Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 84. Dinara


__ADS_3

Suara tangis bayi memenuhi ruang persalinan. Wisnu bisa menarik nafas lega begitu melihat putri kecilnya terlahir dengan selamat dan sempurna.


"Terima kasih sayang." ucap Wisnu berkali-kali, tak ada bosannya dia menggumamkan kata tersebut pada Alana. Wanita yang telah melahirkan putri kecilnya, menjadikan hidupnya lebih sempurna.


Melihat perjuangan Alana saat melahirkan, Wisnu berjanji tidak akan menyakiti istrinya itu. Wisnu pun mencium seluruh wajah istrinya sebagai ungkapan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Sampai seorang perawat mengintrupsi kegiatan daddy Arkana tersebut.


"Pak, ini putrinya sudah siap untuk di azankan." ucap perawat tersebut.


Wisnu menerima sang putri yang diserahkan oleh perawat. Cantik sekali putrinya ini, memiiki perpaduan wajah antara dirinya dan Alana. Wisnu sampai takjub melihatnya.


Setelah puas memandang sang putri, Wisnu mendekatkan bibirnya ditelinga bayi mungil tersebut untuk mengazani putrinya itu. Setelahnya Wisnu kembali menyerahkan putrinya pada perawat.


"Pak, pinjam ibu Alana sebentar. Ini putrinya harus dilatih minum susu langsung pada ibunya." ucap perawat tersebut meminta izin pada Wisnu.


Tentu saja Wisnu mengizinkan. Dia menggeser tubuhnya, memberi ruang pada perawat tersebut untuk meletakkan putrinya diperut Alana. Lagi-lagi Wisnu menatap takjub saat putrinya bisa menemukan sumber kehidupannya. Padahal mata bayi itu maaih tertutup. Itulah betuk kekuasaan yang maha kuasa, memberikan kemampuan pada bayi yang baru lahir untuk mengetahui dimana letak sumber makanannya.


***


Alana dan putri kecilnya sudah dipindahkan keruang perawatan. Ada Sandra yang tak henti-hentinya mengucap syukur. Dia masih diberi kesempatan bisa melihat cicitnya yang pertama. Dan menunggu kelahiran cicit keduanya, karena sebentar lagi Inaya juga akan melahirkan. Lengkap sudah kebahagiaannya. Tidak ada lagi yang Sandra inginkan selain melihat keluarganya bahagia.


"Kalian sudah menyiapkan nama?" tanya opa Mahendra.


"Sudah." jawab Wisnu.


"Nama adek Dinara Opa buyut." ucap Arkana yang mendengarkan percakapan daddy dan opa buyutnya itu.


"Oh ya?" ucap opa Mahendra menanggapi pemberitahuan dari Arkana.


"Dinara Nadheera Ataya." ucap Wisnu melengkapi nama yang dia berikan untuk putrinya.


"Anak perempuan yang menjadi anugrah dan sangat berharga." ucap Wisnu lagi menyebutkan arti nama putriya.


"Nama yang bagus." ucap Sandra menimpali.


Malam harinya, Kinara datang bersama Dirga. Pasangan pengatin baru itu, baru pulang dari berbulan madu dan langsung menuju rumah sakit begitu mendengar Alana sudah melahirkan.


"Keponakan Aunty cantik sekali kamu." ucap Kinara dengan mata berbinar kala memandangi Dinara.

__ADS_1


"Dinara ikut Aunty aja ya?" ucapnya lagi.


"No Anty." sahut Arkana tidak terima. "Adek sama Abang, sama bunda dan daddy." ucap Arkana lagi.


"Nanti Aunty culik adiknya kalau nggak boleh diminta sama Aunty." balas Kinara menggoda Arkana.


"Ndak boleh Anty." balas Arkana lagi. Mata anak itu sudah berkaca-kaca takut kehilangan sang adik.


"Mana bisa aunty Kinara bawa adek pergi." ucap Dirga menengahi perdebatan antara istri dan keponakannya itu. Kinara terkekeh melihat Arkana mengusap air matanya yang menetes.


"Ya udah nih, Aunty pulangkan adeknya ke bunda." ucap Kinara.


***


Tidak butuh waktu yang lama bagi Alana dan Dinara berada di rumah sakit. Setelah dua hari, Alana merasa sehat dan baik-baik saja. Ibu dari Arkana dan Dinara itu minta pada Wisnu untuk mengurus kepulangannya ke rumah.


Tiba dikediamannya, Alana langsung beristirahat di kamar bersama Dinara yang terlelap disampingnya. Bukan Alana malas-malasan, tapi Wisnu yang meminta istrinya itu untuk tidak melakukan banyak aktifitas. Jika sudah yang mulia raja yang memerintahkan, Alana bisa apa selain menuruti permintaan Wisnu.


***


Empat tahun kemudian.


Setelah selesai membantu suaminya berpakaian, giliran Alana yang bersiap-siap untuk pergi. Wisnu menunggu sang istri yang tengah memasang hijabnya. Dia pun memperhatikan Alana yang semakin hari semakin cantik dimata Wisnu. Tanpa perlu polesan make up tentunya.


"Ayo Bang." ucap Alana mengajak suaminya untuk keluar dan sarapan bersama anak-anak.


"Iya sayang." jawab Wisnu terkejut karena melamun saat menunggu Alana.


"Abang mikirin apa?" tanya Alana sambil mendekati suaminya.


"Mikirin kamu sayang." jawab Wisnu jujur. Tanganya merengkuh pinggang Alana dan satu kecupan dia daratkan dibibir sang istri.


"Al kenapa emangnya?" tanya Alana heran.


"Kamu semakin hari semakin cantik." jawab Wisnu yang lagi-lagi jujur.


Alana hanya mampu meggelengkan kepala. Ini bukan kali pertama Wisnu mengglobal seperti ini. Padahal Wisnu tidak sedang meggombal. Pria itu bicara jujur pada sang istri.

__ADS_1


"Abang juga sekarang semakin hari semakin tampan. Harusnya Al yang khawatir, karena Abang yang setiap hari pergi dan bertemu banyak orang." balas Alana.


"Ingat, udah punya anak dua jangan suka tebar pesona sama klien wanita." ucap Alana lagi memberikan peringatan pada suaminya.


"Mana ada Daddy seperti itu sayang." sahut Wisnu.


Alana terkekeh. Suaminya paling anti bertemu klien wanita. Dia hanya ingin menggoda suaminya yang selalu menyerahkan pekerjaan pada asistenya jika klien mereka wanita. Sampai sebegitunya Wisnu menjaga diri dan membatasi dirinya. Karena Alana pun sama. Istrinya tidak pernah mau bertemu klien pria dibutiknya, selain pria tersebut membawa pasangan wanitanya.


Sementara kedua orang tuanya masih bercengkrama dikamar. Arkana dan Dinara sudah duduk manis di meja makan menunggu kedua orang tua mereka. Kedua anak itu sedang berbincang.


"Dengar kan Dek yang Abang Arka katakan." ucap Arkana mengakhir nasehatnya pada sang adik.


"Iya Bang, Dinara dengar. Dinara harus baik sama semua teman, kan?" sahut Dinara.


Ya itulah nasehat yang diberikan Arkana pada sang adik untuk bisa berteman dengan siapa saja. Jangan melihat dari harta dan fisik seseorang. Itulah yang selalu Alana tanamkan pada anak-anaknya, khususnya pada Arkana yang sudah sekolah. Sekarang Arkana membagi nasehat ibu mereka pada sang adik.


"Adek juga jangan mau diajak pergi-pergi sama orang yang tidak dikenal." ucap Arkana lagi.


"Iya Bang. Daddy udah kasih tahu Dinara. Kata daddy mereka mungkin saja orang jahat yang mau bawa Dinara pergi dan memisahkan Dinara sama daddy, bunda dan Abang Arka." balas Dinara.


Baru saja Arkana akan menanggapi ucapan Dinara, suara Alana sudah mengintrupsi percakapan tersebut.


"Abang sama adek sedang bicara apa?" tanya Alana.


"Abang kasih tahu adek harus baik sama semua teman di sekolah, Bun." jawab Arkana.


"Iya sayang, adek nanti tidak boleh pilih-pilih teman. Semua yang ada disekolah adek, itu teman adek." ucap Alana memambahi.


"Iya Bun." jawab Dinara.


Gadis kecil itu sangat penurut. Sifatnya lebih banyak meniru Alana. Wisnu tidak masalah dengan hal itu. Bahkan dia lebih suka putrinya itu memiliki sifat seperti Alana dari pada dirinya. Karena Dinara akan menjadi wanita sempurna seperti ibunya.


Berbeda dengan Arkana. Anak laki-laki itu biar bukan darah daging Wisnu, tapi sikap dan sifatnya seperti duplikat Wisnu. Sama persis, Kinara dan Ratna sampai merasa heran melihat keponakan mereka yang bisa sama persis seperti Wisnu. Dalam hal ini Alana yang bersyukur, lebih baik Arkana menuruni sifat daddynya meski tidak ada ikatan darah dari pada seperti Aditya.


Ya..., walau sejak menikah dengan Luci, aditya banyak berubah. Dia sudah tidak pernah lagi bermain wanita dan dia juga menjadi ayah dan suami yang bertanggung jawab sekarang. Dokter anak itu, bahkan sudah dikarunia sepasang anak kembar bersama Luci.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2