
Apalah arti sebuah panggilan tapi dengan panggilan itu kita bisa membedakan satu dan lainya.
" nay bisa ngga kamu ganti panggilan kamu buat aku, apa kek yang enak kan gitu..!!" Naya berbalik melihat Arya.
" terus mau nya di panggil apa papah??? Kaka??? atau kakek sekalian??? kita belum sedekat itu untuk saya memberikan panggilan lain untuk bapak, tapi jika saya pikir pikir panggilan bapak sangat cocok untuk anda, anda tau kenapa???" Arya menggeleng.
" satu .. anda sudah punya anak yang sekarang usianya udah empat tahun,
dua... anda rekanan ayah saya
yang ketiga dan ini sangat penting.. " wajah Naya di buat seserius mungkin untuk membuat Arya tambah penasaran.
" apa.."
" anda lebih tua dari saya jadi wajar jika saya memanggil anda dengan sebutan Bapak.." ucap Naya sambil menjulurkan lidahnya. Arya yang mendengar jawaban terakhir dari Arya hanya tersenyum.
Arya melangkah keluar dari kamar Naya dan Aya menuju kamarnya namun sebelum menutup pintu Arya menarik tangan Naya yang berada tepat di belakangnya menuju ke kamar yang ada di samping kamar aya. naya yang tidak siap hanya bisa mengikuti kemana Arya membawa nya tapi kini Naya takut karena Arya membawa ke kamarnya dan mengunci kamar itu.
" pak ... bapak kenapa sih .. sini kuncinya nay mau keluar...! " ucap Naya sambil menengadahkan tangannya meminta kunci pada Arya terlihat wajah ketakutan di mata Naya.
" aku ngga akan macam macam hanya satu macam..." ucap Arya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Naya.
" apa??? jangan macam macam ya.." Naya reflek menyilangkan tangan di dadanya.
" da damu baru tumbuh tidak akan membuat aku kenyang.." ucap ambigu Arya.
" ok kita bicara serius... ini tentang hubungan kita kedepannya dan ini tentang pernikahan kita " Arya menatap Naya dan menuntunnya duduk di atas tempat tidur nya.
" bisa ngga kita bicarakan ini di luar nay ngga nyaman.." Arya memutar bola mata ya melihat Naya yang masih belum percaya padanya.
" Naya dengar aku, cukup sekali aku melakukan kesalahan jadi aku tidak ingin ada Aya Aya yang lain " Naya hanya diam dan berusaha membuat dirinya nyaman berada dekat dengan Arya.
" ok soal pernikahan, kita akan melangsungkan pernikahan kita satu Minggu lagi kita hanya akan menikah di KUA dan jika kamu mau resepsi kita bisa memikirkan nya setelah menikah ok.." Naya hanya mengangguk
__ADS_1
" dan untuk hubungan kita setelah menikah, aku tidak akan menyentuh mu jika memang kamu tidak mengijinkannya, walaupun nanti secara hukum dan Agama kamu istriku tapi aku akan berusaha menghormati keinginanmu..." ucap Arya meyakinkan Naya.
" terus kalo soal tidur gimana??? " Naya bingung setelah menikah apa harus satu kamar sama Arya atau sana Aya.
" kalo menurut ku lebih baik kita satu kamar agar Aya yakin kita menjalani pernikahan bukan karena terpaksa.
" memang terpaksa kan??? Naya menimpali
" nay saya serius... " naya hanya diam.
" soal orang tua kamu.. aku harap kamu tidak memberitahu bahwa kamu terpaksa menikahi ku dan menerima Aya..!"
" kalo soal Aya aku ikhlas ... tapi untuk kita aku rasa perlu waktu untuk menerima kenyataan tapi tenang saja aku ngga akan kasih tau ayah sama ibu selama kamu menghormati pernikahan kita.." ucap Naya tegas.
" baik lah aku rasa cukup, jadi malam ini kamu mau tidur di sini atau di kamar Aya.." ucap Arya sembari menggoda Naya.
" di kamar Aya lah... mana sini kuncinya.." Arya memberikan kunci kamarnya pada Naya agar Naya bisa keluar karena sebenarnya dirinya sangat lelah.
naya langsung keluar dari kamar Arya sambil memegang dadanya... bagaimana pun dirinya masih gadis, masih sangat minim pengalaman tentang urusan yang seperti itu meskipun Arya tidak melakukan apapun padanya tapi berasa dalam ruang tertutup bersama seorang laki laki tidak pernah Naya alami bahkan dalam bayangan pun tidak.
pagi terasa begitu cepat baru saja naya memejamkan matanya Aya sudah membangun kannya.
" mah bangun... sarapan yu Aya lapar.." Naya mencoba membuka mata meski masih terasa sangat berat.
"iya sayang.. mamah bangun.. tapi mamah mandi dulu ya biar seger dan wangi ok " setelah mengucapkan itu Naya langsung turun menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu, sedang Aya memilih turun.
"" Aya mamah Naya dimana?? ucap Arya pada anaknya...
" mamah masih di kamar .." belum selesai Aya bicara Arya memasuki kamar naya berbarengan dengan Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuh nya.
" arhhh..... ih bapak mesum.... masuk kamar anak gadis ngga bilang bilang... keluar ga... nay mau pake baju..." Arya langsung berbalik dengan muka yang merah padam, malu tentu saja tapi pemandangan didepan matanya yang sempat terlihat di luar ekspektasi nya.
bagaimana tidak semalam iya sendiri yang bilang jika buah milik Naya masih dalam pertumbuhan, walau tidak terlihat jelas tapi Arya yakin bahwa buah milik Naya walau hanya sebelah harus di pegang dua tangan.
__ADS_1
Ya meski tubuh Naya kecil mungil tapi jangan salah buah milik Naya lebih besar dari gadis gadis seusianya.
Arya menggeleng membersihkan otaknya yang mulai tidak beres jika terus berdekatan dengan Naya.
' semoga aku bisa menahan diri naya jika kita udah nikah nanti...aku hanya laki laki normal yang pernah merasakan itu walau hanya sekali dan di luar kesadaran ku...'
" yah... mamah kemana kok ngga ikut turun.. " tanya Aya saat ayahnya sudah duduk di kursi meja makan.
" mamah Naya lagi pake baju tunggu ya...," Arya tersenyum setelah mengatakan itu pada Aya.
" bi.. bi mur... sarapannya mana..?? " ucap Arya saat melihat di meja makan belum tersedia sarapan untuk nya.
" iya pak..." bi murni atau yang sering di panggil bi mur segera menghidangkan sarapan untuk tuan dan nona mudanya.
tak tak tak
terdengar langkah nay saat menuruni tangga dengan celana hotpants dipadu kaos oblong kesukaannya jika sedang di rumah, membuat Arya tak berkedip terlebih saat melihat kaos oblong yang di pakai Naya.. karena pakaian itu dirinya sempat tertipu ( makanya jangan sembarangan ngomong, sekalinya ngga sengaja liat aslinya kebayang bayang terus kan ).
" ehmmm.." suara Naya membuyarkan lamunan Arya tentang Naya.
" bi mur kenalkan ini Naya insyaallah akan jadi istri saya dan ibu untuk aya " ucap Arya pada bi mur.
" Naya ini bik mur yang bantu bantu di rumah ini.. " Naya bersalaman pada bik mur.
" silahkan non sarapan.." bibi ngga tau non biasanya sarapan apa.."
" tenang BI Naya pemakan segala..." Aya dan Arya hanya tersenyum mendengar jawaban naya
" sayang.......
✍️✍️✍️✍️ siapa yang datang pagi pagi... manggil manggil sayang lagi...🤔🤔
pantengin terus ya ceritanya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi UP nya
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha 😘😘 lebih semangat lagi UP nya
love you moreeeee 😍😍🌹