Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bsb 27. Waktunya Bicara


__ADS_3

Kinara bukan menghilang seperti yang Alana pikirkan, tapi dia sengaja menjauh untuk menenagkan dirinya, khususnya menjauh dari Dirga. Bertemu kembali dengan pria itu tentu saja membuka kisah lama yang belum usai.


Kinara tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengurai benang kusut karena kesalah pahaman seorang Dirga kepadanya. Begitupun sebaliknya, Kinara juga salah paham dengan abang sepupu sahabatnya itu.


"Ki!"


Kinara tersentak begitu mendengar suara Dirga memanggilnya. Mungkinkah sudah waktunya untuk bicara? Tapi Kinara masih belum siap.


Dirga mendudukan dirinya di samping Kinara, sedikit berjarak agar lebih nyaman. Tadinya Dirga akan masuk kedalam kamar untuk beristirahat sejenak, tapi siapa sangka dia melihat Kinara duduk sendiri menatap air kolam yang tenang.


Tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Dirga berjalan mendekat. Memberanikan menyapa Kinara yang mungkin saja tidak akan membalas sapaanya. Tidak ada salahnya mencoba bukan? itu yang Dirga pikirkan.


Seperti yang Dirga duga, Kinara hanya diam. Dirga tidak tahu saja diamnya Kinara karena tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Maaf, waktu itu...."


"Abang tidak salah, aku yang salah." sahut Kinara memotong ucapan Dirga.


Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja Kinara tidak ingin Dirga mengingatkannya kembali pada saat kejadian yang memalukan itu.


"Tapi Ki."


"Bisakah kita lupakan saja?" pinta Kinara.


Benarkah Kinara ingin melupakan kejadian itu? Dirga hingga detik ini selalu merasa bersalah, dia yang hari itu sedang tidak baik-baik saja melampiaskan kekesalannya pada Kinara. Dan Dirga tidak bisa melupakan apa yang terjadi diantara mereka.


"Sebenarnya hari itu...."


"Please, lupakan!" pinta Kinara lagi.


"Ki, kamu bukan sebagai tempat pelarian." ucap Dirga agar Kinara mengerti.


Kinara memberanikan diri melihat kearah Dirga berada, disaat yang bersamaan Dirga juga melihat kearah Kinara. Mata mereka bertemu, baik Kinara maupun Dirga sama-sama merasakan debar jantung yang berdetak tidak karuan.


"Bang." panggil Kinara, namun belum sempat Kinara melanjutkan ucapannya, Dirga sudah lebih dulu bicara.


"Abang tahu, kamu pasti sakit hati."


Kinara kembali menatap air kolam yang tenang, memalingkan pandangannya dari Dirga. Bukan hanya sakit hati, tapi Kinara sangat membenci Dirga kala itu. Siapa yang tidak marah jika dia hanya dijadikan sebagai pelarian dari seorang Dirga yang diam-diam mencuri hatinya.

__ADS_1


Karena itu, seorang Kinara sulit untuk jatuh cinta lagi meski tidak dipungkiri ada beberapa pria yang dia kagumi. Dan salah satunya Aditya, adik ipar Alana itu. Sulit bagi Kinara untuk membuka hati, karena dia takut kisahnya dengan Dirga terulang lagi.


Alana yang berada diantara Dirga dan Kinara menjadi tempat curahan hati keduanya. Dari curahan hati keduanya, Alana akhirnya menemukan uraian benang kusut yang terjadi antara Kinara dan Dirga. Semua hanya salah paham. Sayangnya baik Dirga dan Kinara harus terpisah jauh sebelum kesalah pahaman mereka selesai.


"Ki maaf. Mungkin ini sangat terlambat. Tapi jujur, Abang tidak bisa melupakan hari itu. Sungguh Abang merasa bersalah karena kejadian itu menyadarkan Abang akan sesuatu. Sesuatu yang...."


Dirga menjeda ucapannya, dia ingin melihat reaksi Kinara. Sebagai dokter ahli kejiwaan, tentu Dirga bisa membaca gerak-gerik Kinara saat diajak bicara. Dan Dirga yakin, dalam diri Kinara masih ada sisa rasa untuknya meski tidak sebesar dulu. Dirga akan berusaha menyembuhkannya kembali, seperti rasa yang kini dia miliki untuk Kinara.


Jika dibilang bodoh, Dirga mengakui itu. Dulu dia terlalu bodoh mengabaikan Kinara yang selalu ada untuknya demi wanita yang mempermainkan perasaannya. Lebih bodohnya lagi, Dirga mencari Kinara untuk meluapkan rasa kesalnya pada kekasih yang menghianatinya.


Namun kejadian itu menyadarkan Dirga, sebenarnya dia mencintai Kinara. Sayangnya Kinara yang kecewa sudah terlanjur pergi dan menjauh. Di tambah pendidikan Dirga yang memaksanya untuk pergi keluar negeri bersama Wisnu.


"Ki, Abang...."


BUK suara keras benda yang terbentur membuat Dirga tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia dan Kinara justru sama-sama terkejut.


"Suara apa itu Bang?" tanya Kinara.


"Sepertinya dari luar, ayo kita periksa." ajak Dirga, yang langsung menarik tangan Kinara untuk mengikutinya.


"Ada apa?" tanya Dirga pada satpam yang menjaga kediamannya.


"Lalu suara keras tadi suara apa?" tanya Kinara.


"Setelah medengar laporan saya, pak Wisnu mendekati mobil tersebut, sepertinya pak Wisnu ingin mengajak bicara. Setelah kaca jendelanya diketuk, bukan keluar, sopirnya malah tancap gas mau kabur. Begitu kabur, malah nabrak mobil yang melintas." jelas satpam tersebut.


"Wisnunya dimana sekarang?" tanya Dirga.


"Di depan Pak."


"Kamu tunggu disini saja Ki." ucap Dirga lalu melepaskan tangan Kinara yang sejak tadi di genggamnya.


Jangan tanyakan perasaan Kinara, jantungnya berpacu lebih cepat. Sungguh Kinara sebenarnya belum bisa melupakan Dirga. Mungkin itulah mengapa setiap dia tertarik dengan pria lain, hanya menggebu diawal setelahnya pudar begitu saja.


Dirga berjalan keluar pagar, mendekati Wisnu dan satu orang satpam yang juga berjaga dikediamannya. Ada satu orang lain yang Dirga kenal sebagai tetangganya yang ada diujung jalan komplek perumahannya serta dua orang asing, orang yang sejak tadi mengintai kediamannya.


"Siapa yang mengirim mereka?" tanya Dirga begitu sudah berdiri didekat Wisnu.


"Mereka masih tutup mulut." jawab Wisnu, lalu berbisik pada Dirga.

__ADS_1


Dirga mengangguk, dia setuju dengan apa yang Wisnu sarankan. Sudah pasti kediamannya diawasi karena kehadiran Alana. Dirga cukup kagum dengan cara kerja orang yang ingin tahu keberadaan adik sepupunya itu.


Dua orang yang Dirga dan Wisnu curigai, jika bukan Abimana, yang satu lagi kemungkinan Aditya. Tapi siapa sangka, orang yang melakukan itu adalah Wijaya.


Pria paruh baya itu bergerak cepat saat tahu Alana akan keluar dari rumah sakit, begitupun dengan gugatan cerai yang Alana layangkan, Wijaya sudah terlebih dulu menerima kabar sebelum Abimana. Karena itu dia pura-pura terkejut saat Abimana memberi kabar Alana mengugat cerai.


Keputusannya melepas Alana sudah dia pikirkan sejak tahu Alana memutuskan untuk bercerai.


Mendengar suara benturan yang keras, Alana melihat kearah jendela sambil menggendong Arkana. Dari jendela kamarnya, Alana bisa melihat Wisnu berada disana. Dia langsung keluar kamar, ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Al!" panggil Kinara begitu melihat Alana bersama Arkana.


"Apa yang terjadi, Ki?" tanya Alana.


Kinara menjelaskan kembali apa yang tadi diceritakan oleh satpam kediaman Dirga. Serta memberitahu Alana jika Dirga menyusul Wisnu sekarang.


"Kenapa kamu nggak ikut?" tanya Alana.


"Diminta bang Dirga tunggu disini." jawab Kinara.


"Hemm!" Alana berdehem menggoda Kinara yang wajahnya memerah saat menyebut nama kakak sepupunya itu.


"Kalian sudah bicara?" tanya Alana lagi.


Kinara menggeleng, "Belum selesai karena suara tabrakan tadi." jawabnya.


"Non berdua, diminta masuk kedalam oleh pak Dirga dan pak Wisnu." ucap satpam yang baru saja menutup panggilan telepon.


Alana dan Kinara yang duduk di teras sama-sama memicingkan mata, "Memangnya kenapa, Pak?" tanya Kinara.


"Saya tidak tahu Non. Saya hanya diminta menyampaikan ke Non berdua." jawab satpam tersebut.


Meski masuk kedalam rumah, baik Alana maupun Kinara tidak berhenti memikirkan apa yang terjadi? Sehingga mereka diminta masuk kedalam rumah.


"Menurut kamu ada apa Al?" tanya Kinara.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...

__ADS_1


__ADS_2