
entah lah, naera tidak tau apa keputusannya untuk kembali ke rumah sang mertua adalah pilihan yang tepat, ia takut kejadian satu tahun lalu terulang lagi.
"sayang" Vin memegang kedua bahu wanitanya, naera melihat pantulan wajah Vin dari cermin.
"kalo kamu belum siap, nggak papa, sayang, kita bisa pergi setelah kamu siap" naera menyentuh tangan Vin yang ada di pundaknya, ia menggeleng
"aku siap Vin, aku yakin keputusan ku sudah benar"
"kamu yakin?"
"iyaa"
...
Naeraa menghirup udara rakus, kala mobil Vin sudah terparkir di garasi rumah mewahnya.
"sayang, ayoo" kai lebih dulu berlari masuk, beberapa pelayan datang membantu mereka membawa barang bawaan
"kai jangan lari, nak. kamu bisa jatuh sayang" teriak Vin, tapi di abaikan oleh kai.
"viinn.."
Vin menoleh ke arah sang istri, ia mengerti apa yang wanitanya rasakan, ia raih tangan naera , Vin menyatukan jemari mereka
"tenang ada aku" seperti Dejavu, terakhir kali Vin juga mengatakan kalimat itu, tapi apa... justru Vin yang memberi luka padanya. tapi naera mengangguk, memberikan kepercayaan nya kembali pada Vin
"Vin , naera" keduanya mengalihkan pandangan ke sumber suara, di sana ada keren dan areksa ,kedua paruh baya itu berjalan mendekati mereka
rasa gugup tidak bisa lagi naera sembunyikan, ia menggenggam erat tangan Vin, meskipun naera bisa melihat mertuanya datang dengan membawa senyum untuknya
''naeraa" keren memeluk menantunya, ini kali pertama ia di sambut begitu hangat di rumah mewah milik Vin, perlahan naera melepaskan tautan tangan nya, ia membalas pelukan keren.
"ibu senang banget nak, kamu mau ke sini lagi, mamah sempat takut, kamu nggak mau ketemu mamah lagi"
"ke--kenapa mamah bisa berpikir seperti itu, aku akan terus datang kesini menemui kalian, karena di sini juga rumah orang tua yang begitu aku sayangi " keren mempererat pelukannya, Vin menatap penuh haru kedua wanita kesayangannya, areksa mengusap pucuk kepala Naera.
"sudah mah pelukannya, naera pasti capek, apalagi naera lagi hamil mah"
"Viin, apa an sih" bukannya naera marah Vin memberitahu kehamilannya, tapi ucapan Vin tidak sopan. Berbeda dengan keren wanita itu melepas pelukannya, ia menatap perut naera yang memang sudah sedikit membuncit
"mamah akan dapat cucu lagi"
__ADS_1
"cucu papah juga mah" celetuk areksa merasa tidak di anggap, naera mengangguk antusias
"makasih nak" keren kembali memeluk naera begitu hangat
...
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan, bukan hanya ada Vin dan keluarga nya, di sana juga ada Jen dan istrinya.
Naera menunduk tidak sanggup mengangkat kepalanya, tangannya saling terpaut di bawah meja. Vin yang menyadari gelagat sang istri, menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Naera, Vin menggenggam tangan naera dari bawah meja, naera berpaling memandang wajah Vin dengan anggukan, Vin seakan mengisyaratkan semua akan baik baik saja, naera tersenyum.
"makan yang banyak nak, biar ibu dan anaknya sehat" keren menyendok nasi ke piring naera, naera jadi merasa tidak enak dengan mertuanya
"mah, nggak usah biar nae aja" keren menggeleng dan tetap menyendok nasi juga lauk di sana, berbeda dengan Vin dan keluarga nya, Jen merasa muak ada berada di tengah tengah mereka apalagi setelah tau naera kembali hamil.
"mah pah, aku naik dulu, nggak nafsu makan"
"loh ko, kenapa nak, kamu nggak lapar"
"nggak nafsu mah"
Jen melenggang pergi, mengabaikan panggilan panggilan untuk nya, sesak kembali di rasakan oleh ersa... istri Jen.
"anak itu kenapa lagi sih" gumam keren kembali duduk di samping areksa
"ya udah, kita aja yang makan, cucu kesayangan nenek makan yang banyak juga yah, biar cepat gede dan bisa jagain mamah dan adik nya nanti " kai dengan mulut yang terisi makanan terlihat menggemaskan, kai mengangguk antusias, naera gemas dan mengusap pipi sang anak.
...
"masih mual " Vin membantu naera memijat bagian belakangnya dengan minyak angin, baru saja ia mengisi perutnya dan sekarang harus di muntah kan lagi
"hah, waktu hamil kai aku nggak separah ini kan Vin, aku bisa makan enak ini dan itu, sekarang " keluhan naera keluar setelah isi perutnya keluar semua, berdiri saja kesusahan, kaki nya melemas, naera mencengkram kuat bahu Vin untuk bertumpu, Vin membantu naera berjalan keluar dari sana.
"duduk sini, aku ambilkan minum dulu " naera Mengangguk. tidak lama Vin datang dengan segelas air putih juga mangga yang memang sempat di minta naera.
"minum dulu "
"Makasih Vin" Vin duduk di samping naera, Vin merapikan rambut naera yang lepek karena keringat, Vin juga merapikan jepit rambut naera, tidak lupa Vin mengusap lelehan peluh yang masih terlihat di wajah sang istri.
"sudah enakan"
"emm, mana mangga ku" Vin tersenyum melihat tingkah naera, masih sempat sempat nya ia meminta mangganya.
__ADS_1
"ini" naera dengan lahap memakan mangganya
"pelan pelan, sayang"
"dedek di dalam perut mamah, cewe yak nak" Vin mengusap perut naera yang membuncit
"Kenapa hadirnya dedek agak beda dari Abang kai" lanjut Vin masih setia meletakkan tangan nya di atas perut Naera.
"nggak tau papah, alat kelamin Dedek Belum terlihat" naera berucap menggantikan anaknya, Vin jadi terkekeh mendengar ucapan sang istri, Vin mengacak rambut naera
"besok kita sudah harus pulang, nae"
"besok?"
"Hem"
Meraka sudah satu Minggu di rumah kediaman orang tua Vin, dan besok Vin mengajak istri dan anaknya pulang ke rumah mereka.
"Vin!!"
"iya, kenapa sayang "
naera malah menggeleng, dan bangkit dari duduknya, ingin membawa piring bekasnya ke dapur, tapi Vin menahan pergelangan tangan nya.
Vin ikut berdiri, membalik tubuh sang istri agar menghadapnya, piring yang naera pegang, Vin letakkan di atas nakas
"kenapa? Hem" naera menggeleng dan lebih memilih memeluk suaminya, Vin mengusap punggung sang istri.
"kenapa? mau sesuatu, ada yang nyakitin kamu? naera menggeleng
"terus?"
"aku saya kamu Vin, sayang banget, jangan pernah pergi lagi, Jangan pernah jauh lagi, jangan pernah mengajak aku bercerai lagi Vin, jujur aku nggak sanggup, aku sungguh sangat menyayangi kamu Vin" Vin menutup matanya sesaat, ia paham betul apa yang istrinya rasakan, masih ada rasa takut di hati naera meskipun sudah lama kejadian itu berlalu
"aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama lagi, nae. aku janji, aku juga sangat sangat sangat sayang sama kamu, aku sungguh menderita hidup terpisah dengan kamu nae, separuh hidupku ada dengan mu, aku mencintaimu dan akan selalu seperti itu" Vin mencium pucuk kepala Naera, naera mendongak dengan mata yang berkaca-kaca, ia terharu dan senang, Vin mengusap air mata yang lancang turun ke pipi sang istri.
"ushh, jangan menangis,nae"
"aku cengeng ya Vin"
"iya, cengeng dan manja " kekeh Vin dan kembali memeluk wanitanya erat
__ADS_1
"aku sayang kamu Vin"
"aku juga"