Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 56. Papa Arkana


__ADS_3

Masuk ke toko mainan, Aditya langsung disambut oleh karyawan yang sudah sangat mengenal dirinya sebagai pelangan tetap mereka hampir satu tahun ini.


Namun beberapa bulan terakhir, sang pelangan sudah tidak pernah lagi berkunjung. Mereka kira mungkin pelangan mereka satu ini sudah beralih ke toko lain. Dan saat karyawan tersebut mengenali Aditya, dia pun langsung menyambutnya dengan ramah.


"Selamat datang kembali di toko kami. Sudah lama sekali Bapak tidak belanja, ada yang bisa saya bantu?" sapa karyawan wanita tersebut.


"Saya ingin mainan yang terbaru sesuai usia anak saya." jawab Aditya.


"Baik Pak akan saya ambilkan, mainan untuk anak laki-laki usia satu tahun." ucap karyawan tersebut mengingat Arkana yang sering diceritakan Aditya setiap kali membeli mainan untuk putranya itu.


Aditya mengangguk membenarkan. Begitu Arkana lahir, Aditya rajin memberikan mainan untuk bayi gembul itu. Tentu saja tidak ada yang curiga karena Arkana adalah keponakannya.


Hampir setiap hari juga Aditya mengunjungi kediaman Abimana dan Alana. Lagi-lagi tidak ada yang curiga, karena Aditya memberikan alasan untuk mengecek kesehatan Arkana setiap hari.


Mengingat itu semua, rasa rindu Aditya pada Arkana dan Alana semakin bertambah. Otaknya pun berpikir keras, bagaimanapun caranya agar dia bisa memiliki keduanya. Ibu dan anak itu harus menjadi miliknya. 'HARUS.'


"Ini Pak."


Aditya menoleh pada karyawan yang menyodorkan beberapa mainan untuk dia pilih. Seperti biasa Aditya tidak perlu repot melakukan itu. Dia bukan orang yang perhitungan apa lagi untuk anaknya sendiri, dan Aditya tidak suka dengan hal-hal yang membingungkan seperti harus memilih mainan yang akan dia berikan pada Arkana.


"Semuanya saja." jawab Aditya yang langsung diangguki karyawan tersebut.


Tidak ada yang aneh dengan jawaba Aditya, pria itu selalu saja membawa pulang apa yang ditawarkan karyawan toko. Dulu Alana sering menegurnya dan marah. Karena setiap dia berkunjung selalu saja membawa mainan yang tidak sedikit yang akhirnya hanya memenuhi ruang bermain Arkana.


Bukan marah atau tersinggung, Aditya justru menikmati omelan Alana sebagai bentuk perhatian wanita yang dicintainya kepadanya.


Wajah Aditya berseri-seri keluar dari toko mainan tersebut. Sambil bersenandung, dia melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju kediaman mantan mertua kakaknya. Bagaimana tanggapan Alana tentang kedatangannya hari ini, akan Aditya pikirkan nanti.


"Arkana itu putraku, aku berhak untuk bertemu Arkana." gumam Aditya.


'Al, aku kangen Arkana.'


Sebelum ke toko mainan, Aditya menyempatkan mengiirimkan pesan pada Alana. Tentu saja dengan nomor yang baru dibelinya. Sebab Aditya tahu, nomor yang biasa dia gunakan sudah diblokir oleh wanita yang dicintainya itu.


Tidak ada juga balasan dari Alana, membuat Aditya semakin mantap melajukan kendaraanya menuju toko mainan lalu ke kediaman orang tua Alana.

__ADS_1


Dan disinilah sekarang dia berada, di depan gerbang kediaman orang tua Alana dan Rendi. Rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas. Setelah menekan bel, Aditya berdiri dengan gelisah. Membayangkan bagaiamana rupa Arkana sekarang ini.


"Semoga kamu masih ingat papa, Kana." ucap Aditya merapalkan doa.


Pak Agus, satpam yang bertugas malam ini di kediaman orang tua Alana dan Rendi segera menghampiri Aditya setelah mendengar suara bel. pria yang baru masuk usia empat puluh itu pun bertanya dengan sopan pada Aditya.


"Maaf dengan bapak siapa? Ingin bertemu siapa?" tanya pak Agus.


"Arkana ada?" tanya Aditya tanpa menjawab siapa dirinya.


Untung saja pak Agus orangnya sabar, jadi beliau tetap menjawab pertanyaan Aditya.


"Den Arka pergi sama Bu Lana dan Bu Nara." jawab pak Agus.


"Bu Lana dan bu Nara?" tanya Aditya tidak mengerti.


"Bu Alana dan Bu Kinara." ucap pak Agus menjelaskan.


Barulah Aditya mengerti kalau putranya saat ini sedang pergi ikut Alana dan Kinara. Seketika saja wajah Aditya yang sebelumnya ceria kini terlihat sedih. Pak Agus merasa heran sendiri dan jadi bertanya-tanya siapa pria ini? Baru kali ini ada yang mencari Arkana, bukan ibunya.


"Saya tidak tahu. Bu Lana tidak pernah laporan kemana beliau akan pergi." jawab pak Agus apa adanya.


Lagi, Aditya harus kecewa atas jawaban pak Agus yang tidak sesuai ekspektasi. Aditya pun memutuskan untuk pulang namun sebelumnya dia menitipkan mainan yang tadi dia beli untuk Arkana pada pak Agus.


"Saya titip ini Pak, untuk putra saya." ucap Aditya.


"Oh, Bapak Papanya den Arka?" tanya pak Agus yang langsung dibenarkan oleh Aditya.


"Iya, saya papa Arkana." jawab Aditya.


***


Tiba di kediaman orang tuanya, Alana bergegas masuk ke kamar yang dia tempati sejak kecil hingga menikah dengan Abimana dan kembali dia tempati beberapa bulan terakhir ini.


Alana ingin segera memeriksa kamarnya yang semalam sempat dimasuki Alex untuk menculik Arkana. Alana terkikik sendiri mengingat video yang ditunjukkan Rendi tadi malam. Lucu sekali saat Alex mengira boneka bayi milik Alana adalah Arkana.

__ADS_1


Sementara Rendi yang mengantar Alana pulang segera menemui Dirga dan Wisnu yang menunggunya diruang kerja. Bersama Arkna yang ada dalam gendongannya, Rendi masuk kedalam ruang kerja.


"Dad...dy." panggil Arkana begitu melihat Wisnu.


Anak laki-laki itu langsung berontak minta diturunkan dari gendongan dan berjalan menuju Wisnu yang langsung membawa Arkana duduk dipangkuannya. Mengeeatkan pelukannya sambil mengecup pucuk kepala Arkana berkali-kali.


Wisnu tidak dapat membayangkan bagaimana Arkana jika benar-benar berada di tangan Rachel dan Alex. Camelia yang anak kandung mereka saja saja tidak diurus dengan baik, apa lagi Arkana yang hanya akan dijadikan sandera.


Biarpun Arkana aman bersama mereka, tapi Wisnu akan tetap menuntut Rachel dan Alex dihukum seberat-beratnya. Itulah yang Wisnu katakan saat Dirga bertanya,


"Jadi apa yang akan lakukan pada kedua orang itu?" tanya Dirga.


"Yang jelas tidak bisa dibebaskan begitu saja. Menculik meskipun gagal adalah tidak kejahatan yag bisa dihukum berat." jawab Rendi.


"Kita buat mereka berdua dihukum seberat-beratnya. Ini menyangkut nyawa orang yang kita sayangi." sahut Wisnu menimpali.


Sementara itu Alana menatap heran pada tumpukan kardus mainan dipojok kamar bermain Arkana. Setelah memeriksa kamarnya, Alana menuju kamar bermain Arkana. Ada yang ingin dia ambil disana, tapi justru menemukan banyak mainan baru.


"Siapa yang beli semua ini?" tanya Alana pada dirinya sendiri.


Dirga dan Wisnu sudah tahu aturan Alana tentang memberikan mainan untuk Arkana. Jadi tidak mungkin mereka berdua yang menjadi tersangkanya. Lalu siapa?


Dalam kebingungan Alana dikagetkan oleh suara ponselnya. Kembali nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan untuknya.


'Aku pastikan kau tidak akan pernah melepas status sebagai seorang janda.'


'Kau sibuk mengurusi statusku. Apa kau tidak ingin tahu dimana Alex berada? Dia sekarang bersama kekasihnya dihotel mewah'


Alana tersenyum membaca pesan balasan yang dia kirimkan pada Amel, "Hotel prodeo." gumamnya.


Kali ini Alana tidak akan diam dengan ancaman Amel, cukup sudah wanita itu memporak porandakan hidupnya. Sekarang, waktunya Alana yang memporak porandakan hidup mantan kakak iparnya itu.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...

__ADS_1


__ADS_2