
...Kejadian terburuk di masalalu akan menjadi kenangan menyakitkan di masa depan...
Apalagi orang yang kita percayai melukai kepercayaan itu, orang yang kita percayai menyakiti orang yang kita sayangi
Jika dapat memilih, jelas orang yang ada di antara situasi pelik itu tidak akan bisa menentukan pilihannya
Orang yang sudah dipercaya , orang yang di sanjung, orang yang dijadikan panutan atau orang baru tapi memiliki tempat tersendiri di hati
.........
Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat , naera mulai bersiap siap karena sebentar lagi Vin akan menjemputnya, Naera juga menyimpan baju ganti untuk Vin, memanaskan makanan yang tadi ia buat , sekarang tinggal menunggu Vin
Naera bergegas keluar membukakan pintu karena terdengar suara mobil yang mendekati rumah nya
Naera membuka pintunya tapi bukan mobil Vin yang dia lihat, Naera pikir Vin memakai mobil yang ada di rumah nya tidak ada rasa curiga Naera turun membukakan pagar tanpa tau siyapa yang datang kerumahnya
Naera kembali menutup pagar rumah menunggu seseorang yang tadi ia anggap Vin turun dari mobilnya
"Vin aku sudah siapkan air mau mandi ata....."
Mata Naera membola sempurna, ucapannya terhenti, dadanya naik turun pasokan udara seakan menghilang di sekitar Naera. Perlahan Naera mundur , dengan keadaan kacau
Sedangkan Jen yang tadi turun dari mobilnya, menyunggingkan senyum aneh kearah Naera , mendekat mengikis jarak di antara mereka
"Kenapa nae, apa aku terlihat menakutkan" tanya Jen
Naera menggeleng ingin menjawab tapi kerongkongannya seakan kelu. Yang bisa Naera lakukan hanya mundur
"Jangan mundur terus nae kamu bisa jatuh"
Belum 30 Detik Jen menyelesaikan ucapannya, Naera tersandung kakinya sendiri
Jen dengan jarak hanya 1 meter dari Naera dengan cepat menahan Naera dengan memegang pinggang wanita itu, merasakan sentuhan dari Kaka iparnya tubuh Nara seperti membeku seketika, aliran darah di dalam dirinya berhenti, belum lagi senyuman aneh yang selalu di perlihatkan Kaka iparnya.
Wajah Naera semakin pucat, tubuhnya bergetar tidak sanggup menerima sentuhan Tiba tiba dari sang ipar
"Naera"
Suara lantang Vin menggema di telinga kedua orang yang masih dengan posisi setengah berpelukan.
Jen yang sadar lekas melepaskan tangannya dari pinggang ramping Naera.
Sedangkan Naera seperti tidak memiliki tulang lagi di kakinya, tubuhnya ambruk terduduk di depan Jen.
Jangan tanya seberapa pucat wajah Naera sekarang, tatapan nya kosong Bahkan panggilan Vin tidak ia hiraukan lagi
Vin membuka pagar rumah nya, berjalan mendekati Naera, menatap sang Kaka yang berdiri angkuh dengan tangan yang masuk ke dalam saku celananya.
"Nae, tenang,ada aku "
Vin memeluk Naera, mengusap rambutnya , memberikan ketenangan di sana, sampai terdengar nafas Naera yang tadi tidak beraturan kembali terdengar normal, tangan yang tadi terkulai lemas ta bertulang terangkat untuk membalas pelukan sang suami. Vin perlahan melepaskan pelukannya
Menatap dalam wajah Naera yang begitu pucat.
Vin membantu Naera berdiri, dan berjalan memasuki rumah nya tanpa memperdulikan Jen di sana
"Vin , kamu tidak mengajak kakakmu masuk"
Langkah Vin terhenti, berucap tanpa mau menatap sang Kaka
__ADS_1
"Kaka pulang aja , mamah mau kerumah sakit, nanti kami nyusul"
Perkata an Vin jelas meminta Jen untuk angkat kaki dari rumah nya , dengan cara sehalus mungkin. Jen yang paham, masuk kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Vin
............
"Minum dulu nae" Vin memberikan air untuk Naera yang masih diam enggan membuka mulutnya
Air mata entah kenapa kini jatuh membasahi wajah cantik nya, Naera tidak terisak di dalam tangisnya hanya saja air mata yang jatuh itu menandakan kalo Naera mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu
Kejadian yang benar benar membuatnya trauma.
Vin kembali memeluk istrinya, mengecup pucuk kepala Naera, tangannya terulur mengusap punggungnya,
"Maaf ,aku telat"
Naera semakin mengeratkan pelukannya seakan takut Vin meninggalkan nya.
"Jangan Tinggalkan aku Vin"
"Iya, aku disini, jangan takut"
.........
Di dalam mobil yang melaju Naera Hanya duduk, biyasanya Naera akan terus mengajak Vin ngobrol ada aja topik yang dia bahas yang penting suasana mobil tidak hening. Tapi beda dengan sekarang Naera Hanya diam sesekali Vin bisa mendengar helaan nafas yang nafas panjang Naera.
Vin mencoba mengajak Naera mengalihkan pikiran nya dari kejadian tadi pagi tapi Naera belum juga bisa melupakannya
Vin meraih tangan Naera, membuat sang empu menoleh menatap nya , Vin juga menatap Naera , memberikan senyuman di wajahnya, berharap Naera bisa menyingkirkan pikiran pikiran aneh di kepala nya
...
Naera kebingungan dengan ucapannya Vin ,
"Pacaran?"
"Iya, kita jalan jalan berdua"
"Boleh" Naera mengangguk
"Tapi ka erasa" lanjut Naera
"Kita ga usah ke rumah sakit , ka Ersa cuman keseleo bukan patah tulang"
"Husst, mulut kamu Vin"
"Mamah aja yang melebih lebihkan, kamu mau kemana"
"Terserah kamu aja Vin ,aku ikut aja"
........
Mereka sampai di tempat perbelanjaan terbesar di Jakarta, selesai memarkan mobil Vin mengandeng tangan Naera masuk ke dalam mall
Mereka seperti sepasang muda mudi yang sedang menghabiskan waktu berdua, padahal mereka suami istri yang sudah memiliki anak
Pasangan itu menarik perhatian pengunjung lain , apa lagi gadis gadis remaja yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka, gadis gadis itu mengangumi sosok Vin yang begitu memikat, siyapa yang tidak terpikat dengan seorang kevin areksa.
Mereka yang melihat nya mana percaya kalo seorang Kevin sudah memiliki seorang putri yang mengemas kan
__ADS_1
Naera cemberut melihat Vin yang membalas senyuman gadis yang di berikan pada suaminya, sesekali Vin juga membalas sapaan dari mereka.
Vin sadar kalo wanita nya cemburu, Vin semakin gencar menggoda Naera
"Kenapa cemberut, cantiknya hilang Lo"
"Jangan ganjen Vin , ingat kamu sudah punya anak umur 4 tahun " Naera menekankan setiap kalimat yang dia ucapkan
"Yahh, siyapa yang ganjen coba"
"Kalo ada yang nyapa, ga usah di ladenin"
Vin tersenyum puas susah memang membuat Naera mengakui kalo dia sedang cemburu, harus ada kejahilan sedikit di sana
"Laah, nanti mereka kira aku Sombong sayang"
Naera berdecak kesal, padahal gampang Naera tinggal bilang cemburu masalah selesai
"Kenapa, kamu cemburu ya"tanya Vin lagi
"Bukan cemburu cuman ga suka"
"Apa bedanya cemburu sama ga suka"
"Isss, Vin " Naera benar benar kesal, Naera memukul lengan Vin cukup kuat sedangkan Vin tersenyum puas
"Bilang aja cemburu, ga papa ko"
"Ya ,aku cemburu jika wanita lain menatap suamiku puas, rasanya aku ingin mencakar Siyapa aja yang berani menyapa mu dengan tatapan kagum"
Vin terkekeh, mendengarkan pengakuan naera, gemas sendiri dengan tingkah istrinya
"Iya lah, mereka kagum kan aku ganteng begini, siyapa yang mau nolak"
"Udah deh Vin"
Vin tersenyum mencubit pelan hidung mancung Naera.
"Ok ok, cantiknya aku mau Kemana"
"Terserah"
"Lah ngambek"
"Tau ah males"
mereka hanya berkeliling melewati toko demi toko, sampai akhirnya mereka melewati deretan toko yang menjual peralatan bayi menggemaskan.
"Nae, liat deh sepatu coklat itu lucu "
"Iyaa, anak kita udah gede mana muat sama sepatu bayi itu"
"Buat adiknya kan muat"
Ucapan Vin membuat Naera tersedak minuman nya sendiri.
"Engga papa"
Naera mengangguk masih kikuk dengan ucapan Vin
__ADS_1