Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 29. Inikah Namanya Cinta?


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja, Al?" tanya Wisnu setelah dia membaringkan Arkana, si bayi gembul itu di tepat tidur Alana, sambil menyusun bantal dan guling untuk menghalangi pergerakan Arkana agar tidak jatuh.


Bukan tanpa sebab Wisnu bertanya pada Alana. Apa yang diucapkan Abimana sebelumnya membuat Wisnu takut Alana berubah pikiran. Jika itu terjadi, semua rencana yang Wisnu susun tentu saja akan sia-sia dan dia tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.


"Tidak perlu khawatir Bang. Al tetap akan bercerai." jawab Alana yang menghadirkan garis lengkung diwajah Wisnu.


"Abang senang mendengarnya." balas Wisnu jujur.


"Bang, terima kasih untuk semuanya. Al pasti sangat menganggu waktu kerja Abang." ucap Alana, "Apalagi Kana!" seru Alana.


Wisnu mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Alana. Matanya menatap dalam pada mata wanita yang dicintainya itu, berharap Alana akan membaca begitu besar rasa yang Wisnu miliki untuk wanitanya.


"Abang akan melakukan apapun untuk kebahagian kamu, Al dan juga Arka." ucap Wisnu, "Al, boleh Abang menjadi ayah untuk Arka, Kan?" tanyanya.


Alana mencoba mencerna maksud perkataan Wisnu, dia takut apa yang dia pikirkan tidak seperti yang Wisnu maksudkan. Namun, satu kecupan mendarat di kening Alana, menyalurkan kehangatan dalam tubuhnya. Hanya kecupan di kening, namun mampu membuat Alana tepatri. Salah kah jika dia yang tidak sempurna ini berharap lebih pada Wisnu?


Alana sadar dia salah, dirinya masih berstatus sebagai istri orang. Tapi rasa tidak bisa bohong bukan? Alana tidak sanggup untuk memikirkannya.


"Bukankah Abang memang sudah jadi daddy untuk Kana?" ucap Alana akhirnya, mengusir kegalauan hatinya.


"Bukan seperti itu, maksud Abang...."


Wisnu tidak mampu melanjutkan kalimatnya, dia lebih memilih menunjukkan rasa yang dia miliki untuk Alana. Wisnu meberanikan diri menarik tubuh Alana masuk kedalam pelukannya, menyalurkan segala rasa cinta dan kerinduan serta keinginan untuk memiliki Alana seutuhnya. Kecupan lembut Wisnu daratkan di pucuk kepala Alana.


Alana mendongak, memberanikan diri kembali menatap wajah pria yang selalu memberikan perhatian padanya. Mata mereka kembali bertemu, dan entah siapa yang memulai atau memang rasa ingin saling memiliki yang besar hingga wajah keduanya saling mendekat. Dan Wisnu memberanikan diri mengecup bibir merah alami itu. Pria itu tidak bisa menahan rasa yang sudah dia tahan sejak dulu.


"Abang mencintai kamu Al, sejak dulu, sejak pertama kita bertemu. Maaf, Abang terlambat mengungkapkannya." ucap Wisnu meberanikan diri.


Alana hanya bisa diam terpaku, apa yang harus dia lakukan? Statusnya masih sah sebagai istri Abimana, bolehkah dia menerima cinta Wisnu?


Abang akan menunggu sampai perceraian kamu selesai." ucap Wisnu lagi, lalu mengurai pelukannya.


Entah dari mana Alana mendapatkan keberanian, dia mencium pipi Wisnu. Kini pria itu yang terdiam menatap tidak percaya. Alana menerima cintanya? Wisnu rasanya ingin berteriak, memberitahu Dirga jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Usapan lembut tangan Alana menyadarkan Wisnu dari keterkejutannya, "Terima kasih sayang." ucapnya. Lalu Wisnu mengecup seluruh wajah Alana dan berakhir di bibir. Wajah keduanya sama-sama memerah, ini kah namanya cinta?


Wisnu mengangkat tubuh Alana lalu membaringkan wanitanya disamping Arkana, "Istirahatlah selagi Arka tidur." ucap Wisnu.


Jika boleh memilih, ingin rasanya dia ikut membaringkan tubuhnya, memeluk Alana dan tidur bersama. Tapi Wisnu sadar, dia dan Alana belum bisa sampai sejauh itu. Dari pada dia khilaf lebih baik dia segera pergi dari kamar ini. Bukankah dia harus segera menangani dua orang suruhan Wijaya yang dia tahan?

__ADS_1


"Abang pergi dulu." ucap Wisnu berpamitan.


Alana hanya mengangguk, dia masih malu dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.


"Selamat beristirahat." ucap Wisnu lagi lalu mengecup kening Alana.


"Daddy pergi dulu ya sayang." pamit Wisnu pada Arkana yang masih pulas. Pria itu mengecup kening Arkana dan mengusap lembut kepala bayi gembul itu.


Sementara itu, dikediaman Wijaya Rahardian. Pria paruh baya itu kesulitan menghubungi orang kepercayaannya. Yang dia ketahui hanyalah Alana menempati kediaman baru yang belum dia ketahui milik siapa. Hingga saat ini, orang suruhannya belum memberikan informasi apa-apa lagi.


Aditya keluar dari kamarnya, dia memperhatikan Wijaya yang sejak tadi berjalan mondar mandir. "Ada masalah apa Pa?" tanyanya.


Wijaya melihat kearah Aditya, "Duduk sini." ucap Wijaya menepuk sofa yang ada disampingnya.


"Ada apa Pa?" tanya Aditya lagi.


"Putramu Arkana, dia dibawa pergi oleh Alana." jawab Wijaya.


"Bukankah mereka ada di rumah sakit?" tanya Aditya.


"Papa yang salah, harusnya papa tidak mengizinkan cucu papa kembali dekat dengan ibunya, tapi bunda kamu...."


Tadinya Ajeng mencari keberadaan Wijaya, dia ingin bicara tentang perceraian Abimana dan Alana. Saat dia tiba di lantai atas, ternyata Wijaya sedang bicara dengan Aditya dan membawa-bawa nama Arkana dan namanya."


"Bunda, Arkana dibawa pergi oleh Alana!" seru Aditya memberi tahu.


Ajeng melihat kearah putranya, "Alana itu ibunya, wanita yang melahirkan Arkana. Kemanapun Alana pergi tentu saja akan membawa Arkana. Jadi jangan menuduh sembarangan pada menantu Bunda." jawab Ajeng.


"Masalahnya sekarang Alana dan Abi akan bercerai." sahut Wijaya.


"Ya tinggal gagalkan saja perceraian itu." balas Ajeng.


"Tidak!" teriak Aditya.


"Kenapa tidak?" tanya Ajeng curiga.


"Tidak apa-apa Alana menuntut mas Abi untuk pisah. Setelah mereka berpisah, maka aku akan melamar Alana. Arkana akan aku jadikan alasan." jawab Aditya sambil menjelaskan apa yang dia pikirkan.


"Bodoh!" umpat Wijaya kesal, mengapa kedua putranya bisa jatuh cinta dengan wanita yang sama.

__ADS_1


"Alana itu sakit jiwa, Dit. Biarkan Abi bercerai dan buang dia jauh-jauh. Tapi Arkana harus jatuh ketangan kita." ucap Wijaya.


"Bunda tidak setuju." sahut Ajeng, "Abi masih sangat mencintai Alana, Bunda tidak ingin ada perceraian."


"Adit juga mencintai Alana, Bun." tegas Aditya.


"Rencana kamu itu hanya akan membongkar aib keluarga kita, ADITYA!" ucap Ajeng kesal.


"Cari wanita lain. Kamu tampan dan kaya, pasti banyak yang mau menikah dengan kamu." ucap Wijaya.


"Tidak ada yang seperti Alana." jawab Aditya.


"Aditya, Alana itu kakak ipar kamu, ingat itu! Apa kamu pikir dia mau menikah denganmu setelah berpisah dengan Abi?"


Ajeng menatap kesal pada Aditya, putranya percaya diri sekali bisa menikahi Alana. Sudah jelas Alana memilih berpisah dari Abimana karena tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Rahardian.


"Tapi Bun...."


"Tidak ada tapi-tapi. Jangan ganggu Alana! Usahakan menantu Bunda tetap menjadi istri mas Abi, bukan kamu."


"Papa tidak setuju!" ujar Wijaya.


"Kalau begitu siap-siap kehilangan Arkana!" ucap Ajeng memperingatkan.


"Abi tetap akan bercerai, dan hak asuh Arkana ada di tangan kita." bala Wijaya.


"Pa!" ucap Ajeng tidak percaya, suaminya kembali ke mode keras kepala.


"Ini keputusan Papa." sahut Wijaya.


"Bunda tidak akan ikut campur, terserah Papa!"


Ajeng pergi meninggalkan Wijaya dan juga Aditya. Ada rasa kecewa jika dia harus kehilangan Alana. Mengapa suaminya mendukung perceraian Abimana dan Alana? Selama ini Wijaya sangat menyayangi Alana, apa yang membuat suaminya berubah? Adakah orang lain yang mempengaruhi Wijaya? Siapa? Ajeng tidak akan diam saja, dia akan mencari tahu.


"Adit, kamu harus bantu papa mempertahankan Arkana!" ucap Wijaya memberi perintah.


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...

__ADS_1


__ADS_2