
"By Daddy, by Abang Arka." ucap Dinara sebelum dia turun menyusul ibunya untuk masuk ke halaman sekolah.
"By sayang." jawab Wisnu dan Arkna bersamaan.
Membiasakan ikut mengantar anak ke sekolah sudah Wisnu lakukan sejak pertama Arkana masuk sekolah, meski dia tidak ikut turun. Bukan apa-apa, di sekolah tersebut lebih banyak ibu-ibu dari pada bapak-bapak. Untuk menghindari masalah, jadilah Wisnu cukup di mobil saja.
Pagi ini keluarga kecil itu pergi bersama dan saling bercengkrama selama perjalanan. Sopir terlebih dulu menurunkan Alana dan Dinara yang jarak sekolahnya lebih dekat dari rumah. Sengaja Alana memilih sekolah yang dekat dengan perumahan mereka, agar Dinara tidak terlalu kelelahan.
Tujuan Alana memasukan Dinara sekolah, agar putrinya itu memiliki teman sebaya dan bisa berinteraksi dengan banyak orang yang seusia dengannya. Mampu menyesuaikan diri dengan banyak sifat dan karakter masing-masing anak. Salah satu bentuk pembelajaran bagi anak-anak yang cukup penting menurut Alana. Dengan begini, Dinara bisa melihat keberagaman manusia di dunia ini secara langsung.
Alana membawa Dinara memasuki halaman sekolah. Putrinya ini sangat antusias dengan hari ini, bahkan sejak subuh dia sudah bersiap tanpa bantuan. Dinara ingin melakukannya sendiri seperti yang dilakukan abangnya, Arkana. Sebagai orang tua, Alana dan Wisnu memberikan kebebasan pada anak-anak selama itu baik untuk mereka. Alana bisa merapihkannya nanti jika Dinara tidak bisa memakai seragamnya dengan baik.
"Bunda Al, Kak Di." panggil Diva dan Davi bersamaan. Keduanya adalah anak kembar Aditya dan Luci. Sama seperti Dinara, hari ini mereka juga sekolah ditempat yang sama dengan Dinara.
"Lho, kalian sekolahnya disini juga?" tanya Alana begitu melihat kedua anak kembar tersebut yang menyapanya.
"Iya Bunda." jawab keduanya bersamaan.
Alana mencari sosok Luci, tapi dia tidak menemukan mantan asistenya itu. Alana hanya melihat babysitter kedua anak ini dan bunda Ajeng.
"Bunda yang antar si kembar? Luci mana?" tanya Alana sambil mencium punggung tangan bunda Ajeng dan dilanjutkan dengan mencium pipi kanan dan kiri wanita paruh baya tersebut.
"Luci sedang mabuk Al. Dia hamil lagi." jawab bunda Ajeng sambil menerima tangan kecil Dinara yang ikut salim padanya.
"Pintar sekali cucu Oma Ajeng ini." ucap bunda Ajeng memuji Dinara.
"Terima kasih Oma." balas Dinara sambil tersenyum lebar.
"Iya, sama-sama sayang." sahut bunda Ajeng kagum.
Setelah berbincang sesaat, Alana mengajak mantan mertuanya itu untuk masuk, dan langsung disetujui oleh bunda Ajeng.
***
"Papa Diva sama Davi kok ada disini?" tanya Arkana heran begitu Aditya menghampirinya.
__ADS_1
"Iya, mau lihat Abang Arka sekolah SD." jawab Aditya apa adanya.
Aditya meminta pada Wisnu dan Alana, agar dia diizinkan untuk tetap bisa bertemu dan berbicara dengan Arkana. Walau bagaimanapun, Arkana itu anaknya. Aditya tidak ingin kehilangan momen tumbuh kembang putranya itu. Tanpa Arkana perlu tahu, bahwa dirinya adalah ayah biologis anak itu. Cukup Arkana mengenal dia sebagai pamannya saja. Seperti itu saja Aditya sudah sangat berterima kasih pada Alana, wanita yang dia sakiti.
"Daddy, Abang bisa sendiri ke kelas." ucap Arkana agar Wisnu mengantarnya cukup sampai gerbang saja. Dua hari yang lalu, Alana sudah menunjukan dimana kelasnya berada dan mereka juga sudah bertemu guru yang akan menjadi wali kelas Arkana.
"No. Khusus hari ini, bunda minta Daddy mengantar kamu sampai ke kelas." jawab Wisnu.
Arkana tidak bisa membantah jika daddynya sudah membawa nama sang bunda. Anak itu akhirnya mau berjalan dengan tangannya yang digandeng Wisnu. Sementara Aditya mengekor dibelakang keduanya. Dia harus tahu posisinya, walau dia sangat ingin berada di posisi Wisnu saat ini.
Baru beberapa langkah, seorang anak laki-laki memanggil Arkana. Arkana segera berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tampak Dion bersama Abimana sedang berjalan menuju kearah mereka.
"Mas Dion." balas Arkana begitu Dion dan Abimana sudah berdiri didepannya. Seperti yang diajarkan sang bunda, Arkana meraih tangan Abimana dan mencium punggung tangan pria yang dia panggil ayah Dion itu.
Tangan Abimana terulur mengusap pucuk kepala kepinakannya itu. Meski terkadang masih ada penyesalan, tapi Abimana sudah bisa menerima semuanya adalah ketetapan yang diatas. Jodohnya dengan Alana hanya sesaat. Alana tidak menyimpan dendam dan benci padanya dan Aditya saja sudah sangat Abimana syukuri. Buktinya dengan hubungan mereka yang sekarang baik-baik saja. Bahkan anak-anak juga berteman baik karena sering bertemu.
"Mana bunda?" tanya Dion mencari Alana.
"Bunda antar Dinara sekolah." Wisnu yang menjawab.
"Tante harus jaga adek Vina. Masih bayi, belum bisa diajak pergi." jawab Abimana.
Setelah berbincang sesaat, Wisnu mengajak Arkana menuju kelasnya dengan Aditya yang masih setia mengekor dibelakang mereka.
***
Lima belas tahun kemudian.
Hari ini hari pertama Arkana bekerja. Padahal baru kemarin pemuda itu melakukan prosesi wisuda, didampinggi bunda dan daddynya. Setelahnya mereka mengadakan perayaan kecil, dengan makan bersama yang hanya dihadiri keluarga saja. Termasuk keluarga Rahardian, khususnya Aditya dan Luci.
"Sudah siap Bang?" tanya Alana pada Arkana begitu sang putra bergabung di meja makan.
Arkana sudah tampak rapih dengan kemeja putih dan celana hitam, pakaian standar untuk karyawan baru. Meski terlihat sederhana, namun yang melihat akan tahu, apa yang Arkana kenakan bukan kemeja putih biasa.
"Siap Bun." jawab Arkana yakin.
__ADS_1
Alana tersenyum pada putranya itu, "Ya sudah, sarapan dulu." balas Alana lalu dia pergi kekamarnya untuk melihat Wisnu yang sedang bersiap-siap ke kantor.
"Abang yakin mau jadi karyawan biasa?" tanya Dinara yang sudah ada dimeja makan sejak tadi bersama si bungsu Ansel.
"Yakin, biar Abang tahu bagaimana bekerja dari bawah sebelum daddy kasih posisi yang penting untuk Abang diperusahaan." jawab Akarna.
Ya, putra pertama Alana itu memilih memulai karirnya dari bawah. Dia juga tidak langsung bekerja di kantor utama, melainkan di anak cabang Mahendra Group. Ada perasaan khawatir pada Alana, tapi mau bagaimana lagi jika Arkana sendiri yang menginginkan hal tersebut dan mendapat dukungan penuh dari Wisnu.
"Abang mau kerja?" si bungsu Ansel yang bertanya. Anak laki-laki itu masih duduk dibagku SMP, cukup jauh usianya dengan Dinara yang kuliahnya juga sebentar lagi selesai.
"Iya Ansel." jawab Arkana.
"Asyik, Abang bisa kasih aku tambahan uang jajan kalau sudah gajian." ucap anak laki-laki itu.
"Tidak ada yang begitu. Uang yang dikasih bunda sama daddy sudah lebih dari cukup untuk anak sekolah seperti kamu." sahut Dinara. Gadis itu jauh lebih tegas dengan sang adik dari pada Arkana yang memiliki jiwa penyayang.
"Mbak Dinar nggak asyik." balas Ansel.
Dinara mengabaikan sang adik, dia lebih tertarik bicara pada abangnya dari pada Ansel yang sering membuat kepalanya mengeluarkan asap.
"Bang, biasanya karyawan baru suka jadi bagian yang disuruh-suruh. Abang mau dibegituin sama karyawan sendiri?" tanya Dinara lagi.
"Mana ada karyawan sendiri. Mereka itu karyawan opa dan Daddy. Bukan karyawan Abang." balas Arkana sambil terkekeh mendengar sang adik yang mencoba menakut-nakutinya.
"Terserah Abang deh. Klo Dinar mau langsung jadi pimpinan cabang." sahut Dinara.
"Ada apa ini?" tanya Wisnu yang baru tiba dimeja makan bersama Alana.
"Bukan apa-apa Dad." jawab Arkana tidak ingin daddynya berpikir akan memindahkan posisinya setelah mendengar kritikan Dinara.
Sebenarnya, Arkana bisa memilih perushaan mana saja yang dia inginkan. Rendi sang paman juga menawarkan Arkana untuk bekerja diperusahaan keluarga mereka bersama Raka. Wijaya sang kakek juga meminta Arkana bekerja di perusahaan Rahardian. Apalagi Arkana adalah cucu pertama mereka. Tapi putra Alana itu lebih nyaman mengikuti saran daddynya yang sesuai dengan keinginan Arkana. Yang akan memulai karirnya dari bawah.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1