Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 66. Makan Malam


__ADS_3

Selama keluarga Mahendra dan Alana makan malam, tidak ada satupun dari mereka bersuara. Apa lagi menyinggung masalah hubungan antara Wisnu dan Alana. Sampai kehadiran seorang yang tidak diinginkan mengganggu ketenangan mereka.


"Selamat malam Opa, Oma, Papa, Mama, Mas Wisnu, Inaya sayang dan mbak cantik." ucap Amar yang tiba-tiba saja hadir dan menyapa semua orang.


Suasana hening dan hikmat sedikit terusik dengan kehadiran Amar. Meski tidak ada satu orang pun yang membalas sapaan pria itu, tapi semua mata menatap kearahnya. Termasuk Ambar, orang yang selama ini selalu menginginkan Amar menjadi menatu di keluarga Mahendra. Wanita paruh baya itu tidak menyambut calon menantunya itu seperti biasanya. Sikap Ambar bahkan sangat dingin bahkan wanita itu berdecak mendengar Amar memanggil Alana dengan sebutan cantik.


Wisnu bahkan langsung menatap tajam tunangan adiknya itu, begitu mendengar Amar memanggil Alana dengan panggilan mbak cantik. Sementara Inaya membolakan matanya malas mendengar sapaan Amar. Mulut pria itu sudah biasa berkata manis dengan banyak wanita, sehingga panggilan sayang bukan hal istimewah bagi adik Wisnu itu. Nyatanya, pria yang berstatus tunangannya itu berani memuji kecantikan wanita lain dihadapannya bahkan di depan seluruh keluarganya. Buaya sekali bukan?


Melihat istrinya yang diam saja bahkan berdecak sebal, membuat Indra mengalah lalu menyuruh Amar untuk segera duduk lewat tatapan mata dan gerakan dagunya. Walau dia tidak begitu sukan dengan Amar, sebagai tuan rumah, Indra tetap berusaha untuk sopan. Selain itu, Indra tidak ingin Mahendra marah karena makannya terusik. Ayahnya itu sangat tidak suka ada yang mengganggu disaat makan apa lagi berisik dan banyak bicara.


Amar yang sudah paham kebiasaan keluarga mahendra, mengerti maksud calon ayah mertuanya. Pria itu segera mendekati Inaya lalu menarik bangku kosong dan duduk disamping tunangannya itu. Kaki dan tangannya mengikuti perintah Indra, tapi matanya tak lepas tertuju pada Alana.


"Ada perlu apa?" tegur Inaya dengan berbisik begitu tahu mata Amar yang terus melihat kearah cslon kakak iparnya


"Tidak ada, hanya khawatir sama kamu." jawab Amar yang juga berbisik.


Namun jawaban Amar membuat Inaya menaikan alisnya. Sejak kapan pria ini peduli pada dirinya? Apa ada hubungannya dengan acara makan malam, malam ini? Inaya menaruh curiga.


"Aku menghubungi kamu sejak siang, tapi ponsel kamu sepertinya tidak aktif." lanjut Amar ucapannya dengan kembali berbisik.


Baru saja Inaya akan membalas ucapan Amar, Mahendra sudah lebih dulu bicara. Kakek Wisnu dan Inaya itu memanggil nama sang cucu perempuan.


"Inaya." tegur Mahendra, membuat Inaya menutup kembali mulutnya yang sudah hampir membalas bisikan Amar.


Suasana meja makan pun kembali tenang setelah Mahendra menegur Inaya. Satu hal yang Alana simpulkan dari kejadian ini. Keluarga Mahendra, terutama sang kakek tidak suka ada yang bicara saat mereka makan. Alana akan mengingat hal ini, tentu saja. Bukankah dia akan menjadi bagian keluarga ini nantinya?


Selama makan malam, Amar terus mencuri pandang untuk memperhatikan Alana yang berada dihadapannya, tentu saja sambil menyendokkan makanan masuk kedalam mulutnya agar tidak membuat curiga yang lain.

__ADS_1


"Cantik." ucap Amar dalam hati, lagi-lagi pria itu memuji dan mengagumi kecantikan Alana.


Wisnu yang berada tepat dihadapan Amar, menatap tajam pada calon adik iparnya yang akan menjadi mantan itu. Dia tidak suka melihat mata Amar yang terus saja mencuri pandang memperhatikan calon istrinya dengan tatapan memuja.


"Mengapa laki-laki ini harus ikut makan malam bersama?" ucap Wisnu geram di dalam hati.


Mata Wisnu beralih menatap Inaya, dia meminta penjelasan pada adik semata wayangnya itu. Mengapa Amar juga di undang diacara makan malam yang ditujukan untuk menyambut Alana, yang sudah diterima di keluarga Mahendra.


Sementara Inaya hanya bisa menghembuskan nafas kasar sambil menggeleng. Dia tidak tahu mengapa pria itu berada di kediaman Mahendra. Jangankan untuk memberi tahu, kalau bisa Amar itu pergi sejauh mungkin dan mengakhiri pertunangan mereka. Karena Inaya sendiri jengah melihat kelakuan laki-laki yang menjadi tunangannya karena paksaan ini. Inaya sangat tahu, seperti apa Amar tersebut. Mamanya saja yang buta dan memaksa dirinya bertunangan dengan pria yang terkenal sering tebar pesona dan kencan dengan banyak wanita. Salah satunya Helen, wanita yang di jodohkan sang mama dengan kakak kesayangannya.


Selama ini Inaya berusaha untuk bebas dari pertunangannya dengan Amar. Gadis itu mengumpulkan banyak bukti bagaimana kelakuan Amar diluar sana yang suka bergonta ganti pasangan kencan.


Nasib baik berpihak pada Inaya. Gadis itu meletakkan banyak kamera tersembunyi di apartement milik Amar. Sesuai informasi, tunangannya itu selalu mengajak teman kencannya pulang ke apartemen miliknya. Tentu saja karena pria itu tidak ingin terlihat cek in hotel dengan banyak wanita.


Siapa sangka kamera tersembunyi yang Inaya letakkan di apartement Amar, justru menangkap kemesraan Amar dan Helen. Mereka juga melakukan hubungan intim seperti yang Inaya duga selama ini. Tidak mungkin Amar hanya berkencan biasa dengan para wanita itu di apartemenya, mereka pasti menghabiskan waktu tidur bersama.


Rekaman video tersebut Inaya tunjukkan pada Sandra. Awalnya gadis itu ingin meminta bantuan sang nenek agar dia bisa terlepas dari Amar. Tapi Sandra justru memanfaatkan video itu bukan hanya untuk membebaskan Inaya, tapi juga Wisnu.


"Jadi kapan kami bisa datang kerumah Nak Alana?" tanya Mahendra begitu acara makan malam mereka selesai.


Alana yang tidak siap dengan pertanyaan itu, melihat kearah Wisnu dan Sandra. Meminta bantuan agar Alana bisa menjawab pertanyaan dari Mahendra.


"Selama ini yang jadi penghalang kalian hanyalah restu dari Ambar. Sekarang mama Wisnu sudah merestui kalian. Jadi, apa lagi yang ditunggu. Bukan begitu Ambar?" ucap Sandra lalu bertanya pada Ambar untuk memastikan.


Ambar mengangguk, "Iya." jawabnya.


"Bagaimana sayang?" tanya Wisnu.

__ADS_1


Amar tersedak begitu mendengar Wisnu memanggil Alana sayang. Dia tidak tahu jika pria dingin itu bisa bersikap lembut dengan wanitanya. Tadinya Amar meneguk minumannya karena tidak nyaman dengan obrolan mereka. Dia pikir Alana adalah kerabat keluarga Mahendra, sama seperti Helen. Dalam pikirannya, dia bisa menggoda wanita cantik itu seperti biasanya. Siapa yang tidak takluk dengan pesonanya yang tampan yang memiliki wajah blesteran.


"Terserah Abang saja." jawab Alana.


"Besok malam?" tanya Wisnu yang langsung mendapat tepukan dari Sandra.


"Kamu pikir bisa mempersiapkan semuanya dalam satu hari?" tegur oma dari Wisnu dan Inaya itu.


"Bisa, karena semua sudah aku siapkan sebelumnya Oma. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk menjalankannya." sahut Wisnu.


"Begini ini kalau pria dewasa udah ngebet kawin." ujar Inaya yang juga mendapat tepukan di lengannya oleh Sandra.


"Anak perawan jangan bicara sembarangan." ucap Sandra.


"Nggak sopan." sahut Wisnu.


"Ya, Abang kan nunggu mbak Al dari zaman putih abu-abu. Wajar klo Nay bilang Abang udah ngebet kawin." balas Inaya.


"Inaya." tegur Indra agar putrinya itu diam.


"Ok Papa." jawab Inaya sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana Nak, kamu siap besok kami datang?" tanya Sandra lagi pada Alana.


"Al tanya bang Rendi dan mbak Ratna dulu." jawab Alana.


"Rendi siap." ucap Wisnu sambil menunjukkan layar ponselnya yang menyala, memperlihatkan percakapan pria itu dengan Rendi sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2