Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 22. Bertemu Wisnu


__ADS_3

Sesuai saran Dirga, Abimana akhirnya terpaksa mengizinkan Arkana untuk ikut tinggal bersama Alana di rumah sakit jiwa. Abimana tidak berpikir hal lain lagi selain kesembuhan untuk Alana lalu membawa istrinya kembali pulang ke kediaman mereka. Abimana berharap rumah tangganya kembali normal seperti dulu lagi.


Abimana tidak tahu saja Alana sudah menyusun rencana membawa pergi jauh Arkana, sebab ibu dari Arkana itu tahu kemana arah pikiran keluarga Rahardian. Selain menjaga nama baik keluarga mereka, keluarga itu tidak mungkin membiarkan pewaris keluarga mereka dilepaskan.


Wisnu menatap Dirga, begitu Abimana keluar dari ruangan dokter itu, "Apa itu permintaan Alana?" tanyanya.


Dirga tersenyum lebar, "Tentu saja, permintaan Alana tidak mungkin aku tolak, kan." jawab Dirga.


"Apa yang Alana rencanakan?" tanya Wisnu lagi. Dia mengenal Alana, wanita itu selalu punya tujuan setiap yang dia lakukan. Wisnu harus tahu, sehingga dia juga bisa menyusun rencana untuknya, Alana dan Arkana kedepannya.


"Alana akan membawa pergi Arkana dari keluarga Rahardian." jawab Dirga.


"Kemana?" tanya Wisnu.


Dirga menatap Wisnu, lalu menggeleng. Alana meminta bantuannya dan Dirga belum punya rencana kemana dia akan mengirim Alana bersembunyi.


"Untuk masalah ini, aku serahkan kekamu, Nu." jawab Dirga.


"Baik aku mengerti. Tapi laki-laki itu sepertinya tidak ingin melepaskan Al, ini akan sedikit sulit." ujar Wisnu.


"Bukan hanya Abimana, tapi juga keluarga Rahardian. Mereka tentu tidak akan melepaskan ahli waris Rahardian begitu saja. Apa lagi Arkana, anak laki-laki." sahut Dirga.


"Kita bisa lakukan lewat jalur hukum, dari pada membawa kabur Alana. Itu lebih aman." ucap Wisnu memberikan saran.


"Caranya?" tanya Dirga yang memang tidak begitu paham mengenai hukum, terutama masalah anak dan ahli waris. Berbeda dengan Wisnu yang memiliki firma hukum milik keluarganya, sedikit banyaknya, sahabatnya itu tahu masalah hukum meski tidak turun langsung mengurus firma tersebut.


"Bukankah Alana akan mengajukan gugatan cerai?" Dirga mengangguk, "Serahkan padaku." ucap Wisnu.


"Karena itu aku menghubungi kamu, selain yang tadi aku bicarakan." balas Dirga. Wisnu tersenyum, dia akan mengatur dan mengurus semuanya.


Begitu tiba di kamar rawat Alana, Abimana langsung disambut pertanyaan oleh Ajeng "Bagaiaman Bi?" tanyanya.


Abimana mendudukan tubuhnya di sofa, "Dokter masih akan melihat perkembangan Alana." jawab Abimana.


"Berapa lama?" tanya Ajeng yang sudah tidak sabar.


"Belum tahu berapa lamanya. Dokter menyarankan agar Arkana dibiarkan tinggal disini bersama Alana." jawab Abimana.

__ADS_1


"Bunda tidak setuju!" sahut Ajeng.


Suara Ajeng yang sedikit berteriak menarik perhatian Alana dan juga bi Onah. Keduanya saling tatap, saling bertanya lewat pandangan mata, 'Ada apa?'


Penasaran dengan yang dibicarakan Abimana dan Ajeng, Alana mencoba mencuri dengar.


"Ini untuk proses kesembuhan Al, Bun. Dokter akan melakukan observasi tehadap Alana. Bagaimana interaksi Alana terhadap Arkana."


"Bunda takut, Bi." ucap Ajeng.


"Tenang Bun, dokter Dirga sendiri yang akan bertanggung jawab. Baik sebagai dokter maupun sebagai pemilik rumah sakit ini." jawab Abimana.


"Kamu sudah menyetujuinya?" tebak Ajeng.


"Iya bun, ini demi Al dan Kana." jawab Abimana.


"Alana akan dipindahkan kekamar yang lebih luas sebentar lagi. Selain nyaman untuk Kana dan Al, ini juga untuk menghindari Aditya. Anak itu bisa saja datang tiba-tiba mengunjungi Al, apa lagi jika dia tahu ada Kana bersama Alana." jelas Abimana.


Ajeng mau tidak mau, suka tidak suka, harus bisa menerima keputusan Abimana. Apa ladi dia melihat interaksi Alana dan Arkana juga baik-baik saja, tidak ada yang perlu ditakutkan. Hubungan Alana dan Arkana, layaknya hubungan ibu dan anak yang tidak punya masalah. Alana tidak menunjukan rasa benci pada Arkana apa lagi berniat menghilangkan nyawa putranya. Alana begitu menyayangi Arkana, itu tidak dapat disangkal oleh siapapun.


Jika saja Ajeng tahu yang Alana rencanakan, tentu dia tidak akan mengizinkan Arkana ikut tinggal di rumah sakit jiwa bersama Alana. Baik Ajeng dan Abimana tidak ada yang mengira dan curiga jika Alana akan membawa pergi Arkana jauh dari mereka. Apa lagi dokter Dirga sendiri yang menjamin keamanan Arkana.


Alana yang bisa menebak isi kepala para Rahardian, tentu tidak akan membiarkan putranya berada ditangan keluarga itu. Alana akan melakukan apapun demi bisa bersama Arkana selamanya tanpa bantuan Rahardian.


Diantar oleh Dirga, Wisnu menuju kamar Alana. Wajahnya terus mengukir senyum, semakin menambah ketampanan pria itu. Tidak sedikit para perawat menatap kagum pada Dirga dan Wisnu yang berjalan beriringan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Wisnu mendapat kesempatan untuk menemui Alana. Wisnu harus menunggu Abimana dan Ajeng pulang terlebih dulu. Tidak masalah hanya menunggu beberapa jam, selama ini Wisnu sudah menunggu bertahun-tahun lamanya.


"Apa kabar Al?" sapa Wisnu setelah Dirga bicara dengan adik sepupunya itu dan mengambil Arkana dari pangkuan Alana.


"Bang Wisnu." sahut Alana menatap tidak percaya pada sosok pria yang ada dihadapannya saat ini.


Wisnu tersenyum lebar, "Ternyata kamu masih ingat Abang, Al." ucap Wisnu senang.


"Tentu saja, mana bisa Al lupa." sahut Alana jujur.


Bagaimana Alana bisa lupa pada cinta pertamanya, sayangnya Alana merasa bertepuk sebelah tangan kala itu. Wisnu tiba-tiba saja menghilang tanpa kaar, yang ternyata pergi ke luar negeri. Alana bisa apa? Saat itu dia hanya remaja belasan tahun yang belum bisa apa-apa.

__ADS_1


"Benarkah, jantung Abang jadi berdebar mendengarnya." balas Wisnu.


"Ternyata Abang belum berubah! Masih suka ngegombal." seru Alana.


"Bukan gombal Al, ini serius! Coba kamu pegang." ucap Wisnu yang langsung menarik tangan Alana untuk memegang dadanya.


Apa yang Wisnu lakukan kini membuat Alana yang berdebar, ternyata rasa itu belum hilang. Alana segera menarik tangannya, "Ini tidak benar." batin Alana.


"Kamu semakin cantik mengenakan hijab Al." puji Wisnu tulus.


Lama tidak bertemu Alana, gadis yang dulu dia cintai sekarang sudah dewasa dan jauh terlihat lebih cantik. Wisnu jatuh cinta untuk kedua kalinya pada orang yang sama.


"Hem." Dirga memecah keheningan setelah Alana dan Wisnu sama-sama diam.


"Abang mengajak Wisnu untuk membantu kamu mengurus perceraian, Al." ucap Dirga.


"Pengacara yang Abang Dirga maksud itu, Abang Wisnu?" tanya Alana.


"Bukan Abang." jawab Wisnu, "Tapi tim dari firma hukum milik keluarga Abang." ucapnya lagi menjelaskan.


"Kamu tidak keberatan kan, Al? tanya Dirga.


"Tidak Bang. Tapi, apa tidak merepotkan Bang Wisnu?"


"Wisnu tidak akan merasa direpotkan, apa lagi itu tentang kamu." sahut Dirga.


"Bang?"


"Dirga benar, Al. Abang akan bantu kamu termasuk masalah Arkana." jawab Wisnu setelah Alana menatap penuh tanya padanya.


"Abang sudah cerita apa yang kamu inginkan pada Wisnu, Al." ucap Dirga, "Maaf kalau Abang lancang, ini demi kebaikan kamu. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka menyusun banyak rencana."


"Tidak apa-apa Bang, Al mengerti." jawab Alana membalas penjelasan Dirga.


"Kalau begitu Abang tinggal kalian berdua. Kamu bisa memberi tahu Wisnu apa yang terjadi dan apa yang kamu inginkan. Abang ajak Kana jalan-jalan dulu." ujar Dirga.


Tanpa menunggu jawaban dari Alana, Dirga meninggalkan kamar adik sepupunya itu sambil memberi kode pada Wisnu jika dia memberi kesempatan pada sahabatnya itu untuk mendekatkan diri dengan Alana.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2