Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 30. Bertemu Abimana


__ADS_3

Setelah dua minggu bersembunyi dan dalam penjagaan ketat oleh Dirga dan Wisnu, hari ini Alana akan menghadiri sidang pertama perceraiannya.


Terkadang Alana berpikir, mengapa semua ini harus terjadi dalam hidupnya. Siapa yang ingin pernikahannya gagal, tapi Alana bisa apa? Semua sudah takdir yang kuasa.


Harusnya dia bersabar, tidak terburu-buru memutuskan untuk menikah dengan Abimana begitu calon tunangannya ternyata harus menikah dengan wanita lain.


Tapi Alana tidak dapat memungkiri, peran Abimana sangat besar dikala dirinya terluka dan tersakiti. Abimana hadir seolah pahlawan yang kembali menghadirkan tawa bahagia untuknya. Kasih sayang pria itu seolah menghipnotis membuat Alana tanpa berpikir panjang menerima lamaran Abimana.


Sekarang? Bahtera rumah tangga itu harus berakhir. Abimana sebagai Nahkoda tidak mampu memberikan kenyamanan untuk Alana. Pria itu terlalu menyakitkan dengan menuduhnya berselingkuh tanpa bukti. Alana yang semula masih ingin mempertahankan biduk rumah tangganya pada akhirnya harus menyerah.


"Sudah siap" tanya Dirga begitu melihat Alana keluar dari kamarnya.


Alana hanya tersenyum, siap tidak siap dia tetap akan menghadiri persidangan ini. Terutama untuk memenangkan hak asuh Arkana.


"Semoga saja dia tidak hadir." ucap Dirga lagi.


"Dia bukan orang yang gampang menyerah." sahut Alana.


Selama mengenal Abimana, yang Alana tahu pria itu harus bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Sesulit apapun itu, Abimana tidak akan menyerah. Termasuk saat akan mendapatkan Alana. Sayangnya Abimana sering terburu-buru dan sering terbawa emosi sesaat akhir-akhir ini dalam mengambil keputusan, yang akhirnya berujung penyesalan seperti sekarang.


Dalam hati Alana jujur masih menyimpan rasa pada pria yang akan menjadi mantan suaminya itu. Abimana laki-laki yang baik juga penyayang. Sayangnya sikap labil Abimana akhir-akhir ini membuat Alana kecewa dan memutuskan untuk berpisah. Tepatnya menjauhi keluarga Rahardian terutama Aditya, pria breng sek yang berani menyentuhnya tanpa izin hingga melahirkan Arkana.


"Al, kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Dirga lagi, karena Alana terlihat diam saja.


"Al yakin Bang." jawab Alana.


"Abang dan Wisnu akan selalu mendukung keputusan kamu." balas Dirga memberikan kekuatan pada Alana.


"Al, apa kamu tidak ingin memberitahu kakakmu?"


Seketika mata Alana menjadi sendu, dia sudah mencoba menghubungi Rendi, tapi Amel kakak iparnya yang mengangkat panggilan teleponnya. Tentu saja Alana tidak bisa menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangganya dan memilih hanya menanyakan kabar kakak dan keponakannya saja.


Dirga bisa meliha kesedihan di mata Alana, "Maaf, Abang tidak bermaksud membuat kamu sedih. Setelah masalah perceraian kamu selesai, kita urus perempuan itu. Jangan sok jadi ratu yang ingin menguasai semua kekayaan keluarga kamu. Kamu jauh lebih berhak dari wanita itu. Abang akan buat mata Rendi terbuka, siapa Amel sebenarnya."


"Bang, biarkan abang Rendi bahagia dengan keluarganya." pinta Alana.

__ADS_1


"Tidak Al, rumah tangganya juga tidak sehat. Keluarga Amel itu hanya toxic untuk keluarga kita." sahut Dirga.


Alana menemui Arkana yang terlihat nyaman dalam gendongan Wisnu. Dia akan pamit dan menitipkan putranya pada babysitter dan Kinara. Sementara Wisnu dan Dirga akan menemaninya ke pengadilan agama.


"Mau berangkat sekarang, sayang?" tanya Wisnu.


Sungguh Alana malu dengan panggilan akhir pria itu sematkan padanya. Sejak hari itu, dimana Wisnu menyatakan cintanya, pria itu semakin berani menunjukkan rasa cinta dan sayangnya pada Alana.


Alana mengangguk sambil mendekati Wisnu. Bukan pria itu yang menjadi tujuannya, melainkan Arkana.


"Mama pergi sebentar ya sayang. Arka sama aunty dulu ya." ucap Alana sambil menciumi pipi gembul putranya.


"Daddy nggak dicium, Ma?" bisik Wisnu menggoda, hingga mendapatkan cubitan di lengannya oleh Alana.


"Arka, mama kejam sama Daddy." ucap Wisnu mengadu pada bayi laki-laki itu.


Seolah mengerti, Arkana terkekeh kecil hanya karena melihat wajah Wisnu yang dibuat merajuk, "Kamu menertawakan Daddy ya." kini Wisnu merajuk pada Arkana.


"Nggak usah drama deh Wis. Kita bisa terlambat." tegur Dirga atas kelakuan sahabatnya itu.


Sejak Wisnu memintanya memanggil Arkana dengan Arka, Alana mulai membiasakan memanggil putranya dengan panggilan Arka. Tidak ada salahnya menganti nama panggilan untuk Arkana. Setidaknya, Alana bisa sedikit melupakan kebiasaan keluarga Rahardian yang senang memanggil Arkana dengan panggilan Kana.


Tiba di kantor pengadilan, Alana berjalan didampingi Wisnu dan Dirga. Kedua pria tampan itu berjalan di sisi kanan dan kiri Alana, sudah seperti pengawal pribadi saja mereka berdua itu.


Kehadiran ketiganya menarik perhatian Abimana. Cukup terkejut melihat kehadiran Dirga dan pria yang pernah dia lihat di ruangan Dirga, tapi Abimana mengabaikannya untuk saat ini. Ada yang lebih penting yang harus dia selesaikan.


Abimana memilih untuk langsung mendekati Alana, lalu memeluk wanita yang masih berstatus istrinya itu. Dua minggu ini dia kehilangan jejak Alana, Abimana bahkan hampir saja prustasi. Apa lagi nomor ponsel istrinya tidak bisa lagi dihubungi setelah terakhir kali dia bicara dengan Kinara.


Abimana tidak tahu jika Kinara sudah memblokir nomor pria itu dari ponsel Alana. Terlihat kejam, Kinara hanya ingin yang terbaik untuk hidup sahabatnya. Bukankah dia telah memberi kesempatan dan pernah memperingatkan laki-laki itu sebelumnya?


Wisnu mengepalkan tangan melihat reaksi Abimana saat bertemu Alana. Dirga yang berada disampingnya langsung menepuk punggung sahabatnya untuk bersabar.


"Dia masih punya hak melakukan itu." ucap Dirga yang harus diakui kebenarannya oleh Wisnu.


Alana segera melepaskan diri dari pelukan Abimana. Pria itu terlihat kecewa tapi dia berusaha tetap tersenyum. 'Tidak apa-apa' pikir Abimana mencoba menenangkan perasaannya.

__ADS_1


"Al, Mas minta maaf. Tolonng kamu batalkan saja gugatan ini!" pinta Abimana.


Melihat Alana yang hanya diam saja, Abimana kembali bicara, "Kita perbaiki semuanya lagi dari awal. Kamu mau, kan? Mas tidak bisa jauh dari kamu dan Kana, sayang." bujuk Abimana.


Wisnu kembali mengepalkan tangannya mendengar Abimana memanggil sayang pada Alana. Lagi-lagi Dirga harus mengingatkan sahabatnya itu untuk bersabar.


"Tenang jangan tunjukkan apapun pada lawan kita." bisik Dirga.


Setelah bicara dengan Wisnu, Dirga mendekati Alana dan Abimana. Menyela perbincangan keduanya, tepatnya menyela ucapan Abimana.


"Na." panggil Dirga pada Alana. Sengaja memanggil nama kesayangan Alana dari kedua orang tuanya.


Panggilan Dirga pada Alana mengusik Abimana, "Siapa dokter sebenarnya?" tanya Abimana.


"Bang Dirga saudara sepupu ku. Dia yang kuliah di luar negeri." Alana memilih menjawab setelah sejak tadi dia hanya diam saja.


"Jadi kalian sudah merencanakan ini semua!" seru Abimana.


Saat Abimana akan kembali bicara, seseorang menghampiri mereka. Orang itu pengacara pilihan Abimana sendiri, bukan pengacara keluarga yang di tunjuk oleh Wijaya.


"Pak, sidang akan segera dimulai." ucap pria itu.


Abimana segera melirik jam yang melingkar ditangannya, waktu sudah menunjukkan angka delapan lebih empat puluh lima menit, itu berarti sidang lima belas menit lagi akan dimulai.


"Al, ayo masuk sayang." ajak Abimana.


"Aku dan Abang." balas Alana.


"Al, ...."


"Abi!" panggil Wijaya, pria paruh baya itu menyuruh Abimana segera masuk ke dalam ruang sidang.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...

__ADS_1


__ADS_2