
Di sebuah kamar hotel, sepasang anak manusia yang tidak halal tengah bergumul. Nafas memburu dari keduanya membuat pendingin ruangan seolah tidak bekerja.
Cintia boleh menghilang, bukan berarti Aditya tidak bisa memuaskan nafsunya dengan wanita lain untuk memenuhi fantasinya terhadap Alana. Karena dimata Aditya, siapapun wanita yang bercinta dengannya adalah Alana.
Andai saja Alana tahu jika Aditya sampai sejauh itu begitu menginginkan dia, akan seperti apa reaksi ibu dari Arkana itu.
"Al!" panggil Aditya saat dia melepaskan benihnya di rahim wanita panggilan yang dia panggil untuk melayaninya.
Wanita itu tidak sakit hati sama sekali saat Aditya memanggilnya Alana sejak awal percintaan mereka dimulai sampai pria itu mencapai puncak kenikmatan. Dia dibayar untuk memuaskan laki-laki itu, untuk apa dia peduli dengan sebuah nama yang keluar dari mulut Aditya.
Hanya saja wanita yang bernama Irena itu sangat penasaran seperti apa wanita yang bernama Alana itu. Hingga pria tampan yang baru saja bergumul dengannya ini begitu menggilai wanita itu.
"Keluar sekarang." ucap Aditya mengusir Irena, membuat wanita itu mencebikkan bibirnya.
Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya wanita panggilan. Jangan berharap untuk dipeluk atau disayang setelah beraktivitas panas. Menyebalkan sekali memiliki profesi seperti dirinya ini, 'Terhina.'
Setelah kembali memakai pakaiannya, Irena segera keluar dari kamar hotel tersebut. Baru beberapa langkah, ada seseorang yang menghalangi jalannya.
"Kau habis melayani pelangan?" tanya pria yang menghalangi langkahnya itu.
"Siapa kamu? Apa urusan kamu?" tanya Irena.
"Aku teman Alana." ucap pria itu, membuat Irena yang baru saja bercinta dengan Aditya itu tersentak kaget.
Melihat wanita itu terkejut, pria itu tersenyum lalu pergi begitu saja. Dia sudah mendapatkan jawaban jika Aditya masih saja terobsesi pada Alana.
Ya, apa yang Aditya itu rasakan bukanlah cinta, tapi sebuah obsesi untuk bisa memiliki Alana. Meski dia berhasil membuat Alana hamil anaknya, tapi dia belum puas jika Alana belum bisa hidup bersamanya. Apa lagi sangat sulit saat ini untuk pria itu bisa berada didekat Alana. Berbeda saat Alana masih berstatus istri Abimana, setiap hari dia bisa menemui wanita itu.
Karena obsesi Aditya pada Alana itu jugalah yang membuat Abimana akhirnya melepaskan Alana. Jika Alana masih saja bersamanya, maka Aditya akan terus menyakiti Alana. Abimana tidak inginkan itu.
"Hei apa maksud kamu?" tanya Irena sedikit berteriak karena pria yang bicara padanya tadi sudah cukup jauh.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Irena, yang penting dia sudah mendapatkan jawabannya dan segara menghubungi orang yang memberikannya pekerjaan sangat mudah ini.
"Halo Pak." ucapnya saat panggilan teleponnya sudah terhubung.
"Bagaimana?" tanya seseorang diseberang sana.
"Masih memanggil nama nona, Pak." jawabnya.
"Baiklah, terima kasih." ucap orang itu lalu menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
***
Wijaya menutup panggilan dari orang suruhannya yang dia minta untuk memantau keseharian Aditya. Dan sudah berapa kali saja dia menerima laporan dari orang-orangnya tentang kelakuan be jat putra bungsunya itu.
Ajeng dan Wijaya tidak bisa mengirim Aditya ke luar negeri seperti rencana mereka semula. Semakin jauh dari mereka, maka akan semakin sulit memantau Aditya. Keluarga Ajeng yang ada disana tidak bisa membantu untuk mengawasi dokter anak tersebut.
"Anak itu memanggil wanita panggilan lagi?" tanya Ajeng.
Wijaya hanya mengangguk lalu memijat pelipisnya karena terlalu pusing memikirkan tingkah laku putra bungsunya itu. Sudah banyak nasihat yang pria paruh baya itu berikan pada Aditya, tapi putra bungsunya itu hanya iya-iya dan meminta maaf dibibir saja.
Entah bagaimana lagi caranya agar putra bungsunya itu berhenti berbuat dosa dan kembali menjadi anak yang baik.
"Ini semua karena wanita itu." ucap Ajeng yang marah karena ulah Cintia yang meracuni prilaku putra bungsunya menjadi seperti ini.
"Tapi menjauhkan wanita itu dari Aditya justru membuat dia melakukannya dengan banyak wanita. Papa takut Aditya..."
"Jangan berpikir membawa wanita itu kembali ke kota ini. Biarkan dia dan sepupunya itu disana." ucap Ajeng memotong ucapan Wijaya.
"Lalu Aditya mau Bunda diamkan saja seperti sekarang ini?" tanya Wijaya putus asa.
"Kirim saja dia jadi sukarelawan ditempat terpencil." jawab Ajeng.
"Mana mau anak itu dikirim ketempat seperti itu. Belum tentu juga disana dia bisa melupakan Alana." balas Wijaya.
"BUNDA." panggil Wijaya sedikit membentak membuat Ajeng tersentak dan terdiam.
"Sudah berapa kali papa katakan jangan bawa-bawa Alana. Biarkan dia dan Kana bahagia. Bunda sudah berjanji, kan?" ucap Wijaya.
"Maaf." ucap Ajeng.
Dia terbawa emosi dan ingin mengambil jalan pintas agar Aditya kembali seperti dulu meski harus mengorbankan kebahagiaan Alana.
***
"Apa hasil laporannya?" tanya Dirga pada Rendi.
"Si bang sat itu masih saja memanggil nama Al." geram Rendi.
"Aku sudah katakan, dia itu terlalu terobsesi pada Alana." sahut Dirga.
"Apa tidak bisa kirim orang untuk menyembuhkan otaknya itu?" tanya Rendi pada Dirga, karena sepupunya itu seorang psikiater.
__ADS_1
"Itu urusan keluarganya. Tugas kita hanya bisa menjaga Alana jangan sampai bertemu pria itu lagi." jawab Dirga.
"Oh iya, Naren tadi datang menemui Alana." ucap Dirga memberitahu Rendi.
"Naren? Berani juga dia." sahut Rendi.
"Iya, aku cukup mengapresiasi keberaniannya menemui Alana meski sudah sangat terlambat." balas Dirga.
"Lalu apa yang dia katakan pada Alana?" tanya Rendi.
Dirga pun menceritakan apa yang terjadi dengan kedatangan Naren. Berawal dari Dirga yag menemuinya, lalu Kinara dan akhirnya Alana. Lalu Alana menyetujui bicara dengan pria itu asalkan ada orang yang menemaninya dan Kinara yang jadi pilihan Alana untuk menemainya.
"Maaf yang sangat terlambat." ujar Rendi.
"Iya, tapi setidaknya tidak terlalu merepotkan seperti Aditya." sahut Dirga sambil berdiri untuk kembali keruang tengah dimana yang lainnya sekarang berada.
Rendi tadi mengajak Dirga ke taman belakang untuk membicarakan perusahaan keluarga mereka dan perkembangannya semenjak di ambil alih oleh paman mereka. Karena itu mereka tidak melibatkan Wisnu.
Saat akan kembali kedalam rumah, ponsel Rendi berdering. Orang suruhan Rendi yang mengawasi Aditya yang menghubungi pria itu dan memberitahukan jika Aditya masih terobsesi dengan Alana.
Diikuti Rendi yang juga akan berkumpul bersama yang lain, Dirga melihat Wisnu yang terlihat senyum-senyum sendiri.
"Jangan jadi gila hanya karena Naren datang menemui Alana." tegur Dirga pada sahabatnya itu.
Dirga terkekeh mendengar Wisnu yang berdecak kesal. Sebenarnya bukan kali ini saja dia melihat Wisnu yang tampak tersenyum sendiri. Sudah dapat Dirga duga jika yang ada di otak sahabatnya itu adalah adik sepupunya. Karena itu, Dirga menyebut nama Naren untuk membuat mood kebahagiaan sahabatnya itu turun.
"Bang seneng bener lho godain bang Wisnu." ucap Kinara menegur calon suaminya itu.
Wisnu sekarang kebal, dia tidak akan terpengaruh apapun meski Dirga menyebutkan semua nama mantan Alana. Meski dia masih juga berdecak mendengarnya.
"Ayo makan!" ajak Rendi yang baru saja tiba.
Suasana makan malam, malam ini terasa hangat. Mereka ingin melupakan sejenak masalah yang ada. Karena itu, tidak ada satu orang pun yang mengungkit masalah mereka saat makan malam berlangsung. Hanya ada obrolan ringan dan canda tawa saja.
Seuasi makan malam Alana tidak ikut pulang kekediaman orang tuanya. Malam ini dia akan menginap di kediaman kakaknya saja. Kehadiran Naren tadi sore cukup membuat Alana takut untuk berada di kediaman orang tuanya jika hanya berdua Arkana. Bi Onah sedang pulang kerumah untuk menjengguk anaknya hari ini, sehingga Alana memilih untuk menginap di kediaman Rendi saja.
Pilihan Alana untuk menginap ternyata tepat. Firasat buruk yang sejak tadi menghantuinya membuat Alana lebih waspada. Dan benar saja, ada seseorang yang menyelinap masuk kedalam kediaman orang tuanya itu.
Siapa orang itu? Dan mau apa dia menyelinap masuk kedalam kediaman orang tua Alana dan Rendi secara diam-diam?
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...