
Alana berlari ke kamar mandi, setelah merasa ada sesuatu yang mengalir dari area intimnya. Menghiraukan panggilan Wisnu yang terkejut karena ditinggal Alana begitu saja saat bibir mereka masih saling bertaut.
"Al, ada apa?" tanya Wisnu. Sungguh Wisnu merasa takut jika dia menyakiti Alana dengan memaksa meminta haknya malam ini.
"Maaf." ucap Alana begitu pintu kamar mandi terbuka.
Alana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat. Membuat Wisnu semakin khawatir dengan keadaan Alana.
"Apa Alana belum siap?" batin Wisnu merasa bersalah.
"Atau dia memiliki trauma dengan hubungan suami istri?" ucap Wisnu lagi, menebak apa yang terjadi dengan sang istri.
"Maaf Bang. Alana belum bisa menjalankan kewajiban Al sebagai istri." ucap Alana.
Wisnu menarik tubuh Alana masuk kedalam pelukannya, "Maafkan Abang yang memaksa. Harusnya Abang menunggu kamu siap." ucap Wisnu.
"Bukan masalah kalau Abang memaksa. Itu hak Abang, Al akan berikan tanpa Abang minta." balas Alana.
Wisnu mengurai pelukannya mendengar jawaban Alana. Kini tangannya membingkai wajah Alana. Menatap wajah Alana yang masih saja terlihat pucat.
"Apa Abang membuat kamu takut Al?" tanya Wisnu.
Alana tidak tahu maksud pertanyaan Wisnu. Mengapa dia harus takut pada pria itu? Pria yang sudah sah menjadi suaminya. Alana siap menyerahkan diri seutuhnya pada pria yang sekarang ber hak atas dirinya. Pria yang akan bertanggung jawab atas dirinya. Pria yang akan ikut memikul dosa yang dia perbuat.
Alana menggeleng, "Apa maksud Abang?" tanya Alana.
"Kalau kamu belum siap tidak apa-apa. Masih ada waktu lain untuk melakukannya. Siapkan dulu hati dan jiwa kamu." ucap Wisnu menjawab pertanyaan Alana.
"Bang, Al siap untuk melakukannya. Tapi...."
Alana tidak melanjutkan ucapannya. Wanita itu meringis kesakitan sambil mencengkram tangan Wisnu yang masih membingkai wajahnya. Sudah lama dia tidak merasakan sakit saat datang bulan.
__ADS_1
"Tapi apa sayang?" tanya Wisnu penasaran. Apalagi melihat wajah Alana yang meringis menahan sakit dan cengkraman kuat ditanganya.
"Kamu sakit?" tanya Wisnu lagi yang langsung mendapat anggukan dari Alana
"Perut Al sakit Bang." jawab Alana bersamaan ada cairan merah mengalir di paha Alana.
Istri Wisnu itu mundur satu langkah, lalu menundukkan kepalanya. Kini cairan merah itu sudah mengalir ke betis. Wisnu mengikuti arah pandang Alana dan dia terkejut melihat cairan merah yang mengalir di kaki Alana.
"Kamu terluka Al?" tanya dengan suara bergetar karena takut terjadi sesuatu pada Alana.
"Bang, Al nggak apa-apa. Bisa tolong ambilkan pembalut di koper milik Al?" jawab Alana.
Secepat kilat Wisnu meninggalkan Alana untuk melakukan apa yang istrinya minta. Ada rasa lega, karena Alana tidak bisa melakukannya karena tamu bulanan. Bukan karena trauma yang dia pikirkan. Itu berarti dia hanya menunggu sampai Alana bersih saja.
Sementara Alana segera berbalik dan membersihkan cairan merah yang mengalir di kakinya. Alana tadinya keluar kamar mandi berniat untuk mengambil sendiri pembalut yang memang sudah dia siapkan di dalam koper. Tapi ternyata ada Wisnu yang mencemaskanya berdiri di depan pintu kamar mandi. Merasa bersalah Alana pun meminta maaf. Siapa sangka Wisnu ternyata salah sangkah yang mengira dirinya belum siap menyerahkan diri pada suaminya itu.
"Ini sayang." ucap Wisnu di depan pintu kamar mandi.
***
"Maafkan Mas Al. Semoga kamu bahagia." gumam Abimana.
Semua sudah berlalu, dan hidup harus terus berjalan. Abimana harus bisa berdamai dan membuka hati untuk yang lain. Aditya yang menjadi sumber masalah saja sudah memulai hidup baru. Adik satu ayahnya itu kini menjalin hubungan denga mantan kekasihya. Itu yang Abimana dengar dari Arman. Karena itu, Arman tidak ingin Abimana terus terpuruk selamanya. Hanya saja cara Arman yang salah dengan membawakan gadis untuk Abimana bersenang-senang.
Tidak ingin terus teringat akan masa bahagianya bersama Alana, Abimana membalikan tubuhnya menghadap taman depan. Ingatannya kini kembali ke acara pernikahan Alana. Di momen dia bisa kembali memeluk Arkana, anak laki-laki yang dulu sangat dia tunggu kelahirannya.
Abimana jadi ingat, bagaimana dulu dia menangis setelah kelahiran Arkana, buah hati yang dia tunggu-tunggu akhirnya hadir ditengah keluarga kecilnya. Sayangnya kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa bulan saja, bahkan Arkana belum genap satu tahun saat dia mengetahui putra yang dia sayangi bukan darah dagingnya.
Namun rasa kecewa itu terobati. Abimana senang, Arkana masih mengingatnya. Anak itu memanggilnya ayah, panggilan yang sangat diinginkan Aditya sebagai ayah bioligsnya. Seketika Abimana meneteskan air mata mendengar panggilan itu. Dia memeluk erat Arkana, anak laki-lakinya. Arkana tetap putranya apapun itu kenyataannya. Nama Abimana yang tersemat di dalam akta kelahiran anak itu.
Suara klakson kendaraan menarik lamunan Abimana tentang Arkana. Pandangannya kini beralih pada gerbang yang berlahan terbuka. Tampak mobil Aditya memasuki halaman kediaman Wijaya. Sudah lama sekali mereka tidak saling berkomunikasi. Mungkin sudah waktunya membuang rasa benci pada sang adik seperti permintaan Ajeng, sang bunda.
__ADS_1
Aditya turun dari mobil. Matanya langsung tertuju pada Abimana yang berdiri di balkon. Mata mereka bertemu, dan sama-sama terdiam.
***
Suasana di meja makan kediaman Wijaya pagi ini sedikit berbeda dari hari biasanya. Anggota keluarga mereka dalam formasi lengkap. Tapi tetap saja suasana ramai saling sapa dan berbincang tidak lagi Ajeng dan Wijaya temui.
Sejak kepergian Alana dari keluarga mereka, kediaman ini seolah tanpa penghuni. Semua memilih sibuk dengan urusan masing-masing untuk mengobati luka.
Semua makan dalam diam sampai semuanya menyelesaikan sarapan mereka.
"Maaf."
Ucapan maaf yang terlontar dari mulut Aditya menarik atensi keluarga itu untuk melihat pada Aditya. Entah pada siapa kata maaf itu Aditya lontarkan. Abimana tidak berharap banyak jika itu Aditya tujukan padanya.
"Maaf atas semua kesalahan yang Adit lakukan untuk keluarga ini." ucap Aditya lagi setelah menatap kedua orang tuanya. Lalu tatapannya beralih pada Abimana yang sudah kembali melihat piringnya yang sudah kosong.
"Terutama kepada Mas Abi." ucap Aditya menambahkan.
Abimana memilih diam. Begitupun Wijaya dan Ajeng. Mereka ingin mendengarkan terlebih dulu apa yang ingin Aditya sampaikan lagi kepada mereka.
"Adit tahu, kesalahan sangat sangat besar. Meniduri kakak ipar sendiri, menyembunyikan kenyataan dan menghancurkan rumah tangga mas Abi. Adit mohon maaf untuk semua itu."
"Adit dibutakan oleh cinta dan obsesi."
Aditya berdiri lalu berjalan mendekati Abimana dan bersimpuh dipangkuan sang kakak. Abimana terlonjak kaget dengan apa yang Aditya lakukan. Wijaya tetap memilih diam sambil memperhatikan, sementara Ajeng sudah menitikkan air mata sejak Aditya mengakui meniduri Alana.
Wajah mantan menantunya itu terbayang olehnya. Dia saja terluka mendengar pengakuan putranya, apa lagi Alana yang mengalami itu semua. Ajeng sebagai ibu dari Aditya merasa malu.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1