
Menoleh kesamping kanan, Alana bisa melihat Wisnu yang tampak fokus dengan jalanan. Saat ini mereka sedang dalam perjalan pulang ke kediaman orang tua Alana. Namun, dari raut wajah Wisnu saat ini, Alana bisa melihat sepertinya Wisnu sedang memikirkan banyak hal. Meski pria itu menunjukkan sikap seolah tidak ada apa-apa, tapi Alana tahu calon suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak mungkin karena Aditya, kan?" batin Alana menebak apa yang saat ini menganggu pikiran Wisnu.
Alana akan tanyakan nanti, setelah mereka tiba dikediaman orang tuanya. Alana berharap, semoga bukan masalah besar yag sekarang Wisnu pikirkan. Apa lagi jika itu menyangkut dirinya atau Arkana. Alana terlalu banyak berhutang kebaikan pada Wisnu, meski pria itu tidak merasakan keberatan. Itu yang selalu Wisnu ucapakan padanya, karena rasa cinta pria itu yang begitu besar untuk dirinya.
Haruskah Alana berbesar hati atas cinta yang begitu besar yang Wisnu berikan untuknya?
"Ingin bicara sesuatu?" tanya Wisnu setelah menghentikan kendaraannya karena terhalang lampu lalu lintas yang berwarna merah.
"Ha!"
Alana yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri terkejut mendengar pertanyaan Wisnu.
"Tanyakan saja sekarang kalau ada yang ingin kamu tanyakan." ucap Wisnu menjelaskan pertanyaannya.
"Bang Wisnu baik-baik saja?" tanya Alana dengan hati-hati.
"Kelihatan ya?" Bukan menjawab, Wisnu balik bertanya sambil terkekeh.
Alana megangguk, "Sedikit." cicitnya mejawab pertanyaan Wisnu.
Wisnu menarik nafas panjang sebelum bicara, "Tadi Abang pulang untuk ketemu mama." ucap Wisnu.
Tidak perlu Wisnu melanjutkan lebih jauh ucapannya, sudah dapat Alana bayangkan apa yang terjadi antara Wisnu dan Ambar. Alana merasa bersalah, tentu saja. Tapi apa dia salah untuk mengutamakan restu sebelum menikah? Alana berharap pernikahannya bersama Wisnu adalah pernikahan terakhirnya.
Doa buruk yang sering di ucapkan oleh ibu kandung Abimana tentang rumah tangganya dulu sudah terbukti. Belajar dari pengalaman tersebut, Alana tidak ingin mengulangi hal yang sama. Karena itu dia menuntut restu dari Ambar sebelum mereka menikah.
Alana hanya ingin semua orang mendoakan kebaikan untuknya dan rumah tangganya. Apa Alana salah?
"Maaf." ucap Alana.
Wisnu menoleh sesaat pada Alana yang duduk disampingnya. Dipangkuan wanita itu ada Arkana yang sibuk dengan mainanya. Lalu pria itu kembali fokus pada jalanan, karena lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.
"Kamu tidak salah apa-apa, Al. Kenapa harus minta maaf?" balas Wisnu.
"Al terkesan mempersulit Abang. Maaf." jawab Alana yang kembali meminta maaf pada Wisnu.
Wisnu meraih tangan Alana lalu menggenggamnya, "Jagan merasa bersalah, semua ini akan terlewati seperti keinginan kamu. Abang yakin, tidak lama lagi kita bisa mendapatkan restu dari mama." ucap Wisnu memberikan kekuatan pada Alana, walau Wisnu sendiri belum yakin berhasil dengan usahanya untuk meyakinkan Ambar.
__ADS_1
"Aamiin." sahut Alana mengaminkan apa yang baru saja Wisnu ucapkan. Keyakinan pria itu untuk medapatkan restu adalah doa dan pengharapan, jadi harus di amin kan agar terwujud.
"Abang tadi bertengkar lagi?" tanya Alana, setelah hening sesaat. Meski sudah tahu, tapi rasa penasaran Alana membuatnya berani bertanya.
"Tidak! Abang hanya kesal saja. Mama masih saja berhubungan baik dengan Helen. Mama tidak mau mendengarkan apa yang Abang katakan. Bahkan wanita itu bebas berkeliaran di rumah." jawab Wisnu menjelaskan.
"Abang tadi ketemu Helen?"
Wisnu tidak menjawab. Tapi dari raut wajahnya Alana sudah tahu jawabanya. Tidak ada lagi yang Wisnu sembunyikan darinya termasuk tentang Helen yag dijodohkan Ambar dengan pria itu. Wisnu juga memberitahu bagaimana dan siapa Helen itu sebenarnya pada Alana.
Bukan Wisnu ingin mengumbar keburukan Helen pada Alana. Wisnu hanya ingin tidak ada kesalah pahaman saat ini dan dimasa yang akan datang setelah mereka menikah.
Lebih baik jujur dan saling terbuka dari awal jika ingin hubungan mereka terus berjalan dengan baik, bukan?
Baru saja tiba dikediaman orang tua Alana, Wisnu menerima pangilan telepon dari Ambar. Wajah pria itu menyungingkan senyum, lalu menunjukkan pada Alana siapa yang menghubunginya saat ini.
"Mama." ucapnya dengan senyum tipis diwajahnya.
Alana sedikit heran pada calon suaminya ini. Wisnu biasanya malas menerima panggilan dari Ambar dan lebih suka mengabaikannya. Sekarang? Wisnu tampak tersenyum menerima panggilan itu. Wajar kan Alana curiga?
"Sebenarnya apa yang terjadi saat abang pulang ke rumah orang tuanya?" tanya Alana pada dirinya sendiri.
Walaupun rasa penasaran yang Alana miliki saat ini tingkat tinggi, wanita itu tidak berani menguping pembicaraan Wisnu dan Ambar. Jadilah, Alana langsung masuk kedalam rumah agar Arkana bisa segera membersihkan diri lalu beristirahat.
"Ada apa Ma?" tanya Wisnu.
"Mama ingin bertemu Alana." ucap Ambar menjawab pertanyaan Wisnu.
"Mau apa? Wisnu tidak akan mengabulkan permintaan Mama kalau hanya untuk menghina calon istri Wisnu." balas Wisnu.
"Bukankah kamu mau Mama merestui pernikahan kalian? Apa Mama salah meminta bertemu dengan calon istri kamu itu?" jawab Ambar.
"Mama baik-baik saja, kan?" tanya Wisnu.
"Ajak dia malam ini makan malam di rumah." ucap Ambar mengabaikan pertanyaan Wisnu, lalu memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
Senyum Wisnu megembang diwajahnya. Sepertinya rencananya berhasil. Itulah yang membuat Wisnu tersenyum bahagia. Keinginannya untuk meminang Alana secepatnya akan segera terwujud, "Semoga." gumam Wisnu.
Tanganya kini menggulir layar ponsel, mencari nama sesorang yang harus tahu kabar baik ini.
__ADS_1
"Oma!" panggil Wisnu begitu panggilannya tersambung dengan Sandra.
Sandra terkekeh diseberang sana, wanita tua itu sudah menunggu panggilan dari Wisnu sejak tadi. Ingin mendengar hasil kerjanya hari ini untuk membantu Wisnu mendapatkan restu dari Ambar.
"Bagaimana? Berhasil bukan?" tanya Sandra pada cucu kesayangannya itu.
"Ya, berhasil. Mama meminta aku mengajak Alana makan malam dirumah." jawab Wisnu.
"Kalau ingin cepat menikah, ya kamu harus bawa cucu menantu Oma itu untuk memenuhi undangan mama kamu." sahut Sandra.
"Tanpa Oma suruh, aku pasti akan mengajaknya." sahut Wisnu.
"Baiklah sayang, sampai jumpa nanti malam." ucap Sandra mengakhiri pembicaraan mereka.
Wisnu melangkahkan kakinya dengan ringan. Harusnya sejak dulu saja dia menjalankan rencana sang oma jika hasilnya bisa secepat ini. Tapi sayang, mereka harus mencari bukti yang akurat terlebih dulu untuk menyingkirkan orang yang hanya akan jadi benalu saja dikeluarga mereka.
"Sayang." panggil Wisnu yang menemukan Alana di depan televisi.
Bukan hanya Alana yang menoleh kearah pria itu, Arkana pun ikut melihat Wisnu dan segera menghampiri pria tampan tersebut.
Wisnu segera mengangkat tubuh bayi gembul itu, "Anak Daddy sudah wangi." ucap Wisnu sambil memberikan kecupan di wajah dan kepala Arkana.
"Ngi." ucap Arkana mengikuti ucapan Wisnu.
"Iya, Arka wangi." sahut Wisnu lalu membawa Arkana duduk disamping Alana yang kembali menatap layar lebar dihadapannya.
"Mama ingin bertemu." ucap Wisnu setelah dia duduk di samping Alana.
Alana mengeser duduknya. Sedikit menyamping agar bisa melihat wajah Wisnu dengan sempurna. Alana hanya ingin tahu, Wisnu mengatakan yang sebenarnya atau sedang bercanda? Namun melihat wajah Wisnu yang tampak bahagia, itu berarti Ambar memang ingin bertemu dengan Alana.
"Kapan?" tanya Alana.
"Malam ini dia mengundang kita makan malam di rumah." jawab Wisnu.
Alana tidak tahu maksud Ambar bertemu. Bisa baik, bisa juga buruk. Baiknya Ambar mungkin bisa menerima dirinya yang janda ini sebagai menantu. Buruknya, mungkin Ambar akan menolak memberikan restu langsung dihadapannya.
Jadi, apapun itu Alana akan menghadapinya. Dia tidak akan takut atau berkecil hati jika nanti Ambar menghina atau bicara buruk tentang satusnya yang janda.
Siapa juga yang mau jadi janda cerai? Kalau boleh memilih lebih baik Alana jadi janda karena ditinggal mati. Tapi siapa yang bisa merubah jalan hidup. Lagi pula apa masalah dengan janda? Mengapa masih banyak orang yang memandang sebelah mata pada status itu?
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...