Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 83. Permintaan Dion


__ADS_3

Ada perasaan takut yang menyerang Alana begitu tahu tentang kehamilannya. Trauma itu masih ada dan itu membuat Alana takut dan cemas. Bukan tidak bahagia dengan kabar kehamilannya, hanya saja bayangan buruk masa lalu tiba-tiba terlintas dalam ingatan Alana.


"Sayang, jangan takut. Yang ada dirahim kamu saat ini anak Abang." bisik Wisnu pelan.


Dari raut wajah Alana, Wisnu bisa melihat kecemasan istrinya. Dan WIsnu tahu, Alana pasti takut masa lalu seolah akan terulang. Dirga juga pernah menyampaikan, "Suatu saat Alana mungkin akan cemas dengan apa yang pernah dia alami. Saat kalian akan mempunyai anak. Pasti akan ada ketakutan yang dia rasakan." ucap Dirga kala itu mengingatkan Wisnu.


Karena itu Wisnu mencoba menenangkan Alana dan mengingatkan istrinya itu bahwa dia selalu bersama sang istri sejak mereka menikah hingga detik ini. Tidak pernah satu kalipun Wisnu meninggalkan Alana. Mereka selalu tidur bersama dan menghabiskan malam panjang mereka bersama untuk berbagi peluh dan kenikmatan.


"Abang selalu ada bersama kamu, kan?" ucap Wisnu mengingatkan.


Alana mengangguk. Suaminya benar. Mereka selalu bersama. Tidak pernah sekalipun Wisnu jauh darinya. Bahkan saat pria itu keluar kota, Wisnu memboyong anak dan istrinya untuk ikut menemani.


Alana mencoba mengingatkan dirinya sendiri, Wisnu bukan Abimana. Suaminya bisa dikatakan sangat posesif, mana pernah dia membiarkan Alana dekat dengan pria lainnya tanpa pendampingan kecuali Rendi dan Dirga.


Akhirnya Alana bisa tersenyum. Dia pasti bisa menghadapi kehamilannya kali ini dengan lebih baik. Apa lagi Arkana telihat sangat senang saat tahu ada bayi diperut ibunya. Jangan tanyakan bagaimana Wisnu. Pria itu bahagia tak terkira mendengar berita kehamilan sang istri.


***


Empat bulan kemudian.


Wisnu dan Alana menghadiri resepsi pernikahan Aditya dan Luci. Jika megingat Aditya, tentu Alana engan menghadiri acara ini. Tapi demi Luci, teman yang juga asistenya itu Alana menyempatkan hadir.


Kehamilannya sudah menginjak usia enam bulan, perutnya tentu saja sudah terlihat berisi. Dengan hati-hati, Alana merangkul lengan sang suami. Mereka berdua tengah berjalan memasuki ballroom tempa acara di laksanakan.


Banyak keluarga Rahardian yang melihat kehadiran Alana. Ada yang kagum karena Alana masih mau menyempatkan hadir meski sudah tidak lagi menjadi istri Abimana. Ada juga yang mencemooh, terlebih lagi saat melihat perut Alana yang sudah bulat berisi.

__ADS_1


"Tidak usah di hiraukan." bisik Wisnu kala terdengar bisik-bisik yang tidak mengenakkan terdengar.


Mereka tidak tahu apa yang dialami oleh Alana. Dengan mudahnya mereka menuduh Alana menceraikan Abimana karena ingin menikah dengan Wisnu yang lebih kaya dari keluarga Rahardian. Untung saja mereka tidak membawa Akarna kali ini. Pria kecil mereka saat ini berada di kediaman Mahendra. Sudah tiga hari Arkana menginap disana dan tidak ingin pulang. Betah sekali putra Alana itu dirumah kakek buyut dari daddynya.


Bagaimana tidak betah jika semua orang menyayanginya. Arkana diperlakukan bak seorang pangeran. Siapa lagi pelakunya jika bukan nenek buyutnya, oma Sandra. Wanita tua itu sangat senang dengan keberadaan Arkana dikediamannya. Rumah yang sepi menjadi ramai dengan kicauan Arkana yang selalu ingin tahu tentang apapun.


Alana mengangguk, tentu dia lebih paham bagaimana keluarga mantan suaminya itu. Terutama para sepupu wanita Abimana yang sejak dulu selalu merendahkan Alana. Mengatakan bahwa Alana tidak layak menjadi istri Abimana.


Mereka benar, Alana tidak layak menjadi istri Abimana. Karena Alana lebih layak menjadi istri Wisnu yang jauh lebih sempurna dari sepupu mereka.


Sejak awal niatan mereka datang ke pesta ini hanya untuk mengucapkan selamat lalu pulang. Tidak ada niatan untuk mencicipi hidangan jamuan yang disajikan. Bukan tidak ingin menghargai tuan rumah pemilik acara. Tapi kondisi Alana yang masih belum bisa mengkonsumsi sembarang makanan. Istri Wisnu itu hanya bisa menerima makanan yang dimasak sendiri oleh Wisnu. Untung saja Alana memiliki suami yang biasa turun ke dapur sehingga gizinya dan anak mereka masih bisa terpenuhi.


"Tante, perutnya ada dedek bayinya ya?" Seorang anak laki-laki menghampiri Wisnu dan Alana yang berada dibarisan para tamu yang akan memberikan selamat.


"Iya ini ada dedek bayinya." jawab Alana sabil mengelus perutnya.


"Nama kamu Dion?" tanya Alana, dan Dion mengangguk membenarkan.


"Dion dengar tante. Mungkin mama belum mau kasih adik sekarang. Dion sabar ya, mungkin mama mau tunggu Dion besar dulu." ucap Alana memberi pengertian.


"Mama bilang, Dion harus punya papa dulu kalau mau punya adik." ucap Dion dengan polosnya.


Detik itu juga Alana mengerti apa yang jadi masalah ibu dari anak laki-laki dihadapannya ini. Seketika Alana ingat putranya. Untung saja dia cepat mengambil keputusan dengan menerima Wisnu jadi suaminya. Sehingga Arkana bisa memiliki figure seorang ayah.


***

__ADS_1


Dari salah satu meja VIP, Abimana bisa melihat Alana dan Dion yang sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, Abimana berharap Dion tidak bicara yang bukan-bukan pada mantan istrinya itu, seperti yang sering anak laki-laki itu katakan padanya.


Dari tempatnya duduk, Abimana juga bisa melihat perut Alana yang membulat dan menonjol. Abimana membuang nafas dengan kasar, berharap mampu menghilangkan rasa sesak melihat Alana yang kembali bisa hamil dan lagi-lagi itu bukan anaknya.


"Jangan terus diperhatikan." ucap Naren menegur Abimana untuk tidak terus memperhatikan Alana.


Abimana menoleh dan menemukan Naren yang datang hanya seorang diri. Inaya sedang hamil muda dan tidak sanggup berada ditempar yang penuh dengan orang seperti tempat ini. Karena itu Naren datang seorang diri.


Tanpa dipersilakan duduk, Naren menarik kursi yang ada disamping Abimana lalu duduk disana.


"Anak yang bicara dengan Alana itu, bukankah dia putra karyawan di kantor mu? Teman istriku." ucap Naren.


"Hemmm." jawab Abimana tanpa minat. Sudah tahu kemana arah pembicaraan sahabatnya ini.


"Namanya Mia. Dia cantik, sayang hidupnya tak secantik orangnya." ucap Naren sambil melirik Abimana.


"Menurut Inaya, suami Mia selingkuh dengan mantan kekasihnya. Pria itu pergi meninggalkan dia dan anaknya setelah berhasil mengambil semua harta Mia yang dia dapatkan dari ayahnya. Kurang ajar memang pria itu. Karena itu Mia harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan anaknya." ucap Naren panjang lebar.


Mia itu wanita yang baik dan sederhana. Terlalu baik hingga tidak sadar jika dia dimanfaatkan oleh mantan suaminya. Itu yang Naren ketahui berdasarkan cerita Inaya. Entah apa maksud Naren menceritakan apa yang dia ketahui pada Abimana. Karena setelah itu, adik ipar Wisnu itu meninggalkan Abimana dan berjalan kearah dimana Alana dan Wisnu saat ini berada.


Abimana mendengkus kesal pada sahabatnya itu. Pintar sekali membuat orang jadi memikirkan yang tidak perlu dipikirkan.


"Om mau nggak jadi papa Dion?"


"Ck." ujar Abimana berdecak. Mengapa dia jadi memikirkan permintaan Dion padanya.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2