
Waktu terus berjalan, tidak terasa tinggal satu minggu lagi pernikahan Alana dan Wisnu akan dilangsungkan. Dan Alana bersyukur, jalannya kali ini untuk membina rumah tangga diberikan kemudahan. Semua tidak terlepas dari bantuan keluarganya dan juga keluarga Wisnu. Khususnya Sandra dan Mahendra.
Tidak sekali dua kali Alana dan Wisnu mendapat gangguan dari Helen dan Amar. Helen masih saja menginginkan Wisnu meski Ambar sudah tidak lagi berpihak padanya. Wanita hampir saja menjebak Wisnu tidur bersamanya. Bukan hanya itu, Helen juga berusaha untuk mencelakai Alana yang dia anggap merebut Amar.
Itu karena Amar menemui Alana dan menyatakan cintanya tepat dihadapan Helen dan juga Luci, dua wanita yang jadi teman tidurnya.
Alana sampai tidak habis pikir dengan orang yang mudahnya menyatakan cinta seperti Amar. Cinta seperti apa yang tubuhnya bisa dia berikan pada siapapun yang menginginkannya. Apalagi Amar hingga detik itu tetap berusaha mempertahankan pertunangannya dengan Inaya.
Pernyataan cinta Amar saat itu memicu kemarahan Helen yang merasa selama ini hanya dirinya yang dicintai Amar. Helen tidak pernah tahu jika selama ini Amar tidur dengan banyak wanita termasuk Luci yang ada dihadapannya ini.
Helen menghina Alana wanita nakal yang menginginkan banyak pria. Jika Alana bersikap santai dengan hinaan itu, tidak dengan Luci.
"Ck, bukanya kamu wanita yang menginginkan banyak pria. Kamu menginginkan mas Wisnu jadi suami kamu. Tapi kamu juga memanfaatkan Amar memuaskan nafsu kamu." sahut Luci membela Alana saat itu.
Walau Luci tidak jauh berbeda dengan Helen yang menginginkan belaian Amar dan juga Aditya. Tapi Luci tidak pernah menghina wanita lain, apalagi wanita baik-baik seperti Alana. Sebagai teman tentu saja Luci tidak terima, meskipun dia bukan istri yang baik untuk Arman.
Dan semua masalah itu terlewati tanpa perlu Alana repot-repot menyelesaikannya. Ada Wisnu dan keluarganya yang turun tangan untuk menyelesaiakn dua orang yang menjadi pengaggu tersebut.
Masalah yang Alana hadapi saat ini tidak sesulit saat Alana akan menikah dengan Abimana. Saat itu selalu saja ada pertentangan dan perdebatan dari hal kecil hingga hal besar. Termasuk kehadiran gadis-gadis yang menjadi pilihan ibu kandung Abimana yang silih berganti menganggu proses persiapan pernikahan mereka.
Meski pada akhirnya semua bisa terlewati dengan penuh perjuangan, dimana Alana harus menguras tenaga dan pikiran seorang diri untuk menghalau rintangan tersebut.
Kali ini Alana menghadapinya dengan santai dan penuh ketenangan. Alana menjalaninya dengan berserah diri, mengikuti saja kemana alur akan membawanya. Tidak lagi dipenuhi ambisi untuk sempurna seperti dulu. Karena Alana sadar, kesempurnaan itu hanyalah milik yang kuasa, yang memberikannya kehidupan.
Setelah Alana pikir-pikir, mungkin saja begitu banyaknya halangan saat dia akan menikah itu sebagai pertanda agar dia tidak melanjutkan pernikahan tersebut. Namun ego Alana yang pernah dipermalukan saat bertunangan dengan Naren, memaksa Alana untuk meneruskan rencana pernikahannya dengan Abimana yang pada akhirnya berakhir dengan perceraian.
__ADS_1
Semua peristiwa itu menjadi sebuah proses panjang, menjadikan Alana bisa memiliki hati dan jiwa yang lapang. Proses pendewasaan yang belum tentu bisa dilewati oleh semua orang. Alana akhirnya menemukan kunci utamanya, yaitu memaafkan.
Diawali dengan Alana memberi maaf atas segala kesalahan yang penah dirinya sendiri lakukan. Bicara dengan dirinya sendiri, apa yang dia butuh dan inginkan. Dan jawabannya adalah ketenangan dan kebahagiaan.
Untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan itu. Alana harus bisa menerima dan memaafkan mereka yang pernah menyakiti dan melakukan kesalahan pada Alana. Calon istri Wisnu itu pun melakukannya. Dan seperti inilah dirinya saat ini. Menikmati hidup penuh ketenangan dan selalu berpikir positif atas segala yang terjadi.
Balik kepersiapan pernikahan. Semua persiapan Alana serahkan pada oma Sandra. Nenek dari Wisnu itu sangat antusias dengan acara ini, sehingga dengan senang hati dia mengurus semuanya dibantu Ambar yang semakin hari semakin bisa menerina Alana dan Arkana.
Sementara Alana, dia hanya direpotkan untuk membuat gaun pengantinnya sendiri. Dibantu Luci, Alana mewujudkan gaun impiannya yang tidak terwujud saat menikah dengan Abimana. Apa lagi kalau bukan karena ulah ibu kandung Abimana. Dan hari ini, Alana melakukan fitting baju hasil karyanya sendiri.
"Sempurna Al. Begini saja kamu udah cantik banget. Apalagi nanti di hari H." ucap Luci yang menemani Alana diruangan ibu Arkana itu.
Alana melihat Luci dari pantulan kaca, "Ini berkat kamu Lu. Makasih ya." ucap Alana tulus.
Seperti apapun kehidupan Luci diluar sana, istri Arman itu tetap bekerja dengan baik dan profesional di butiknya. Jadi, tidak ada alasan bagi Alana untuk memecat asistennya itu.
Luci mengangguk, "Sama-sama Al. Aku ikut bahagia." balas Luci menatap Alana dari pantulan kaca, karena calon istri Wisnu itu masih memperhatikan dirinya sendiri di depan kaca besar yang ada diruangan Alana.
"Al!" panggil Luci, membuat Alana berbalik untuk menghadap Luci secara langsung.
"Apa masih ada yang diperlukan lagi?" tanya Alana yang mengira Luci memanggilnya untuk membahas gaun pernikahannya.
"Itu sudah sangat sempurna. Seperti dirimu yang juga sempurna." jawab Luci, membuat Alana menautkan alisnya.
"Aku hanya manusia biasa, bagaimana bisa kamu bilang aku sempurna?" ujar Alana.
__ADS_1
"Kamu dan kebahagiaan kamu saat ini Al. Aku juga ingin merasakan itu." balas Luci.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?" tanya Alana yang tidak ingin Luci berkelit lagi.
Luci tidak menjawab. Asisten Alana itu lebih memilih membantu Alana melepaskan gaun pengantin yang Alana kenakan. Luci akan menyelesaikan jahitannya setelah ini. Barulah gaun itu bisa Alana kenakan dihari pernikahannya.
Melihat Luci yang diam, Alana tidak akan memaksa. Luci tidak berbagi, berarti wanita itu masih bisa mengatasi masalahnya sendiri. Alana pun melanjutkan aktifitasnya untuk berganti pakaian.
"Aku dan Arman dalam proses perceraian." ucap Luci begitu Alana sudah duduk di kursi kerjanya. Alana yang tadinya ingin memeriksa laporan penjualan menghentikan tujuannya dan mengajak Luci untuk duduk di sofa.
"Jika itu yang terbaik, aku mendukung." ucap Alana menanggapi ucapan Luci. Bukankah itu lebih baik dari pada terikat dalam ikatan rumah tangga tapi mereka sama-sama mencari kepuasan diluar sana. Bukankah itu sama saja saling menyakiti?
Awalnya Alana mengira Lucilah yang jahat dalam hubungan pernikahannya dengan Arman. Luci bermain gila dengan Aditya dan juga Amar. Tapi Tuhan seolah menunjukkan pada Alana, suami seperti apa Arman itu.
Dengan mata kepala sendiri, Alana menyaksikan Arman tengah bertukar saliva dengan wanita lain, tepat didepan pintu sebuah apartemen. Dan Alana bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi begitu keduanya masuk kedalam apartemen itu tanpa melepaskan tautan mereka.
Selang beberapa hari, Alana kembali bertemu Arman dengan wanita lain disebuah hotel. Saat itu Alana bersama Sandra tengah mengecek ball room yang akan mereka gunakan untuk resepsi. Dan gilanya, tidak hanya satu wanita yang memeluk lengan Arman, tapi dua. Alana sampai menggeleng tidak percaya, Arman seolah sudah biasa dengan hal seperti ini. Alana yang jiwa keponya memberontak mengikuti Arman yang membawa keduanya masuk kekamar hotel.
Dan sejak hari itu, Alana tidak lagi melihat Luci sebagai tokoh jahat dalam rumah tangganya. Dalam hati Alana bersyukur dipertemukan kembali dengan Wisnu disaat dia rapuh. Alana berharap pernikahannya kali ini adalah pernikahan yang terakhir dan untuk selamanya.
"Kamu tidak ingin tahu apa penyebabnya Al?" tanya Luci heran.
Alana menggeleng, "Aku tidak perlu tahu sejauh itu. Tapi aku yakin, bukan hanya satu malam kamu memikirkanya hingga pada keputusan ini."
Dari jawaban Alana, Luci yakin Alana tahu apa yang terjadi pada rumah tangganya. Tapi Alana selama ini hanya diam saja. Luci merasa bodoh, mengira Alana tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...