
Seno menatap ragu pada pagar besi yang hampir menutupi bangunan bagian bawah kediaman mewah yang dia kunjungi pagi ini.
"Masuk, tidak, masuk,tidak, masuk." Seno bicara sambil memindahkan jarinya dari satu kancing kemeja yang dia kenakan ke kancing kemeja yang lainnya secara berurutan. Sudah seperti murid yang menghadapi ujian saja dan dia tidak bisa menjawab soal tersebut.
"Masuk saja Seno." gumamnya begitu kata masuk dia dapati di kancing kemeja paling bawah.
Sudah berada di depan pagar, bodoh sekali kalau dia berbalik arah. Bukakah ini demi sumpah dan janjinya yang tidak ingin berbohong lagi. Jadi Seno harus maju pantang mundur. Semangat itu akhirnya membuat Seno mengulurkan tangannya untuk menekan bel.
"Lho Mas Seno." sapa satpam yang menjaga kediaman Wijaya begitu melihat Seno yang menekan bel kediaman majikannya. Sedikit terkejut karena ini masih sangat pagi.
Seno sejak semalam gelisah, matanya tidak juga bisa tertutup karena memikirkan kebohongannya. Dia harus bicara secepatnya pada Wijaya.
"Ya, harus bicara secepatnya." gumam Seno menenagkan hati dan pikiranya.
Begitu subuh menjelang, Seno segera membersihkan diri lalu mengerjakan kewajibannya. Hanya meneguk secangkir teh hangat, Seno melajukan kendaraannya ke kediaman Wijaya. Dan disinilah dia berada sekarang.
"Bos besar masih ada dirumah atau sudah pergi?" tanya Seno untuk memastikan.
"Masih di rumah Mas, ini masih sangat pagi untuk ke kantor." jawab satpam tersebut.
"Ayo silakan masuk." ucap Satpam itu lagi sambil membuka lebar gerbang agar kendaraan Seno bisa masuk.
Duduk diruang tamu yang megah, membuat Seno semakin gugup saja. Bukan karena kemewahan rumahnya, namun orang yang akan dia temui yang membuatnya gugup. Membayangkan kemarahan Wijaya, sudah membuat bulu halus di tangan Seno berdiri.
"Ada hal yang sangat penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Wijaya begitu memasuki ruang tamu untuk menemui Seno.
"Sebelumnya saya minta maaf mengganggu waktu bapak sepagi ini dan tidak membuat janji terlebih dulu untuk bertemu." ucap Seno.
"Tidak apa-apa, kebetulan sekali rumah ini sepi. Jadi temani saya dan istri sarapan." ucap Wijaya.
"Kamu pasti belum sarapan kan?" tebak Wijaya. Seno mengangguk.
"Ayo kalau begitu, kita sarapan dulu nanti baru kamu sampaikan maksud dan tujuan kamu menemui saya sepagi ini." ucap Wijaya yang tidak berani dibantah oleh Seno.
"Ayo Seno, silakan duduk." ucap Ajeng yang sedang menata meja.
"Terima kasih Bu. Maaf saya jadi merepotkan." balas Seno sedikit sungkan diperlakukan sangat baik seperti ini. Sementara apa yang akan dia sampaikan nanti bisa saja membuat suasan hangat ini menjadi panas.
Seperti yang Wijaya katakan, selesai sarapan dia mengajak Seno duduk di halaman belakang.
"Kita bicara disini saja, suasananya lebih enak dan nyaman dari pada di ruang tamu." ucap Wijaya.
__ADS_1
Bagi Seno tidak masalah mau bicara dimana saja, yang jadi masalah itu apa yang akan dia sampaikan nanti. Mengingat itu, Seno menjadi gugup. Berlahan dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berlahan. Sedikit lebih baik sekarang dan Seno siap untuk bicara.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan? Pasti sangat penting." ucap Wijaya.
Seno mengangguk membenarkan. Ini penting, bahkan sangat penting. Sedikit melongokan kepalanya kedalam, Seno mencari sosok Ajeng.
Wijaya melihat pergerakan Seno, "Apa masalah ini tidak boleh diketahui istri saya?" tanya Wijaya.
Seno langsung menggeleng, "Saya justru ingin ibu ikut mendengarkan Pak." balas Seno cepat.
"Haruskah?" tanya Wijaya untuk meyakinkan lagi sebelum dia memanggil Ajeng.
"Lebih baik ibu ikut mendengarkan, Pak." jawab Seno.
"Baiklah, tunggu sebentar." balas Wijaya.
Wijaya meminta asistennya memanggilkan Ajeng. Tidak berselang lama, ibu dua anak itu datang dan ikut duduk disamping suaminya.
"Jadi apa yang akan kamu sampaikan?" tanya Wijaya.
"Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian kemarin. Sungguh saya terpaksa melakukannya Pak. Saya sudah terlalu lancang berbohong pada Bapak." ucap Seno.
"Saya tahu, dan saya bisa mengerti. Kamu pasti ada alasan khusus dibalik kebohongan kamu itu." jawab Wijaya.
"Tapi masalahnya Pak, ini...."
"Apa Abi yang menyuruh kamu agar tidak ada yang mengaggunya bekerja?" tanya Wijaya.
"Bukan Pak." jawab Seno cepat, "Itu saya sendiri yang memutuskan karena saya tidak ingin Bapak marah saat itu. Jika Bapak marah, beritanya akan meluas kemana-mana dan itu akan membuat kelangsungan perusahaan terganggu." ucap Seno menjelaskan.
"Kalau begitu, katakan saja." balas Wijaya.
"APA!"
Suara teriakan Wijaya terdengar sangat keras setelah Seno memberitahu kelakuan Abimana. Asisten rumah tangga yang ada dikediaman itu saling pandang. Ada masalah apa lagi? Pikir mereka.
Tidak perlu menunggu lama, Wijaya langsung berjalan keluar rumah. Ajeng menyusul suaminya, pria itu sedang dikuasai amarah dan itu tidak bisa dibiarkan.
Sopir yang selalu siap kapan saja segera melajukan kendaraanya menuju kediaman Abimana dan Alana seperti yang diperintahkan Wijaya. Siapa sangka disana mereka akan bertemu Rendi.
***
__ADS_1
Abimana turun dengan sebuah koper ditanganya. Rendi benar ini adalah kediaman milik Alana. Harusnya sejak awal bukan Alana yang pergi, tapi dia. Tapi Abimana juga merasa tidak terlalu bersalah. Bukankah Alana yang memilih pergi darinya?
Sekarang Abimana sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Mengembalikan kediaman ini pada Alana tidak akan membuatnya miskin. Dia bisa tinggal di apartemen miliknya untuk sementara waktu. Atau pulang ke kediaman orang tuanya.
Abimana akan memilih opsi yang pertama. Karena menurutnya kembali ke kediaman orang tuanya sama saja memupuk rasa marahnya pada Aditya semakin besar.
Adiknya itulah sumber dari segala masalah yang kini Abimana hadapi. Harusnya Wijaya menghukum Aditya. Tapi sepertinya ayahnya itu diam saja. Justru memaksanya bercerai dengan Alana. Sungguh Abimana tidak mengerti.
"Pulang ke rumah ya Bi." ajak Ajeng.
"Nggak Bun, aku di apartemen saja." jawab Abimana.
"Bagaimana dengan aku?"
Rachel yang bertanya membuat semua orang memandang padanya. Siapa dia sampai harus dipikirkan bagaimana.
"Kamu punya rumah, pulang ke rumah kamu sendiri. Jangan coba-coba ikut tinggal dengan Abimana di apartement." ucap Ajeng memberi peringatan pada Rachel.
"Lagian kamu itu punya anak. Bagaimana bisa seorang ibu meningalkan anaknya yang masih kecil sampai sejauh ini." ucap Ajeng lagi.
Bagaimana dia bisa merestui wanita seperti Rachel? Dengan anaknya sendiri saja dia tidak peduli dan tidak ada rasa khawatir.
Sementara Abimana hanya diam saja. Jika dia ikut bicara, urusannya akan semakin panjang. Abimana harus segera kekantor, banyak pekerjaan yang tertunda karena kemarin waktunya habis untuk bercinta.
Abimana menyesal dia yang tergoda dengan Rachel tanpa pria itu tahu apa yang sudah wanita itu lakukan. Rachel memberikan Abimana obat perangsang. Tentu saja gairah Abimana akan terpancing. Bukan karena pria itu menginginkan Rachel. Dan ini sudah Rachel lakukan sejak dulu, agar Abimana bisa memuaskannya.
Rachel tidak mengetahui apa yang dia lakukan efeknya bisa membuat Abimana mandul. Dan itu yang sekarang Abimana alami. Jadi disini siapa sebenarnya perusak hidup Abimana?
"Bang, sampaikan pada Alana kembalilah kerumah ini karena aku yang memang seharusnya yang pergi, bukan dia." ucap Abimana pada Rendi.
"Aku pamit." ucap Abimana pada semuanya.
Semua memandang punggung Abimana yang menjauh. Suara mesin mobil yang semakin jauh, menandakan Abimana sudah pergi cukup jauh.
Sekarang waktunya Wijaya memberikan peringatan pada Rachel yang terlihat santai dan tidak ada ras takut.
"Sekarang waktunya untuk membuat kamu pergi dari hidup Abimana selamanya."
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1