
Terlalu baik, seperti itulah Alana dimata orang-orang yang sangat mengenal pribadinya. Sayangnya kebaikan Alana serta sikapnya yang lemah lembut dan murah hati itu sering di manfaatkan oleh sebagian orang-orang yang tidak menyukainya seperti Amel, dan juga orang-orang yang terlalu terobsesi dengannya seperti Aditya.
Untuk Aditya, Alana sudah menutup akses pria itu untuk mengusiknya. Tapi bukan berarti masalahnya selesai begitu saja. Masalahnya ada Arkana yang mungkin suatu saat membuat dia dan mantan adik iparnya itu kembali terhubung.
Sementara untuk Amel, Alana tentu saja tidak akan lagi mengalah. Alana akan melakukan perlawanan. Selama ini dia menjaga perasaan Rendi dan memilih diam dengan segala hinaan dan ancaman Amel. Sekarang berbeda, tidak ada lagi hati yang dia jaga bukan? Alana yakin, kakaknya pasti akan mendukung apapun yang akan Alana laukan pada wanita itu.
Cukup sudah Amel memporak porandakan kebahagiaannya. Berawal dari gagalnya pertunagan Alana dan Naren. Meski Alana akui ada andil kesalahan yang dia lakukan malam itu. Kesalahan dengan merelakan kekasihnya untuk menikahi wanita lain. Wanita yang tiba-tiba datang mengaku mengadung anak Naren, sesaat sebelum acara dimulai.
Bukan Alana tidak mencoba mencari tahu kebenarannya. Dia bertanya langsung pada Naren apa yang terjadi, dan calon tunangannya itu mengakui dia tidur dengan wanita itu meski dalam keadaan mabuk.
Siapa sangka semua sudah diatur oleh Amel sebagai tokoh utama dibalik peristiwa itu semua. Karena wanita itu tahu kelemahan Alana yang mudah kasihan pada nasib orang lain.
Harusnya yang Alana lakukan malam itu membatalkan saja pertunangannya, atau tetap melanjutkan bertunangan dengan Naren. Bukannya memaksa Naren untuk menikahi wanita itu, malam itu juga.
Bukankah setelah membatalkan pertunangan atau melanjutkan pertunagan dia bisa menyelidiki apa yang terjadi antara Naren dan wanita itu.
Sayangnya saat itu hati Alana terlanjur kecewa pada pengakuan Naren, hingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Meskipun Naren megatakan kalau dia tidak ingat apa-apa karena mabuk, lalu bangun dalam keadaan tanpa busana dan ada wanita itu disapingnya sambil menangis.
Di sisi lain Alana juga iba dan merasa kasihan pada bayi yang ada dalam kandungan wanita itu jika Naren tidak mau bertanggung jawab dan mengakui bayi yang ada dalam kandungan wanita itu anaknya.
Tanpa pikir panjang dengan hati yang terluka, Alana memaksa Naren menikah. Tidak pernah terpikirkan jika semua ini adalah kesengajaan untuk mempermalukan dirinya dan merusak kebahagiaanya.
Bodoh memang, Alana jadi merasa bersalah ikut membuat hidup Naren terpuruk seperti yang disampaikan mantan calon tunangannya itu. Benarkah Naren terpuruk?
Bukan sampai disitu saja, Alana kembali kecewa pada Abimana. Mantan suaminya itu mendekati Alana karena permintaan Naren, bukan benar-benar mencintainya. Benarkah seperti itu?
"Aku akui kecewa karena kamu tidak percaya padaku malam itu Al, tapi aku bisa apa selain memaklumi malam itu kamu pasti terluka dan kecewa. Karena aku tidak ingin kamu kecewa dan melaluinya seorang diri, aku meminta Abimana untuk menjaga mu. Jujur, aku senang saat kamu memutuskan menikah dengan sahabatku itu. Sayangnya, Aditya mengacaukan rumah tangga kamu dan Abi. Al, maafkan aku, harusnya aku tidak meminta Abimana menjaga kamu, kalau tahu semua akhirnya membuat kamu kesakitan seperti ini."
Saat Naren mengucapkan itu, barulah Alana tahu, Abimana dan Naren bersahabat. Ada rasa kecewa, karena Abimana tidak pernah memberitahunya. Kecewa juga karena selama ini Abimana memang tidak secinta itu pada dirinya, seperti yang pria itu sering ucapkan.
Dan lagi-lagi, Amel yang bisa menilai semua itu memasukan Aditya sebagai perusak rumah tangganya. Tidak ada yang tahu dan menduga sakit hati Amel yang di tolak Wisnu karena dirinya bisa menjadikan dendam dan selalu merusak kebahagiaannya.
Apa Alana harus menyalakan Wisnu untuk semua kesedihan dan kesakitan yang dia rasakan?
Tentu saja tidak. Alana bahkan akan menunjukkan pada Amel saat dia dan Wisnu telah menikah. Biar saja wanita itu semakin terpuruk dan sakit hati melihat kebahagiaannya. Alana tidak lagi memikirkan perasaan siapapun untuk menghancurkan wanita itu, kan?
"Al!"
Alana menoleh pada Rendi yang berdiri di ambang pintu kamar Arkana.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rendi yang sejak tadi memperhatikan adiknya itu hanya duduk termenung.
__ADS_1
"Sini Bang, duduk."
Alana menepuk sofa yang ada di kamar bermain Arkana. Meminta Rendi untuk duduk disampingnya.
"Al ini bodoh ya Bang." ucap Alana yang langsung membuat Rendi menautkan alisnya karena tidak mengerti ucapan Alana.
"Mengapa bicara seperti itu?" tanya Rendi.
"Al bodoh memaksa Naren menikahi wanita itu tanpa menyelidiki kebenarannya terlebih dulu." jawab Alana.
"Memang apa kebenarannya?" tanya Rendi menyelidik.
"Kemarin Naren memberitahu Al, anak yang dikandung wanita itu bukan anaknya. Dan semua itu ternyata sudah diatur oleh Amel." ucap Alana sambil menarik nafas panjang untuk memenuhi rongga dadanya dengan oksigen.
"Saat itu Al sangat kecewa, Bang. Jadi nggak pikir panjang akibatnya, malah memaksa Naren menikahi wanita itu."
"Naren membalasnya dengan meminta Abi menikahi Al." ucap Alana lagi.
"Abi mencintaimu Al, bukan karena Naren." sahut Rendi.
Alana menoleh kesamping, menatap wajah kakaknya yang memandang lurus kedepan.
"Abang sudah memastikan itu padanya sebelum kalian menikah." ucap Rendi yang tahu Alana meminta penjelasan dengan menatapnya lekat.
"Ada campur tangan Amel didalamnya." sahut Alana.
"Abang tahu, kesalahan Amel tidak bisa dimaafkan. Tapi itu semua takdir Al. Mungkin ini cara yang diatas untuk menyatukan kamu dengan Wisnu. Memisahkan kamu dan Abimana agar kalian bisa bersama." ucap Rendi lagi.
"Abang pasti tahu, Amel sangat menyukai bang Wisnu, kan?" tanya Alana.
"Hemm." sahut Rendi.
"Mengapa Abang waktu itu tidak menolak untuk menikah dengan Amel?" tanya Alana.
"Tidak perlu dijawab, kamu pasti tahu jawabannya. Kamu dan Naren juga dijodohkan, mengapa kamu tidak menolak?" Rendi balik bertanya.
"Naren baik dan sayang sama Al." jawab Alana.
"Tapi tidak dengan kamu, kan."
"Ha!"
__ADS_1
Rendi tersenyum atas reaksi Alana, "Peristiwa malam itu membuat kamu menemukan kesempatan untuk lepas dari Naren. Jujurlah!" balas Rendi yang membuat Alana terdiam.
Melihat Alana hanya diam, Rendi hanya bisa tersenyum. Pandangan kakak Alana itu kini menyapu seluruh ruangan bermain Arkana yang dulu menjadi ruangan bermainnya dan Alana. Tentu sudah banyak berubah, karena Alana merubah warna cat dan dekorasinya.
Mata Rendi berhenti pada tumpukan mainan yang baru, karena masih terbungkus plastik. Melihat sesuatu yang tidak penting, jiwa Rendi yang cerewet untuk menasehati akhirnya keluar juga.
"Untuk apa beli mainan banyak-banyak, Al? Arkana jangan terlalu dimanjakan." ucap Rendi.
"Bukan Al yang beli, Bang. Al juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba ada mainan baru sebanyak itu di ruangan ini."
"Maksud kamu, ini ulah Dirga dan Wisnu?"
Alana mengangkat kedua bahunya. Dia tidak tahu, dan belum sempat menanyakannya.
"Mungkin, Al belum tanya." jawab Alana.
"Kalau bukan mereka lalu siapa lagi?" tanya Rendi.
"Bisa saja orang lain. Mas Abi atau Aditya, mungkin!" jawab Alana.
"Kamu masih kepikiran mereka akan melakukan hal seperti ini?
"Ya, kemarin ada yang mengirimkan pesan kangen sama Arka. Bisa mas Abi, bisa juga Aditya yang mengirim pesan itu." jawab Alana.
"Atau mantan mertua kamu." tebak Rendi.
Alana menggeleng, "Nomor papa dan bunda nggak aku blokir. Ini yang kirim nomor tidak dikenal." jawab Alana.
"Bang!" panggil Alana setelah hening sesaat.
"Lihatlah! Al juga dapat pesan ini." ucap Alana sambil menyerahkan ponselnya.
"Ini Amel, kan?"
Bukan pertanyaan tapi lebih kepernyataan yang Rendi ucapkan setelah membaca isi pesan yang Alana tunjukkan..
"Al akan melawannya kali ini." ucap Alana.
Rendi mengusap bahu Alana, "Abang dan yang lain pasti mendukung." balas Rendi.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...