
Naera berjalan dengan sedikit gugup karena kejadian beberapa waktu lalu di ruangannya , sebenarnya naera masih tidak ingin bertemu Daffa karena kejadian tadi malam , tapi mau tidak mau naera harus segera menyerahkan berkas yang sudah ia selesaikan untuk di tandatangani Daffa.
" masuk" naera berusaha menetralkan degup jantungnya yang sudah tidak karuan.
"Ini daf berkas-berkasnya" pria itu hanya mengangguk tanpa mau menatap wajah Naera.
"kalo gitu aku keluar dulu daf"
"duduk"
"haa"
"duduk" Daffa mengulang perintahnya
"ini laporan bulanan juga sudah kamu rekap kan ?"
"iyaa semuanya sudah ada di sana daf, tinggal tanda tangan kamu aja"
"ok"
Daffa membolak-balik laporan itu, memeriksa dengan teliti satu persatu tulisan yang ada di sana, sedangkan Naera jadi bingung kenapa Daffa memintanya duduk tapi justru di abaikan.
"Daf ada lagi, kalo nggak ada aku mau kembali ke ruangan" daffa akhirnya mengangkat wajahnya, meletakkan pen yang ia gunakan, Daffa menatap dalam manik naera yang kebingungan.
"kenapa?"
"kenapa?' naera mengerutkan keningnya bingung dengan pernyataan daffa
"kenapa kamu nggak pernah bilang kalo kamu masih seorang istri " deg pertanyaan itu yang selalu ia hindari.
lagi lagi Naera kesulitan menelan salivanya
"maaf daf, tapi di CV sudah aku tulis kalo aku wanita yang bersuami"
benar, naera memang menulis jelas biodatanya di sana, tapi karena naera rekomendasi dari jehan, teman kepercayaan daffa, jadi daffa Tanpa ragu menerimanya sebagai sekertaris pribadi karena daffa yakin Jehan tidak akan sembarang memintanya menerima naera di perusahaannya.
naera bisa dengan jelas me dengar helaan nafas prustasi dari Daffa
__ADS_1
"Iya memang semua memang salahku, seharusnya dari awal aku nggak pernah jatuh cinta dengan istri orang"
deg
mata Naera membola sempurna, ia tidak tau harus memberikan respon seperti apa untuk Daffa.
"iya nae, iyaa, aku mencintaimu nae, sudah lama aku ku pendam rasa ini untuk mu, sudah lama aku menyimpan rasa ini untuk mu, aku tahan sampai menemukan waktu yang pas" daffa berhenti, ia menunduk menatap laporan yang masih terbuka di hadapannya, sudut bibirnya terangkat menciptakan senyum miris di wajahnya
" tapi justru kenyataan pahit yang aku dapatkan, kau masih lah istri orang" Daffa mengangkat wajahnya, menatap Naera yang bungkam mendengar pengakuannya.
Daffa meraih jemari naera yang saling bertaut di atas meja, ia genggam tangan dingin itu, Tanpa ada penolakan dari Naera.
"apa boleh aku cemburu dengannya, apa pantas aku jujur kalo aku nggak Suka melihat dia dekat dengan mu"
Daffa berdiri, berpindah jadi berdiri di hadapan Naera yang juga ikut berdiri. daffa meletakkan tangan Naera di depan dadanya,
"apa kau merasakannya nae"
"Hem, apa kau bisa merasakan betapa gilanya jantungku berdetak saat dekat dengan mu"
Daffa mengikis jarak di antara mereka, ia tidak lagi dapat menahan sakit di hatinya, setelah tau wanita yang ia kasihi masih sah milik orang, hilang semua harapan Daffa untuk bisa hidup bahagia dengan Naera.
sedangkan Naera, wanita itu seakan linglung, ia tidak tau seperti apa merespon semuanya, naera membeku di tempatnya, mengangkat tangan untuk mendorong tubuh Daffa pun rasanya naera tidak mampu.
Daffa mengelus rambut naera, tanpa wanita itu tau Daffa menangis dalam diam.
"d__daf" Daffa mengurangi pelukannya, menatap dalam wajah Naera. Daffa memiringkan kepalanya mengikis jarak antara wajah mereka, tapi Naera dengan cepat menjauh dari hadapan Daffa
"ma__maaf daf, aku harus jemput kai" naera tidak menunggu jawaban dari Daffa, ia keluar dari ruangan Daffa, meninggalkan pria itu yang masih diam di tempatnya.
...
hari ini Naera yang tiba lebih dulu untuk menjemput kai, naera duduk di tempat sama seperti semalam, pikirannya kalut, ia bingung bagaimana ia harus menghadapi Daffa setelah semua pengakuan Daffa padanya, rasanya naera ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya, terlalu berat jika harus bertatap mata dengan Daffa apa lagi harus berada di dekatnya seperti biasa.
naera menunduk memandangi tangannya yang saling bertaut, tanpa ia sadari Vin sejak tadi sudah duduk di sampingnya.
"nae" naera kaget mendengar panggilan Vin, padahal Vin biasa saja
__ADS_1
"Astaga Vin, kau hampir membuat ku terkena serangan jantung
Vin mengerutkan keningnya, menatap dalam wajah Naera, Vin sudah lama mengenal naera, mereka hidup sebagai sepasang suami istri dalam waktu yang lama, Vin tau betul ada sesuatu yang sedang wanita di sebelahnya ini pikiran, masalah pernikahan mereka? hal itu sudah jelas.
"kamu kenapa, ada masalah"
"hah"
"kenapa?, ada masalah"
"enggak ko, di kantor banyak kerjaan aja"
"emm"
Hening sesaat, kemudian Vin kembali berucap
"kita hidup bersama , satu atap, tidur, makan, bersama, cukup lama nae, aku bisa mengerti dari wajah mu saja, tanpa kau katakan, aku mengerti ada yang sedang mengganjal di pikiran mu"
"Vin, ti____" ucapan Naera terpotong, Vin lebih dulu menyanggahnya, mengulang apa yang akan naera ucapkan.
"Tidak seharusnya kau harus tau semua tentang ku Vin, hubungan kita sekarang, berbeda" Vin hafal betul kalimat yang selalu naera ucapkan. Vin tertawa hambar di samping Naera yang keheranan melihat tingkahnya, belum selesai masalahnya dengan pria di kantor, sekarang Naera harus di hadapkan dengan suami yang akan segera menjadi mantannya ini.
"Aku juga nggak akan tanya nae, kamu tenang aja, aku hanya ingin kau mengubah raut wajah mu itu, pasanglah wajah riang di hadapan anak kita, jangan sampai ia juga bisa merasakan ada yang salah dari ibunya" Vin kemudian berdiri, berlalu meninggalkan naera mendekati anak anak yang mulai berjalan keluar dari kelasnya.
"kai, sini nak" panggil Vin, kai berlari menyambut uluran tangan sang ayah
"anak papah, pasti capek yaa" kai mengangguk di pelukan Vin, Vin tidak menghiraukan naera yang masih duduk di kursi yang sama, ia berlalu begitu saja, baru setelahnya naera mengekor di belakang.
naera sungguh pulang lebih dulu langsung ikut pulang bersama Vin, naera tidak sanggup jika harus bertemu Daffa sekarang.
Vin tidak akan bertanya apapun pada Naera, walaupun sebenarnya di kepalanya sudah di penuhi pertanyaan pertanyaan untuk Naera, tapi Vin tahan sebisa mungkin, vin hanya tidak ingin naera mengulang kata yang sama lagi.
Vin menggendong anaknya yang kelelahan masuk kedalam rumah, sedangkan Naera membawa tas kai.
"Vin kamu sudah makan" Vin menggeleng bersiap kembali ke kantor.
"Mau makan di rumah, aku akan masak kalo kau mau menunggu sebentar ?" Vin mengangguk dan tidak jadi kembali ke kantor.
__ADS_1
naera langsung memasang eproun nya, mengikat asal rambutnya ke atas.
sedangkan Vin lebih memilih masuk ke dalam kamar kai.