Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 58. Cinta Pertama


__ADS_3

'Kau sibuk mengurusi statusku. Apa kau tidak ingin tahu dimana Alex berada? Dia sekarang bersama kekasihnya di hotel mewah'


Amel berkali-kali membaca pesan yang dikirimkan oleh Alana. Rasanya dia masih belum bisa percaya kalau Alana mengenal Alex. Kapan dan Dimana? Atau Rendi yang memberi tahu Alana? Berbagai pertanyaan lain terlintas dipikiran Alana.


"Alana pasti sedang mempermainkan ku." gumam Amel.


"Tapi, Alana bukan orang yang suka main-main akan satu hal, itu berarti Alana bicara jujur." Amel bicara pada dirinya sendiri.


"Sia lan kamu Al. Sengaja mengacaukan pikiranku untuk mendapatkan Wisnu." ucap Amel geram.


Itulah yang Amel pikirkan. Dia mengira Alana hanya omong kosong belaka. Mencoba menggagalkan rencananya yang berusaha untuk bisa mendapatkan Wisnu.


Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Amel menurunkan egonya dan bertanya pada Alana.


'Apa maksud kamu, Al? Alex siapa yang kamu makdud?'


Pesan terkirim dan itu cukup membuat Amel gelisah menunggu balasan dari Alana. Sudah tiga puluh menit berlalu, pesan yang dia kirim belum juga dibaca Alana.


"Hei, kamu, masih mau kerja atau tidak? Cepat bersihkan meja dan bawa piring kotor itu kebelakang."


Mau tidak mau, Amel menuruti perintah wanita yang jadi bosnya itu. Sampai detik ini Amel tidak tahu mengapa dia bisa berada dan bekerja di restoran ini.


Amel. Jika kamu tahu orang yang mengirim kamu ke tempat ini adalah Wisnu, apa kamu masih mau berharap mendapatkan cinta daddy Arkana itu?


Wisnu masih berbaik hati menempatkannya di tempat yang jauh dari ibu kota, tapi masih memberikan pekerjaan dan tempat tinggal. Tujuan Wisnu hanya ingin memberikan pelajaran penting pada Amel. Hidup ini tidak mudah dan butuh perjuangan.


Jika selama ini dia memanfaatkan Rendi dan menghamburkan uang sesuka hati, maka sekarang Wisnu ingin Amel tahu bagaimana sulitnya mencari rupiah. Bukankah niat Wisnu itu baik?


Sebenarnya Wisnu sedikit merasa bersalah pada mantan istri Rendi itu. Wisnu merasa terlalu kasar perlakuannya saat menolak cinta Amel hingga wanita itu sakit hati dan membalaskan dendamnya pada Alana.


Tapi, mau bagaimana lagi? Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Hatinya sejak dulu sudah terpaut pada Alana, cinta pertamanya. Sehingga hatinya tertutup untuk kehadiran wanita lain, termasuk Amel.


Rasa bersalah Wisnu ini bukan berarti dia bisa memaafkan dan melupakan kejahatan yang Amel lakukan pada Alana. Wisnu tidak akan tinggal diam, dia akan tetap membuat perhitungan untuk masalah itu. Kesakitan yang Alana rasakan dan air mata yang keluar dari calon istrinya itu akan ada perhitungannya.


Apalagi setelah dia mendengar sendiri, calon istrinya itu ingin membalas perbuatan Amel padanya. Tentu saja Wisnu akan mendukung. Mendukung dengan caranya tentu saja.


"Bu...nda." panggil Arkana, membuat Alana melihat kedepan dimana putra kesayangannya itu.


Begitu seriusnya dia bicara dengan Rendi, hingga Alana tidak menyadari kehadiran Arkana dan Wisnu yang sudah berdiri menjulang dihadapannya.


"Arka ngantuk dan haus, Bun." ucap Wisnu memberi tahu maksud kedatangan mereka.

__ADS_1


Alana mengangguk, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih Arkana dari gendongan Wisnu.


"Sayangnya Ibu mau mimik susu ya?" ucap Alana setelah putranya itu berada dalam pangkuannya.


"Kita mimik susu di kamar Ibu ya." ucap Alana lagi lalu berdiri membawa Arkana masuk ke kamarnya. Tidak mungkin dia menyusui Arkana dihadapan Wisnu, kan?


Wisnu duduk yang sebelumnya ditempati Alana. Dia harus bicara dengan Rendi masalah Amel. Wanita itu tidak bisa didiamkan saja terus menganggu Alana.


"Aku dengar Amel mengirim pesan ancaman pada Alana." ucap Wisnu pada Rendi yang masih berada di kamar bermain Arkana.


"Iya. Tapi Alana bisa melawannya sendiri. Tenang saja." balas Rendi.


"Bukan itu maksud ku." balas Wisnu.


"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Kita akan tetap mengawasi semua yang Amel lakukan." sahut Rendi.


"Oh ya Nu, apa kamu yang membelikan Arkana mainan sebanyak itu." tunjuk Rendi pada mainan baru yang bertumpuk.


"Jagankan sebanyak itu, beli satu saja Al marah. Mainan Arka sudah banyak." jawab Wisnu, sambil meniru cara Alana bicara saat menegurnya, membuat Rendi terkekeh.


"Berarti Dirga, ya."


"Sepertinya dugaan Alana benar." ucap Rendi setelah hening sesaat.


"Maksudnya?" tanya Wisnu penasaran.


"Al menebak mainan itu bisa saja kiriman dari Abimana atau Aditya. Sebab kemarin ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal." jawab Rendi.


"Sudah tanya pak Agus? Semalam dia yang jaga, pasti dia juga yang terima kiriman itu." balas Wisnu.


"Belum." jawab Rendi, lalu berdiri hendak keluar dari kamar bermain Arkana.


"Mau kemana?" tanya Wisnu melihat Rendi yang terburu-buru keluar.


"Mau tanya pak Agus, sebelum dia ganti shift." jawab Rendi tanpa menghentikan langkahnya.


Berbeda dengan Rendi, Wisnu justru berjalan mendekati tumpukan kiriman mainan itu. Melihatnya sebentar setelahnya baru dia keluar menyusul Rendi.


***


"Sudah bertemu Alana?" tanya Abimana pada Naren.

__ADS_1


Mereka sedang bicara lewat sambungan telepon. Abimana yang menghubungi Naren. Meski mencoba ikhlas untuk melepaskan Alana, tapi Abimana tidak ingin ketinggalan informasi tentang mantan istrinya itu.


"Sudah." jawab Naren singkat.


Mendengar jawaban Naren, Abimana bisa menebak kalau pertemuan sahabatnya itu dengan Alana membuat Naren kecewa. Tapi bukan itu yang ingin Abimana ketahui, dia ingin tahu kabar Alana dan Arkana saat ini.


"Bagaimana kabar Alana dan anakku?" tanya Abimana.


"Anak Aditya!" sahut Naren.


"Ck, di akta lahirnya dia putraku." balas Abimana tidak mau kalah.


"Hanya dipinjam status saja kau bangga."


Ucapan Naren kembali membuat Abimana merasa dihianati oleh Aditya. Meski dia sudah lari sejauh ini, tetap saja Abimana masih merasakan sakitnya. Salah sendiri, kan? Maksud hati ingin tahu kabar mantan istri tapi kembali tertampar oleh kenyataan.


"Maaf." ucap Naren yang merasa ucapannya keterlaluan dan membuat Abimana terdiam diseberang sana.


"Tidak perlu minta maaf, itu memang kenyataannya." balas Abimana.


"Jadi, bagaimana kabar Alana dan Arkana?" ulang Abimana pertanyaannya yang dia ganti untuk panggilan anakku.


"Mereka baik, sangat baik. Dan satu lagi, Arkana sepertinya sudah menemukan ayah baru." jawab Naren.


Abimana tidak terkejut dengan apa yang Naren sampaikan. Dia sudah menebak sebelumnya. Seperti yang Wijaya dan Ambar katakan padanya tempo hari, sebelum dia dan Alana resmi bercerai.


"Alana akan bahagia di tangan pria yang tepat." ucap Ambar kala itu.


"Percayalah Abi, ini jalan yang terbaik. Biarkan Alana bahagia dengan orang yang jauh lebih mencintainya dari pada kamu."


Abimana sempat tersinggung saat itu, dia mengira Ambar membela Aditya dan mengatakan kalau cinta adiknya itu lebih besar dari pada cinta yang dia miliki.


Tapi, Wijaya yang meimpali ucapan Ambar, sungguh mengejutkan Abimana kala itu, "Pria yang sekarang dekat dengan Alana jauh lebih dari segalanya dari pada kamu. Soal cinta, tentu tidak perlu diragukan lagi. Keduanya saling mencintai sejak dulu."


Hanya sesaat keterkejutan yang ditunjukkan Abimana, selanjutnya Abimana kembali teringat pada cinta pertama Alana. Dan Abimana yakin, pria yang akhir-akhir ini sering berada didekat Alana itu adalah pria yang dimaksud Wijaya.


"Tidak apa-apa, asalkan bukan Aditya." ucap Abimana menanggapi pemberitahuan Naren.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...

__ADS_1


__ADS_2