
"nae"
"iyaa kenapa Vin"
"perlu bantuan"
"emm ga usah kamu temani kai main aja"
"kalo aku maksa mau bantu kamu gimana?"
"terserah kamu aja Vin"
Vin tersenyum kemenangan, ia menggulung lembaga baju putihnya hingga kesiku.
"Kamu mau bikin tumis ayam"
"emm"
"bawang nya di Potong kaya biasanya kan"
"iyaa" naera membawa ayam yang sudah ia rebus ke atas meja, naera memotong ayam itu menjadi bagian bagian kecil. sedangkan Vin memotong bawang yang akan di jadikan bumbu.
naera kesulitan bekerja karena rambutnya terlepas dari gulungan, Vin yang melihat itu mencuci terlebih dahulu tangannya, kemudian ia masuk ke dalam kamar mencari kunciran yang biasa Naera pakai.
"Sini aku bantu ikatkan rambut mu"
Vin dengan telaten merapikan rambut naera menggaungkan jari jarinya, Vin tidak menyisakan anakan rambut naera.
"makasih Vin" ucap Naera salah tingkah, ia merasa tidak nyaman karena Vin mengikat rambutnya.
naera memasukkan potongan ayam di atas bumbu yang sudah di tumis, naera dengan mahir memasak ayam tumis kesukaan Vin dan kai.
naera memang sering memasak bumbu yang sama karena Vin juga anaknya begitu menyukai ayam tumis masakannya, Vin duduk di meja makan memperhatikan naera yang membelakanginya, biasanya Vin sangat Suka mengganggu naera saat memasak seperti ini, dan berakhir Vin akan memeluk Naera dari belakang.
tapi semua telah berubah, Vin tidak dapat lagi melakukan hal itu, keluarganya sudah hancur, ia sendiri yang menghancurkan keluarganya.
Vin mengakui itu, entah keberanian dari mana Vin mendekati Naera, ia merindukan momen romantis seperti ini, Vin memeluk Naera dari belakang, hal yang biasa ia lakukan saat Naera memasak, Vin meletakkan kepalanya di celuk leher Naera.
"Vin lepas, aku kesulitan memasak"
"sebentar nae, aku ingin seperti ini dulu"
meski kesusahan mengaduk masakannya, Naera pasrah, di paksa pun Vin tidak akan mendengarnya.
"Kau tidak lelah, pulang kerja langsung masak"
"tidak , aku sudah terbiasa dalam waktu setahun terakhir ini"
"Apa daffa selalu memberikan banyak kerjaan untuk mu"
"Kadang kadang "
"apa yang biasa kau kerjakan"
"laporan, persiapan presentasi, itu aja sih"
__ADS_1
"emm"
"kamu senang bekerja di sana"
"kenapa nanya kaya gitu"
"yaa nggak papa"
"pasti ada alasannya Vin, nggak mungkin tiba tiba ada pertanyaan kalo nggak ada alasannya "
"ok ok"
"apa?"
"sedekat apa kamu dengan Daffa " bukannya menjawab Vin justru memberikan pertanggungjawaban lain
"maksud kamu?"
"iyaa, sedekah apa kamu dengan bos kamu itu, sampai dia nganterin pulang "
"y___ya Deket, sedekat bos dan bawahan "
"oooo"
Tidak ada lagi pertanyaan dari Vin , ia lebih memilih menikmati momen yang mungkin tidak akan terjadi lagi. memeluk Naera , menghirup aroma tubuhnya, mencium pundaknya wanita itu, semuanya Vin suka.
"papah main yuk " teriak kai berhasil membuat Vin melepaskan pelukannya, mereka jadi salah tingkah kedapatan berpelukan dengan anak sendiri.
"papah ko gangguin mamah masak sih, kesian mamah jadi susah masaknya, kan"
Vin mendekati anaknya duduk mensejajarkan tubuhnya dengan kai, Vin merapikan rambut anaknya, sedangkan Naera melanjutkan masakannya
"emm" anak kecil itu meletakkan tangannya di dagu, seolah sedang berpikir layaknya orang dewasa.
"main super Hero,ayah jadi super heronya, kai jadi penjahatnya terus mamah jadi korban "
"mamah nggak bisa nak, mamah lagi masak sayang, kai aja sama papah yaa"
"nggak kai mau main sama mamah juga " anak kecil itu merajuk, melipat tangannya di depan dada, duduk di lantai dengan wajah yang cemberut menggemaskan, naera tidak tahan kalo sudah seperti ini, naera akhirnya mematikan kompornya, dan ikut bergabung dengan anak dan ayah itu.
"ok ok mamah ikut"
"yeeeyy" teriak kai kesenangan.
orang dewasa itu sungguh pandai memainkan peran keluarga harmonis di hadapan anaknya, andai anak itu tau di balik tawa orang tuanya ada Luka yang tersimpan rapi di dalam sana.
Vin berusaha melindungi naera dari kai, mereka berlari kecil mengelilingi rumah, tawa riang dari ketiganya menggema di ruangan, naera yang sudah tidak sanggup lagi berhenti mendadak, Vin yang ada di belakangnya dengan cepat memeluk Naera , melindungi naera dari kai yang berperan sebagai penjahat.
naera bersembunyi di dada bidang Vin memeluk erat Vin agar kai tidak dapat meraihnya, kai akhirnya menyerah dan masuk ke dalam kamarnya, Vin dan Naera masih dengan posisi yang sama, naera sedikit mendongak menatap wajah Vin yang lebih tinggi darinya.
tangan Naera refleks terangkat untuk menyeka keringat di wajah Vin, sedangkan Vin masih merangkul pinggang naera.
"kamu senang" tanya Vin yang masih memandang wajah Naera, naera tersadar dan melepaskan diri dari pelukan Vin, naera kembali melanjutkan masakannya yang sempat tertunda tadi.
"sudah lama aku nggak liat kamu ketawa sepuas itu nae" monolog Vin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman
__ADS_1
"maaf telah merebut karena pernah merebut tawa itu darimu" lanjut Vin bergumam sendiri.
...
Akhirnya Naera selesai dengan masakannya, Vin membantu Naera menyiapkan Makanan di atas meja.
"enak nggak nak"
"enak banget mah, kai suka" naera tersenyum bahagia mendengarnya
selesai makan Vin membantu Naera mencuri piring bekas makan mereka, sebenarnya naera sudah melarang ,takut Vin telat ke kantor, tapi Vin keras kepala dan berakhir bajunya terkena siraman air cuci piring.
"kan aku sudah bilang, nggak usah, liat, baju kamu jadi basah gini"
naera membantu Vin mengeringkan kemejanya dengan tisu, tapi sepertinya kemeja itu tidak akan kering, cukup banyak terkena air.
"mending ganti aja deh Vin, basah gini nggak enak di pakainya"
"nggak usah nae, sebenar lagi aku juga dah balik
"keras kepala banget sih kamu Vin, apa susahnya sih tinggal ganti baju doang"
Vin tersenyum mendengar Omelan naera, Vin begitu merindukan hal ini, Omelan naera.
"ketawa, apa yang lucu"
"kamu "
"aneh"
"emang "
naera yang sudah kesal lebih memilih pergi dari sana ketimbang berlama lama di hadapan Vin, bisa bisa wajahnya memerah karena emosi
Vin mengekor di belakangnya, ikut masuk ke dalam kamar
"kenapa ngikutin aku, bukannya ke kantor, sana"
"tadi katanya ganti baju"
"bukannya nggak usah ya?"
naera duduk di meja riasnya menatap pantulan Vin dari cermin besar di depannya
"mana Baju ku, aku mau ganti baju nae"
"ambil sendiri sana, tadi mau diambilkan katanya nggak usah" kesal Naera sambil menghapus makeup tipisnya, Vin membuka lemarinya, meraih ke meja baru di sana, Vin mengganti pakaiannya di belakang Naera, naera bisa melihat dengan jelas otot perut Vin dari pantulan Vin di cermin.
"kamu liatin apa nae" goda Vin yang sudah selesai mengancingkan bajunya
"a__apa nggak ada ko"
Vin tidak bisa lebih lama menggoda Naera, ia melangkah lebih dekat di samping Naera, mencium pipi kiri naera, ia juga berbisik tepat di telinga Naera sebelum pergi.
"nanti malam yaa" goda Vin jahil
__ADS_1
naera mendengus kesal, melempar kapas pembersih di tempat sampah.
...Kayanya nih cerita makin kesini makin kesana aja alurnya, wkwkwk, ok ok tinggal beberapa bab lagi tamat...