
"Menurut kamu, ada apa Al?"
Pertanyaan Kinara membuat Alana berpikir dan ikut mempertanyakan mengapa dia dan Kinara diminta untuk masuk kedalam rumah. Tidak diizinkan untuk menampakkan diri, bukankah sesuatu yang aneh? Alana mencoba menelaah kemungkinan apa yang terjadi.
"Mungkin..." ucap Alana dan Kinara bersamaan.
Setelah bertanya Kinara pun ikut berpikir, banyak hal yang bisa terjadi. Apa lagi saat ini kediaman Dirga dijadikan sebagai tempat persembunyian Alana dan Arkana.
"Mungkin apa menurut kamu, Ki?" tanya Alana.
"Kamu saja dulu." balas Kinara.
"Curang!" balas Alana mengerutu.
Kinara terkekeh, Alana selalu saja begitu, sahabatnya ini tidak mau mengawali tapi sangat suka mengakhiri.
"Ini pasti ada kaitannya dengan gugatan cerai kamu!" seru Kinara.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu. Hanya saja aku takut jika yang menghalangi adalah papa mas Abi, karena akan lebih sulit berhadapan dengannya. Pria tua itu bisa melakukan cara apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." sahut Alana.
Sekarang Kinara tahu sifat siapa yang dimiliki Aditya, hingga mampu melakukan segala cara untuk mendapatkan sahabatnya Alana. pantas saja sangat berbeda dengan Abimana.
"Kenapa kamu berpikir papa mas Abi yang mungkin menghalangi?" tanya Kinara, "Bisa saja kan, mas Abi sendiri yang melakukannya?"
Alana menggeleng, "Mas Abi mungkin tidak mau bercerai dengan alasan dia mencintaiku. Jika papa Wijaya bukan untuk menghalangi perceraian tapi lebih kepada mengambil hak asuh Arkana." jawab Alana.
Apa yang Alana katakan itu benar. Mengapa Kinara tidak berpikir sampai kesana? Kemana otaknya yang selalu cemerlang pergi? Apa karena dia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri dengan Dirga.
Tanpa Alana dan Kinara ketahui jika perbincangan mereka di dengar oleh Dirga dan Wisnu. Membuat kedua pria itu kembali berpikir. Karena tidak terpikirkan oleh mereka jika Wijaya yang akan bergerak.
"Bagaimana pria breng sek itu?" tanya Kinara yang merujuk pada Aditya.
"Aku tidak ingin membahas dia. Apapun yang dia lakukan tidak lagi penting." jawab Alana.
Wisnu dengan cepat menghubungi orang kepercayaannya, "Awasi Wijaya Rahardian dan Aditya Rahardian." ucapnya memberi perintah.
Dirga hanya diam saja melihat Wisnu yang segera menghubungi orang kepercayaannya. Dalam hatinya berbicara, dia tidak salah menyerahkan Alana pada sahabatnya itu. Dirga yakin Alana akan bahagia bersama Wisnu yang sejak dulu sudah mencintai adik sepupunya itu. Kesetiaan Wisnu pun sudah teruji, sahabatnya itu tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Wisnu langsung bisa menerima informasi tentang Wijaya dan semua pergerakan yang pria paruh baya itu lakukan.
__ADS_1
"Dugaan Alana benar." ucap Wisnu memberitahu Dirga.
"Jadi, dua orang yang kita tahan itu benar orang suruhan Wijaya?" tanya Dirga.
Wisnu mengangguk, "Untung saja mereka tidak aku lepaskan." ujar Wisnu.
Awalnya, tetangga Dirga hanya menuntut ganti rugi atas kendaraannya yang rusak. Keduanya menyanggupi akan menganti rugi kerusakan mobil yang mereka tabrak dengan syarat mereka dilepaskan.
Wisnu yang curiga sejak awal tentu saja tidak akan membiarkan kedua orang tersebut dilepaskan. Dia terus mencari cara dan alasan agar kedua penguntit kediaman Dirga itu ditahan. Dia tidak ingin kecolongan informasi apapun tentang dia, Dirga dan terutama Alana, keluar dan diketahui pihak lawan.
Dirga setuju dengan apa yang Wisnu katakan, setidaknya Wijaya kehilangan informasi tentang Alana dan Arkana saat ini. Lalu apa yang sekarang harus dia lakukan untuk melindungi Alana dan Arkana?
"Sayang Daddy tidak jadi bobo kenapa?" tanya Wisnu begitu mendekati Arkana yang duduk di pangkuan Alana.
Mendengar suara wisnu, bayi gembul itu segera mengulurkan tanganya minta disambut oleh pria tampan tersebut. Melihat tangan Arkana yang terulur, Wisnu segera meraih tubuh gembul itu dari pangkuan Alana.
"Anak Daddy mau bobo digendong Daddy ya?" tanya Wisnu begitu tangan munggil itu meraih wajahnya.
Arkana terkikik geli begitu tanganya meyentuh jambang Wisnu yang baru tumbuh. Melihat putranya yang begitu dekat dengan Wisnu, Alana hanya bisa terdiam. Bagaiamana kalau Arkana sulit dipisahkan dari pria baik hati itu?
"Tidak usah takut, Wisnu tidak akan meninggalkan Arkana dan kamu Al." bisik Dirga yang tahu keresahan adik sepupunya itu.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan masalah Wisnu, ok!" ucap Dirga yang diangguki Alana.
"Kamu siapkan saja dirimu untuk melawan Wijaya Rahardian." ucap Dirga lagi.
"Apa yang terjadi diluar tadi perbuatan papa, Bang?" tanya Alana.
"Sepertinya begitu, tapi tidak usah khawatir, Abang dan Wisnu selalu berada dibelakang kamu. Kita punya bukti yang kuat, apa lagi setelah tahu Arkana bukan anaknya, Abimana sempat mengabaikan kamu dan Arkana. Itu semua akan jadi bukti kuat untuk kamu megambil hak asuh Arkana." jawab Dirga menjelaskan.
"Bagaimana dengan riwayat Al yang dititipkan dirumah sakit jiwa?" tanya Alana. Dia takut hal itu akan menjadi kelemahannya dipersidangan nanti.
"Kamu lupa rumah sakit itu milik siapa?" tanya Dirga sambil menaik turunkan alisnya.
"Milik Abang." jawab Alana polos membuat Dirga terkekeh.
"Tidak perlu khawatir masalah kesehatan mental kamu. Semua bersih, Abang bisa atur semuanya." ucap Dirga lagi.
"Kamu juga selama ini memang tidak sakit, kan? Pria bodoh itu saja yang salah paham hingga membawa kamu kerumah sakit milik Abang." jelas Dirga.
__ADS_1
"Alana serahkan semuanya ke Abang." balas Alana.
"Tenang saja, apa yang kamu inginkan akan Abang dan Wisnu usahakan terwujud."
Alana tidak bisa menahan haru atas kebaikan kakak sepupunya ini. Dia langsung saja masuk kedalam pelukan sang kakak. Tidak ada kata yang bisa Alana ucapkan untuk membalas semua kebaikan Dirga bahkan sejak dulu.
"Jangan sedih Al. Kamu itu adik perempuan Abang satu-satunya, Abang pasti akan membela kamu." ucap Dirga menenangkan.
Wisnu dan Kinara hanya bisa melihat dua saudara itu saling berpelukan. Jika dia tidak sedang menina bobokan Arkana, Wisnu sangat ingin memeluk wanita yang dicintainya itu untuk menenangkan dan memberikan kekuatan.
Suara ponsel Alana berdering memecah keheningan yang sempat terjadi diantara mereka. Nama Abimana yang tertera dilayar membuat Alana menatap pada Dirga, Wisnu dan Kinara. Apa yang harus dia lakukan? Mengabaikan atau menjawab panggilan tersebut.
"Biar aku saja." ucap Kinara lalu meraih ponsel milik Alana dan menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau tersebut.
"Halo Assalamualikum, Al." sapa Abimana.
Semua yang ada diruangan itu bisa mendengar suara Abimana, Kinara sengaja meloud speaker agar semua tahu apa yang diinginkan Abimana. Tidak hanya orang dewasa, Arkana yang sudah hampir terlelap kembali membuka matanya begitu mendengar suara pria yang dia kenal sejak lahir, pria yang mengumandangkan azan ditelinganya pertama kali. Bayi gembul itu seperti tahu apa yang terjadi, dia hanya membuka mata dan diam tidak membuka suara.
"Waalaikumsalam." balas Kinara.
"Lho Ki, kenapa kamu?" tanya Abimana terkejut, "Dimana Alana?" tanyanya.
"Mas Abi mau apa?" tanya Kinara.
"Aku ingin bicara dengan istriku, apa salah?" jawab Abimana.
Dirga mendengkus mendengar jawaban Abimana, begitupun Wisnu langsung membuang muka tidak suka. Tidak ada yang salah dengan ucapan Abimana, Alana memang masih berstatus istrinya, hanya saja pria itu seperti tidak menyadari kesalahannya. Tentu saja Dirga dan Wisnu merasa kesal.
"Tidak salah, tapi Alana tidak ingin diganggu dan tidak ingin bicara dengan siapapun." balas Kinara.
"Jangan bohong Ki, dimana Alana dan Kana sekarang? Aku mau bertemu mereka." sahut Abimana.
"Jangan ganggu Alana lagi, Mas Abi harus terima keputusan Alana." balas Kinara.
"Aku hanya ingin bertemu ISTRI dan ANAKKU, Kinara!" seru Abimana.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...
__ADS_1