Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 65. Salah Menilai


__ADS_3

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal mengalihkan perhatian Ambar dari kekesalannya terhadap Wisnu. Apa lagi putranya itu pergi meninggalakan dirinya begitu saja. Dan Ambar juga membiarkan Helen mengejar putranya itu.


Awalnya Ambar tidak tertarik dengan pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal. Namun pesan terus saja masuk menganggu indra pendengarannya dan juga membuat ibu dari Wisnu itu penasaran. Begitu Ambar membuka pesan yang dia terima, isinya adalah beberapa foto dan sebuah video.


Ambar mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Meskipun hanya sekilas, Ambar bisa memastikan bahwa foto yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal ini adalah asli, bukan hasil editan.


Sebagai seorang yang pernah berkecimpung di dunia fotografer tentu saja Ambar bisa membedakan foto asli dan yang hasil editan. Ada rasa kecewa yang dia rasakan. Ingin menyangkal, tapi inilah kebenarannya. Dan Ambar harus berterima kasih pada orang yang sudah membuka matanya yang sudah salah menilai selama ini.


Dengan tenang Ambar keluar dari kamar lalu menyusul Wisnu. Sayangnya, Ambar terlambat dan yang dia temui hanyalah Helen.


Wajah Ambar yang biasa melukiskan senyum jika bertemu pandang dengan Helen, kini berganti dengan wajah datar dan geram menahan amarah. Bagaimana Ambar tidak marah pada penghianat seperti Helen.


"Ma, Wisnu nya sudah pergi." ucap Helen melaporkan dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


Ambar menatap datar pada wanita yang dia harapkan jadi menantunya itu. Lenyap sudah pandangan baik pada wanita yang ternyata berani menghianati keluarganya.


"Sejak kapan kamu dekat dengan Amar?" tanya Ambar mengabaikan laporan Helen.


Helen terdiam. Bukan tidak tahu jawabannya, tapi Helen tidak ingin memberitahu Ambar jika dia mengenal Amar. Bukan hanya mengenal, tapi lebih tepatnya Helen adalah teman tapi mesrahnya Amar.


"Sejak kapan kamu dekat dengan Amar? JAWAB!" ucap Ambar dengan nada tinggi hingga Helen tersentak.


"Aku tidak mengerti maksud pertanyaan Mama. Aku bahkan baru satu kali bertemu Amar, itu pun saat acara pertunangan Inaya." jawab Helen dengan tergagap.


Ambar tersenyum sinis dan itu bisa dilihat jelas oleh Helen. Tapi wanita itu tidak peduli. Dia butuh uang, dan Amar selau memberikan apa yang Helen berikan. Tentu saja setelah Helen melayani nafsu pria itu.


"Pulanglah dan jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini!" ucap Ambar pelan, tapi penuh penekanan.


"Maksud Mama?" Helen tidak percaya, Ambar mengusirnya dari kediaman ini. Kediaman yang sudah menjadi rumah kedua baginya. Rumah yang memberikan kemewahan dan kenyamanan.


"Kamu pintar, pasti mengerti apa maksud dari ucapan saya." jawab Ambar.


"Saya?" gumam Helen tidak percaya dengan perubahan panggilan Ambar pada dirinya sendiri.


"Diantara kamu dan saya tidak ada hubungan apapun. Wisnu menolak kamu dan saya menerima keputusannya." sahut Ambar.


Harusnya tanpa perlu Ambar jelaskan, Helen tahu apa yang membuat dia marah. Tapi wanita itu bersikap seolah-olah tidak mengerti.

__ADS_1


"Tapi Ma...."


"Saya bukan mama kamu. Pergilah!" ucap Ambar memotong ucapan Helen.


"Ma! Ada apa? Kenapa Mama marah sama Helen?" tanya Helen yang masih tidak mengerti.


Ambar berdecak, "Saya benci penghianat dan pembohong. Saya tanya kamu baik-baik tapi kamu tidak mau menjawab. Ya sudah berarti apa yang saya lihat itu benar. Kamu penghianat dan juga pembohong." jawab Ambar dengan penuh penekanan pada kata penghianat dan pembohong.


"Helen nggak pernah berkhianat, Ma!"


Ambar menatap tajam gadis yang dia harap bisa menjadi menantu idamannya. Tapi, dia lagi-lagi salah menilai. Bukan salah Wisnu dan Inaya menolak perjodohan yang dia lakukan, tapi salahnya yang mudah termakan hasutan.


Ambar bukan hanya kecewa pada Helen, tapi juga pada Amar. Pria yang dia jodohkan dengan putri kesayangannya itu ternyata laki-laki baji ngan. Bahkan hubungan Amar dan Helen sudah diluar batas. Ambar salah menilai sifat dan sikap dari Amar dan Helen.


Benar seperti apa yang diucapkan Wisnu. Lebih baik janda sekalian dari pada gadis rasa janda. Seperti Helen contohnya, gadis tapi sudah tidak perawan.


Sekarang! Ambar harus merestui hubungan Wisnu dengan Alana. Selama ini dia termakan hasutan Helen, yang mengatakan Alana itu dicerai karena selingkuh. Bahkan dia menutup telinga saat Wisnu memberikan penjelasan tentang perceraian Alana dan Abimana.


"Sumi!"


Wanita paruh baya yang bernama Sumi itu pun segera datang begitu namanya dipanggil sang nyonya.


"Perintahkan Ratna segera membereskan semua barang milik nona ini yang ada dikamar tamu!" ucap Ambar lalu pergi dari tempatnya berdiri saat ini.


"Nona tunggu disini saja." ucap Sumi, melarang Helen yang akan masuk ke kamar tamu.


Ambar kembali kekamarnya. Kepalanya terasa berat dengan kenyataan yang sekarang dia terima. Amar dan Helen, dua orang yang dia pilih untuk mejadi pendamping kedua anaknya. Tapi nyatanya, keduanya memiliki hubungan yang menjijikkan dibelakang Inaya, putrinya.


Tidak ingin terlambat dan berlarut-larut, Ambar mencoba menghubungi Wisnu. Beruntung sekali putranya itu masih mau menerima telepon darinya, meskipun sebelumnya Wisnu pergi dalam keadaan marah padanya.


"Ada apa Ma?" tanya Wisnu, begitu panggilan Ambar terhubung. Wanita paruh baya itu menghirup udara banyak-banyak sebelum bicara pada putranya.


"Mama ingin bertemu Alana." ucap Ambar ragu, takut Wisnu salah paham.


"Mau apa? Wisnu tidak akan mengabulkan permintaan Mama kalau hanya untuk menghina calon istri Wisnu." balasan Wisnu membuat Ambar semakin merasa bersalah telah menghalangi restu dan bersikap jahat pada Alana.


"Bukankah kamu mau Mama merestui pernikahan kalian? Apa Mama salah meminta bertemu dengan calon istri kamu itu?" jawab Ambar akhirnya meskipun tetap dengan nada ketus karena tidak ingin mengakui kesalahnnya dihadapan Wisnu.

__ADS_1


"Mama baik-baik saja, kan?" tanya Wisnu heran.


"Ajak dia malam ini makan malam di rumah." ucap Ambar mengabaikan pertanyaan Wisnu, lalu memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.


Ambar terpaksa melakukanya. Dia tidak ingin Wisnu tahu kalau dia telah berbuat kesalahan. Sayangnya Ambar tidak tahu bahwa pesan yang dia terima dikirim oleh Sandra dengan menggunakan nomor baru yang sengaja dibelinya untuk mengirim pesan pada Ambar.


***


Sandra menutup panggilan telepon dari Wisnu, begitu sang cucu memberi kabar bahwa dia akan menemui Ambar dan mencoba kembali meminta restu.


Wanita yang tidak lagi muda itu segera saja bertolak ke rumah putranya. Tidak ada yang melihat kedatangannya di kediaman sang putra yang tak lain ayah dari Wisnu.


Saat mendengar suara Wisnu, Sandra keluar dari kamar yang selalu dia dan suaminya tempati bila berkunjung atau meginap di kediaman putranya ini.


Mendengar keributan antara Wisnu dan Ambar, membuat Sandra geram. Apalagi ada Helen yang bukan keluarga berada didalam kamar Ambar.


Seperti janjinya pada Wisnu, Sandra akan menyelesaikan masalah restu untuk Alana hari ini juga. Untuk menjalankan rencananya, Sandra mengirim foto dan video kedekatan kedua calon menantu pilihan Ambar itu.


"Kau habis menghubungi Wisnu?" tanya Sandra yang membuat Ambar terkejut.


"Mami!" seru Ambar terkejut karena tidak mengetahui kedatangan ibu mertuanya.


"Kamu baru saja menghubungi Wisnu?" ulang Sandra pertanyaanya.


"Iya Mam." jawab Ambar.


"Mau apa?" tanya Sandra pura-pura tidak tahu.


"Aku mengundang Alana untuk makan malam." jawab Ambar jujur.


"Bagus. Kalau begitu kabari Wisnu, makan malamnya di alihkan di kediaman Mahendra." ucap Sandra.


Tanpa menunggu jawaban dari Ambar, Sandra berlalu dari hadapan menantunya. Tugasnya membuat Ambar menerima Alana sudah selesai. Wanita tua itu pun kembali ke kediamannya sambil menunggu panggilan dari Wisnu.


Senyum bahagia terukir diwajah Sandra. Bukan hanya Wisnu yang dia selamatkan, tapi juga Inaya terbebas dari ikatan pertunangan yang tidak diinginkan oleh cucu perempuannya itu.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...


__ADS_2