Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 62. Kesal


__ADS_3

Selepas makan siang, Wisnu mengunjungi kediaman orang tuanya. Tujuan pria itu hanya satu, menemui sang ibu lalu meminta restu untuk menikah dengan Alana.


Tadinya Wisnu tetap akan menikahi Alana meski tanpa restu sang mama. Namun Alana meminta Wisnu mengusahakan restu dari Ambar. Alana tidak akan menikah jika tidak adanya restu. Jadi apa boleh buat, meski dia setengah hati bertemu dengan mamanya, demi restu siang menjelang sore ini, Wisnu memantapkan langkah menemui Ambar.


Semua demi Alana. Demi bisa hidup bersama wanita yang dia cintai, maka suka tidak suka, Wisnu akan melakukannya. Cukup satu kali dimasa lalu dia kehilangan wanita yang dicintainya itu, kali ini Wisnu akan mempertahankan apa yang seharusnya dia miliki sejak dulu.


Tapi sayang, waktu kedatangan Wisnu sangat tidak tepat. Helen sedang berada di kediaman orang tuanya saat ini. Jangan tanyakan bagaimana reaksi pria itu. Wisnu langsung memalingkan muka, begitu Helen menyambutnya dengan ceria.


Kesal, itulah yang Wisnu rasakan saat ini. Karena Ambar masih saja berhubungan baik dengan Helen. Hal buruk apapun yang Wisnu sampaikan tentang Helen pada Ambar, sepertinya tidak didengar oleh wanita yang melahirkannya itu.


"Wisnu, aku senang kamu pulang. Kebetulan sekali kita bertemu. Kita bisa makan bersama sekarang." ucap Helen dengan senyum mengembang diwajahnya.


Sungguh Wisnu muak mendengarnya. Biar hanya tersisa satu wanita didunia ini, Wisnu tidak akan memilih Helen. Wanita yang pernah menjebaknya untuk berbuat dosa dengan melakukan zina.


Melihat Helen, Wisnu selaly teringat tentang malam dimana Wisnu menghadiri pesta ulang tahun Hana, sepupunya. Di tempat pesta itu, Wisnu bertemu Helen yang merupakan teman baik Hana.


Menghiraukan Helen yang mencoba mendekatinya, Wisnu bergabung dengan saudaranya yang lain. Mereka terlibat percakapan yang diiringi canda tawa seperti biasanya. Hana datang menyapa saudara-saudaranya yang tengah berkumpul.


Sebagai pemilik acara yang baik, Hana meminta pelayan membagikan minuman untuk saudara-saudaranya. Sedangkan untuk Wisnu, Hana sendiri yang memberikan langsung pada kakak sepupunya itu. Wisnu menerima gelas yang berisi alkohol itu, sebagai bentuk penghormatan.


Sejak mengikrarkan diri menjadi mualaf, Wisnu meninggalkan semua yang dilarang oleh agama yang kini dianutnya, termasuk berhenti meminum minuman yang mengandung Alkohol.


Dan Wisnu sangat bersyukur dengan kebiasaan barunya itu. Dengan begitu, dia bisa menghindar dari dosa besar. Minuman yang diberikan Hana khusus untuk Wisnu malam itu telah dicampur obat perangsang oleh Helen.


Hal tersebut Wisnu ketahui setelah minuman miliknya diminum oleh Dito yang tak lain adalah kakak Hana sendiri. Untung saja malam itu Dito hadir bersama sang istri. Sehingga, sepupu Wisnu itu bisa menyalurkan hasratnya ditempat yang tepat.


Wisnu yang penasaran siapa yang berani bermain-main dengannya mencoba berpura-pura mabuk dan gelisah. Usaha Wisnu tidak sia-sia. Dengan percaya dirinya, Helen mendekati Wisnu dan mengajak pria itu untuk cek in kamar hotel dimana pesta berlangsung.


Tapi Helen harus menelan kekecewaan, tangan wanita itu ditepis Wisnu dengan tatapan tajam seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Sejak detik itu, Wisnu membenci Helen dengan segala sikap dan sifat wanita itu. Jika seperti itu kelakuan Helen, apa salah Wisnu memandang hina wanita itu?

__ADS_1


"Aku dan mama baru saja selesai masak makanan kesukaan kamu, lho. Aku tadi bantu mama Ambar sambil belajar. Ya, biar nanti saat kita sudah menikah aku bisa membuatkan makanan kesukaan kamu." ucap Helen tanpa peduli dengan wajah Wisnu yang semakin kesal.


"Dimana mama?" tanya Wisnu.


Bukan bertanya pada Helen, melainkan pada asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu untuknya. Jangan tanya mengapa? Karena Wisnu tidak sudi lagi bicara dengan wanita itu.


"Nyonya ada di kamarnya, Tuan." jawab asisten rumah tangga tersebut.


Menghiraukan Helen, Wisnu segera saja menuju kamar yang ditempati kedua orang tuanya. Tidak peduli Helen yang menggumamkan sumpah serapah karena sikapnya yang dingin pada wanita itu.


"Ma." panggil Wisnu diiringi tangannya yang terangkat untuk mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.


"Masuk!" sahut Ambar yang sudah selesai menganti pakaiannya.


"Wisnu!" panggil Ambar, senang melihat kehadiran putranya.


"Kebetulan sekali mama masak makanan kesukaan kamu. Dibantu sama Helen. Dia pintar masak lho Nu." ucap Ambar, ucapan yang tidak ingin didengar oleh Wisnu.


Wanita paruh baya yang melahirkannya ini memang menyebalkan. Lama tidak bertemu bukan bertanya kabar tentang dirinya, tapi malah memamerkan kehebatan orang yang jelas-jelas sudah buruk dimata Wisnu.


"Makan dulu saja, setelahnya baru kita bicara. Kasihan Helen sudah capek masak, malah diminta menunggu lagi." balas Ambar.


"Aku sudah makan, jadi kita bicara saja dulu Ma. Sebentar saja." pinta Wisnu.


"Kamu mau bicara apa? Tentang janda itu lagi? Mama tidak mau." jawab Ambar cepat.


"Ma!" ucap Wisnu dengan nada lebih tinggi dari biasanya. Dia tidak suka cara Ambar menyebut satatus Alana seolah seorang janda itu hina.


"Aku hanya ingin meminta restu dari Mama untuk melamar wanita yang aku cintai. Hanya itu, tolong jangan dipersulit. Aku tidak akan meminta yang lainnya. Bahkan jika Mama tidak ingin aku mewarisi apapun dari keluarga ini, aku ikhlas. Asalkan Mama memberikan restu aku menikahi Alana."


"Mama tidak akan merestui sampai kapan pun." balas Ambar.

__ADS_1


"Karena wanita itu!" tunjuk Wisnu pada Helen yang berdiri diambang pintu.


Sungguh wanita yang tidak punya etika dan sopan santun. Harusnya dia tahu diri sebagai orang asing. Bukannya menunggu diluar, Helen justru berdiri diambang pintu untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan Wisnu dengan Ambar.


Helen yang di tunjuk merasa tidak bersalah. Bukan pergi karena ketahuan menguping, dia justru masuk kedalam kamar dan berdiri disamping Ambar. Sebenarnya Helen hanya berjaga-jaga, takut Wisnu memberi tahu Ambar tentang kejadian malam itu.


"Wanita yang tidak punya sopan santun seperti ini yang Mama restui?" ucap Wisnu dengan senyum sinis menatap Helen.


Bukan Wisnu tidak tahu tentang ketakutan Helen. Selama ini dia masih berusaha menutupi tingkah laku Helen yang memalukan, dan akan menggunakan sebagai kartu As untuk menyingkirkan wanita ular itu.


Wisnu diam bukan berarti dia tidak melakukan tindakan. Tapi menunggu waktu yang tepat. Sayangnya Helen tidak menyadarinya dan menganggap Wisnu tidak tahu tentang dirinya, kecuali kejadian malam itu.


"Wisnu, aku ini wanita terhormat. Aku tidak terima kamu direndahkan seperti itu." sahut Helen yang tidak suka dengan hinaan Wisnu.


"Wanita terhormat? Mana ada wanita terhormat yang berani menampakkan dirinya tanpa sehelai benang pun pada pria yang bukan suaminya."


"Wisnu, jaga ucapan kamu. Helen itu gadis baik-baik. Kamu berubah sejak bertemu janda itu." ucap Ambar yang merasa Wisnu sudah sangat keterlaluan menghina Helen.


"Jangan hina status Alana, Ma. Biar janda, dia janda terhormat. Bisa menjaga marwahnya. Dari pada yang mama bilang gadis baik-baik tapi kelakuannya nyatanya seperti janda gatal." ucap Wisnu yang mulai terpancing emosinya setiap Ambar menghina Alana.


"Lagian, apa yang aku katakan tadi adalah kebenarannya. Aku bisa kirimkan buktinya. Alangkah baiknya sebelum Mama memilih, seharusnya Mama selidiki dulu, wanita seperti apa yang mama pilih sebagai menantu. Bukan hanya karena status saja" ucap Wisnu lagi, melajutkan argumennya karena telalu kesal pada Ambar.


Pria itu berlalu dari hadapan Ambar yang hanya terdiam di tempatnya. Sebelum semakin jauh melangkah, Wisnu berbalik lagi lalu memberitahu Ambar.


"Asal Mama tahu, jika bukan karena Alana yang meminta aku bicara baik-baik dengan Mama, jujur aku sudah sangat malas bicara sama Mama." ucap Wisnu lalu melangkah jauh dari Ambar dan Helen yang justru mengikuti langkah Wisnu sambil menyerukan nama pria itu.


Diluar kamar Ambar, Wisnu terus saja berjalan menuju kendaraannya, tidak peduli dengan Helen yang mengejar dan memanggil namanya. Dia pun segera melajukan kendaraannya menuju butik Alana, menemui dua orang yang mampu membuat hatinya menjadi baik.


Sayangnya sampai di dekat ruangan Alana, Wisnu melihat sosok Aditya. Mungkin sudah waktunya dia menunjukkan diri pada Aditya, dengan memanggil sayang pada kekasih hatinya itu.


Sementara itu, sepeninggal Wisnu, ponsel Ambar berbunyi. Banyak pesan yang masuk dari nomor tidak dikenal. Pesan itu mengirim banyak gambar dan beberapa video, membuat Ambar penasaran dengan isinya. Mata wanita paruh baya itu membulat dan juga jijik dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2