Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 49. Hati-Hati


__ADS_3

Amel Izin ke kamar mandi pada Alana. Dia sudah tidak bisa menahan rasa mual yang mulai mengganggunya. Sedikit berlari, Amel sampai juga di kamar mandi yang sudah sangat dia hapal dimana posisinya. Karena sesekali Amel akan menginap dikediaman orangtua Rendi saat pria itu pulang untuk mengunjungi keluarganya.


Begitu menutup pintu, Amel langsung saja mengeluarkan semua cairan bening yang sejak tadi dia tahan. Sudah merasa lebih baik, Amel keluar dari kamar mandi. Saat akan kembali berjalan menuju ruang tamu yang ada dikediaman ini, Amel bisa melihat jelas sosok Wisnu, pria yang sudah lama sekali tidak dia ketahui kabar beritanya. Pria yang menjadi cinta pertamanya namum selalu saja menolak cintanya, bukan hanya sekali atau dua kali tapi berkali-kali. Amel dibuat patah hati dan akhirnya membenci Wisnu.


"Ck, kau masih saja mencintainya." gumam Amel yang bisa didengar jelas oleh Ratna yang berdiri tidak jauh dari Amel.


Melihat Arkana yang tertawa bahagia bersama Wisnu, belum lagi pangilan Daddy oleh pria kecil itu pada Wisnu. Memuncul sebuah ide yang bisa Amel terapkan untuk mengakhiri kesulitannya. Meski harus menyakiti Alana, sekali lagi.


"Aku akan menjebak kamu." Amel mengelus perutnya, "Agar bayi yang ada dalam rahimku ini memiliki ayah dan hidupku kembali berkecukupan." ucap Amel sambil menyeringai licik tanpa sadar jika tengah diawasi Ratna.


"Aku pamit." ucap Amel begitu tiba di ruang tamu dimana Alana masih menunggunya.


Alana hanya mengagguk. Tidak ada niatan untuk menahan mantan kakak iparnya ini lebih lama lagi. Amel sudah cukup menyita waktunya untuk menyelesaikan pekerjaanya. Membiarkan wanita itu melangkah keluar rumah, tanpa perlu mengantarnya sampai ke teras karena Alana tidak mau tahu Amel pulang dengan siapa, kendaraan apa atau apapun itu.


"Sayang." panggil Wisnu yang membuat Alana menoleh. Pria itu sudah semakin berani saja memanggilnya dengan sayang.Tapi, tak urung Alana tetap menjawab panggilan itu.


"Iya Bang." sahut Alana.


"Mau apa mantan istri Rendi datang menemui kamu?" tanya Wisnu.


Meskipun sudah tahu jawabanya dari Ratna, tidak ada salahnya dia bertanya lagi.


"Minta Al untuk memberitahu Bang Rendi, dia ingin menjual rumah yang sekarang dia tempati." jawab Alana.


"Hanya itu?" tanya Wisnu lagi.


"Ya hanya itu poin utamanya, yang lainnya tidak penting." jawab Alana.


"Arka mana Bang?" tanya Alana.


"Sedang dimandikan sama bi Onah." jawab wisnu sambil mengikis jaraknya dengan Alana.


"Kangen." ucap Wisnu yang membuat Alana terkekeh.

__ADS_1


Wisnu mengumpat, Alana selalu saja membuat dirinya terpesona. Hanya dengan tertawa kecil seperti ini saja, Alana terlihat sangat cantik dimata Wisnu.


"Matanya coba dikondisikan ya." suara teguran dari Dirga membuat Alana dan Wisnu menoleh pada pria itu.


"Hei Dude, kau diizinkan datang untuk menemui Arka, bukan ibunya." ujar Dirga.


Wisnu membuang muka kesal pada sahabat yang akan jadi calon kakak iparnya itu. Sontak saja membuat Dirga melepaskan tawa karena sudah berhasil membuat seorang Wisnu terlihat kacau. Dirga tentu saja tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak bersuara.


"Breng sek Lo." umpat Wisnu yang langsung mendapat teguran dari Alana.


"Bang Wisnu!" tegur Alana sambil mengeleng-gelengkan kepala tanda melarang pria itu bicara tidak sopan.


"Maaf sayang." jawab Wisnu.


"Eh! Sudah berani panggil sayang ya sekarang!"


Alana malas menyaksikan drama yang akan kakak sepupunya itu buat. Lebih baik dia menemani Arkana dikamar pria kecil itu. Melanjutkan pekerjaanya, Alana sudah tidak berselera.


Tiba dikamar Arkana, putranya itu sudah terlihat tampan dan segar, "Wangi sekali ini kesayangan ibu." ucap Alana begitu Arkana masuk kedalam pelukannya.


"Tidak baik bagaimana Bi?" tanya Alana.


Bi Onah kembali menceritakan apa yang tadi Ratna sampaikan padanya. Alana menyimak dan mendengarkan dengan baik.


Kembali kepada Dirga dan Wisnu, keduanya masih terlibat pembicaraan.


"Aku lihat Amel baru saja pergi dari sini." ucap Dirga setelah menghentikan tawanya.


"Dia menemui Alana." sahut Wisnu.


"Untuk apa?" tanya Dirga penasaran.


"Hanya hal kecil. Wanita itu minta Alana menyampaikan pada Rendi, dia akan menjual rumah yang sekarang dia tempati." jawab Wisnu.

__ADS_1


"Dia melihatmu?" tanya Dirga lagi.


" Sepertinya iya." jawab Wisnu.


"Hati-hati Dude. Aku takut masih ada rasa yang wanita itu simpan untuk kamu." ujar Dirga menasehati.


Wisnu tersenyum. Dia sudah mendapatkan laporan dari Ratna dan segera saja meminta orang untuk mengawasi wanita berbisa itu. Sepertinya Amel belum bisa mengambil hikmah dari semua yang terjadi dalam hidupnya, hingga wanita itu masih saja ingin mencari jalan pintas untuk kesenangan dirinya sendiri dan mengorbankan orang lain.


"Dari senyum mu sepertinya kamu sudah melakukan pergerakan." ujar Dirga.


***


Berdiri dari gedung tertinggi tempatnya bekerja, adalah hal yang selalu Abimana lakukan setiap hari sebelum pulang ke apartemennya. Menghabiskan waktu hanya untuk mengenang masa-masa indah bersama Alana sambil memandang lampu-lampu yang ada dibawah sana dan sesekali memandang langit yang bertabur bintang.


Sunyi dan sepi, Itu yang Abimana rasakan sekarang dalam hidupnya dan membuatnya banyak merenung. Terkadang, senyum bahagia, tawa yang ceria, sampai wajah kesal Alana mampu dia lukiskan kembali dalam ingatan, karena Abimana tidak akan lupa.


Jika ada penyanyi yang ingin melumpuhkan ingatannya, maka Abimana tidak akan melakukan itu. Ingatan tentang Alana tidak akan pernah Abimana hapus dari ingatannya. Abimana akan selalu mengenangnya. Jika itu tentang Rachel maka Abimana ingin melumpuhkan ingatannya tentang wanita itu.


"Hindari berada di tempat ysng tidak baik, karena disana kamu akan bertemu dengan orang-orang yang tidak baik. Dan datangilah tempat-tempat yang baik, karena disana kamu akan bertemu dengan orang-orang baik."


Itu kalimat nasehat yang pernah Ajeng samapaikan padanya. Apa yang Ajeng katakan itu Abimana rasakan. Ditempat yang tidak baik, Abimana bertemu Rachel yang membawanya dalam lembah dosa. Karena obat yang wanita itu berikan, maka dia manjadi pria yang tidak bisa memiliki keturunan sekarang.


Di tempat yang baik, dia bertemu Alana untuk pertama kalinya. Namun kala itu, Alana adalah kekasih sahabatnya. Dan nasib baik membawa Alana bisa dia miliki. Sayangnya Abimana tidak bisa menjaga Alana dengan baik, hingga Aditya bisa menodai istrinya dan melahirkan Arkana. Mengingat nama itu, membuat Abimana merindukan bayi munggil yang sering tidur dalam gendongannya.


"Bagaimana kabar Kana sekarang? Ayah rindu, sayang." ucap Abimana sambil menatap langit yang sepi dari gemerlapnya bintang.


Abimana dulu membayangkan Arkana yang sudah bisa bicara lalu memanggilnya ayah. Mengenang itu, tanpa terasa air mata Abimana terjatuh. Putranya itu sekarang pasti sudah bisa bicara dan sudah bisa Abimana pastikan pria kecil iti tidak akan mengingat dirinya yang menunggu dengan cemas saat bayi kecil itu akan terlahir kedunia.


Semakin sesak sudah yang Abimana rasakan saat ini, hingga dia mengabaikan suara dering yang berasal dari benda pipih yang kini ada ditangannya.


Panggilan dari Naren membuat Abimana menyatukan alisnya. Sudah lama sekali mereka tidak berkomunikasi. Ada apa sahabatnya itu menghubunginya? Pertanyaan itu yang bercokol dikepala Abimana.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2