
Apa yang menjadi kegelisahan Alana terjawab sudah. Saat tengah malam, Dirga mendengar benda terjatuh di kamar Alana. Segera saja Dirga menyalakan tablet miliknya.
Sebelum masuk ke kamar, Dirga meletakkan kamera tersembunyi yang mengarah ke tempat tidur Alana dan Arkana yang berdampingan. Kamera tersebut dia hubungkan pada ponsel miliknya.
Dari layar ponselnya, Dirga bisa melihat seorang laki-laki memiliki ukuran tubuh sayangnya otaknya tidak sebesar badanya.
"Orang itu hanya orang suruhan saja." gumam Dirga sambil terus mengawasi laki-laki yang masuk ke kamar Alana.
Dirga terkekeh sendiri melihat laki-laki itu mengambil boneka bayi yang dia kira Arkana. Orang itu sepertinya ingin menculik Arkana, seperti yang sering dikhawatirkan Alana.
Untung saja dia mengikuti saran Kinara untuk menyelimuti boneka milik Alana saat masih remaja di tempat tidur keponakannya itu.
"Bodoh." gumam Dirga kembali menertawakan laki-laki tersebut, karena tidak menyadari yang ada dalam gendongannya hanyalah boneka, bukan Arkana keponakannya.
Tidak lupa Dirga menghubungi Wisnu melalui ponselnya. Memberi tahu sahabatnya itu untuk berhati-hati. Dirga yakin laki-laki yang sekarang ada di kamar Alana itu tidak datang seorang diri.
Lagi-lagi Dirga beryukur. Karena setelah dia menyelimuti boneka bayi tersebut, Dirga menyelimuti guling Alana yang bagian atasnya dia kenakan hijab instan. Sempurna sekali idenya itu, agar tempat tidur Alana terlihat ada orang yang sedang tidur diatasnya.
Wisnu tengah duduk menghadap laptop yang tadi sore dia titip di kediaman orang tua Alana. Sebenarnya dia ingin sekali bisa tidur untuk beristirahat, tapi sayangnya mata dan pikiranya tidak bisa diajak bersahabat. Dari pada waktunya terbuang percuma, maka Wisnu pakai buat bekerja.
Satu pesan masuk dari Dirga. Dan saat Wisnu membaca pesan tersebut dia langsung berdiri untuk memeriksa lantai satu ini lewat CCTV yang sudah tersambung sejak lama dengan laptop miliknya.
Bukan ingin mengintip Alana sedang apa dan melakukan apa. Tapi untuk keadaan darurat seperti saat ini. Wisnu tidak perlu keliling untuk memeriksa setiap tempat di lantai satu ini, yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri.
Seperti yang dia dan Dirga pikirkan, laki-laki yang akan menculik Arkana itu tidak datang seorang diri. Namun bukan itu yang Wisnu permasalahkan, melainkan sosok yang kini duduk di meja makan.
"Cari tahu mengapa wanita itu bisa terlewatkan dari pemantauan?" ucap Wisnu pada Rian orang kepercayaannya.
"Pasti ada yang berkhianat." gumam Wisnu yang masih bisa didengar oleh orang kepercayaan calon suami Alana itu.
"Akan saya cari tahu secepatnya Pak." jawab Rian cepat. Dia tidak boleh mengecewakan orang yang sudah banyak menolongnya selama ini.
"Sekarang kirim orang kita untuk menangkap penyusup!" ucap Wisnu memberikan perintah.
"Siap Pak. Segera." balas Rian.
Tidak perlu menunggu lama, kedua penyusup itu segera saja di sergap oleh orang-orang yang ditugaskan Rian atas perintah Wisnu.
"Kamu belum kapok juga ternyata Rachel." tegur Dirga pada mantan kekasih Abimana itu.
__ADS_1
Kedua penyusup itu adalah Rachel dan Alex, kekasih Amel yang kabur dari wanita itu. Sebenarnya Amel saja yang bodoh hingga tidak tahu jika selama ini dia dicurangi oleh Rachel dan Alex yang bermain dibelakangnya. Berkedok sahabat Amel, membuat Rachel bebas bertemu Alex dibelakang mantan istri kedua Rendi itu. Bahkan putri Rachel yang diakui sebagai anak Abimana itu sebenarnya adalah anak Alex.
"Apa kau tidak tahu, kalau kau akan menjadi seorang ayah lagi?" ucap Dirga kini kepada Alex.
"Kau hamil lagi sayang?" tanya Alex pada Rachel.
"Bodoh!" hardik Rachel pada ayah putrinya itu, "Yang hamil itu Amel." sahutnya lagi memberitahu Alex.
"Apa? Amel hamil? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Agam beruntun.
"Ck. Memangnya kamu mau bertangung jawab?" tanya Rachel kesal.
"Pada Camelia saja kamu tidak bisa jadi ayah yang baik." umpat Rachel pada Alex.
Sempat-sempatnya pria ini mempertanyakan kehamilan Amel disaat mereka sedang ketahuan akan menculik Arkana. 'Begini kalau bekerja dengan orang bodoh.' geram Rachel dalam hati.
Dirga dan Wisnu menatap dingin pada dua orang yang ribut tidak jelas di hadapan mereka tanpa ada niat untuk melerai hingga keduanya berhenti sendiri.
"Sudah selesai ributnya?" tanya Wisnu yang akhirnya ikut bicara setelah kedua penyusup itu diam.
Tidak ada jawaban dari Alex maupun Rachel. Keduanya hanya saling pandang tanpa ada lagi yang ingin bicara.
"Apa lagi? Kami butuh uang. Dan Arkana bisa jadi lahan uang bagi kami dari banyak pihak." jawab Rachel.
Sungguh keterlaluan rencana Rachel ini. Dia seorang wanita dan juga seorang ibu, tapi tega memisahkan seorang bayi dengan ibunya demi uang. Benar-benar wanita luar biasa yang tidak punya hati.
Tidak lama kemudian, beberapa anggota kepolisian datang. Tentu saja atas laporan Wisnu melalui Rian orang kepercayaannya yang siap membantu dalam kondisi apapun.
Setelah mendapat penjelasan apa yang terjadi dari Wisnu dan Dirga, pihak yang berwajib itu membawa Rachel dan Agam kekantor mereka untuk diperiksa.
Jika kasus sebelumnya tidak ada hal yang bisa membawa Rachel kerana hukum, berbeda dengan sekarang. Mereka masuk seperti maling dan berniat menculik. Meskipun rencana mereka gagal, Rachel dan Alex tetap bisa ditahan walau tidak lama. Setidaknya memberi pelajaran buat mereka dan sadar apa yang telah keduanya perbuat itu salah.
Berita penangkapan Rachel sampai ke telinga Wijaya. Pria paruh baya itu marah besar karena cucunya yang akan dijadikan sandera oleh kedua orang itu.
Sementara itu dikediaman Rendi, Alana merasa baru saja memejamkan mata. Namun suara ponsel yang lupa dia senyapkan suaranya, membuat Alana harus kembali terjaga.
Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya Alana ingin mengabaikan pesan tersebut, tapi isi pesan tersebut mampu membuat Alana bangkit dari tidurnya.
'Jangan kamu kira sudah menang karena berhasil menyingkirkan aku jauh dari ibu kota. Kamu salah.'
__ADS_1
'Aku pasti bisa merebut Wisnu dari kamu.'
Untungnya Alana membaca pesan tersebut lewat notifikasi sehingga sang pengirim pesan yang Alana yakini adalah mantan kakak iparnya itu tidak mengetahui pesan tersebut sudah di baca.
"Siapa yang yang menyingkirkan dia jauh dari ibu kota?" ucap Alana bertanya pada dirinya sendiri.
"Abang Rendi kah?" tebak Alana, "Atau Bang Wisnu?"
Alana yakin diantara kedua pria itu yang melakukanya atau keduanya bekerja sama hingga Amel terlihat putus asa. Alana tidak takut dengan ancaman Amel. Selama ini wanita itu membuat hancur hidup Alana tanpa ancaman bahkan tidak mengira itu perbuatannya.
Tapi, kali ini wanita itu mengiriminya pesan. Dengan yakin dia akan merebut Wisnu. Itu berarti Amel tidak mampu berbuat apa-apa disana, yang akhinya mengancam Alana agar mundur dari rencananya yang akan menikah dengan Wisnu.
Sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Alana mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Al, ini Abang." ucap Rendi.
Lalu pintu kamar yang ditempati Alana terbuka setelah Rendi memberi tahu adiknya.
"Kamu belum tidur Al?" tanya Rendi.
"Sempat ketiduran, tapi kebangun lagi." jawab Alana jujur.
"Abang sendiri belum tidur?" ucap Alana balik bertanya.
"Belum, Abang dari tadi koordinasi dengan Wisnu dan Dirga."
"Maaf. Karena perasaan tidak nyaman Al, kalian jadi sibuk begini. Padahal abaikan saja seperti biasanya."
"Untuk apa minta maaf. Perasaan tidak nyaman kamu itu bahkan sangat membantu. Kita bisa menangkap orang yang berencana jahat sama kamu." balas Rendi.
"Maksud Abang?"
"Sini." Rendi mengajak Alana duduk di sampingnya, di sofa yang ada di kamar tamu yang Alana tempati.
"Lihatlah." ucap Rendi menyodorkan ponsel miliknya pada Alana.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1