Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 47. Permintaan Alana


__ADS_3

Alana tidak ingin menganggu kebahagian Rendi dan Sandra. Dia juga tidak ingin merepotkan Dirga yang sebentar lagi akan menikah dengan Kinara. Dan Alana juga tidak ingin kembali ke kediamannya bersama Abimana.


Alana pun memutuskan untuk sementara dia akan menempati kediaman orang tuanya sampai mendapatkan kediaman baru yang sesuai dengan yang Alana inginkan.


Menjadi janda dengan satu anak bukan hal yang menakutkan bagi Alana. Apa lagi dia terus mendapatkan banyak dukungan dari kedua kakaknya dan Kinara.


Untuk menopang ekonominya, Alana akan melanjutkan kembali rencananya untuk membuka butik. Rencana yang sempat tersendat karena masalah yang kemarin dia hadapi. Alans akan menyelesaikan renovasi tokonya serta memilah-milah lagi produk yang akan dia launching dipembukaan butiknya.


"Bu." panggil Arkana.


Alana menoleh pada putranya yang sedang menunjuk ke arah televisi yang ada diruang kerjanya. Arkana ikut menemaninya sambil menonton film kartun kesukaan Arkana. Entah sejak kapan film kartun itu berganti acara menjadi acara infotainment. Yang lebih mengejutkan lagi, ada Wisnu disana.


"Daddy." ucap Arkarna yang mengenali pria yang sedang diwawancarai oleh wartawan.


"Iya, daddy." jawab Alana, lalu kembali meneruskan pekerjaannya yang sedang memperbaiki sedikit rancangannya.


Untuk saat ini dia tidak akan memikirkan Wisnu. Pria itu sepertinya sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga menghilang tanpa kabar setelah menghadiri sidang putusan cerainya. Wisnu saat itu datang hanya untuk memberikan selamat padanya, lalu memperkenalkan Sandra. Wisnu tidak banyak bicara denganya, Alana tidak tahu mengapa pria itu bersikap berbeda?


Tapi tidak dengan Sandra, nenek Wisnu itu terus memberikan semangat pada Alana. Meyakinkan Alana pasti mampu melewati ini semua dan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi setelah ini.


"Tuan Wisnu, kami dengar anda sedang dekat dengan putri dari tuan Rafael, nona Helen."


Mendengar pertanyaan wartawan itu, ada perasaan sakit yang Alana rasakan, "Apa itu benar?" gumamnya.


Wisnu tidak membantah dan juga tidak membenarkan pertanyaan wartawan tersebut. Pria itu hanya diam lalu pergi menghindar.


Alana sudah tidak konsentrasi lagi dengan pekerjaannya. Entah mengapa pertanyaan itu sangat mengusik dirinya. Mungkinkah karena itu Wisnu menjauh? Mengapa dia harus marah dan kecewa?


"Daddy!" suara keras Arkana mengejutkan Alana.


"Apa kabar anak Daddy yang tampan ini?" tanya Wisnu pada Arkana yang sudah ada dalam gendongannya.


Arkana tidak menjawab, dia memeluk pria dewasa itu dengan erat. Arkana merindukan Wisnu tapi dia tidak bisa mengungkapkannya pada ibunya.


"Kangen Daddy?" tanya Wisnu yang langsung mendapat anggukan dari Arkana.


"Daddy juga kangen sayang." ucap Wisnu lagi.


Arkana menunjuk televisi, "Daddy disana." ucapnya.


Wisnu tersenyum, inilah tujuannya mengunjungi Alana dan Arkana hari ini. Sejujurnya Wisnu sangat merindukan keduanya. Namun untuk menjaga nama baik Alana, Wisnu mencoba untuk bersabar sampai tiba waktunya dia akan melamar Alana.

__ADS_1


Tapi pertanyaan wartawan kemarin menganggu rencana Wisnu. Dia harus menemui Alana dan memberikan penjelasan. Meminta Alana untuk percaya dan menunggunya sampai tiba waktunya untuk mereka bisa bersama.


"Arka main sama bi Onah dulu ya. Daddy mau bicara sama Ibu." ucap Wisnu pada Arkana.


Bi Onah yang sejak tadi sudah ada disana segera saja mengambil Arkana dari gendongan Wisnu. Saat membukakan pintu untuk Wisnu, pria itu sudah memberitahunya untuk menjaga Arkana, karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Alana.


"Sedang sibuk?" tanya Wisnu menyapa Alana.


"Sedikit hanya memperbaiki desain." jawab Alana apa adanya.


Wisnu melihat gambar pakaian yang dibuat Alana. Calon istrinya sejak dulu memang suka mendrsain pakaian. Tidak heran jika hasilnya akan seindah yang Wisnu lihat saat ini.


"Al." panggil Wisnu pelan.


Baru saja Alana akan menoleh pada Wisnu, pria itu sudah menarik Alana masuk kedalam pelukannya. Tidak ada suara dari keduanya, yang ada wisnu semakin mengeratkan pelukanya pada Alana.


Jika boleh jujur, saat persidangan selesai Wisnu sangat ingin memeluk wanitanya. Tapi akal sehat menyadarkannya untuk tidak melakukan hal gila itu. Diamnya Wisnu karena dia menahan rasa. Alana sudah terbebas dari Abimana, itu berarti tinggal menunggu waktu untuk bisa bersama kekasih hatinya.


"I miss you." bisik Wisnu.


Alana menarik kemeja yang dikenakan Wisnu semakin erat. Dia larut dalam kehangatan pria ini. Alana juga merindukan Wisnu.


"Jagan percaya apapun dengan berita diluar sana." ucap Wisnu memohon.


"Benar sekalipun tidak ada hubungannya dengan...."


"Ada, tentu saja ada. Abang tidak ingin kamu salah paham." ucap Wisnu memotong ucapan Alana.


"Abang akan melamar kamu setelah masa id...."


"Jagan katakan itu, Al belum bisa menjawabnya sekarang, Bang."


"Abang tahu, aturan yang melarangnya. Tapi Abang ingin kamu tahu, hati Abang untuk kamu, dulu, sekarang dan selamanya." balas Wisnu.


Siapa yang tidak tersentuh hatinya mendapatkan ungkapan cinta yang begitu besar dari orang yang diam-diam juga mencuri hatinya.


"Helen, dia wanita yang dijodohkan mama dengan Abang. Hanya mama, tidak dengan yang lainnya." ucap Wisnu setelah mereka duduk berhadapan di sofa ruang kerja milik ayah Alana.


"Al!" panggil Wisnu, karena Alana hanya diam.


"Hanya mama, Al. Papa ,kakek dan nenek semua merestui." ucap Wisnu setelah Alana menoleh padanya.

__ADS_1


"Kamu percaya Abang, kan?" tanya Wisnu untuk meyakinkan.


Alana tidak tahu harus menjawab apa? Belajar dari pengalamannya dimasa lalu, Alana takut dengan kata tidak direstui. Apa lagi itu dari ibu kandung Wisnu.


Dulu bersama Abimana, ibu kandung pria itu juga tidak merestuinya. Banyak sumpah serapah yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Mungkin sumpah serapah itulah yang membuat rumah tangganya bersama Abimana berakhir dengan perceraian. Alana tidak ingin itu terulang lagi jika kelak dia membina rumah tangga lagi.


"Al."


Alana terkejut karena Wisnu sudah berada disampingnya. Pria itu menjepit dagu Alana dengan kedua jarinya. Matanya menatap lekat Alana.


"Maaf." gumam Wisnu, lalu mengecup bibir Alana.


Hanya kecupan sepertinya tidak mampu membuat Alana luluh. Wisnu meberanikan diri untuk memperdalam cium annya. Alana yang semula diam dan kaku karena tidak siap dengan apa yang Wisnu lakukan berlahan mulai membalas cium an itu.


Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Cinta masa lalu yang terpendam tersalurkan semuanya saat ini, sampai akhirnya Alana tersadar akan dosa yang dia lakukan. Alana melepaskan tautan mereka lalu mendorong Wisnu untuk menjauh.


"Maaf." ucap Wisnu lagi.


Alana berdiri hendak meninggalkan ruang kerja itu, tapi langkahnya tertahan oleh Wisnu yang memegang lengannya.


"Jagan menghindar." bisik Wisnu.


Alana menggeleng. Dia bukan menghindari Wisnu, tapi ini tidak baik untuk mereka. Mereka bisa melakukan dosa yang lebih jauh lagi jika terus berdua seperti ini.


"Temui Al dua bulan lagi." ucap Alana.


Bukan melepaskan Alana, Wisnu semakin menarik wanitanya masuk kedalam pelukanya. Jawaban Alana sudah jelas wanitanya menerima perasaanya. Dua bulan lagi Wisnu akan datang bersama keluarganya untuk melamar Alana.


"Selesaikan masalah Abang dengan Helen dan minta restui baik-baik pada mama Abang." ucap Alana lagi.


"Tentu sayang. Abang akan lakukan apapun itu permintaan kamu." jawab Wisnu sambil mengurai pelukannya.


"Terima kasih, dan tunggu Abang sampai waktunya tiba." ucap Wisnu lagi.


Jagan tanyakan bagaimana wajah Alana, sudah dapat dipastikan merona merah itu terlihat jelas dimata Wisnu yang tersenyum lebar.


"Sayang, Abang boleh datang untuk bertemu Arka?" tanya Wisnu.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...

__ADS_1


__ADS_2