
"Pria itu mulai bergerak?" tanya Dirga pada Wisnu.
"Seperti yang kau ketahui dude." balas Wisnu.
Dirga terkekeh, menertawakan Wisnu yang terlalu khawatir Alana akan kembali pada Naren.
"Ck." ucap Dirga berdecak, "Nggak perlu takut. Alana itu sejak dulu cintanya sama elo, sampai sekarang pun nggak berubah. Bukan dengan yang lain." ucap Dirga memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Tetap saja pernah ada kisah diantara mereka." ujar Wisnu.
"See, Alana bahkan mengabaikan pesan yang pria itu kirimkan, itu berarti Alana tidak memberikan kesempatan mereka untuk berkomunikasi lagi." balas Dirga.
Wisnu terdiam, apa yang Dirga katakan itu benar. Tapi itu karena Alana belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Naren. Jika Alana tahu kalau Naren tidak pernah menghianatinya, Wisnu tidak yakin Alana akan bersikap seperti sekarang.
"Tuan, ada tamu mencari non Alana." ucap bi Onah menganggu percakapan mereka.
"Siapa?" tanya Dirga pada Wisnu tanpa suara.
Wisnu mengangkat kedua bahunya, mana dia tahu siapa yang ingin bertemu Alana. Apa mungkin Naren yang datang? itu berarti Wisnu harus lebih ekstra ketat kali ini menjaga calon istrinya. Cukup sudah Alana disakiti oleh pria itu.
"Laki-laki atau perempuan Bi?" tanya Dirga membuat Wisnu kembali kedunia nyata.
"Laki-laki Tuan." jawab bi Onah.
Mendengar jawaban bi Onah, Wisnu segera melangkahkan kakinya menuju teras depan, dimana tamu Alana itu sedang menunggu. Namun baru beberapa langkah, Dirga menegurnya untuk tetap ditempat.
"Tunggu disini saja Nu." ucap Dirga.
"Gue aja yang keluar, biar nggak ada fitnah" ucap Dirga lagi memberikan penjelasan sambil menatap Wisnu yang langsung mengangguk.
Hampir saja Wisnu lepas kendali saat tahu yang ingin bertemu Alana adalah seoarang pria. Selana ini, sebisa mungkin Wisnu, Dirga dan Rendi menjaga nama baik Alana. Jika ada pria lain dirumah ini yang bukan keluarga, mereka takut akan tersebar gosip yang tidak enak untuk Alana.
Tiba di ruang tamu Dirga bisa melihat sosok Naren yang berdiri diteras, 'Berani juga pria itu datang.' pikir Dirga.
Naren yang tidak mengenal dirga mengira jika Dirga adalah sosok pria yang sedang dekat dengan Alana seperti yang Abimana katakan.
"Saya ingin bertemu Alana." ucap Naren sambil mengamati Dirga laki-laki seperti apa.
"Ada keperluan apa bertemu adik saya?" tanya Dirga pura-pura tidak tahu sambil menjelaskan statusnya.
Saat Alana dan Naren menjalin hubungan, Dirga masih menyelesaikan pendidikannya diluar negeri. Baik Dirga maupun Naren tidak pernah bertemu dan tidak pernah saling kenal. Hanya tahu nama saja dari Alana yang menceritakan tentang mereka.
"Maaf yang saya tahu kakak Alana itu Rendi." ucap Naren.
__ADS_1
"Aku Dirga." ucap Dirga.
Naren mengangguk, dia pernah mendengar nama Dirga disebutkan Alana sebagai saudara sepupunya.
"Anda kakak sepupu Alana. Maaf kita belum pernah bertemu." balas Naren.
"Saya Naren."
"Naren?" ucap Dirga yang pura-pura mengingat nama Naren.
"Kami dulu sempat akan bertunangan tapi...."
"Mau apa kamu menemui Alana? Antara kalian sudah selesai setelah kamu menyakiti adik saya." ucap Dirga memotong ucapan Naren.
"Maaf, saat itu saya tidak tahu harus melakukan apa. Yang saya pikirkan hanyalah wajah terluka dan kecewa Alana." jelas Naren.
"Saya datang ingin meminta maaf dan menjelaskan pada Alana apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saya bertemu dia?"
"Untuk apa? Alana sudah bahagia dengan hidupnya saat ini, jangan ganggu dia lagi." sahut Dirga.
"Saya tahu Alana sudah bercerai dengan Abimana." balas Naren tidak mau mengalah.
"Kalian berdua sama saja." gumam Dirga yang masih bisa di dengar oleh Naren.
Anak laki-laki itu segera berlari mendekati Wisnu, "Daddy." panggilnya.
Wisnu menyambut Arkana dan langsung mengangkat tubuh munggil itu dengan wajah yang dihadapkan kepadanya.
"Apa kabar kesayangan Daddy?" tanya Wisnu pada putranya itu.
Arkana tidak menjawab, anak laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya di leher Wisnu dan menenggelamkan kepalanya dibahu pria yang dia kira ayahnya itu.
"Anak Daddy kangen ya?" goda Wisnu.
"Bang Dirga mana Bang?" tanya Kinara karena tidak menemukan kekasihnya itu bersama Wisnu.
"Dirga sedang menemui tamu didepan." jawab Wisnu setelah membuat nyaman Arkana di gendongannya.
"Siapa Bang?" tanya Alana lagi.
Kembali Wisnu menjawab tidak tahu dengan mengangkat kedua bahunya membuat Arkana ikut bergerak.
"Biar aku lihat." sahut Kinara, yang penasaran dengan tamu yang Dirga temui.
__ADS_1
Kinara tidak ingin Dirga menemani tamunya lama-lama, sore ini mereka bersiap untuk kerumah Rendi. pria itu mengundang mereka makan malam disana.
Tiba di ruang tamu Kinara terkejut melihat siapa yang calon suaminya temui di teras, "Naren." gumamnya.
"Kinara." panggil Naren saat melihat Kinara yang datang.
"Mau apa lagi?" tanya Kinara.
"Aku ingin bertemu Alana, ak...."
"Untuk apa?" ucap Kinara memotong perkataan Naren.
"Ada hal yang harus kami bicarakan. dan ini penting."
Mendengar suara Kinara yang cukup keras membuat Alana penasaran siapa tamu mereka. Meninggalkan Arkana dan Wisnu, Alana membawa kakinya berjalan ke teras dimana Kinara dan Dirga bertamu.
Langkah Alana terhenti saat matanya dan Naren bertemu. Wajah Naren seketika melukiskan senyum membuat Dirga dan Kinara menoleh kearah pintu.
"Al." panggil Kinara dan Dirga bersamaan."
"Kenapa tidak diajak masuk?" ucap Alana menatap pada kakak sepupunya.
Naren cukup lega karena Alana masih mau bicara dengannya. Alana tidak menunjukkan wajah permusuhan atau tatapan benci padanya. Jadi, salahkah jika, Naren berharap lebih?
Alana duduk di sofa terlebih dulu, menunggu Naren, Dirga dan Kinara yang menyusul ikut masuk dan duduk di ruang tamu.
Dari dalam Wisnu yang hendak menyusul Alana, menghentikan langkahnya saat melihat Naren yang duduk dihadapan Alana. Pria itu langsung memilih duduk disamping Alana, ingin menunjukkan pada Naren ada dia saat ini didamping Alana.
"Al." panggil Wisnu, membuat Alana menoleh pada Wisnu dan Arkana yang hanya diam saja.
Apa yang dilakukan Wisnu memang menarik perhatian Naren, namun tidak menyurutkan niat duda tersebut untuk kembali merebut hati Alana.
"Ada keperluan apa Kak Naren bertamu?" tanya Alana.
"Hemm." Naren berdehem untuk menetralkan suaranya.
Diperhatikan banyak orang membuat Naren merasa tidak nyaman untuk bicara. Jika tidak, mungkin tidak ada kesempatan lagi.
"Kakak minta maaf."
Hanya itu yang bisa Naren ucapkan. Semua kata yang sebelumnya dia susun menguap begitu saja. Yang ada dalam pikirannya saat ini Alana.Rasanya Naren masih belum percaya, masih bisa menatap Alana dengan jarak sedekat ini.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...