kehadiran Alana.
"Iya sayang, ibu tidurnya lama ya." ucap Alana merasa malu sendiri. Apa lagi saat ini Wisnu menatapnya tidak biasa.
"Kamu pasti lelah dan kurang tidur sampai bisa pulas seperti tadi." sahut Rendi yang berdiri dibelakang Alana.
"Abang! Bikin kaget aja." tegur Alana yang memang terkejut mendengar suara Rendi yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya.
"Sekarang kaget. Tadi di goyang-goyang Arka biar bangun, kamunya nggak bangun-bangun." sahut Rendi.
"Ya namanya juga tidur." balas Alana lalu kembali berjalan ke kamarnya.
Yang penting Arkana aman. Alana hanya ingin memastikan itu saja. Jadi dia bisa kembali ke kamarnya untuk mandi dan menjalankan kewajibannya sebagai muslim.
Wisnu hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh itu. Wajah Alana yang baru bagun tidur jauh terlihat lebih cantik dengan rambut yang bisa dikatakan berantakan.
"Astaghfirullahal'adzim" Alana baru tersadar jika dia keluar kamar tanpa menggunakan hijab. Mana terpikirkan juga olehnya jika ada Wisnu diluar sana. Alana menutup wajahnya. Pantas saja tatapan Wisnu berbeda, itu pasti karena pria itu melihatnya tanpa hijab.
"Dapat bonus lu hari ini." tegur Rendi pada Wisnu.
Wisnu tersenyum, "Nanti juga aku bisa lihat semuanya." sahutnya.
"Jagan terlalu percaya diri. Kamu belum datang dan meminta Alana padaku." balas Rendi.
"Aku pasti melakukanya. Jika saja tidak ada aturan yang menghalangi, sekarang juga aku akan membawa ayah, kakek dan nenek ku untuk datang melamar Alana." jawab Wisnu.
"Ibumu tidak kamu sebutkan?" tanya Rendi curiga.
__ADS_1
"Aku belum bicara dengannya." jawab Wisnu menghalau kecurigaan Rendi.
"Pastikan ibumu memberi restunya." ucap Rendi.
Wisnu tidak lagi membalas ucapan Rendi. Dia tidak ingin merusak suasana hatinya yang setelah bertemu Arkana menjadi membaik menjadi buruk lagi dengan membicarakan Ambar.
Untung saja salah satu klien meminta penjadwalan ulang untuk bertemu. Sehingga Wisnu mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke kediaman Dirga sore ini. Walau Wisnu tidak bisa mengajak Arkana pergi bermain di tempat permainan anak-anak seperti janjinya.
Bukan waktunya yang tidak ada, tapi Rendi melarangnya. Rendi tidak ingin, baik Alana maupun Arkana terlihat pergi dengan pria lain selain dirinya. Biarkan urusan perceraian Alana selesai dulu, Wisnu harus bersabar dan memahami itu.
Suasana yang hening sesaat dipecahkan oleh suara dering ponsel milik Rendi. Nama salah satu orang yang dia tugaskan untuk menjaga Rachel yang menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Rendi.
"Bos, ada kendaraan yang mencurigakan. Sejak tadi mereka bolak balik saja, terlihat seperti mengintai tempat kita." ucap Putra memberikan laporan terbarunya.
"Cari tahu siapa mereka. Minta bantuan dari luar untuk mengawasi. Dan cari tahu siapa yag mengirim mereka." balas Rendi memberi perintah.
"Ada apa?" tanya Wisnu.
"Wanita yang kau kirim fotonya kemarin. Dia mantan kekasih Abimana. Bukan hanya itu, dia juga bermasalah denganku. Dia sahabat Amel dan dia orang yang selama ini menghasut Amel membenci adikku." jawab Rendi menjelaskan.
"Lalu?" tanya Wisnu lagi.
"Dia aku tahan di rumah kediaman orang tua kami. Orang-orang ku berjaga disana. Tapi baru saja mereka melaporkan, bahwa ada kendaraan yang mencurigakan mengintai kediaman orang tuaku." ucap Rendi.
"Untuk sementara biar orang-orang ku saja dulu."
Wisnu mengangguk, dia menghormati keputusan Rendi. Tapi dia tidak akan lepas tangan begitu saja. Mendengar nama Rachel yang membuat Amel membenci Alana, maka Wisnu akan meminta orang-orangnya ikut memantau keadaan disana.
***
Setelah mendapatkan lokasi dimana Rachel berada, Cintia segera menghubungi orang yang biasa dia kirim untuk mengawasi Aditya. Meminta orang itu menemukan lokasi Rachel disandera dan menyelamatkan sepupunya yang selalu saja merepotkan itu.
Tapi Cintia tidak bisa mengabaikan Rachel hadapi begitu saja. Karena sepupunya ini, orang yang dapat Cintia andalkan dan dipercaya untuk membantunya menjalankan usaha yang sedang dia rintis.
"Kediamannya dijaga bos. Kita tidak tahu berapa jumlah mereka." ucap orang kepercayaan Cintia.
"Saya tidak mau tahu. Lakukan apa saja untuk mengeluarkan saudara saya dari sana. Bila perlu kamu bisa meminta bantuan temanmu yang lain" balas Cintia memeberikan perintah.
"Baik Bos, akan saya lakukan." sahut pria itu dari seberang sana.
Cinta menutup panggilan teleponya lalu menoleh kebelakang, dia sekarang berada di balkon yang ada dikamar Aditya. Melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam kamar, Cintia tidak menemuka keberadaan Aditya. Berarti prianya belum keluar dari kamar mandi.
"Lama sekali." gumam Cintia sambil melihat sekitar.
__ADS_1
Tempat tidur yang mereka tempati masih sangat berantakan akibat permainan panas mereka. Sudah dua hari Cintia berada di apartemen dokter muda ini. Aditya tidak mengusirnya, tidak juga menahannya. Dan Cintia sudah biasa dengan sikap pria tampan itu.
Cintia memeriksa ponselnya. Dia tadi memesan makanan untuk makan malam dia dan Aditya. Posisi kurir yang membawa pesanannya sudah berada di apartement ini. Segera saja Cintia keluar dari kamar untuk mengambil pesanannya.
Bersamaan dia keluar dari kamar, bel apartement berbunyi. Merasa sudah yakin itu kurir yang membawakan pesanannya, tanpa mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu, Cintia langsung saja membuka pintu apartement Aditya.
"Apa yang kamu lakukan di apartement putra saya?" tanya Ajeng pada Cintia yang berdiri kaku karena kehadiran ibu dari pria yang dia cintai.
"Silakan masuk dulu tante." ucap Cintia akhirnya, setelah sekian detik dia berdiam diri tanpa suara.
"Tanpa kamu persilakan saya pasti akan masuk. Ini apartement putra saya, buka apartement milik kamu. Jadi apa yang kamu lakukan di apartement putra saya?" ucap Ajeng mengulangi pertanyaannya.
"Tidak ada Tante, saya hanya mengunjungi Aditya." jawab Cintia.
"Dimana anak i...?"
"Bunda." panggil Aditya.
"Dasar anak nakal." ucap Ajeng sambil memukul punggung Aditya.
"Kamu bilangnya mencintai Alana. Tapi apa yang Bunda lihat sekarang!" ucap Ajeng lagi.
"Aku memang cintanya sama Alana, Bunda." jawab Aditya.
"Lalu kenapa ada wanita ini di apartement kamu?"
"Dia...."
"Tidak bisa jawab kan, kamu!" seru Ajeng, karena Aditya tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku datang untuk berkunjung tante." jawab Cintia untuk membela Aditya.
"Berkunjung apa yang tidak pulang-pulang dari kemarin!"
Deg
Baik Aditya maupun Cintia tidak ada yang bisa menjawab apa yang Ajeng katakan.
"Sial, aku menyelamatkan Rachel, tapi aku sendiri terkena masalah." ucap Cintia mengerutu di dalam hatinya.
"Kamu!" ucap Ajeng pada Cintia, "Keluar dari apartement putra saya." ucap Ajeng lagi mengusir Cintia.
Kini Ajeng beralih pada Aditya, "Kamu cepat ikut Bunda." ucapnya.
Aditya tidak bisa membantah, dia sudah ketahuan bersalah. Jadi, apapun yang dikatakan Ajeng, Aditya akan mengikutinya. Selanjutnya? Aditya aka memikirkannya nanti.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...