
"Daddy."
Suara Arkana memecah keheningan. Sementara Wisnu tersenyum lebar karena putra calon istrinya ini semakin lancar saja memanggil daddy padanya.
"Ada apa sayang?" tanya Wisnu sambil mengusap lembut kepala Arkana.
Tapi Arkana tidak merespon pertanyaan Wisnu. Putra Alana itu hanya berbalik badan lalu menyandarkan kepalanya di dada Wisnu dan pria itu membiarkannya saja. Jika sudah seperti ini, itu pertanda Arkana sudah tidak kuat menahan kantuknya.
Sementara tanpa diminta putranya, Alana langsung mengusap punggung Arkana membuat bayi satu tahun itu langsung pergi ke alam mimpi.
Sejak melihat Arkana untuk pertama kalinya, Naren terus memperhatikan wajah Arkana. Wajah yang sangat mirip dengan wajah sahabatnya.
"Dia sangat mirip Abimana." batin Naren.
Abimana memang bodoh, harusnya dia diam saja tentang siapa Arkana sebenarnya agar Alana tetap bersamanya. Tapi Naren bersyukur, setidaknya memberi kesempatan padanya untuk bisa kembali pada Alana.
"Eh Kana, kita kan MAU PERGI kamu kok malah tidur." ujar Kinara.
Sahabat Alana itu sengaja menegaskan kata mau pergi agar Naren mengerti dan segera pamit.
Naren bukan tidak mengerti, tapi dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bicara pada Alana. Sulit sekali berkomunikasi dengan mantan kekasihnya ini, hingga dia memberanikan diri untuk datang langsung menemui Alana.
"Sebelum pergi bisa kita bicara berdua, Al?" tanya Naren sopan.
Meski hanya datar saja, Alana tahu baik Dirga maupun Wisnu tidak mengizinkan dia dan Naren bicara berdua. Tapi Alana tidak ingin masalahnya dan Naren terus berlarut-larut meski sudah empat tahun berlalu.
"Aku dan Kinara." ucap Alana memberikan tawaran.
Mau tidak mau Naren mengangguk setuju, "Baiklah." ucapnya.
"Abang taruh Arka di kamar dulu." ucap Wisnu.
Ya, Wisnu harus memberi kesempatan pada Alana untuk bicara, menyelesaikan masalah yang sudah lama tertunda. Itu lebih baik dari pada nanti Naren terus mengusik Alana setelah mereka menikah.
"Iya Bang, terima kasih." ucap Alana merasa tidak enak hati telah merepotkan Wisnu.
***
Arkana terjaga begitu mereka tiba dikediaman Rendi. Sudah ada Sandra dan Raka yang menyambut mereka di teras.
"Arka." panggil Raka pada sepupunya itu.
__ADS_1
Arkana yang masih berada di gendongan Wisnu segera meminta turun dan berjalan mendekati Raka yang memegang pesawat terbang.
Anak satu tahun itu ternyata tertarik degan pesawat yang dibawa oleh Raka, bukan senang karena bertemu kakak sepupunya.
"Arka mau?" tanya Wisnu begitu Arka diberi kesempatan oleh Raka untuk memegang mainan pesawat miliknya.
"Ini?" tanya Arka yang belum bisa menyebutkan nama benda yang ada ditanganya.
"Pe-sa-wat." ucap Wisnu menjelaskan.
"Pe waa wat." ulang Arka menirukan ucapan daddynya membuat Raka tertawa.
"Ayo masuk!" ajak Sandra pada tamunya setelah melihat tingkah lucu keponakan suaminya itu.
"Gimana kabar Mbak Sandra?" tanya Alana sambil berjalan bergandengan masuk kedalam rumah.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" Sandra balik bertanya sambil melirik adik iparnya itu.
"Alhamdulillah baik Mbak." jawab Alana sambil menyungingkan senyum.
Pembicaraannya dengan Naren membuat Alana semakin tenang. Tanda tanya besar yang sering menghampiri pikirannya terjawab sudah, meski sebagian sudah dia ketahui penyebabnya. Namun penjelasan dari Naren itulah yang utama.
Sayangnya pria itu baru berani menemuinya saat ini. Kembali pada takdir, Alana menyadari semua ini sudah di tetapkan oleh sang pencipta hingga Alana harus menjalani ini semua.
"Semoga saja dia tidak lagi membuat masalah." ucap Sandra lagi sambil melirik Wisnu yang sibuk dengan Arkana dan Raka.
Alana yang melihat pandangan mata Sandra mengerti maksud ucapan kakak iparnya ini. Sandra sudah tahu hubungannya dengan Wisnu. Dan Sandra tidak ingin Alana kembali terluka oleh orang-orang yang katanya mencintainya.
"Hati-hati saja, wanita itu bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Seperti merusak acara pertunangan kamu dan Naren contohnya." balas Sandra.
"Mbak ke dapur dulu, biar bibi bisa menyiapkan makan malam untuk kita."
Alana mengangguk. Apa yang kakak iparnya itu ucapkan benar. Tentu saja Alana akan selalu berhati-hati pada Amel setelah tahu semua yang dilakukan wanita itu teehadapnya. Apa lagi Naren sudah menjelaskan apa penyebab mantan kakak iparnya itu membencinya. Pertanyaan yang akhir-akhir ini selalu terlintas di kepala Alana, terjawab sudah.
"Wanita itu menaruh dendam padamu Al. Karena cintanya selalu ditolak oleh seseorang, orang yang selama ini mencintai kamu." ucap Naren tadi, saat mereka bicara.
"Karena itu, dia selalu ingin kamu merasakan luka dan kecewa yang sama dengannya. Dan kakak minta maaf karena telah terjebak denga permainan wanita itu sampai kakak menyakiti kamu." ucap Naren lagi.
Naren sendiri tidak tahu siapa pria itu, bahkan dia sangat penasaran ingin bertemu. Apa jadinya nanti saat Naren tahu jika pria yang selama ini mencintai Alana adalah Wisnu?
"Sayang."
__ADS_1
Suara Wisnu menarik Alana dari lamunannya tentang Naren.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Wisnu sambil menjatuhkan tubuhnya duduk disamping Alana.
"Bukan apa-apa Bang." jawab Alana yang tidak enak hati telah memikirkan Naren.
Wisnu menghargai Alana yang tidak ingin berbagi dengannya. Wisnu tidak bisa memaksa meski dia sangat penasaran dengan apa yang Alana bicarakan tadi dengan Naren. Calon istrinya ini lebih banyak diam setelah bicara dengan pria iti, dan Wisnu tidak ingin Alana terganggu oleh perkataan Naren.
"Bang!"
Wisnu segera menoleh. Mereka sedang duduk di depan televisi. Tidak jauh dari mereka ada Arkana dan Raka sedang bermain di jaga Kinara. Sementara Dirga dan Rendi entah kemana, tadi Rendi mengajak Dirga untuk ikut bersamanya. Sandra sendiri masih berada di dapur bersama asisten rumah tangganya.
"Abang tahu kabar Amel?" tanya Alana.
"Hemm." jawab Wisnu singkat karena dia tidak suka membahas tentang Amel.
Mantan istri Rendi itu sudah Wisnu singkirkan ditempat yang cukup jauh. Wanita itu sudah tidak bisa lagi menganggu dirinya dan juga Alana. Tentu saja tanpa Amel tahu siapa pelakunya. Yang membuat dia sekarang tinggal di tempat yang jauh dari ibu kota.
"Kenapa Abang seperti tidak suka dengan pertanyaan Al? Abang tidak mau jujur?" tanya Alana lagi.
Wisnu menyatukan alisnya, dia tidak mengerti kejujuran apa yang Alana inginkan?
"Tentang Abang dan Amel." ucap Alana.
"Abang tidak punya hubungan apa-apa dengan Amel." jawab Wisnu.
Alana terdiam, Wisnu tidak salah. Amel saja yang terlalu memendam sakit hati hingga mendendam padanya yang tidak tahu apa-apa. Jujur Alana sempat kesal pada Wisnu. Karena pria itu, Amel melakukan semua ini pada dirinya. Bahkan perbuatan buruk Aditya pun karena ulah wanita itu lewat Cintia.
Wisnu meraih tangan Alana, lalu menggenggamnya. Wisnu ingin wanitanya tahu perasaannya hanya untuk Alana, karena itu dia tidak ingin membahas wanita lain dalam percakapan mereka.
Masalah dia telah menyingkirkan Amel, bukan Wisnu tidak ingin memberitahu. Wanita itu bukan orang penting dalam hidupnya, mengapa harus dibahas?
"Al bantu Mbak Sandra dulu." ucap Alana lalu berdiri menuju dapur.
Wisnu hanya bisa membiarkan saja apa yang Alana lakukan. Dia sadar, dia belum berhak penuh pada wanita itu. Wisnu masih harus menunggu satu bulan lagi untuk bisa melamar Alana secara resmi.
Membayangkan hari itu tiba, membuat Wisnu senyum sendiri. Hal yang hampir tidak pernah Wisnu lakukan.
"Jangan jadi gila hanya karena Naren datang menemui Alana." tegur Dirga yang membuat Wisnu berdecak kesal.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...