
Persiapan pernikahan semua diurus oleh W.O pilihan keluarga Mahendra. Siapa lagi jika bukan Sandra, sang Oma yang sangat antusias dengan pernikahan Wisnu dan Alana.
Sementara Wisnu dan Alana tetap menjalani kesibukan mereka masing-masing. Hanya saja, setelah acara lamaran tersebut, Wisnu setiap pagi menjemput Alana lalu mengantarkan calon istrinya itu ke butik.
Begitupun sebaliknya. Setiap sore, Wisnu akan menjemput Alana di butik lalu mengantarkan calon istrinya pulang ke rumah. Di rumah orang tua Alana, Wisnu akan bermain sejenak dengan Arkana. Selepas makan malam, barulah dia pulang ke apartemen.
Hal itu tentu saja membuat Amar tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Alana. Apa lagi ibu Arkana itu telah memblokir nomornya. Tapi Amar tidak tinggal diam, dia memanfaatkan Luci yang semenjak hari itu menjadi mainan baru Amar. Apalagi pria itu sudah bosan dengan Helen.
"Sayang, kamu jadi ke rumah bos kamu, week end nanti?" tanya Amar.
"Iya, ada acara kumpul keluarga karyawan butik di rumahnya. Aku dan anak-anak butik semua diminta datang bersama keluarga. Dan itu wajib. Alana memang sering mengadakan acara seperti ini." jawab Luci tanpa curiga. Mereka baru saja selesai pelepasan.
Setiap sore Amar datang ke butik, tujuannya untuk menemui Alana. Sayangya, Wisnu selalu ada disana. Jadilah, dia berdalih menjemput Luci yang dia akui masih kerabatnya. Meski dia bukan lagi calon adik ipar Wisnu, tapi dia tidak ingin ketahuan main gila dengan istri orang.
Biar istri orang, Luci kesepian dirumah. Suaminya jarang pulang dan lebih suka tidur dengan wanita lain. Seperti malam ini, Amar bebas bercinta di rumah Luci tanpa takut suami wanita itu pulang.
"Aku boleh ikut?" tanya Amar.
Satu tujuannya, ingin bicara langsung dengan Alana. Sebelum janur kuning melengkung, Amar tetap berusaha untuk merebut Alana dari Wisnu. Keluarga Mahendra sudah mempermalukan dirinya dengan membatalkan pertunangan. Sekarang, Amar akan balik membalas membuat malu keluarga Mahendra dengan membawa lari calon pengantin wanita.
"Aku pergi dengan suamiku." jawab Luci yang membuat Amar mendengkus kesal.
Masih saja wanita ini mengajak suaminya di acara keluarga. Entah mengapa Amar tidak suka Luci menyebut pria bodoh itu suami. Milik Luci itu sempit dan itu sangat nikmat. Amar saja tidak bosan, ingin terus mengarapnya.
"Bagaimanapun dia masih berstatus suamiku, dan kamu hanya selingkuhanku." jawab Luci yang membuat Amar menyambar bibir yang pintar membalas permainannya.
"Tapi aku selalu bisa memuaskan kamu." ucap Amar disela tautan bibir mereka.
__ADS_1
"Karena itu kamu jadi selingkuhan aku. Jadi biarkan saja dia bersenang-senang dengan wanita diluar sana. Dengan begitu kita juga bisa bersenang-senang disini." jawab Luci.
Mau bagaimana lagi, selama ini dia kesepian dan selalu menjadi istri yang baik menunggu suaminya yang jarang pulang ke rumah. Bertemu Amar, membuat Luci melupakan sejenak masalah rumah tangganya yang sebenarnya sudah hancur.
"Ingin mencoba sesuatu yang baru?" tawar Luci.
Banyak tempat yang Luci siapkan untuk jadi tempat bercinta dia dan suaminya. Tapi sayangnya dia belum ada kesempatan untuk mencobanya bersama Arman. Jadi biarlah malam ini dia mencobanya dengan Amar yang memiiki kejantanan yang lebih besar, ganas dan tentunya lebih nikmat.
Sudah dapat dipastika Amar tidak akan menolak tawaran Luci. Baru kali ini dia menemukan lawan main yang setimpal. Sama-sama kuat dan gila bercinta. Amar bahkan sudah tergila-gila dengan tubuh Luci, berbeda dengan wanita yang pernah tidur dengannya.
***
Abimana mengunjungi sebuah apartemen milik teman Aditya yang juga menjadi rekan bisnisnya. Tujuan Abimana adalah ingin bertemu istri rekan bisnisnya itu. Tapi ternyata Abimana tidak menemukan sosok yang dia cari, melainkan wanita lain yang menemani teman Aditya itu di apartemennya yang baru.
"Aku sedang bosan dengan Luci. Jadi bermain-main sebentar dengan yang lain." ucap Arman sabil terkekeh mengakui apa yang dia lakukan saat ini.
"Jadi ada apa?" ucap Arman langsung saja bertanya tujuan Abimana menemuinya.
"Aku sebenarnya ingin bertemu Luci. Banyak hal yang ingin aku bicarakan dan tanyakan pada istrimu itu." jawab Abimana.
"Main saja kerumah yang aku belikan untuknya." balas Arman menaggapi jawaban Abimana.
"Kamu jadi membeli rumah yang aku tawarkan waktu itu?" tanya Abimana.
"Iya, Luci sangat tertarik dengan rumah itu. Jadi, langsung saja aku ambil untuk dia. Karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Luci jadi tidak pernah protes kalau aku sedikit nakal diluar sini." jawab Arman dan kembali terkekeh menceritakan kehidupan rumah tangganya.
"Wanita itu, asalkan sudah kita berikan apa yang mereka inginkan, mereka akan diam saat kita melakukan apa saja." ucap Arman lagi.
__ADS_1
Sayangnya ucapan Arman itu tidak sepenuhnya benar. Nyatanya Alana tidak seperti itu. Mantan istrinya itu tidak pernah menuntut dibelikan apapun. Alana hanya menerima apa yang Abimana berikan. Bahkan wanita itu sering menolak jika diajak belanja barang-barang yang tidak penting, seperti tas branded. Dan satu lagi, Alana benci perselingkuhan. Sayangnya Abimana melakukan hal yang fatal itu saat mereka diujung perpisahan.
"Kamu pasti ingin bertanya tentang Alana, kan?" tanya Arman menebak apa yang akan temannya ini bicarakan dengan Luci.
Abimana mengangguk setelah sadar dari keterkejutannya karena melamun mengingat Alana.
"Hari minggu besok Luci mengajakku ke acara keluarga yang diadakan Alana di kediaman orang tua mantan istrimu itu." ucap Arman lagi.
"Acara keluarga? Dalam rangka apa?" tanya Abimana penasaran.
Apalagi sudah beberapa minggu ini Abimana sangat merindukan Alana. Rindu pelukan hangat wanita itu. Rindu akan senyum dan suara lembut Alana. Rindu pada semua yang ada pada mantan istrinya itu. Jadilah, begitu Abimana pulang ke Indonesia, dia menyempatkan diri untuk bertemu Arman dan Luci. Apalagi kalau bukan untuk mencari tahu tentang Alana.
"Aku tidak tahu. Tapi aku dengar dari Luci, Alana sebentar lagi akan menikah." jawab Amar.
Abimana terdiam. Begitu cepat Alana menemukan penggantinya. Mengapa rasanya masih sakit? Mengapa dirinya masih sangat sulit melupakan Alana? Sementara Aditya yang jadi penyebab kehancuran rumah tangganya tetap menikmati hidup bersama banyak wanita.
Arman menepuk bahu Abimana. Dia tahu Abimana masih sangat mencintai Alana. Tapi Arman tidak bisa banyak membantu agar pria itu bisa lupa dengan Alana. Apa lagi mengajak Abimana untuk bermain wanita seperti dirinya dan Aditya. Abimana pria yang setia, tidak seperti dirinya.
Bermain dengan wanita lain, bukan berarti Arman tidak mencintai Luci. Dia bahkan sangat mencintai istrinya itu. Hanya saja, Arman butuh wanita lain untuk menyalurkan fantasi gilanya saat bercinta. Arman suka bermain kasar saat berhubungan intim. Karena tidak ingin meyakiti Luci, maka dia lakukan pada wanita lain.
Kalau saja Arman tahu Luci sekarang sudah memiliki teman bermain yang lain. Apa dia masih mau meningalkan istrinya seperti saat ini. Sayangnya Arman mengira istrinya itu masih menjadi wanita baik-baik. Padahal saat ini sang istri sedang mencoba permainan baru bersama Amar yang menurut Luci lebih bisa memuaskannya dari pada Arman.
Rumah tangga seperti apa yang sedang dijalani asisten yang juga teman Alana itu. Hingga Alana memutuskan untuk mengadakan acara makan-makan dan kumpul-kumpul bersama karyawan butik dan keluarga karyawannya.
Ibu Arkana itu akhir-akhir ini mengkhawatirkan Luci yang sering dijemput Amar. Luci memang memperkenalkan Amar sebagai saudaranya pada Alana. Tapi, Alana tidak bisa percaya begitu saja. Kalau saudara, mengapa setiap hari Amar yang menjemput Luci? Kemana Arman? Alana akan mencari tahu.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...