
Mendengar namanya disebut dengan nada mengejek oleh orang yang sudah lama tidak dia temui, membuat insting Abimana untuk melindungi Alana seketika bangkit. Kejadian masa lalu yang mendorong Abimana untuk bersikap seperti itu. Abimana yang sedang berjalan hendak turun dari panggung pelaminan segera berbalik arah. Sayangnya Abimana lupa, bahwa saat ini dia tidak berhak atas diri Alana seperti dulu. Dan saat Abimana akan mendekat untuk menarik Alana menjauh dari David, mantan istrinya itu sudah bersembunyi dibelakang Wisnu.
Alana terkejuta saat suara seseorang yang pernah membuatnya terluka itu memberikan ucapan selamat. Bukan ucapan selamat dalam arti sebenarnya, tapi lebih ke sebuah ejekan untuk Alana. Dia hampir tidak mengenali pria paruh baya, yang tak lain adalah adik dari mantan ibu mertuanya. Ibu kandung dari Abimana.
Merasa takut dan terancam, Alana segera bersembunyi dibelakang punggung Wisnu. Alana tidak ingin melihat apa lagi bicara dengan pria yang pernah hampir melecehkannya itu.
"Bang, Al takut." cicit Alana dari belakang punggung Wisnu.
Mendengar cicitan sang istri, Wisnu segera memberi kode pada para pengawalnya. Pengawal yang sejak awal acara dia perintahkan berjaga didekatnya. Agar penampilan mereka tidak mencolok, suami Alana itu meminta mereka menyamar sebagai panitia acara resepsi malam ini.
Dengan cepat, para pengawal itu mengamakan pria dan wanita yang berdiri dihadapan Wisnu saat ini.
"Hei, aku ini tamu undangan!" seru David menolak pergi dari atas pelaminan.
Tentu saja protes itu tidak berguna. David dibawa turun dengan paksa oleh orang-orang Wisnu. Dan disaksikan oleh tamu undangan yang masih tersisa.
Melihat kejadian itu, Mahendra yang tengah berbincang dengan koleganya segera menghampiri David.
"Apa yang pria ini lakukan?" tanyanya pada para pengawal.
"Mengganggu nyonya muda, Tuan." jawab salah satu pengawal tersebut.
"Aku hanya menyapa dan mengucapkan selamat padanya." sahut David menyanggah laporan pengawal tersebut.
David memang hanya menyapa. Tapi bagi Alana yang punya pengalaman buruk dengan pria itu tentu saja sapaan itu terdengar menakutkan.
"Terima kasih untuk ucapannya. Tapi, demi ketenangan cucu menantu saya. Saya harap anda segera meninggalkan tempat ini." ucap Mahendra yang tentu saja lebih percaya pada orang-orangnya.
"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini!" ucap David merasa tersinggung.
"Saya kira kamu berbeda, ternyata sama saja." balas Mahendra lalu meninggalkan David dan memberi perintah agar para pengawal melanjutkan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Tidak perlu perintah lebih lanjut, para pengawal itu sudah tahu apa yang harus mereka lakukan pada orang yang berani mengusik ketenangan keluarga Mahendra.
Kejadian itu tentu saja menjadi perhatian tamu undangan yang masih tersisa. Tapi mereka hanya melihat, tidak ada yang berani bicara atau mencela. Mereka tahu, jika ada yang bermasalah, maka dapat dipastikan bukan keluarga Mahendra yang memulai. Karena keluarga Mahendra terkenal sebagai keluarga yang baik. Baik dalam interaksi sosial maupun dalam dunia bisnis.
Sebelum kejadian David, sudah ada dua orang yang disingkirkan para pengawal keluarga Mahendra dari pesta pernikahan ini. Dua orang tersebut melontarkan fitnah untuk Alana. Mereka mengatakan bahwa Alana bisa mendapatkan Wisnu dengan main dukun.
Sungguh keterlaluan, tidak tahukah mereka bahwa Wisnu yang tergila-gila pada Alana sejak remaja.
Sebenarnya mereka adalah ibu dari wanita yang pernah ditolak Wisnu, saat anak mereka akan dijodohkan dengan suami Alana itu. Mereka membanggakan anak gadisnya lebih cantik dan bukan janda. Dan menyembunyikan keburukan putri-putri mereka dengan menyebar fitnah.
Saat sedang asik menyebar fitnah, keduanya langsung digiring para pengawal keluar dari ballroom dan diterlantarkan di jalanan. Kejam memang. Tapi fitnah yang dilontarkan dua wanita itu lebih kejam lagi. Bukankah fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Mahendra bisa berubah menjadi manusia jahat demi membela keluarganya.
***
Awalnya Wisnu kesal dengan kehadiran David. Namun setelahnya dia tersenyum. Senyum Wisnu seolah mengejek pada David yang dibawa paksa untuk turun dari panggung pelaminan. Sayangnya bukan karena itu. Tapi ide untuk membawa lari Alana dari acara yang membosankan ini.
Wisnu berbalik menghadap Alana yang masih bersembunyi di balik punggungnya. Tanpa meminta izin pada sang istri, Wisnu mengangkat tubuh Alana ala bridal style. Pria itu membawa Alana keluar dari acara resepsi pernikahan mereka.
Tentu saja Alana terkejut dengan apa yang Wisnu lakukan. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Ada yang tersenyum menggoda pasangan pengantin baru itu, ada yang melongo dan ada juga yang menatap tidak suka. Tidak ingin melihat pandangan orang tentang apa yang suaminya lakukan, Alana mengeratkan lingkaran tangannya di leher Wisnu serta menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. Malu tapi juga bahagia, itulah yang Alana rasakan.
"Biarkan saja, mereka pasti mengerti." balas Wisnu yang langsung mendapat tinju di dadanya oleh Alana.
Bukan marah, Wisnu justru tertawa. Pukulan Alana tidak terasa sama sekali bagi Wisnu, tapi justru membangkitkan gairah pria itu untuk memakan sang istri malam ini.
Wisnu mendudukan Alana di sofa yang ada dikamar hotel yang mereka tempati. Lalu dia berjalan kembali kearah pintu. Menutup dan tidak lupa menguncinya.
"Sini Abang bantu buka hijabnya." ucap Wisnu saat Alana terlihat kesulitan melepaskan aksesoris yang menempel diatas kepalanya.
"Berat ya sayang?" tanya Wisnu sambil mengangkat mahkota kepala yang Alana kenakan malam ini.
"Nggak terlalu." jawab Alana.
__ADS_1
Wisnu meletakkan mahkota itu dengan hati-hati. Karena setelah ini akan dia simpan di kotak kaca lalu dia jadikan pajangan dikamar tidur mereka nanti sebagai kenang-kenangan.
Mahkota yang Alana kenakan malam ini, Wisnu pesan secara khusus dengan permata asli dan dibuat seringan mungkin agar Alana nyaman mengenakannya.
"Kita benaran nggak apa-apa kabur dari acara, Bang?" tanya Alana lagi.
"Tidak apa-apa. Mereka pasti mengira karena ulah si tua bangka itu, kamu Abang bawa pergi." jawab Wisnu yang langsung mendapat teguran dari Alana.
"Abang!" tegur Alana.
"Abang malas menyebut namanya sayang." balas Wisnu.
"Selesai." ucapnya lagi.
Ya, meski sambil bicara, tangan Wisnu tetap bekerja melepaskan jarum-jarum yang dipasangkan oleh MUA yang tadi membantu Alana mengenakan hijabnya.
"Ya, tapi jaga ucapan Abang. Ingat kita punya Arka yang bisa saja mendengarkan dan meniru ucapan kita kalau ucapanya tidak dijaga. Apa Abang mau, suatu saat Arka memaggil Abang dengan panggilan si tua bangka?" ucap Alana menasehati.
"Tidak sayang." sahut Wisnu cepat.
"Hati-hati makanya kalau bicara." balas Alana.
"Iya sayang." balas Wisnu dengan kedua telapak tangannya membingkai wajah Alana.
"Al mau bersihin wajah dulu, Bang. Nggak enak, serasa pakai topeng." ucap Alana menurunkan kedua tangan Wisnu dari wajahnya.
Bukan Alana tidak tahu kemana akhirnya nanti, dan bukan Alana tidak menginginkannya. Tapi dia ingin membersihkan tubuh dan wajahnya terlebih dulu. Tentu saja untuk kenyamanan mereka berdua.
"Al bersih-bersih dulu ya Bang." ucap Alana lagi karena Wisnu hanya diam saja.
"Abang ikut boleh?"
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...