Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 70. Kumpul Bersama Karyawan (1)


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Alana mengajak seluruh karyawan butiknya plus bersama keluarga mereka masing-masing untuk bersilaturahmi dan makan bersama tiba.


Awalnya Alana mengajak mereka berkumpul di kediaman orang tuanya dari pada di restoran. Namun Wisnu menyarankan calon istrinya itu untuk melaksanakannya di tempat terbuka. "Biar sekalian refreshing, sayang." ucap Wisnu beberapa hari yang lalu.


Disinilah mereka berada sekarang, di tempat wisata alam yang menyejukkan mata dan juga menyegarkan isi kepala. Alana datang bersama Wisnu dan Arkana. Rendi juga datang bersama Ratna dan putra mereka Raka. Tidak ketinggalan pasangan bucin Dirga dan Kinara ikut bergabung walau hanya sebentar karena ada hal yang harus Kinara kerjakan yang dibantu Dirga.


Satu persatu karyawan Alana bersama keluarga mereka datang dan berkumpul ditempat yang sudah Alana persiapkan. Alana menyewa sebuah pondokan cukup besar yang ada ditempat wisata ini. Tempat ini akan mereka gunakan untuk meletakkan barang-barang yang mereka bawa.


Dari kejauhan Alana melihat Luci yang berjalan mendekat bersama Arman. Keduanya tampak mesrah, saling melempar senyum sambil bergandengan tangan yang diayun-ayunkan seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja. Dimata Alana, sepasang suami istri itu masih terlihat sama-sama bucin. Ck, pintar sekali mereka bersandiwara. Alana yang terus memperhatikan pasangan itu, sampai berpikir kalau hubungan Arman dan Luci baik-baik saja.


Ibu dari Arkana itu merasa kalau dia yang terlalu curiga pada Luci yang akhir-akhir ini dekat dengan Amar.


"Mungkin Amar memang saudara Luci. Semoga saja." ucap Alana didalam hati, berharap rumah tangga temannya itu tetap langgeng.


Pengalaman pahit yang pernah Alana alami dalam berumah tangga membuat wanita itu tidak ingin orang lain, terutama orang-orang yang dia kenal juga bermasalah dengan rumah tangga mereka.


Alana lupa, dalam setiap rumah tangga tentu saja ada masalah. Hanya saja, bagaimana cara mereka menyikapi masalah itulah yang akan membawa mereka terus melanjutkan pernikahan mereka atau memilih berpisah. Seperti yang Alana lakukan.


"Sanyang, Abang temani Arka main disana dulu." tunjuk Wisnu pada Rendi yang sedang bermain bola bersama Raka dan beberapa anak kecil lainya.


Alana sedang duduk di depan pondokan yang dia sewa. Disana disediakan bangku panjang dan beberapa bangku single untuk mereka duduk. Sementara yang lain mengelar tikar di bawah pohon yang tidak jauh dari pondok yang Alana sewa sambil bercengkrama.


"Iya Bang." balas Alana sambil mendekati Arkana, "Mainnya yang pintar, sayang sama bang Raka dan teman yang lain." ucap Alana menasehati putranya itu.


Arkana mengangguk, "Sayang abang." jawabnya.


"Pintarnya anak Bunda." balas Alana.


"Anak Daddy juga dong." sahut Wisnu menimpali.


"Ya...ya... anak Daddy juga." ucap Alana mengejek.


Wusnu terkekeh sambil menarik hidung Alana yang bisa dikatakan cukup mancung itu, "Yang punya anak ngambek." ledek Wisnu.


Arkana yang tidak mengerti apa yang diributkan oleh ibu dan daddynya itu ikut terkekeh, mengira daddy dan ibunya sedang bercanda.


"Sudah sana main!" ucap Alana mengusir kedua pria beda usia itu.


"Sayang ibu dulu, sayang." ucap Wisnu pada Arkana.


Anak laki-laki itu langsung saja mencium pipi ibunya sambil berucap, "Sayang Bunda banyak-banyak." ucapnya.

__ADS_1


"Ibu juga sayang Arka banyak-banyak." balas Alana.


"Bang, anaknya dilihati." ucap Alana memperingatkan calon suaminya itu.


"Tentu sayang, Daddy tidak mau terulang lagi seperti kemarin." jawab Wisnu.


Alana menangguk. Seminggu yang lalu Arkana terjatuh dari sepeda karena Wisnu yang sedang menemani anak itu bermain di halaman belakang rumah orang tuanya, menerima telepon dari asistenya. Fokus Wisnu terbagi hingga tidak memperhatikan Arkana sepenuhnya.


"Al."


Alana menoleh pada sumber suara yang ternyata Arman. Entah sejak kapan suami Luci itu berdiri di samping bangku tempat dia duduk saat ini. Pria itu hanya sendiri, entah kemana perginya Luci. Sudah cukup lama Alana tidak melihat asistenya itu.


"Iya Mas, ada apa?" tanya Alana. Tak lupa mengulas senyum, menyamarkan keterkejutannya.


"Dia terlihat sangat mencintaimu." ucap Arman membicarakan Wisnu.


"Bukan hanya terlihat, tapi memang mencintaiku." ucap Alana meralat ucapan Arman.


Arman terkekeh, "Iya, seperti itu maksudku. Jangan salah paham." balas Arman.


"Boleh tanya sesuatu?" ucap Arman lagi.


"Apa ada masalah?" Alana balik bertanya.


"Ya." jawab Arman cepat, "Aku perhatikan sejak aku dan Luci tiba, kamu selalu memperhatikan kami. Apa ada yang salah?"


"Maaf." jawab Alana.


Ya, ibu Arkana itu mengakui kesalahannya. Salah mengurusi rumah tangga orang lain. Bukan tanpa sebab. Perceraiannya dengan Abimana masih menyisahkan trauma. Bukan perpisahannya yang masih membuat Alana takut. Tapi, penyebab perceraian tersebut. Nama baiknya dan keluarga menjadi taruhannya saat itu.


Beginilah sekarang Alana jadinya. Dia tidak ingin ada masalah dengan rumah tangga orang-orang yang dia kenal, apa lagi terbilang dekat seperti Luci.


"Aku bahagia melihat kalian selalu mesrah dan penuh cinta." ucap Alana lagi yang terpaksa berbohong saat ini.


"Benarkah? Sungguhkah kamu berpikir seperti itu tentang aku? Apa Luci tidak memberitahu kamu? Maksudku, bercerita tentang rumah tangga kami." balas Arman yang cukup panjang dan juga melebar menurut Alana.


Alana cukup terkejut dengan apa yang Arman ucapkan, apa lagi pertanyaan pria itu seperti menuduh Luci yang berbagi rahasia rumah tangga mereka. Jika Luci seperti itu, Alana tidak perlu sesulit ini untuk mengetahui apa yang terjadi dalam rumahtangga temannya itu.


Alana menggeleng, "Sejak pertama kalian menikah hingga detik ini, Luci tidak pernah cerita tentang rumah tangganya. Tidak pernah aku dengar dia mengeluh tentang Mas Arman. Padahal setiap rumah tangga pasti ada saja hal kecil yang menyebalkan dari pasangan. Tapi Luci menyimpannya sendiri meskipun hampir setiap hari kami bertemu." jawab Alana.


Arman cukup terkejut dengan jawaban Alana. Ternyata Luci sangat pintar menyimpan aibnya yang sering tidur dengan wanita lain diluar sana. Arman akan memberikan hadiah pada istri tercintanya itu sebagai bentuk penghargaan. Apa lagi Luci itu sangat senang dengan barang-barang mewah. Istrinya itu pasti akan mengizinkan Arman tidak pulang kerumah seminggu kedepan. Andai saja Arman tahu apa yang Luci lakukan sekarang, mungkin dia akan terkena serangan jantung.

__ADS_1


"Mas tahu kenapa?" Alana balik bertanya.


"Aku tahu, dia pasti mencontoh kamu yang tidak pernah mengeluh tentang Abimana." Sengaja Arman menyebut nama Abimana. Dia ingin melihat reaksi mantan istri temannya ini.


Alana menaikan alisnya, merasa heran dengan jawaban Arman yang tidak sesuai konteks. Mengapa juga pria ini kembali menyebut nama Abimana. Dan Arman salah jika Alana tidak pernah mengeluh tentang Abimana.


"Dimana Luci? Aku tidak melihatnya." tanya Alana mengalihkan percakapan.


"Dia tadi pamit ke toilet." jawab Arman.


WIsnu merasa tidak nyaman melihat Alana berbicara dengan seorang pria meskipun itu adalah suami dari Luci. Pria itu akhirnya menitipkan Arkana pada Rendi dan berjalan kembali ketempat Alana duduk saat ini.


"Sayang." panggil Wisnu.


"Bang, Arka mana?" tanya Alana begitu melihat Wisnu datang seorang diri.


"Itu masih mau main." tunjuk Wisnu pada Arkana, Raka dan Rendi.


"Abang haus, sayang." ucap Wisnu lagi mencari alasan.


Alana segera mengambilkan botol air mineral untuk calon suaminya itu yang disambut Wisnu dengan senyum dan tak lupa pria itu berterima kasih pada calon istrinya.


"Bang, Al ke toilet sebentar." pamit Alana pada Wisnu. Tentu saja setelah pria itu menyelesaikan minumnya.


"Jangan lama-lama." jawab Wisnu yang diangguki Alana.


Sebenarnya Alana tidak memiliki kebutuhan ke toilet. Entah mengapa, saat Arman menjawab Luci pergi ke toilet, Alana jadi ingin mendatangi tempat itu. kebetulan sekali Wisnu datang sehingga dia punya alasan dan pamit pada pria itu.


Alana hanya mencuci tangan di toilet khusus wanita itu. Tidak ada orang lain di tempat ini. Itu berarti Luci tidak ada disini.


"Kemana dia?" gumam Alana.


Jika Luci sudah selesai dengan kebutuhannya, mengapa tidak segera kembali bergabung bersama mereka. Terbilang cukup lama Luci terpisah dari mereka, karena itu Alana bertanya pada Arman bahkan sampai menyusulnya ketempat ini.


Tidak ada yang bisa ibu Arkana itu lakukan. Dia memilih keluar dari toilet itu lalu melewati jalan lain untuk kembali ketempat dimana dia dan karyawannya berkumpul.


Tanpa sengaja, mata Alana melihat kendaraan yang cukup familiar dimatanya, " Itu bukanya...."


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...

__ADS_1


__ADS_2