Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 81. Mengunjungi Rumah Baru


__ADS_3

"Sayang." ucap Wisnu sambil mendorong pintu kamar Alana.


Suami Alana itu sedang mencari keberadaan istrinya. Wisnu ingin mengajak Alana untuk memeriksa kediaman baru mereka. Desain interior baru saja memberi kabar, bahwa pekerjaan mereka sudah selesai. Wisnu dan Alana bisa melihatnya jika masih ada yang perlu diperbaiki mereka siap memperbaikinya.


Wisnu tidak menemukan Alana di kamar mereka. Pria itu membawa langkahnya menuju kamar Arkana melalui pintu penghubung. Benar saja, sang istri ada disana dan ikut terlelap bersama putra mereka.


Melihat Alana yang sepertinya kelelahan, Wisnu jadi merasa bersalah. Bagaimana istrinya tidak lelah, satu minggu ini mereka terus menghabiskan waktu untuk berbagi peluh. Pagi, siag malam, kapanpun Wisnu menginginkannya, istrinya itu selalu siap memanjakan juniornya. Mau bagaimana lagi, Wisnu candu akan tubuh istrinya yang selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.


Dengan hati-hati Wisnu mengangkat Arkana untuk dipindahkan ke tempat tidur. Setelah menyelimuti tubuh Arkana, Wisnu mengusap kepala Arkana lalu mengecup keningnya. Meski bukan putra kandungnya, Wisnu sangat menyayangi anak laki-laki ini. Perasaan sayang itu hadir begitu saja. Terlebih lagi, Arkana itu anak yang pintar dan mengemaskan seperti ibunya. Siapa yang tidak akan sayang padanya?


Wisnu berjanji akan mendidik Arkana sebaik mungkin. Sebagai anak laki-laki, Wisnu ingin membentuk anak itu sebagai seorang pemimpin yang hebat, penuh wibawa dan juga sayang pada keluarga. Arkana juga harus bisa jadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Anak-anak yang nanti lahir dari buah cintanya bersama Alana.


Selesai dengan Arkana, sekarang waktunya Wisnu memindahkan sang istri ke kamar mereka. Terbiasa olah raga angkat berat, memindahkan Alana ke kamar bukanlah hal yang sulit bagi Wisnu. Dengan hati-hati pria tampan itu membaringkan Alana ditempat tidur. Wisnu melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Arkana. Mengusap kepala sang istri lalu mengecup kening Alana. Cukup lama dia melakukannya lalu meninggalkan Alana untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


***


Alana membuka mata dan terkejut dengan keberadaanya di kamar tidur. Ibu Arkana itu ingat, tadi dia menemani Arkana bermain. Tidak perlu berlama-lama dengan keterkejutannya, Alana yakin Wisnu yang memindahkannya ke tempat tidur. Ya, siapa lagi yang bisa melakukannya jika bukan suaminya.


"Sudah bangun sayang." ucap Wisnu begitu melihat sang istri sudah duduk diatas tempat tidur.


Alana menoleh pada Wisnu. Suaminya itu keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menggantung dipingganya, dengan rambut basah yang masih meneteskan air.


"Abang yang gendong Al?" bukan menjawab, Alana malah balik bertanya.


Wisnu tersenyum, "Iya sayang." jawabnya sambil berjalan mendekat.


Alana mengambil handuk kecil yang ada ditangan Wisnu. Dia akan membantu suaminya mengeringkan rambut. Mengabaikan roti sobek milik suaminya yang menggoda. Meski sudah satu minggu ini jadi pemandangan sehari-harinya, Alana tetap saja mengagumi tubuh suaminya yang atletis itu.


"Sayang kita jalan sore ini." ucap Wisnu memberitahu Alana. Tidak lupa satu kecupan mendarat di bibir sang istri.


"Jalan kemana?" tanya Alana.


"Pengerjaan interior rumah kita sudah selesai. Abang ingin kamu periksa hasil kerja mereka sebelum kita tempati." jawab Wisnu.


"Boleh Bang. Al mandi dulu." balas Alana semangat dan langsung berdiri.

__ADS_1


Sepulang dari Jogja, Alana belum pergi kemana-mana. Dia hanya menghabiskan waktu dirumah saja. Lebih tepatnya di kamar bersama sang suami. Mendengar Wisnu mengajaknya pergi, tentu saja Alana langsung menyetujuinya.


"Mau kemana?" tanya Wisnu sambil melingkarkan tanganya di pingang sang istri, untuk menahan Alana untuk tidak pergi kemana pun.


Alana yang mengerti keinginan sang suami langsung saja mengecup kedua pipi Wisnu dan berakhir di bibir. Barulah pria itu melepaskan tangannya. Secepatnya Alana menjauh dari Wisnu. Bisa-bisa mereka tidak jadi pergi kalau Alana berlama-lama didekat Wisnu.


Wisnu terkekeh melihat tingkah sang istri. Sudah seperti Arkana saja kalau sedang tidak ingin di ganggu atau dipeluk.


Alana menghentikan langkahnya. Karena terlalu senang, dia sampai lupa pada Arkana.


"Bang, Arka ikut?" tanya Alana.


"Iya sayang, kita ajak Arka. Biar dia lihat juga rumah yang akan kita tempati." jawab Wisnu.


Alana mengurungkan niatnya masuk ke kamar mandi. Dia akan memeriksa putranya. Alana akan memandikan Arkana terlebih dulu sebelum dirinya.


"Mau kemana sayang?" tegur Wisnu melihat Alana berjalan meninggalkan kamar mandi.


"Mau periksa Arka dulu Bang." jawab Alana.


"Biar Abang yang periksa Arka, kamu mandi saja!" balas Wisnu yang diangguki Alana dan kembali berbalik masuk ke kamar mandi.


"Anak Daddy main apa?" tanya Wisnu setelah duduk disamping Arkana.


"In ini." Arkana menunjukkan mainanya.


"Kalau mainannya disimpan dulu bagaimana? Kita jalan-jalan sama bunda." ucap Wisnu.


"Alan-alan? Mau." sahut Arkana setelah memastikan ucapan daddynya.


"Ayo kita bereskan mainannya terus mandi." ajak Wisnu.


Tidak perlu menunggu lama, Arkana sudah meletakkan kembali mainanya ketempat semula sebelum dia bermain siang tadi. Alana sudah membiasakan Arkana untuk selalu meletakkan lagi mainannya ditempat semula. Alana pencinta kebersihaan dan kerapian dan dia ingin Arkana menirunya dalam hal baik ini.


***

__ADS_1


Alana menatap takjub kediaman yang akan mereka tempati. Rumah yang terbilang besar dan mewah, meski tak sebesar kediaman Mahendra.


"Apa tidak terlalu besar untuk kita tempati bertiga, Bang?" tanya Alana setelah puas memeriksa keseluruhan rumah.


"Sebentar lagi kita akan menambah anggota keluarga sayang." balas Wisnu.


Daddy Arkana itu sepertinya yakin sekali benih yang dia tanam selama satu minggu ini akan menjadi anggota baru keluarga mereka.


Alana mencubit lengan Wisnu yang disambut kekehan dari pria itu. Bukan merasakan kesakitan, tangan Wisnu justru memeluk Alana yang sedang memperhatikan Arkana berlarian di rumput.


"Lihat anak kita sayang, dia senang sekali." bisik Wisnu.


Ada rasa hangat yang mengalir di tubuh Alana, begitu Wisnu menyebut Arkana anak kita. Sungguh Alana merasa bahagia Wisnu bisa menerima keberadaan Arkana setulus ini.


"Terimakasih Bang." balas Alana.


Wisnu mencium pipi Alana. Bukan Alana yang harusnya berterima kasih, tapi dirinya lah yang beruntung mendapatkan Alana, istri yang sempurna untuknya. Ditambah bonus putra yang menggemaskan.


***


Di tempat lain, Inaya tengah berada di kediaman orang tua Naren. Seperti saran Alana, Inaya sebaiknya berkenalan dengan keluarga Naren sebelum ke jenjang selajutnya. Sebagai orang yang pernah menjalin hubungan dengan Naren, Alana sedikit banyaknya meberikan gambaran seperti apa calon mertua dan ipar-ipar Inaya itu.


Apa yang diinformasikan Alana pada Inaya sangat membantu gadis itu menghadapi keluarga Naren. Keluarga yang hangat dan baik seperti yang Alana gambarkan. Inaya merasa diterima dengan sangat baik. Bahkan keluarga itu menceritakan semua hal buruk tentang Naren agar Inaya tidak menyesal dikemudian hari. Termasuk hubungan perjodohan Naren dan Alana. Pertunangan yang gagal dan Naren yang terpaksa menikah karena ditipu.


Tentu saja Inaya sudah tahu tentang kejadian itu. Baik dari sisi Naren maupun dari sisi Alana. Orang tua Naren terkejut saat Inaya mengatakan Alana adalah kakak iparnya.


"Apa kakak kamu tidak masalah adiknya menikah dengan laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan istrinya?" tanya Melinda, ibu Naren.


"Abang sudah tahu tante, dia tidak masalah. Itu hanya masa lalu." jawab Inaya.


Wisnu memang tidak keberatan. Tentu saja, karena Wisnu sangat percaya Alana. Istrinya seorang wanita yang selalu menjaga kehormatannya. Apa yang pernah terjadi dimasa lalu bukanlah kesalahan Alana. Dia hanya menjadi korban keegoisan Aditya dan kelalaian Abimana yang memberi ruang pada Aditya, hingga bisa melakukan hal buruk itu pada Alana.


"Jika begitu tidak ada masalah. Kapan kami bisa datang untuk melamar kamu?" tanya Amir, ayah Naren.


"Inaya tanya papa dan mama dulu Om, Tante." jawab Inaya dengan bijak.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2