Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 68. Setelah Lamaran


__ADS_3

Acara lamaran sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Wisnu dan keluarganya sudah pulang ke kediaman mereka masing-masing. Acara berjalan lancar, dengan puncak acara, Ambar yang mewakili Wisnu memasangkan cincin di jari manis Alana. Lalu tante Melan, adik dari ayah Alana memasangkan cincin di jari manis Wisnu.


Tante Melan, satu-satunya saudara dari pihak ayah Rendi dan Alana yang masih berhubungan baik dengan kedua keponakannya itu. Sementara yang lainnya menjauh, sejak kedua orang tua mereka tiada. Tanpa Rendi dan Alana tahu penyebabnya.


Resmi sudah Wisnu dan Alana malam ini bertunangan. Mereka akan menjadi sepasang suami istri satu bulan lagi. Semakin lebar saja senyum Wisnu karena dia bisa mengikat wanita yang dia cintai sejak dulu meski penuh perjuangan dan lika liku kehidupan. Dalam hatinya Wisnu berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan untuk Alana dan Arkana. Cukup sudah wanita itu mengeluarkan air mata.


"Udah Bang senyumnya coba ditahan dulu." ujar Inaya yang pulang bersama Wisnu.


"Apa sih!" balas Wisnu tidak suka. Adiknya ini menganggu saja. Wisnu sejak tadi sedang menyusun banyak rencana untuk masa depannya dan Alana.


"Abang bisa nggak sih hargai perasaan aku." balas Inaya yang membuat Wisnu segera menoleh pada adiknya itu.


"Abang enak udah mau nikah sama orang yang dicintai. Sedangkan aku...." Inaya menghela nafas, dia tidak meneruskan ucapannya karena sedikit menyesakkan dada.


Amar baru saja mengirimkan pesan. Pria itu tidak mau memutuskan pertunangan mereka dan meminta untuk bertemu dengan Inaya.


"Bukankah besok kita akan memutuskan pertunangan kamu dengan Amar?" ucap Wisnu setelah menunggu Inaya yang tidak juga melanjutkan ucapannya.


"Amar tidak mau." balas Inaya.


"Biar saja, yang penting kita punya bukti untuk ditunjukkan pada orang tuanya. Kamu tidak perlu ragu dan takut. Biar Abang, papa dan opa yang urus." ucap Wisnu mencoba menenangkan adiknya itu.


Inaya menyandarkan kepalanya dibahu Wisnu. Sudah lama dia tidak bermanja dengan kakaknya ini. Hubungan mereka sedikit merengang akhir-akhir ini. Tepatnya sejak Wisnu memilih untuk tinggal seorang diri di apartement. Semua itu Wisnu lakukan semata-mata karena pria itu tidak ingin bertengkar dengan sang ibu.


Ketegangan dalam keluarganya terkadi setelah Ambar memaksa Inaya bertunangan dengan Amar tanpa meminta pendapat keluarga yang lain. Lalu, mencoba memasukkan Helen dalam kehidupan Wisnu yang membuat pria itu memilih pergi dari kediaman orang tuanya.


Untung saja keburukan dua orang yang Ambar pilih untuk menjadi menantunya itu ditunjukkan bersamaan dengan jalan yang tidak diduga. Semua berkat usaha Inaya yang ingin bebas dari Amar.


***


Alana menemani Arkana sampai putranya itu terlelap dengan nyenyak. Mulai malam ini, Alana mengajarkan Arkana tidur sendiri di kamarnya. Selain Arkana yang sudah semakin besar, Alana juga tidak ingin Wisnu terganggu dengan kehadiran Arkana yang masih tidur dengannya.

__ADS_1


Bagaimana pun Alana dan Wisnu butuh privasi setelah mereka menikah. Membayangkan itu, wajah Alana memanas. Ini memang bukan pernikahannya yang pertama, tapi Alana berharap akan menjadi pernikahannya yang terakhir.


Tring. Suara notifikasi di ponsel Alana berbunyi. Dengan gerakan yang sangat pelan, Alana turun dari tempat tidur Arkana. Diraihnya benda yang berlayar pipih miliknya itu yang tadi dia letakkan dimeja bermain Arkana.


Alana mengira pesan yang masuk dari Wisnu, karena calon suaminya itu sering sekali mengirimkan ucapan selamat tidur. Tapi ternyata tidak seperti yang Alana kira. Pesan itu dari nomor yang tidak dikenal.


[Hai cantik.]


Alana menautkan alisnya membaca pesan tersebut. Sapaan yang aneh, dan siapa pelakunya. Karena pesan ini terkirim ke nomor baru Alana dan sangat pribadi. Hanya orang terdekat Alana saja yang tahu dan menyimpan nomor pribadinya.


Tring. Pesan kembali masuk. Lagi-lagi nomor asing yang tertera di layar pipih tersebut.


[ Cantik, aku suka kamu sejak pandangan pertama. Jadi, maukah kamu jadi kekasihku? Aku lebih gagah dan tampan dari pada pria yang akan melamarmu. Lebih tepatnya aku lebih muda dari pada pria tua dan dingin itu. ]


"Dia kenal bang Wisnu." ucap Alana setelah membaca pesan dari nomor asing itu.


Lalu Alana mencoba berpikir siapa pria yang kenal dirinya dan juga Wisnu. Bahkan pria itu sepertinya jauh lebih mengenal Wisnu dari pada dirinya.


Sementara itu ditempat yang berbeda, tepatnya disebuah apartement. Seorang pria tengah tersenyum lalu tertawa kecil setelah mengirim pesan. Pria itu bahkan tidak peduli dengan tubuhnya yang masih polos karena baru saja berbagi peluh.


Tawanya mengusik wanita yang ada disampingnya. Wanita itu tak jauh berbeda dengannya, tanpa mengenakan sehelai benang pun dibalik selimut.


"Hey, apa yang kamu tertawakan?" tanya wanita itu.


"Bukan urusan kamu." jawab sang pria ketus.


Sang wanita memalingkan wajahnya. Sikap pria itu sangat berbeda saat sebelum dan sedang bercinta, dengan setelah bercinta. Salah dia yang mau saja berhubungan badan disaat mereka baru bertemu. Tapi mau bagaimana lagi? Sebagai istri yang sudah lama tidak disentuh oleh suaminya, wanita itu tergoda saat pria itu merangsang dirinya yang kurang belaian ini.


"Mau kemana?" tanya sang pria begitu wanita itu turun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya dilantai.


"Pulang." jawab wanita itu sambil melangkah ke kamar mandi.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin mengulangnya lagi?"


Tanpa menunggu jawaban sang wanita. Pria itu kembali menarik sang wanita masuk kedalam pelukanya. Berpelukan tanpa busana, tentu saja gairah wanita itu bangkit lagi. Ditambah pangutan dan elusan dipungung dan dadanya, membuatnya menginginkan lebih.


***


Amar sangat penasaran dengan sosok Alana. Pria itupun mencari tahu tentang ibu dari Arkana itu. Bukan hal sulit baginya mencari informasi tentang Alana, apa lagi tentang pekerjaan calon istri Wisnu itu.


Disinilah Amar berada, di butik milik Alana. Tujuannya untuk bisa kembali bertemu dengan Alana dengan berpura-pura mencari pakaian untuk Inaya. Sayangnya Amar tidak bisa menemukan Alana yang membuatnya ingin memiliki wanita itu.


"Maaf, apa pemilik butik ini ada?" tanya Amar pada karyawan butik Alana.


"Ibu tidak datang hari ini. Jika butuh sesuatu, anda bisa bicarakan dengan asisten bu Alana." ucap karyawan tersebut.


Luci yang baru saja keluar dari ruangannya untuk pulang lebih awal, tidak sengaja mendengar namanya disebut oleh karyawan butik. Dia pun mendekat dan akhirnya berkenalan dengan Amar. Tidak ingin terlihat memalukan, Amar meminta Luci memilihkan pakaian wanita yang ingin pria itu belikan untuk ibunya.


"Mau pulang?" tanya Amar berbasa basi pada Luci.


Sebenarnya itu taktik Amarcsaja. Dia masih ingin bicara dengan Luci. Tujuannya hanya satu, dia ingin meminta nomor Alana yang bisa dihubungi.


"Pulang ke daerah mana?"


Belum juga Luci menjawab, Amar sudah kembali bertanya. Mau tidak mau Luci menjawab daerah mana dia tinggal. Entah apa yang mereka obrolkan dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Amar merubah arah kendaraanya ke apartement miliknya dan mereka berakhir di tempat tidur.


Luci yang dibuat kelelahan oleh Amar, langsung tidur. Kesempatan itu Amar gunakan untuk mencari nomor ponsel Alana yang pasti tersimpan di ponsel Luci. Setelah mendapatkan nomor Alana, Amar segera saja mengirimkan pesan dan ucapan cinta.


Amar sangat yakin, Alana akan tergoda dengannya seperti Helen. Sekarang asisten wanita itu saja bisa dia buat tidur dengannya, apa lagi bosnya. Aduh Amar, harusnya kamu tahu dan bisa melihat. Alana tentu saka berbeda dan Helen itu dua orang berbeda. Jadi siap-siap saja dia kecewa. Tidak mendapatkan Alana dan juga berpisah dengan Inaya.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...

__ADS_1


__ADS_2