Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 26. Kamar Impian


__ADS_3

Alana masuk ke kamar yang akan dia tempati selama tinggal di kediaman Dirga. Membiarkan Arkana yang masih bermain bersama Wusnu di ruang keluarga. Sementara Kinara entah kemana sahabatnya itu pergi, begitu juga dengan Dirga, kakak sepupunya itu hilang tanpa jejak setelah sarapan tadi pagi.


Alana tidak akan merusuhi keduanya, dia paham tidak mudah bagi Kinara bertemu lagi dengan Dirga begitupun sebaliknya tidak mudah bagi Dirga kembali bertemu Kinara. Alana tidak akan ikut campur. Biarkan saja, mereka berdua pasti akan bicara empat mata untuk menyelesaikan kesalah pahaman mereka selama ini. Alana yakin itu.


Tiba di dalam kamar, Alana mengedarkan pandangannya. Kamar yang akan dia tempati ini jauh lebih besar dari kamar miliknya bersama Abimana. Namun, bukan besarnya kamar itu yang membuat Alana terkesima, melainkan desain interiornya.


Semua ini seperti mimpi, Alana terpana. Desain interior kamar ini sama persis dengan kamar yang Alana inginkan selama ini. Dulu Alana sangat pintar mengambar, dan dia pernah menggambar desain kamar impianya sendiri, desain yang sekarang diterapkan Dirga di kamar yang akan Alana tempati ini.


"Bagaimana abang Dirga bisa tahu semua ini?" gumam Alana sambil mencoba menebak apa yang dia lewatkan.


Karena tidak ada yang tahu perihal gambar dan catatan yang selalu Alana bawa kemana-mana itu, kecuali dirinya dan sang bunda. 'Tidak mungkin kan, jika sang bunda yang membocorkan desainnya pada abang sepupunya itu?' pikir Alana. Lalu bagaimana bisa?


Alana tidak tahu saja jika yang mendesain kamar tersebut sebenarnya adalah Wisnu. Pria itu memberikan ide saat Dirga mengatakan ingin merenovasi kamar yang akan ditempati Alana, ide yang sebenarnya impian Alana selama ini.


Melihat Alana memasuki kamarnya, Wisnu membawa Arkana mengikuti wanita itu. Dia berdiri diambang pintu kamar yang terbuka lalu tersenyum melihat Alana yang terpana pada desain interior yang dia wujudkan. Wisnu ahkan membayar mahal untuk persiapan semua ini.


Kini kenangan Wisnu kembali kemasa lalu, bagaimana dia tidak sengaja menemukan buku catatan milik Alana yang terjatuh didalam mobilnya.


"Makasih ya Bang, Bang Wisnu sudah mau gantiin Mas Rendi jemput Al pulang sekolah." ucap Alana begitu dia naik kendaraan milik Wisnu dan duduk dibangku samping pengemudi.


Wisnu tersenyum lalu mengacak rambut Alana, sungguh dia tidak keberatan sama sekali meski harus setiap hari mengantar jemput Alana sekolah. Bukankah ini akan semakin baik untuknya untuk bisa dekat dengan Alana?


"Kita makan dulu, mau?" tawar Wisnu. Apa lagi jika bukan ingin berlama-lama dengan Alana dan hanya berdua saja. Selama ini selalu ada Rendi dan Dirga atau salah satu dari kedua abang Alana itu saat mereka pergi keluar.


"Mau Bang." jawab Alana cepat. Kapan lagi bisa makan siang di luar, gratis pula.


"Mau makan dimana?" tanya Wisnu.


"Ayam goreng kriuk aja deh Bang." jawab Alana. Sudah lama dia tidak makan, makanan cepat saji yang terkenal dengan slogan jagonya ayam itu.


Wisnu menyetujui permintaan Alana, Keduanya masuk kedalam restoran cepat saji yang ada di salah satu mall dekat dengan kediaman orang tua Alana.


Sambil menunggu Wisnu yang mengantri makanan, Alana mengeluarkan buku catatannya. Alana membuka lembaran kertas yang dia gambar lalu mulai menuliskan rincian isi kamar yang sudah dia gambar itu.


Wisnu yang tengah mengantri sesekali memperhatikan Alana. Sungguh adik dari kedua sahabatnya itu sangat cantik dan membuat debar jantungnya berdegup berbeda. Sayangnya, kedua kakak gadis itu menetang Wisnu untuk menjadikan adik mereka sebagai kekasih.

__ADS_1


Alana yang tampak serius, memperlihatkan sisi dewasanya, Wisnu hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak bisa mengatakan apa yang dia rasakan pada gadis itu saat ini.


"Nih." ucap Wisnu mengagetkan Alana.


"Banyak sekali Bang!" seru Alana begitu melihat nampan yang dibawa Wisnu .


"Abang yang habiskan semua ini, Al nggak sanggup" ucap Alana lagi.


Wisnu tertawa, kita habiskan sama-sama." sahut Wisnu.


"Al makanya hanya sedikit Bang." balas Alana, "Berarti Abang Wisnu yang makannya banyak."


"Yakin? Bagaimana kalau kita lomba? Siapa yang sanggup menghabiskan lebih banyak akan dikasih hadiah." ucap Wisnu.


"Boleh minta hadiahnya apa saja?" tanya Alana antusias. Wisnu megangguk, "Apa saja."


"Ok deal." sahut Alana sambil mengulurkan tagannya untuk berjabat tangan.


"Deal." jawab Wisnu sambil membalas uluran tangan Alana.


Jika Alana sanggup menghabiskan lebih banyak makanan yang dibeli Wisnu, maka dia yang akan mendapat hadiah. Demi mendapatkan apa yang Alana inginkan, gadis itu mengabaikan misinya untuk diet. "Hanya hari ini saja, tidak apa-apa, kan?" batin Alana.


Alana menang, tepatnya Wisnu yang mengalah dan pria itu akan membelikan apa saja yang Alana inginkan. Karena terlalu banyak makan, dalam perjalanan pulang Alana tertidur akibat kekenyangan.


Tiba dikediaman orang tua Alana, gadis itu belum juga terjaga dari tidurnya. Wisnu melihat Shinta, bunda Alana sudah menunggu di teras. Pria itu turun lalu memberitahu Shinta jika putri kesayangannya tertidur di mobil.


"Kamu gendong saja Nu!" pinta Shinta, " Alana itu kalau sudah tidur seperti kebo, susah dibangunkannya." ucap Shinta menjelaskan.


Setelah membaringkan Alana dikamar gadis itu, Wisnu segera pamit pulang. Tanpa memeriksa ke bangku yang ada disampingnya, Wisnu kembali melajukan kendaraan miliknya membelah jalanan.


"Apa ini?" gumam Wisnu begitu menemukan buku kecil milik Alana.


Penasaran dengan isi buku itu, Wisnu memberanikan diri untuk membukanya. Dia tahu apa yang dia lakukan ini salah, tapi rasa penasarannya membuat Wisnu memberanikan diri membaca tulisan Alana di dalam buku tersebut. Hampir semua berisi catatan rencana masa depan gadis kecilnya dan salah satunya Wisnu menemukan gambar desain kamar yang dia tahu itu kamar impian Alana dari catatan kecil yang ada di gambar tersebut.


"Dad... i." ucap Arkana menarik Wisnu dari ingatannya di masa lalu.

__ADS_1


"Bang!" panggil Alana begitu mendengar suara Arkana yang memanggil Wisnu.


Awalnya Alana tidak mengizinkan putranya untuk memanggil Wisnu daddy, tapi Arkana sulit dialihkan. Bayi gembul itu sangat suka memanggil Wisnu dengan panggilan yang diajarkan oleh pria blasteran Eropa tersebut.


Tidak ingin ketahuan Alana jika dia sejak tadi mengawasi wanita itu, Wisnu terpaksa membuat alasan.


"Arka sepertinya mengantuk." ucap Wisnu. Dia tidak sepenuhnya berbohong, Arkana memang sudah membuka lebar mulut kecilnya itu beberpa kali.


Alana berjalan mendekati Wisnu, "Sini Bang, biar Al yang gendong Kana." ucap Alana.


"Baringkan saja di tempat tidur biar kamu tidak kelelahan. Arka cukup berat, lama-lama kamu bisa pegal." ucap Wisnu memberikan saran.


Alana mengangguk, "Iya Bang. Terima kasih." balas Alana.


"Kamu juga istirahat Al, Abang pulang dulu." pamit Wisnu sambil mengusap pucuk kepala Alana.


Alana meremang, perhatian Wisnu mengembalikan rasa yang pernah ada. Tapi Alana tidak berani berharap banyak. Setidaknya dia harus menyelesaikan masalah rumah tangganya terlebih dulu baru memikirkan yang lain setelahnya.


"Iya Bang, hati-hati. Maaf Al nggak bisa antar Abang sampai kedepan." jawab Alana.


"Tidak apa-apa. Sana bawa Arka istirahat." balas Wisnu.


Pria itu berbalik untuk pergi, namun baru beberapa langkah dia kembali melihat pada Alana yang masih berdiri di pintu.


"Kamu suka dengan desain kamarnya?" tanya Wisnu.


"Abang yang melakukannya?" tanya Alana penasaran.


Wisnu tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu berlalu dalam diam. Meski begitu Alana sudah tahu jawabanya. Pria itu selalu saja tahu apa yang Alana inginkan.


Salahkah Alana bila dia jatuh cinta lagi?


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...

__ADS_1


__ADS_2