
Apa yang harus di lakukan jika masalalu datang kembali, mengusik hidup tenang dengan manawarkan kenangan indah yang dulu pernah menjadi impian, tapi setelah perpisahan impian indah itu hanya lah angan semu yang tidak akan menjadi nyata
Lantas bagaimana jika hadirnya masa lalu itu malah membuka luka baru di perasaan yang lain.
Ingin mengelak, namun nyatanya masih ada rasa di sana, rasa yang tersimpan jauh di lubuk hati paling dalam.
Siyapa yang akan di salah kan dalam situasi seperti ini, apa masa lalu yang hadir kembali atau justru si penyimpanan rasa yang enggan untuk melepaskan
Entah lah, satu yang pasti , akan ada orang tersakiti hatinya, terluka perasaannya, bimbang pikiranannya,
Memilih untuk tetap bertahan atau pergi meninggalkan.
............
Pasutri yang asik memasang itu lekas berlari menuju kamar sang putra setelah mendengar suara tangisan cukup kencang dari lantai 2.
"Kenapa sayang"
Naera mengendong kai yang masih terisak, tubuhnya masih panas tapi tidak sepanas sebelumnya.
Naera menenangkan kai di dalam dekapan nya , Vin juga ikut berdiri di samping Naera mengusap pucuk kepala sang putra.
"Kai mimpi buruk" tanya Vin
Kai hanya mengangguk dengan tangan melingkar di leher Naera
"Yo kita tidur lagi"
Naera kembali menidurkan kai di ranjang, Naera juga ikut berbaring di samping kai.
Sedangkan Vin turun ke bawah membersihkan bekas makan mereka tadi. Sebelum pergi, Vin mengecup singkat pucuk kepala kai, mengusap pelan wajah kai yang memerah karena panas, Vin juga mengusap pelan pucuk kepala sang istri
Dua orang kesayangan Vin, yang akan terus vin jaga, jika mereka terluka Vin juga akan merasakan sakit karena nya. Sekarang mereka lah dunia Vin
Selesai dengan urusan dapur kai kembali kekamar kai, memastikan dua orang kesayangan nya itu sudah terlelap. Vin hanya berdiri di depan pintu enggan mendekat segenap Vin ingin ikut bergabung, tidur di samping Naera, tapi pekerjaan kantor yang ia tinggalkan tadi pagi menjadi penghalang nya.
Setelah memastikan kai, Vin kembali ke kamarnya, memakai kaca mata sebelum membuka laptop miliknya.
Detik demi detik berlalu, menit kini berubah menjadi jam. Vin masih berkutat dengan laptop didepannya.
"Vin, kenapa belum tidur"
Suara Naera membuat fokus Vin teralihkan, Vin melepas kacamata kerjanya, setelah melihat Naera mendekati
"Masih banyak pekerjaan, banyak laporan yang harus di selesaikan"
"Istirahat Vin, ini sudah larut"
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai"
Naera menarik nafas kasar, ini lah Vin, jika sudah berurusan dengan pekerjaan, bisa lupa waktu yang penting pekerjaan nya selesai tepat waktu .
Naera ikut duduk di samping Vin, memperhatikan suaminya bekerja, padahal jelas dia lelah , mengantuk
"Sana nae tidur"
Naera menggeleng "kamu tidur aku tidur "
"Ok , aku juga ga keberatan ko kalo di temani"
Bukan ini yang sebenarnya Yang Nara inginkan, dia berharap Vin mengajaknya tidur setelah mengucapkan hal itu. Tapi justru malah kebalikannya.
Vin terus berkutat dengan pekerjaan nya fokus nya tidak sama sekali teralihkan, Naera juga hanya menatap Vin karena sudah sangat membantu tapi karena sama sama keras kepala tidak ada yang ingin mengajak untuk tidur lebih dulu.
Sampai akhirnya Naera bersandar di bahu Vin dan mulai masuk ke alam mimpi dengan tangan meremas ujung baju Vin terlihat seperti seorang anak yang lagi manja dengan ayahnya
Vin yang sadar cepat mematikan laptop nya melepas kacamata, meletakan nya di laci penyimpanan. Berusaha tidak terlalu bergerak takut kalo Naera bangun
Vin mengangkut tubuh Naera untuk diletakkan di tempat tidur. Mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur di samping Naera tetap menyala.
Vin ikut bergabung di samping Naera , membenarkan posisi selimut untuk menutupi tubuh lelah mereka.
Sampai akhirnya Vin juga ikut masuk kedalam mimpi.
............
Karena wajahnya tepat menghadap jendela kamar, dan sinar mentari tepat menerpa wajahnya.
Perlahan Naera mulai mengumpulkan nyawanya, bangun dari posisi tidur nya, entah berapa kali Naera terbangun tadi malam hanya untuk sekedar memastikan kai tidak terjaga. Atau untuk sekarang mengganti kompres di dahi sang putra
Naera mengikat asal rambutnya. Turun lebih dulu sebelum membangunkan Vin yang ternyata juga kesiangan.
Setelah selesai membersihkan diri , Naera membangun kan Vin yang ternyata juga sudah bangun sejak tadi tapi masih pada posisi tidur
" Sudah bangun Vin"
Vin mengangguk memeluk pinggang ramping Naera,
"Nae"
"Hem"
"Kenapa badan kamu kayanya ringan banget , tadi malam aku ngangkat kamu , aku rasa satu tangan cukup deh buat pindahin kamu"
"Masa sih Vin, aku rasa berat badanku tetap sama ko"
__ADS_1
Naera berucap dengan tangan menyisir lembut rambut Vin, terlihat memang dari jari tangan nya yang lebih kurus dari sebelumnya.
"Kamu ga usah diet diet nae, aku suka kamu apa adanya"
"Siyapa yang diet Vin, aku juga ga ada niat, mungkin emang nafsu makan ku aja yang lagi turun"
"Bangun Vin , kamu harus ke kantor" lanjut Naera"
......................
Naera duduk di depan cermin setelah Vin berangkat ke kantor. Naera menatap setiap inci wajahnya memang sedikit lebih tirus, bahkan terlihat jelas cekungan di kedua sisi wajahnya.
Naera menatap kosong kearah cermin, tetesan bulir bening kini jatuh dari pelupuk matanya.
Pikiran nya berkecamuk setelah apa yang di ucapkan Vin tadi pagi.
Perasaan takut memang sudah meneror nya perasaan takut kehilangan sama besarnya dengan perasaan takut meninggalkan
Naera menjatuhkan wajahnya di atas meja rias dengan tangan sebagai sanggahan
Terdengar isakan kecil dari Naera.
..............
Naera menyiapkan sarapan untuk kai, bubur dengan berbagai macam sayur yang sehat menjadi pilihan Naera
Naera membawa nampan berisi satu mangkuk bubur dengan air putih hangat ke kamar kai
"Anak mamah makan dulu Yo "
"Kai ,makan Yo nak"
"Kai"
Tidak ada respon dari kai, Naera membalik Wajah kai, terkejut nya Naera melihat wajah anaknya yang semakin merah, keringat dingin bercucuran dari dahi kai, panas yang sempat turun kini naik lagi malah lebih panas dari sebelumnya
Naera dengan cepat mengambil ponsel dari kamarnya, menghubungi Vin tapi tidak ada respon.
Naera kembali ke kamar kai mengendong anaknya , tidak ada pilihan Naera harus membawa kai kerumah sakit sendiri.
Kai seakan pingsan, dia hanya menutup mata tapi terdengar keluhan kecil keluar dari bibir mungilnya.
Jangan tanya sekarang bagaimana kawatir nya Naera sekarang,
"Kai, kamu dengar mamah kan sayang"
..............
__ADS_1