Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 24. Pindah


__ADS_3

Abimana tidak tenang selama menjalankan prosesi pembukaan cabang baru perusahaan Rahardian. Pikirannya selalu saja kembali tertuju pada surat cerai yang dilayangkan Alana.


Kegelisahan Abimana saat ini tentu saja bisa dibaca oleh Wijaya. Satu yang Wijaya khawatirkan yaitu kesehatan menantu dan cucunya. Setelah menjenguk Alana seminggu yang lalu, Wijaya belum kembali lagi untuk mengunjungi menantu dan cucu pertamanya, Arkana. Selain mengurus pekerjaanya, Wijaya dan Ajeng harus keluar kota. Mereka berdua mengunjungi keluarga Ajeng yang sedang terkena musibah.


Acara peresmian sudah selesai, satu persatu rekan bisnis Rahardian pamit undur diri. Wijaya yang sudah tidak sabar ingin bertanya sesuatu pada Abimana, segera saja berjalan mendekati putranya.


Abimana masih terlihat berbincang dengan beberapa rekan bisnis perusahaan Rahardian, melihat kehadiran Wijaya, mereka segera menyapa pria paruh baya itu. Sekadar basa basi, Wijaya menyalami mereka satu persatu dengan ramah dan senyum lebar meski dibenaknya sudah ingin bertanya tentang Alana dan Arkana pada Abimana.


"Kita bicara diruangan." ajak Wijaya yang langsung melangkah menuju ruangan yang tak jauh dari mereka. Abimana mau tidak mau membuntuti langkah Wijaya, dia tidak punya alasan karena rekan bisnis yang sebelumnya berbincang dengannya sudah pamit untuk kembali ke perusahaan mereka masing-masing.


Tiba di dalam ruangan itu, Wijaya langsung duduk di sofa, menyandarkan punggungnya yang sudah terasa lelah menemani para kolega dan rekan bisnis keluarga Rahardian.


Abimana mengikuti apa yang Wijaya lakukan. Bukan hanya Wijaya yang lelah, dia pun sama. Bukan karena lelah fisik saja, tapi juga lelah hati dan pikirannya.


"Ada apa Pa?" tanya Abimana yang ingin segera kerumah sakit menemui Alana.


Wijaya menatap lekat wajah putranya, "Apa ada berita buruk tentang kesehatan Alana?" tanya Wijaya menyelidik.


Mendengar pertanyaan Wijaya, Abimana menghembuskan nafas kasar. Sebaik apapun dia berusaha tersenyum dalam acara peresmian tadi, Wijaya tetap saja tahu tentang dirinya yang tidak baik-baik saja.


Abimana menggeleng, "Bukan tentang kesehatan Alana, ta...."


"Tapi Arkana?" sahut Wijaya memotong ucapan Abimana.


Kembali Abimana menggeleng, "Ini jauh lebih buruk untuk Abi hadapi." ujar Abimana.


Wijaya menyipitkan matanya, dia tidak mengerti apa yamg Abimana ucapkan.


"Maksud kamu apa Bi? Apa terjadi sesuatu dengan menantu dan cucu papa?" tanya Wijaya.


Abimana menggelengkan kepala, "Al dan Kana baik-baik saja." jawabnya.


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Wijaya bingung.


"Abi sudah katakan, ini ujian terberat buat Abi, Pa. Harusnya Abi mencari tahu terlebih dulu apa yang terjadi, dan tidak perlu memberi tahu Alana tentang siapa ayah biolgis Arkana." ucap Abimana penuh penyesalan.

__ADS_1


Sepulang dari rumah sakit, Abimana kembali kekediamannya bersama Alana. Hingga malam larut, dia tidak juga bisa memejamkan mata. Wajah kecewa Alana saat dia menuduh istrinya itu selingkuh, terus terbayang. Dan hanya ada rasa sesal yang terus menghantui Abimana, akibat kesalahan yang dia lakukan.


Jika kemarin Alana yang kecewa dengan Abimana dan memilih untuk berpisah. Kini Abimana yang kecewa dengan keputusan Alana. Tapi, Abimana tidak bisa menyalahkan Alana, dia sangat sadar, siapa yang tidak kecewa dengan sikapnya.


Saat meninggalkan Alana, Abimana memang bernita bercerai. Tapi, setelah tahu yang sebenarnya, Abimana ingin mempertahankan rumahtangganya. Dia akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Alana, dan seperti permintaan Wijaya, mereka akan membalikkan fakta pada Alana. Tapi sekarang?Abimana menyesal, dia terbawa emosi saat tahu Arkana bukan putranya.


"Bi!" panggil Wijaya karena Abimana hanya diam saja. Rumah tangga putra pertamanya sedang diuji, dan pelakunya putra bungsunya. Wijaya tidak bisa bertindak keras pada Aditya, seperti yang biasa dia laukan pada orang lain yang membuat kesalahan.


"Alana mengajukan surat cerai." jawab Abimana.


Percuma saja Abimana menutupi masalah yang terjadi dengan rumah tangganya, kan? Karena pada akhirnya Wijaya tetap akan mengetahuinya juga. Lebih baik dia yang memberitahu dari pada Wijaya mengetahuinya dari orang lain.


Wajah Aditya kini yang terbayang di ingatan Abimana, sungguh Abimana rasanya ingin menlenyapkan adiknya itu. Karena ulah Aditya maka semua ini terjadi. Sayangnya, Abimana tidak bisa melakukannya. Yang ada rasa benci, marah dan kecewa kini berkecamuk dikepala, hingga Abimana sulit memutuskan.


"Apa? Cerai?" tanya Wijaya tidak menyangka.


Belum sempat Abimana mengungkapkan pendapatnya, Wijaya kembali bicara, "Urus hak asuh Arkana jatuh ketangan kita, Bi." ucap Wijaya.


Kini Abimana yang terkejut dengan permintaan Wijaya, "Pa!" bentak Abimana tanpa sadar.


Harusnya Wijaya meminta Abimana mempertahankan pernikahan itu, bukan menerima saja permintaan Alana. Tapi kenyataannya? Sungguh Abimana kecewa. Abimana merasa diabaikan.


"Inikah yang kamu rasakan Al?" batin Abimana, teringat saat dia tidak memperdulikan perasaan Alana.


Sementara itu, hari ini Alana pulang ke kediaman Dirga. Dia dan Arkana keluar dari rumah sakit pagi-pagi sekali dengan kendaraan milik Dirga dan ditemani Kinara yang sejak kemarin ikut tinggal di rumah sakit.


Sepanjang jalan hanya suara celotehan Arkana yang terdengar. Hanya sesekali terdengar suara Alana menaggapi putranya. Sementara Dirga tidak bsnyak bicara seperti biasanya begitupun Kinara. Membuat Alana pun memilih diam.


"Kamu masih ragu?" tanya Kinara akhirnya membuka suara.


Bukan Kirana tidak mau banyak bicara, dia lebih memilih diam karena Dirga. Ada masalah di masa lalu mereka yang belum usai, dan Kirana mencoba menjaga sikap.


Alana menggeleng. Bukan ragu untuk bercerai dengan Abimana, lebih tepatnya masih belum bisa terima dengan kenyataan kisah rumah tangganya berakhir seperti ini.


Tiba di kediaman Dirga, sudah ada Wisnu yang menyambut mereka. Pria tampan memiliki darah keturunan eropa itu tersenyum lebar, "Selamat pulang ke rumah." ucapanya sambil mengambil alih Arkana yang digendong Alana.

__ADS_1


"Dad...i" ucap Arkana begitu melihat Wisnu.


"Ayo masuk, Daddy sudah menyiapkan sarapan buat jagoan Daddy ini." ajak Wisnu.


Sejak semalam pria itu sudah menginap di kediaman Dirga, sengaja untuk mempersiapkan semua keperluan Alana dan Arkana di kediaman Dirga yang baru. Alana hanya akan tinggal berdua Arkana dan beberapa asisten rumah tangga. Sementara Dirga akan berkunjung hanya sesekali saja.


"Bang Wisnu!" panggil Alana begitu pria itu akan berlalu bersama Arkana.


"Ya Al?" sahut Wisnu, menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik menghadap Alana.


"Ini Kinara, sahabat Al." ucap Alana memperkenalkan Kinara pada Wisnu.


"Oh iya, sampai lupa." balas Wisnu merasa tidak enak hati dengan Kinara. Terlalu fokus pada Arkana, sampai tidak melihat kehadiran sahabat Alana itu.


"Saya Wisnu. Maaf tadi tidak melihat kalau ada auntynya Arkana." ucap Wisnu lagi.


"Tidak apa-apa Kak, saya maklum." jawab Kinara.


Ini kali pertama Kinara bertemu Wisnu meski nama pria itu sering disebut oleh Alana. Terutama akhir-akhir ini saat mereka bertukar kabar melalui sambungan telepon.


Wisnu melihat pada Dirga yang turun dari mobil, dia tersenyum jahil pada sahabatnya itu. Tentu saja Wisnu tahu kisah masa lalu Dirga dan Kinara dari mulut sahabatnya itu sendiri.


"Ayo masuk." ajak Wisnu.


"Sepertinya kamu yang punya rumah ini, Nu!" sindir Dirga.


"Mewakili apa salahnya. Salah sendiri yang punya rumah diam saja." balas Wisnu balik menyindir Dirga.


Alana hanya tersenyum melihat perdebatan kedua sahabat itu yang saling sindir, ini bukan kali pertama mereka seperti ini, tapi hampir setiap kali bertemu.


Alana merangkul lengan Kinara untuk masuk ke kediaman Dirga. Ini kunjungan pertama Alana di kediaman ini. Selama ini, yang Alana tahu Dirga masih tinggal bersama orang tuanya, kakak dari mendiang ibu Alana.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...

__ADS_1


__ADS_2