Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 33. Kehadiran Orang Dimasa Lalu


__ADS_3

Aditya tiba di apartemen miliknya, setelah mengantar Ajeng pulang ke kediaman Rahardian terlebih dahulu. Wijaya harus segera kembali ke perusahaan, karena itu dia tidak bisa mengantarkan istrinya. Sedangkan Aditya sendiri sengaja mengambil libur hari ini, banyak dokter yang dipekerjakan di rumah sakit miliknya itu. Jadi dia tidak perlu khawatir jika libur hanya satu hari.


"Hai sayang!" tegur Cintia. Wanita itu sudah menunggu Aditya di lobby apartemen sejak satu jam yang lalu.


Aditya menatap dingin pada Cintia yang menyapanya, sedikit kesal melihat kehadiran wanita itu. Dia sedang tidak ingin diganggu, tapi Cintia bukan tipe wanita yang bisa diabaikan begitu saja.


"Mau apa?" tanya Aditya dingin. Mungkin saja sikapnya saat ini bisa sedikit membuat Cintia mengerti untuk tidak menganggunya.


"Kangen kamu, sayang. Apa lagi?" jawab Cintia sambil terkekeh lalu melingkarkan tanganya di lengan Aditya. Dia mengikuti langkah prianya yang akan masuk kedalam lift.


"Aku sedang...."


"Ayolah sayang, aku tahu kamu kesepian. Kita bisa habiskan waktu selama yang kamu mau, seperti biasanya." ucap Cintia memotong perkataan Aditya. Dia bisa bicara bebas dengan Aditya, karena mereka hanya berdua di dalam lift.


Aditya tidak lagi menjawab apa yang Cintia ucapkan, dia membiarkan saja wanita itu memeluk lengannya. Melihat Aditya yang diam saja, Cintia meberanikan diri mengecup pipi Aditya.


Aditya masih bersikap dingin meski hanya berdua. Cintia tidak menyerah, dia pasti bisa menaklukan Aditya lagi setelah mereka di dalam apartemen.


Aditya membuka pintu apartemenya dan membiarkan Cintia masuk. Percuma melarangnya, hanya akan menguras tenaga dan sia-sia saja. Aditya pernah melakukannya dan tetap saja mereka akan berakhir dengan saling memberikan kenikmatan.


Masuk ke apartemen, Cintia langsung melempar tas tangan yang dia bawa begitu saja. Wanita itu sudah biasa berada di apartemen milik Aditya, apa lagi jika bukan untuk menggoda pria yang sering kesepian itu.


"Kamu tadi bertemu Alana, sayang?" tanya Cintia sambil memeluk Aditya dari belakang. Dia merindukan Aditya dan semua sentuhan prianya ini.


Aditya tidak menjawab, Cintia bisa tahu banyak hal tentang dirinya, siapa lagi jika bukan dari Jefri. Sahabat gilanya itu selalu saja memberi tahu wanita ini dimana dia berada dan apa yang dia lakukan. Dan Cintia selalu saja memanfaatkan kesempatan ini untuk mendatangi Aditya. Padahal Cintia sangat tahu jika Aditya sangat mencintai Alana.


Cintia melepaskan pelukannya dan berpindah berdiri didepan Aditya. Sebuah kecupan dia daratkan di bibir pria tampan itu. Jari lentiknya mulai membuka kancing kemeja yang Aditya kenakan satu persatu.


Aditya tidak menolak, Cintia sudah biasa seperti ini, wanita itu menginginkan tubuhnya. Dan Aditya akan memberikannya, dengan catatan wanita itu mau menjadi Alana.


"Aku siap jadi Alanamu hari ini sayang." bisik Cintia.


Wanita itu tidak peduli Aditya membayangkan Alana saat bercinta dengannya. Dia hanya ingin Aditya, meski pria itu tidak mencintainya. Begitu saja Cintia sudah cukup bahagia, setidaknya dia bisa merasakan kehangatan pria yang dicintainya dengan cara seperti ini.


"Kamu itu wanita gila, Cintia." Jefri sering sekali mengatakan itu pada Cintia. Tapi wanita itu tidak peduli, dia menaggapi umpatan Jefri hanya dengan kekehan.

__ADS_1


"Heum." kata itu keluar dari bibir Aditya setelah Cintia melepaskan tautan bibir mereka yang semakin menuntut lebih.


Cintia tersenyum penuh arti, membuat Aditya tak berdaya itu mudah. Cintia sangat tahu jika Aditya tidak bisa menolak dirinya, meski Cintia harus menjadi Alana dimata pria itu.


"Al." gumam Aditya saat dia sudah berada diatas tubuh Cintia yang berbaring di sofa. Kedua insan itu bisa melakukannya dimana saja, bahkan hampir setiap sudut apartement ini pernah menjadi tempat mereka berbagi peluh.


"Iya sayang, aku Alanamu." balas Cintia.


Mendengar jawaban itu, Aditya segera memasukan miliknya di pusat inti Cintia.


"Al."


Lagi-lagi Aditya menggumamkan nama Alana, dan untuk kesekian kalinya Cintai menjawab sebagai wanita yang dicintai Aditya. Sakit hati sudah pasti, tapi dia juga bahagia. Dirinya, hanya dirinya yang bisa menikmati tubuh Aditya meski dengan cara yang salah.


Berbeda dengan Aditya, Abimana memilih menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja untuk mengalihkan pikirannya tentang Alana.


Kembali keperusahaan, seseorang sudah menunggu Abimana diruangannya. Seseorang yang tidak ingin Abimana temui lagi.


"Hai Abi." sapa Rachel. Dia mantan kekasih Abimana sebelum mengenal Alana.


"Aku sedang banyak pekerjaan." ucap Abimana mengusir secara halus kehadiran Rachel dikantornya.


"Aku pria beristri, Rachel." balas Abimana.


Rachel terkekeh, "Sebentar lagi kau akan menjadi duda, dan aku janda." ucapnya.


Abimana tahu kemana arah wanita itu bicara. Bukan kali ini saja Rachel menemuinya untuk bicara tentang mereka. Abimana tidak akan kembali pada wanita itu, dulu Rachel yang meninggalkannya dengan menikahi pria yang di jodohkan oleh orang tuanya.


Hubungan yang tidak baik antara keluarga Rahardian dan keluarga Richard membuat cinta mereka tidak mendapatkan restu. Entah masalah apa yang terjadi, Abimana tidak pernah tahu. Yang jelas, baik keluarganya maupun keluarga Rachel sama-sama menentang mereka untuk bersama.


Meski ditentang, mereka berjanji akan terus bersama. Sayangnya, Rachel pada akhirnya menyerah dan memilih meninggalkan Abimana.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, Abi. Dan ini penting." ucap Rachel.


"Antara kita sudah selesai. Itu disaat kamu memutuskan untuk menikahi pria itu." jawab Abimana.

__ADS_1


"Aku terpaksa menikahi pria itu Abimana! Dan itu demi kamu." balas Rachel.


Abimana megerutkan keningnya, bagaimana bisa Rachel mengatakan apa yang wanita itu lakukan adalah demi dirinya?


"Kamu hanya mencari alasan untuk membela diri, Rachel."


Rachel menggeleng, memang tidak mudah untuk menjelaskannya pada Abimana tentang apa yang terjadi sebenarnya. Dia sangat mencintai Abimana, dan tidak ingin pria itu disakiti oleh keluarganya. Karena itu, Rachel memilih meninggalkan Abimana asalkan buah cinta mereka tidak disakiti keluarganya.


"Aku hamil saat itu."


Abimana yang mulai sibuk dengan berkas ditangannya kini menatap Rachel.


"Kau bahkan sudah tidur dengannya." ucap Abimana sinis.


"Dia tidak pernah menyentuhku, bahkan setelah kami menikah." jawab Rachel.


Abimana kembali menatap Rachel, dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Rachel. Wanita ini, bisakah dia percaya setelah pernah nenghianatinya?


"Camelia, dia putrimu." ucap Rachel agar prianya ini mengetahui sebuah kebenaran.


"Tidak mungkin, aku dinyatakan tidak bisa memiliki anak." jawab Abimana menolak penjelasan Rachel.


"Kamu bisa melakukan tes DNA."


Abimana trauma dengan tes DNA. Masalahnya dan Alana mencuat karena hasil tes DNA yang dia lakukan terhadap Arkana. Hasil tes itu yang akhirnya membuatnya menyakiti perasaan Alana yang sekarang meminta berpisah. Sedangkan Rachel, apa yang sudah wanita itu lakukan padanya? Mengapa sekarang baru memberitahu tentang Camelia? Apa yang wanita itu inginkan?


"Aku sedang banyak pekerjaan." ucap Abimana yang ingin menghentikan pembahasan mereka.


Abimana belum siap menerima kenyataan baru, jika benar Camelia adalah putrinya. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah dia divonis tidak bisa memiliki keturunan?


"Abi, aku menikahi pria itu untuk melepaskan kamu dari amukan keluargaku, dan mungkin juga keluarga kamu." ucap Rachel yang menolak untuk pergi dari ruang kerja Abimana.


"Saat itu, rasanya tidak mungkin aku mengakui pada keluargaku dan pada keluarga kamu, kalau aku sedang mengandung anak kamu." ucap Rachel lagi menjelaskan.


Abimana terdiam, haruskah dia melakukan tes DNA pada Camelia. Jika benar Camelia putrinya, apa yang akan Abimana lakukan? Sungguh, Abimana rasanya ingin membenturkan kepalanya, agar semua masalah yang saat ini bercokol disana berhamburan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...


__ADS_2