
Hari ini Wisnu memboyong keluarganya ke kediaman baru mereka. Tidak lupa sebagai rasa syukur, dia mengundang keluarganya dan keluarga Alana untuk makan bersama dikediaman baru mereka.
Maka disinilah kedua keluarga itu berkumpul, dihalaman belakang yang luas dengan rumput hijau yang terbentang luas. Mereka duduk di gajebo yang cukup besar seperti keinginan Alana.
Kesempatan ini dimanfaatkan Inaya untuk menyampaikan permintaan orang tua Naren. Alana yang mendengarnya ikut senang. Naren pria yang baik, bahkan sangat pengertian dan rela berkorban. Itulah yang Alana rasakan dulu waktu menjalin hubungan dengan pria itu.
"Suruh Naren dan orang tuanya untuk datang akhir pekan ini." ucap Mahendra.
Inaya mengangguk dan segera menghubungi Naren untuk menyampaikan berita ini pada kedua orang tuanya.
Selesai dengan pembahasan Inaya. Kini Rendi bertanya pada Dirga dan Kinara, kapan hubungan mereka akan diresmikan.
"Secepatnya." hanya itu jawaban yang bisa diberikan Dirga.
Bukan Dirga dan Kinara yang bermasalah, tapi keluarga Kinara yang mempersulit mereka untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Dirga dan Kinara sedang berusaha untuk bisa menyelesaikan masalah itu.
***
Dua bulan kemudian. Pernikahan Inaya dan Naren di gelar di hotel yang sama dengan Alana dan Wisnu. Tamu yang hadir juga tak kalah banyak dengan pernikahan Wisnu dan Alana.
Diantara tamu yang banyak itu ada Abimana yang menghadiri pernikahan Naren dan Inaya seorang diri. Pria itu masih saja betah bertahan dengan statusnya yang duda. Tidak ada niatan mencari pasangan baru. Bukan karena belum bisa melupakan Alana, Abimana hanya tidak menjadikan hal tersebut sebagai proritas hidupnya saat ini. Bila sudah waktunya maka dia akan bertemu dengan orang yang tepat untuk mengantikan posisi Alana sebagai istrinya.
Mengenang Alana, dari tempatnya berdiri saat ini Abimana bisa melihat kebahagiaan mantan istrinya itu bersama Wisnu dan juga Arkana yang tidak pernah lepas dari pangkuan daddynya.
"Aduh." seorang anak kecil menabrak Abimana dan terjatuh.
Abimana terkejut karena terlalu fokus memperhatikan Alana dan Arkana. Pria itu membungkuk untuk membantu anak laki-laki itu berdiri.
"Terima kasih Om." ucapa anak laki-laki itu.
"Orang tua kamu dimana?" tanya Abimana karena tidak mungkin anak itu ada ditempat ini seorang diri.
"Mama lagi bantu tante Inaya." jawabnya.
"Papa kamu?" tanya Abimana.
Anak laki-laki itu tidak mejawab. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Abimana. Wajahnya melukiskan senyum lebar, membuat alis Abimana terangkat karena heran.
"Om mau nggak jadi papa Dion?" tanya anak laki-laki itu.
Abimana yang terkejut dengan permintaan anak itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kenapa bertanya seperti itu sama saya. Papa kamu kemana?" ulang Abimana pertanyaan.
__ADS_1
Dion lagi-lagi tidak menjawab. Anak itu bahkan menarik tangan Abimana untuk ikut denganya. Entah mengapa Abimana tidak menolak, dia mengikuti saja kemana anak laki-laki ini membawanya. Dion berhenti begitu melihat orang yang sangat dia kenal.
"Ma!" panggil Dion pada seorang wanita yang membelakangi mereka.
Wanita itu berbalik dan terkejut begitu meihat Dion bersama seorang pria yang sangat dia kenal.
"P...Pak Abi." ucap wanita yang bernama Mia itu gugup. Bagaimana bisa putranya mengandeng Abimana, bos perusahan tempat dia bekerja.
"Ma, Dion mau om ini jadi papa Dion." ucap Dion yang membuat Abimana dan Mia terkejut.
Mia langsung menutup mulut Dion untuk tidak bicara yang aneh-aneh lagi.
"Maafkan putra saya Pak Abi." ucap Mia lalu mengangguk hormat dan pamit dari hadapan Abimana.
Abimana menatap punggung Mia yang membawa Dion semakin menjauh. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Hanya saja wajahnya menyungingkan senyum.
"Sepertinya teman kita sudah menemukan calon penganti Alana." ucap Arman yang sudah berdiri dihadapan Abimana bersama wanita baru lagi.
Abimana tidak menjawab. Dia justru menatap Arman sambil berdecak. Bukan kesal karena ucapan Arman, tapi berdecak karena Arman masih saja suka bergonta ganti wanita disampingnya. Abimana meninggalkan Arman dan wanitanya untuk melanjutkan tujuannya datang ketempat ini. Langusng saja dia naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada Naren.
"Cepat menyusul Bro." ucap Naren menggoda Abimana.
"Jangan sombong!" balas Abimana yang mendapat kekehan dari Naren.
Tidak ingin berlama-lama, Abimana segera meninggalkan pelaminan. Kakinya terus melangkah keluar ballroom tempat acara.
***
Sayangnya makan yang terhidang di meja saat ini tidak satupun yang mampu mengugah selera Alana kecuali salad buah. Hal ini tentu saja membuat khawatir Wisnu, karena sudah sejak pagi tidak makanan berat yang masuk kedalam perut sang istri.
"Sayang, coba ini sedikit saja." ucap Wisnu membujuk sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi makan dihadapan mulut Alana.
Alana menatap makan yang ada di sendok tanpa minat. Tapi dia tidak ingin membuat kecewa suaminya. Dengan terpaksa Alana membuka mulutnya. Tanpa dikunyah, Alana menelan bulat-bulat makanan yang Wisnu suapkan padanya.
Wisnu tersenyum senang. Akhirnya masuk juga makanan berat mengisi lambung istrinya. Sayangnya senyum itu hanya sesaat.
"Dirga titip Arkana." ucap Wisnu.
Selanjutnya dia mengendong dan membawa Alana ke toilet. Alana mengeluarkan semua makanan yang masuk ke perutnya termasuk salad buah yang dia konsumsi sebelumnya. Dibantu Wisnu, Alanaebersihkan sisa-sisa kotoran yang ada dimulutnya.
"Abang." panggil Alana lirih. Dia merasa tubuhnya lemas dan sedikit pusing.
Wisnu mendekap tubuh Alana dengan erat. Membopong istrinya untuk kembali kekamar mereka. Karena tidak memungkinkan bagi Alana untuk kembali ke ballroom.
__ADS_1
Setelah membaringkan Alana ditempat tidur. Wisnu meraih ponselnya untuk menghubungi Dirga. Meminta pada sepupu Alana itu untuk mengantarkan Arkana ke kamar yang dia dan Alana tempati.
Setelah menghubungi Dirga, Wisnu menelpon dokter keluarga Mahendra yang selalu siap dipanggil kapan saja.
***
Alana tertidur dengan pulas setelah mengeluarkan semua isi perutnya. Bahkan saat dokter keluarga Mahendra melakukan pemeriksaan, Alana tetap memejamkan mata.
Dan saat Alana membuka mata, senyum lebar yang menghiasi wajah Wisnu jadi pemandangan pertama yang Alana lihat.
"Sayang, masih pusing?" tanya Wisnu. Alana menggeleng.
"Masih lemas?" tanya Wisnu lagi.
"Haus." jawab Alana.
Wisnu langsung membantu Alana untuk bersandar disandaran tempat tidur. Setelahnya dia mengambilkan teh hangat yang sudah dia siapkan saat Alana tidur.
"Ini sayang." ucap Wisnu sambil membantu Alana meneguk minumannya.
Alana menandaskan minumannya. Tengorokannya yang kering setelah mengeluarkan isi perutnya sekarang menjadi basah dan melegakan.
"Sayang, terima kasih." ucap Wisnu setelah dia meletakkan kembali cangkir teh Alana.
"Untuk?" tanya Alana tidak mengerti.
Dia baru saja merepotkan suaminya, harusnya Alana yang berterimakasih dan meminta maaf pada Wisnu. Bukan Wisnu yang berterima kasih.
Baru saja Wisnu akan menjawab, suara Arkana terdengar menginterupsi.
"Bu!" panggil Arkana. Anak itu sedari tadi sibuk dengan film kartun yang ditayangkan di televisi sehingga tidak menyadari ibunya sudah bangun.
Arkana naik ketempat tidur dan langsung mendekati Alana. Tangannya terulur memegang perut Alana, lalu menariknya kembali. Setelahnya Arkana menempelkan telinganya di perut Alana.
"Dek bayi." ucapnya.
Alana yang tidak mengerti maksud Arkana merasa heran dengan tingkah putranya. Sementara Wisnu sudah tersenyum senang.
"Iya, adek bayi." sahut Wisnu.
"Bang!" seru Alana meminta kepastian.
"Kamu hamil sayang. Terima kasih." ucap Wisnu.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...