
Dari kejauhan Ajeng ditemani Aditya melihat Alana dan Abimana yang sedang bicara. Ada raut kecewa diwajah wanita paruh baya itu, karena tidak melihat Arkana didekat Alana.
Tadinya Ajeng berharap Alana membawa cucunya itu. Namun harapan tinggal harapan, nyatanya cucunya tidak dibawa. Ajeng sudah sangat rindu cucu gembulnya itu. Arkana itu aktif, sangat aktif sama seperti Aditya saat bayi.
Ingat kesamaan Arkana dan Aditya, membuat Ajeng menghela nafas kasar. Semua ini terjadi karena ulah Aditya. Ingin rasanya Ajeng membenci putranya itu. Tapi, hati seorang ibu tetap saja tidak ingin jauh dari putranya. Karena itu juga Ajeng mendukung agar Arkana tetap bersama Alana, bukan bersama mereka seperti keingginan Wijaya.
"Ada apa Ma?" tanya Aditya karena mendengar helaan Ajeng.
"Tidak apa-apa." jawab Ajeng yang sudah pasti berbohong. Percuma dia memberitahu Aditya, putranya tetap saja tidak akan mengerti.
Suara Wijaya yang keras membuat perhatian Aditya dan Ajeng beralih pada pria paruh baya itu. Terlihat jelas, Wijaya menunjukkan wajah tidak suka melihat Abimana bicara banyak dengan Alana.
Lag-lagi Ajeng harus mengurut dada melihat drama yang ada dihadapannya ini. Ajeng sudah tahu penyebab mengapa Wijaya melepaskan Alana jadi menantunya.
"Apa Bunda tahu, mengapa papa sekarang membenci Alana?" tanya Aditya yang memperhatikan sikap Wijaya pada ibu putranya itu.
"Karena kamu." jawab Ajeng.
"Bunda." panggil Aditya tidak terima dengan jawaban Ajeng.
"Kamu pikir karena apa? Semua ini terjadi karena kamu." balas Ajeng. Benar kan? Putranya tidak juga sadar jika semua terjadi karena ulahnya.
Niat Ajeng ingin mencari tahu mengapa Wijaya berubah sikap berhasil secara tidak sengaja. Suatu malam, Ajeng melihat Wijaya menulis sebuah buku. Bukan aktifitas Wijaya yang menulis membuat Ajeng memperhatikan suaminya, melainkan suaminya itu menulis sambil meneteskan airmata.
Hal itu tentu saja membuat Ajeng semakin penasaran, ada apa dengan Wijaya?
Wijaya tidak membenci Alana, tapi pria itu sengaja bersikap seolah menjadi pemeran antagonis dalam drama rumah tangga Alana dan Abimana. Memaksakan hatinya membenci Alana, karena Wijaya terikat janji pada almarhum ayah Alana.
__ADS_1
Ajeng bisa mengetahui hal itu setelah dia berusaha menemukan tulisan tangan Wijaya dalam buku yang suaminya simpan dengan sangat rahasia. Sejak hari itu Ajeng terus memantau suaminya dan akhirnya dia bisa tahu dimana Wijaya menyimpan bukunya.
"Bunda" panggil Alana, menarik lamunan Ajeng yang mengingat kembali curahan hati Wjaya.
"Alana sayang." balas Ajeng yang langsung menarik menantunya itu kedalam pelukannya.
Ajeng berusaha untuk menerima perceraian Alana dan Abimana. Tulisan Wijaya yang membuatnya mengerti mengapa suaminya membiarkan Alana menggugat cerai Abimana. Ini jalan yang terbaik, baik untuk Alana dan juga Abimana. Mungkin menyakitkan diawal tapi Ajeng yakin, Alana dan Abimana akan menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.
"Bunda, maaf." ucap Alana lirih.
Wanita ini sangat baik padanya. Selama menjadi menantu Ajeng, Alana tidak pernah sekalipun disakiti oleh ibu mertuanya ini. Sangat berbeda dengan ibu kandung Abimana yang jelas-jelas membenci dan selalu menghina Alana.
"Kamu tidak salah sayang, tapi Bunda. Maaf kan Bunda tidak bisa mendidik anak-anak Bunda dengan baik." ucap Ajeng.
Alana menggeleng, "Bukan salah Bunda." balasnya.
"Masuklah, sidang akan segera dimulai." ucap Ajeng mempersilakan Alana untuk masuk kedalam ruang sidang.
Alana mengangguk menjawab ucapan Ajeng. Baru akan melangkah, wanita paruh baya itu kembali bicara pada Alana.
"Boleh Bunda bertemu Kana?" tanyanya.
Sorot mata tua itu memancarkan kerinduan, Alana jadi merasa bersalah.
"Boleh Bun." jawab Alana.
Wijaya tidak ingin melihat Alana, saat menantunya itu melihat ke arahnya. Tapi Wijaya cukup senang melihat Alana baik-baik saja. Pria paruh baya itu memang mengirim orang untuk mengawasi Alana, bukan berniat mencelakai menantunya atau menculik cucunya, melainkan hanya untuk tahu kabar Alana dan Arkana setiap saat.
__ADS_1
Hal ini juga sudah diketahui Dirga dan Wisnu. Orang yang Wijaya kirim akhirnya bicara jujur setelah Wisnu menahan mereka di tempat rahasia pria itu. Dari keduanya, Wisnu dan Dirga tahu kalau Wijaya sangat menyayangi Alana sebagai menantu dan ingin memastikan menantu dan cucunya hidup dengan baik dan layak.
Alana ingin menegur Wijaya, tapi dia urungkan niatnya karena Wijaya langsung membuang muka saat mata mereka bertemu. Ada perasaan tidak nyaman diperlakukan Wijaya seperti itu, Alana rasanya ingin menangis atas perlakuan Wijaya. Tapi dia bisa apa?
Sidang pertama dimulai. Hari ini hakim masih memberikan waktu untuk mediasi karena Abimana tetap menolak untuk bercerai.
Tidak ada kesepakatan dalam mediasi hari ini. Alana tetap pada pendiriannya untuk berpisah. Dia tidak akan kembali pada keluarga Rahardian, apa lagi jika bukan karena adanya Aditya dalam keluarga tersebut. Pria yang akan Alana benci seumur hidupnya.
Abimana masih bertahan tidak ingin berpisah, tidak ada wanita lain yang bisa seperti Alana. Abimana sungguh menyesal pernah mengatakan ingin berpisah dengan istrinya itu. Kala itu, mereka sedang bicara tentang siapa ayah Arkana. Sekarang? Nyatanya dia tidak sanggup berpisah dengan Alana.
Andai waktu bisa diputar ulang, maka Abimana pasti akan melakukannya Tapi sayang, penyesalan memang selalu berada di akhir. Jika di awal, maka akan berbeda ceritanya. Nasi pun sudah menjadi bubur, tidak mungkin bisa kembali menjadi nasi.
"Lepaskan saja Bi!" tegur Wijaya menarik lamunan Abimana yang melihat kepergian Alana bersama Dirga dan Wisnu.
"Papa tahu pria yang bersama Alana itu?" tanya Abimana.
Tentu saja Wijaya tahu siapa Dirga dan Wisnu. Mereka bahkan pernah bertemu. Wijaya yang mengundang Dirga dan Wisnu untuk bertemu. Tepatnya setelah Wisnu melepaskan dua orang yang Wijaya utus untuk memantau Alana dan Arkana, untuk memberikan laporan apa yang terjadi dengan cucu dan menantunya.
"Dokter itu ternyata sepupu Alana." ucap Abimana lagi.
"Hemm." jawab Wijaya, lalu berjalan menuju kendaraannya.
Mendengar jawaban Wijaya membuat Abimana menyadari, papanya sudah tahu siapa Dirga dan Wisnu. Sepertinya hanya dia yang tidak tahu apa-apa. Lalu Abimana teringat sesuatu, "Apa dia laki-laki itu, Al?" tanya Abimana di dalam hatinya.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...
__ADS_1