
Cukup lama Alana dan Wisnu berbicara, tepatnya Alana yang menceritakan apa yang terjadi dengan kehidupannya saat ini. Wisnu lebih banyak diam, menyimak setiap kata yang Alana ucapkan.
Wanitanya butuh untuk didengarkan, sesekali Alana akan meneteskan airmata saat dia menceritakan dirinya yang berada di titik terendah. Wisnu akan mengusap air mata itu dengan jarinya setiap Alana mengeluarkannya, Wisnu juga mengusap lembut punggung tangan Alana saat wanita yang dicintainya butuh kekuatan. Saat Wisnu bangga dengan apa yang Alana lakukan, maka pria itu akan mengusap pucuk kepala Alana yang berbalut hijab sebagai rasa setuju dengan apa yang Alana lakukan.
Bukan kali ini saja Alana merasakan kasih sayang Wisnu. Dulu, pria yang ada dihadapannya ini jauh lebih perhatian padanya. Pria yang bisa mengerti Alana. Hal inilah yang membuat Alana jatuh cinta, tapi dia tidak berani menunjukkannya pada Wisnu. Rendi dan Dirga selalu mengingatkannya untuk tidak jatuh cinta pada pria saat itu. Maka, Alana hanya bisa menganggap Wisnu sama seperti Rendi dan Dirga, sebagai kakaknya.
"Sekarang Al serahkan semuanya sama Bang Wisnu." ucap Alana, "Al tidak terlalu mengerti hukum soalnya." lanjut Alana lagi.
"Abang akan lakukan yang terbaik untuk Al. Tapi...."
"Tapi apa Bang?" tanya Alana penasaran karena Wisnu menjedah ucapannya.
Wisnu tersenyum, "Al harus janji sama Abang." jawab Wisnu.
"Janji apa Bang?" tanya Alana lagi.
"Janji untuk tidak sedih lagi dan teruslah bahagia." jawab Wisnu.
Kini Alana yang tersenyum mendengar jawaban Wisnu, "Al janji, tapi Abang juga janji bantu Al." jawab Alana.
Wisnu merentangkan tangannya, senyumnya merekah di wajahnya begitu Alana masuk kedalam pelukannya. Rasa ingin memiliki wanita dalam pelukannya semakin besar. Dengan kesadaran penuh Wisnu mengecup pucuk kepala Alana berkali-kali menyalurkan rasa sayangnya, berharap Alana mengerti perasaannya.
"Abang janji." ucap Wisnu.
Alana tidak bisa berkata apa-apa saat merasakan kecupan yang Wisnu berikan. Rasa itu belum hilang, selama ini hanya bersembunyi di sudut hatinya yang tidak tersentuh. Saat ini, sudut itu kembali menemukan apa yang dia inginkan. Tapi Alana tidak ingin berharap lebih. Wisnu memang seperti ini sejak dulu, nyatanya pria itu pada akhirnya menghilang. Alana tidak ingin kecewa, maka dia berusaha meredam gejolak rasa yang belum hilang itu.
Satu minggu berlalu, hampir setiap hari Wisnu datang mengunjungi Alana dan Arkana. Selain membahas perceraian Alana dan hak asuh Arkana, Wisnu ingin mendekatkan diri dengan Arkana. Bagaimanapun, Arkana akan menjadi putranya kelak saat dia dan Alana bersama.
__ADS_1
Baru satu minggu, bayi laki-laki itu sudah sangat nyaman bermain dengan Wisnu, bahkan Arkana baru bisa tidur dengan pulas begitu dia sudah merasakan gendongan Wisnu. Tentu saja Wisnu sangat senang dan bersyukur, satu hati telah dia taklukkan. Sementara untuk Alana, Wisnu akan menunggu waktu yang tepat. Biarlah Alana fokus pada perceraian dan hak asuh Arkana terlebih dulu.
Kehadiran Wisnu berbanding terbalik dengan Abimana, pria itu sedang sibuk dengan rencana pembukaan cabang baru perusahaannya, sehingga dalam satu minggu ini baru dua kali dia mengunjungi Alana dan Arkana.
Alana sendiri tidak mempermasalahkan itu. Arkana sendiri sepertinya mulai lupa dengan sosok Abimana. Anak itu terlihat biasa saja saat Abimana berkunjung, dia sibuk dengan mainannya sendiri.
"Kana sayang, ini Papa." ucap Abimana mencoba mengalihkan perhatian Arkana agar bermain dengannya.
Arkana melihatnya sesaat lalu kembali sibuk dengan mainannya lagi. Alana ikut senang melihatnya.
"Semakin jarang kamu berkunjung, semakin bagus mas." gumam Alana didalam hatinya. Setidaknya dia tidak begitu berat melepas orang yang tiga tahun terakhir ini mengisi hati dan hari-harinya dan dia tidak akan sedih karena Arkana tidak merasa kehilangan sosok Abimana melihat sikap putranya tersebut.
Sementara itu, Aditya belum menyerah untuk mendapatkan Alana. Dia mencoba kembali mengunjungi Alana, namun Aditya selalu mendapat jawaban yang sama, wanita yang dicintainya dan Arkana putranya sudah tidak dirawat di rumah sakit jiwa itu lagi.
"Alana dibawa pulang atau dipindahkan kerumah sakit lain?" tanya Aditya.
Aditya akhirnya mendatangi Wijaya dan Ajeng, apalagi tujuannya jika bukan untuk bertanya tentang keberadaan Alana. Sayangnya dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang Alana dari kedua orang tuanya.
"Bunda tidak tahu." jawab Ajeng begitu Aditya bertanya tentang keberadaan Alana.
Aditya tahu Ajeng menutupi keberadaan Alana dan Arkana dari dirinya. Aditya menyerah? Tentu saja tidak.
"Cari keberadaan Alana dan Arkana sampai ketemu!" perintah Aditya pada orang kepercayaannya.
Seperti dugaan Wijaya dan Ajeng, putra bungsu mereka tetap akan mengusik Alana. Mereka belum bisa mengirim Aditya keluar negeri seperti rencana mereka sebelumnya. Ajeng tetap merasa khawatir, takut Aditya mengetahui keberadaan Alana.
Kedua orang tua itu tidak tahu, jika Dirga dan Wisnu sudah memerintahkan pegawai dan perawat rumah sakit untuk menginformasikan bahwa Alana sudah tidak dirawat di rumah sakit selain memindahkan kamar Alana ketempat lain.
__ADS_1
"Dokter itu masih terus mencari keberadaan Al." ujar Wisnu memberitahu Dirga. Dia mendapat laporan ini dari orang yang dia tempatkan untuk mengawasi Aditya.
"Aku berencana membawa Al dan Kana pulang ke kediaman ku. Bagaimana?" tanya Dirga menaggapi perkataan Wisnu.
"Itu jauh lebih baik untuk pertumbuhan Arka." jawab Wisnu yang lebih suka memanggil Arkana dengan panggilan Arka.
Arkana sendiri sepertinya tidak keberatan dengan panggilan Wisnu kepadanya, bayi itu bahkan langsung melihat pada Wisnu saat pria itu memanggilnya.
"Tapi aku belum dapat alasan yang tepat untuk memberitahu Abimana." ujar Dirga.
"Laporan gugatan perceraian Alana sebentar lagi akan diterima oleh Abimana. Kamu bisa gunakan alasan Alana yang sudah tidak ingin pulang ke kediaman mereka dengan memindahkan Alana ketempat yang lebih baik dari rumah sakit ini." sahut Wisnu.
"Kenapa aku tidak berpikir kesana?" balas Dirga lalu tersenyum.
Wisnu berdecak, " Sepertinya kamu juga harus mendapat perawatan, Ga." ucapnya.
Bukan balasan yang Wisnu dapatkan, melainkan lemparan sebuah bantal yang tepat mengenai wajahnya. Bukan marah, Wisnu justru tertawa.
Abimana sampai di kediamanya sudah cukup larut malam. Besok peresmian cabang baru perusahaannya, hari ini dia mengawasi langsung karyawan yang sedang mempersiapkan acara untuk besok itu. Setelah peresmian cabang baru, rencanaya Abimana akan meliburkan diri. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Alana dan Arkana, yang sulit dia dapatkan akhir-akhir ini.
Tapi rencana Abimana harus terbantahkan oleh sebuah surat panggilan dari pengadilan agama. Surat itu tiba tadi sore, bi Onah yang menerimanya dari kurir. Membaca sekilas tulisan di sampul, bi Onah segera meletakkan surat itu di meja kerja Abimana.
Dengan tangan gemetar Abimana membuka dan membaca surat tersebut. Tidak peduli ini sudah hampir tengah malam, Abimana kembali melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Dia harus bertemu Alana malam ini juga, menanyakan perihal gugatan cerai istrinya. Alana tidak pernah membahas masalah ini sebelumnya.
Tiba di rumah sakit, perawat tidak memberikan izin kunjungan di malam hari pada Abimana, ini sudah menjadi aturan rumah sakit. Kecuali, ada hal-hal tertentu yang terjadi. Alasan Abimana tidak termasuk dalam hal penting itu.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...