
Amel baru saja tiba di kediamannya. Perasaannya masih saja kesal karena Rendi menghilang dan tidak bisa dihubungi. Baru kali ini pria itu berani melawannya. Meski Amel tidak mencintai Rendi, tapi dia belum bisa berpisah dari pria itu saat ini. Amel tidak ingin saat ini Rendi membuat ulah, karena itu akan menghancurkan semua rencana yang sudah dia susun bersama kekasihnya.
Bertanya tentang Rendi pada Sandra pun percuma saja, wanita itu tidak berguna. Sekertaris suaminya itu sama saja dengan dirinya, tidak bisa menghubungi Rendi.
Amel bahkan sampai memeriksa sendiri ponsel milik Sandra. Dia sempat mendengar dari seseorang, Sandra dan Rendi terlihat sangat akrab sebagai atasan dan bawahan.
Nihil, Amel tidak menemukan pesan apapun dari suaminya di ponsel milik Sandra. Jangankan ada chat mesrah, urusan pekerjaan saja sangat singkat dan padat. Sekaku itu memang Rendi terhadap wanita. Tidak heran jika Rendi menerima saja permintaanya untuk tidak berhubungan badan.
"Jadi selama ini suamiku memberi perintah padamu dengan cara apa?" tanya Amel menyelidik.
"Pak Rendi akan memanggil saya langsung keruangannya dan memberikan arahan apa saja yang harus saya kerjakan." jawab Sandra dengan tenang meski dalam hatinya ingin tertawa.
Amel tidak tahu saja, Rendi dan Sandra punya ponsel pribadi yang digunakan untuk saling menghubungi dan memberi kabar. Amel juga tidak menyadari, jika selama ini Rendi seolah mengikuti apa yang Amel mau hanya untuk menghindari konflik dengannya. Bukan hanya untuk menutupi hubungannya dengan Sandra, tapi Rendi juga punya misi yang diamanahkan oleh kedua orang tuanya.
"Ingat Rendi, ceraikan dia setelah kamu mendapatkan kembali apa yang menjadi milik kita." ucap ayah Rendi dan Alana, saat Rendi akan menikah dengan Amel.
Baru saja Amel menghempaskan tubuhnya di sofa, ada nama Cintia yang tertera dilayar pipih menghubunginya. Amel sangat malas untuk melayani panggilan dari saudara sahabatnya ini. Maka dia mengabaikannya saja. Tapi Cintia tidak berhenti menghubunginya.
Mau tidak mau Amel menerima panggilan dari Cintia. Baru saja dia menggeser tombol hijau dilayar pipih miliknya, suara Cintia sudah terdengar sedikit berteriak.
"Gawat Amel!" seru Cintia dari seberang sana.
"Apanya yang gawat?" tanya Amel kesal. Setiap kali menghubunginya, Cintia selalu saja membawa masalah dan selalu meminta bantuannya untuk menyelesaikannya.
"Rachel!" ucap Cintia.
"Apanya yang gawat, Rachel sedang bersenang-senang sekarang. Dia mendatangi Abimana, dan menitipkan Camelia padaku." sahut Amel.
"Kacau Amel, kacau. Suamimu itu sekarang menjadikan Rachel tahanannya." balas Cintia.
"APA!"
__ADS_1
"Kamu tidak salah bicarakan, Rendi maksud kamu? Ada urusan apa dia dengan Rachel?" tanya Cintia.
"Tunggu, apa Rendi sudah tahu tentang Rachel? Apa dia menemukan Rachel sedang bersama iparnya dan Rendi marah?" lagi Amel mengajukan pertanyaan.
"Aku tidak tahu. Rachel memintaku untuk membebaskannya. Aku sudah menurunkan orangku yang biasa memantau Aditya. Tapi...."
"Tapi apa?" tanya Amel tidak sabar.
Ada Rendi dalam masalah ini, dia harus tahu apa yang diinginkan oleh suami pajangannya itu. Jika masalahnya hanya karena membela Alana, Amel masih bisa mengerti. Tapi, jika Rendi tahu tentang apa yang dia rencanakan bersama kekasihnya dan Rachel, Amel tidak bisa diam begitu saja. Seperti yang Cintia katakan, KACAU!
"Orangku tidak bisa dihubungi lagi." jawab Cintia.
"Cari orang lain untuk menyelidikinya! Jangan samapai Rachel membuka rahasiaku pada Rendi." ucap Amel.
"Itu juga yang aku takutkan. Semoga saja Rachel bisa tutup mulut." sahut Cintia.
"Aku akan kirimkan bantuan. Berikan padaku dimana alamat Rachel di tahan Rendi. Aku akan datangi pria Itu. Beraninya dia melawanku." ucap Amel geram.
Amel menutup panggilannya dengan Cintia setelah dia bicara. Memijat keningnya yang terasa berdenyut saat ini. Apa yang Rendi rencanakan? Amel sudah curiga jika Rendi diam bukan berarti tidak tahu apa-apa. Pria itu tidak bodoh seperti yang sering disematkan Cintia dan Rachel untuk memanggil Rendi.
"Non." panggil Ratna, asisten rumah tangga tempat Amel tinggal bersama Rendi.
"Ada apa Ratna, jangan ganggu! Aku sedang pusing." sahut Amel.
"Ini. Saya hanya ingin memberikan surat ini. Sepertinya penting." jawab Ratna sambil menyerahkan sebuah surat.
"Pengadilan agama?" ucap Amel sambil mengerutkan keningnya.
"Apa lagi ini?" gumamnya.
"Saya permisi Non." ucap Ratna pamit.
__ADS_1
Amel hanya menganggukan kepala mengizinkan Ratna pergi. Sekarang tanganya terulur untuk membuka surat yang ditujukan untuknya.
Amel memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Sepertinya Rendi sudah mengetahui tentang perselingkuhanya, hingga pria itu berani melayangkan surat cerai. Sekarang Amel harus bagaiamana? Sekarag dia mengerti mengapa Rendi menahan Rachel. Bukan semata-mata karena hubungan sahabatnya itu dengan Abimana, tapi juga berhubungan dengan dirinya.
"Tunggu!" ucap Amel sedikit berteriak.
Mengapa dia baru menyadari keberadaan Rendi sekarang. Jadi Alana tadi tidak sedang mempermainkannya. Adik iparnya itu sudah memberi kode. Rendi ada bersama Alana.
"Si al. Mengapa aku baru menyadarinya." rutuk Amel.
Amel kembali menekan nomor milik Alana. Dia ingin bicara dengan Rendi. Apa yang suaminya itu inginkan. Bukan! Bukan itu yang ingin Amel tanyakan. Dia ingin membuat kesepakatan dengan Rendi.
Nada sambung terdengar, tapi Alana tidak juga mengangkatnya. Menyebalkan sekali adik iparnya ini.
Melempar ponselnya ke sofa, Amel lalu memejamkan matanya. Mencoba mencari ketenangan agar bisa berpikir jernih. Langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
Sementara itu, Alana yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa mengerutkan kening saat melihat siapa yang menghubunginya tadi, saat dia berada di dalam kamar mandi.
"Amel? Mau apa lagi dia menghubungi?" tanya Alana pada dirinya sendiri.
Alana membiarkan saja panggilan itu. Dia tidak akan menghubungi Amel. Biar saja wanita itu yang menghubunginya lagi. Bukankah Amel juga seperti itu padanya? Sekarang Alana akan melakukan hal yang sama.
Cukup dia menjadi orang baik kepada orang yang selalu memperlakukannya dengan buruk. Alana belajar dari masa lalu. Kebaikannya sering disalah gunakan orang lain. Mantan kekasihnya contohnya. Memanfaatkan kebaikannya dengan berselingkuh hingga menghamili wanita selingkuhannya.
Begitu juga dengan Aditya, Alana selalu bersikap baik pada adik iparnya itu. Sikap baik dan terlalu percaya dengan orang lain, membuat dirinya selalu dimanfaatkan orang lain.
Tapi tidak menyangka Aditya tega melakukan hal kotor kepadanya. Menodai dirinya sungguh tidak pernah ada dalam pikiran Alana terhadap pria yang selalu bersikap baik itu sebagai adik ipar.
Sekarang Alana akan selalu berhati-hati untuk mempercayai orang lain, kecuali mereka yang selama ini sudah terbukti rela berkorban demi Alana. Kinara contohnya. Sahabatnya sungguh luar biasa. Mengorbankan banyak hal untuk membantunya. Alana sangat bersyukur dan berterimakasih pada sahabatnya itu.
Bagaimana dengan Wisnu? Bukankah pria itu juga banyak berkorban untuk Alana? Kita tunggu saja jawaban Alan pada pernyataan cinta Wisnu yang kesekian kalinya nanti.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...