Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 86. Sudah Waktunya


__ADS_3

Arkana tiba di perusahaan tempatnya bekerja, pemuda itu langsung menghadap HRD untuk laporan kehadirannya sebagai karyawan baru di perusahaan cabang Mahendra. Setelahnya, pemuda yang memiliki paras tampan itu diatarkan oleh salah satu karyawati HRD yang bernama Lia keruangannya.


"Arka!" seru Rino, kakak tingkat dua tahun diatas Arkana.


"Kamu kerja disini?" tanya Rino sambil memperhatikan penampilan Arkana. Rino mengeryitkan keningnya. Pemuda itu tentu saja heran melihat Arkana berpakaian khas karyawan baru, hitam putih.


Rino dan Arkana termasuk siswa yang aktif mengikuti acara yang ada di kampus mereka. Keduanya sering bertemu dan akhirnya berteman baik karena satu frekuensi, yaitu sama-sama kutu buku dan olah raga.


Rino tentu tahu siapa Arkana, bahkan pemuda itu bisa melamar di Mahendra Group atas infomasi yang Arkana berikan. Ya, meski hanya kantor cabang yang menerima pegawai baru saat itu. Rino saat itu baru lulus dan sangat butuh pekerjaan. Ayah Rino yang selama ini sebagai tulang punggung keluarga, mengalami kecelakaan dan meninggal.


Rino juga yakin, ada campur tangan ayah temanya itu, sehingga dia bisa diterima di Mahendra Group perusahaan milik keluarga Arkana. Selain hasil tesnya juga tidak terlalu memalukan.


"Sssttt." desis Arkana, agar Rino tidak banyak bertanya. Bisa-bisa terbongkar rahasia siapa dia sebenarnya oleh karyawan lain. Rino langsung paham dan memilih diam setelahnya.


Tapi tidak dengan Lia, begitu mendengar pertanyaan Rino pada Arkana, wanita itu langsung berbalik melihat Arkana dan Rino bergantian.


"Kalian sudah saling kenal?" tanyanya.


"I... Iya Bu, kami... kami satu kampus." jawab Rino gugup. Semoga saja dia tidak salah bicara dan identitas Arkana tidak terbongkar.


Setelah mendengar jawaban Rino, Lia melanjutkan tujuannya berada di ruang bagian keuangan. Dia mengajak Arkana untuk menemui manager keuangan. Orang yang akan bertanggung jawab atas pekerjaan Arkana.


Ya, Arkana akan memulai karirnya dibagian keuangan perusahaan cabang. Sengaja Wisnu memilihkan tempat itu, agar Akarna belajar banyak dari pengalamannya selama jadi karyawan. Tentu saja karena Wisnu mempersiapkan Arkana sebagai penggantinya beberapa tahun lagi. Menunggu Ansel, entah kapan dia bisa pensiun dan menikmati masa tuanya bersama Alana. Tidak mungkin juga dia menyerahkan perusahaan pada Dinara. Putrinya itu sudah sejak kecil menuruni bakat ibunya mendesain pakaian. tidak tanggung-tanggung, anak itu sudah minta di sekolahkan sebagai desainer sejak SMP.


"Saya tidak tahu mengapa pimpinan cabang perusahaan bisa menerima kamu yang belum punya pengalaman tapi langsung ditempatkan di bagian keuangan. Posisi yang sangat bagus. Harusnya kamu di bagian marketing saja. Dengan penampilan kamu, saya rasa lebih cocok kamu jadi marketing, jaga stand atau berdiri di mall menyebarkan brosur." ucap pak Rudi dengan sombong dan angkuhnya merendahkan Arkana.


Tidak tahukah pria tua itu, pakaian yang dikenakan oleh Arkana sudah sama dengan seharga mobil sejuta umat. Mulai dari sepatu, tas, jam tangan, semua asli dan branded. Malah disuruh jadi sales.


Memang tidak ada yang tahu siapa Arkana sesuai permintaan Wisnu pada pimpinan cabang perusahaan. Selain Arkana bisa bekerja dengan baik, Wisnu juga tidak ingin putranya dimanfaatkan orang-orang yang punya kepentingan lainnya.


Arkana hanya tersenyum pada pak Rudi. Namun jagan salah, Arkana sudah menandai manager keuangan ini sebagai orang yang suka merendahkan orang lain. Sudah jelas dia lulus lebih cepat dan cumlaude pula. Otaknya tidak perlu diragukan lagi. Pantas saja dia ditempatkan dibagian keuangan.


***


Alana tengah duduk di depan televisi saat si kembar Davi dan Diva datang bersama Dinara.


"Assalamualaikum Bunda." sapa mereka lalu salim pada Alana bergiliran.


"Kalian dari mana?" tanya Alana pada ketiga anak itu. Sejak kecil mereka selalu bersama, sudah seperti kembar tiga saja melihatnya.


"Dari kampus, Bun." Davi yang menjawab sambil merebahkan tubuhnya diatas karpet.

__ADS_1


"Diluar panas banget Bun, bikin teler." ucap Davi lagi.


"Gitu aja ngeluh." sahut Dinara.


"Bukan ngeluh Yang, aku tuh laporan sama Bunda." balas Diva.


"Apa sih, yang... yang peyang." balas Dinara lagi. Dia tidak suka si pkayboy Davi memanggilnya sayang.


"Dinara!" tegur Alana pada anak gadisnya itu.


"Davi nya Bun." rengek Dinara.


"Ra, aku beneran sayang kamu. Pacaran yuk!" ucap Davi yang dibalas Dinara dengan mengangkat tangannya yang terkepal.


Alana menggelengkan kepala melihat kelakuan Davi, seolah melihat Aditya dimasa lalu. Banyak sekali gadis yang Davi kenalkan sebagai kekasihnya. Sebagai orang tua, meski bukan orang tua kandung Davi, Alana hanya bisa mengingatkan anak itu untuk tidak merusak anak gadis orang.


"Aku udah punya pacar, tahu." ucap Dinara. Setelahnya, gadis itu menutup mulutnya yang keceplosan bicara.


"Siapa Ra? Anak mana?" tanya Diva penasaran. Sementara Davi langsung membalikkan badanya menghadap televisi.


Davi tidak bohong tentang perasaannya pada Dinara. Tapi mau bagaimana lagi, Dinara tidak tertarik padanya. Lebih baik dia bersama gadis-gadis yang mendekatinya saja. Setelah bosan dia putuskan. Begitu terus sampai nanti dia menemukan yang benar-benar bisa membuatnya jatuh cinta seperti cintanya pada Dinara.


"Mas Dion." jawab Dinara jujur.


"Tidak boleh! Kalian itu saudara." jawab Alana.


Mendengar pertanyaan Diva, membuat Alana sakit kepala. Bagaimana menjelaskan pada Diva kalau dia tidak boleh jatuh cinta pada Arkana. Mereka itu saudara satu ayah.


"Bunda kenapa?" tanya Arkana begitu melihat sang bunda memijat keningnya. Dia baru pulang dari kantor. Saat akan nengucsp salam, Arkana mendengar suara Alana yang cukup keras dan tegas. Segera saja dia masuk untuk mencari tahu ada apa.


"Tidak apa-apa Bang." jawab Alana tidak ingin Arkana khawatir.


Alana hanya takut, takut membuka luka lama dengan menceritakan rahasia yang para orang tua jaga selama ini pada anak-anak agar mereka paham.


"Bunda sakit kepala setelah dengar Dinara pacaran sama mas Dion dan Diva minta izin pacaran sama Abang." ucap Davi mengadu.


"Benar begitu Ra, Va?" tanya Arkana pada kedua adiknya itu. Kedua gadis itu hanya menunduk. Mereka tidak tahu jika hal seperti ini menyakiti bunda mereka.


"Bunda nggak kasih izin. Karena kita ini saudara Bang." ucap Davi lagi.


"Kita memang saudara. Jadi buang jauh-jauh pikiran kalian untuk jatuh cinta pada saudara sendiri." ucap Arkana mengingatkan adik-adiknya.

__ADS_1


Hening setelahnya. Tidak ada yang berani bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sampai suara Ansel yang mengucap salam pada bundanya.


"Assalamualaikum Bunda." ucap Ansel. Kebiasaan yang putra bungsu Alana itu lakukan setiap pulang kerumah.


Ansel tidak sendiri. Dia datang bersama Liza anak ketiga pasangan Inaya dan Naren. Dibelakang mereka ada Diana, kakak perempuan Liza, anak kedua Inaya dan Naren.


"Waalaikumsalam." jawab Alana dan yang lainnya.


"Dapat semua bahan-bahan yang diperlukan adik-adik kamu, Ana?" tanya Alana pada Diana.


Alana meminta tolong pada Diana untuk mengantar Ansel dan Liza membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat prakarya tugas sekolah. Kebetulan gadis itu sedang berkunjung ke rumahnya bersama Liza.


"Dapat Bun." jawab Diana.


"Terima kasih Ana. Kamu sudah gantiin tugas Abang." ucap Arkana tulus.


"Nggak apa-apa Bang. Kebetulan jadwal Ana kosong hari ini." balas Diana.


Sebenarnya Arkana ingin menarik ucapan yang tadi dia ucapkan untuk adik-adiknya agar membuang jauh perasaan cinta pada saudara sendiri. Nyatanya, Arkana sendiri menyimpan rasa untuk Diana.


Alana bisa melihat sorot teduh yang Arkana berikan pada Diana. Bukan kali ini saja. Arkana selalu menatap berbeda pada gadis itu. Lagi, Alana memijat kepalanya. Merasa kasihan pada Arkana jika harus memendam perasaanya yang seharusnya bisa terjalin.


***


Alana menghampiri Wisnu yang sedang membaca buku sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Suaminya masih saja telihat tampan meski usianya yang sudah paruh baya.


Melihat Alana menghampirinya, Wisnu segera meletakkan buku diatas nakas. Jika seperti ini, ada sesuatu yang serius yang akan Alana bicarakan. Dua puluh tahun bersama, tentu Wisnu memahami kebiasaan istrinya. Begitupun sebaliknya.


Wisnu mengeser duduknya dan meminta sang istri duduk dipangkuannya. Alana tentu saja tidak menolak. Dia duduk di pangkuan sang suami dengan tanganya yang dia kalungkan di leher Wisnu.


"Ada apa sayang?" tanya Wisnu yang selalu bersikap lembut pada Alana.


"Ini tentang status Arka Bang." jawab Alana.


"Apa terjadi sesuatu?" Alana mengagguk. Bunda anak-anak itu menceritakan apa yang terjadi sore tadi tanpa ada yang Alana lewatkan.


Wisnu mengusap wajah Alana dengan lembut. Istrinya cantik dan awet muda. Sungguh dia sangat bersyukur bisa bersatu dan menua bersama.


"Sepertinya sudah waktunya untuk Arkana tahu yang sebenarnya. Abang akan hubungi Aditya untuk meluangkan waktunya ikut bicara dengan Arkana." ucap Wisnu.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2