Antara Rasa Dan Luka

Antara Rasa Dan Luka
Mimisan


__ADS_3

Setelah makan Vin duduk di ruang keluarga bersama mertuanya sedangkan naera menyiapkan teh hangat untuk di sajikan pada keluarga nya.


"Minum yah" ucap naera setelah meletakkan satu cangkir teh di hadapan ayahnya.


Naera duduk di lantai bersama kai yang asik dengan mainan nya.


"Makasih nak" ucap ayahnya


"Nae, muka kamu pucat banget nak"


Semua mata kini menatap naera yang mulai panik mendengar ucapan ibunya


Bahkan Vin yang tadi duduk di samping ayah mertuanya menghampirinl sang istri yang duduk di bawah.


"Kamu sakit sayang, wajahmu pucat banget"


Vin begitu kawatir melihat wajah pucat naera.


"Ga papa Vin aku cuman pusing ajako mungkin kelelahan"


Naera tetap berusaha tersenyum menujukan bahwa dirinya memang benar baik baik saja. Padahal sejak mereka pulang dari taman.naera sudah pusing kepalanya berdenyut hebat.


"Nak, kamu baik baik aja kan"


"Iya ,ayah nae ok ko"


"Mending kamu istirahat aja nak , Vin temenin istri kamu nak ke kamar"


"Iya mah"


Vin membantu naera berdiri, belum juga naera berdiri Vin di kejutkan dengan tetesan darah yang jatuh mengotori karpet berwarna putih tulang milik mertuanya.


Vin terkejut darah Siyapa itu, di tatapnya wajah naera dan alangkah terkejutnya Vin melihat darah segar mulai menetes dari rongga hidung naera


"Sayang, hidung kamu berdarah" suara Vin mulai meninggi bukan karena marah tapi takut dan kaget melihat keadaan istrinya


Kedua orang tuanya juga ikut duduk di sampingnya, menatap lekat wajah putrinya.


Bahkan kai yang tadi sibuk dengan mainannya kini menangis histeris melihat keadaan ibunya


"Naera dengan cepat menghapus darah yang keluar dari hidung nya,


"Jangan menangis nak, mamah tidak papa"


"Hidung mamah berdarah,huwaaaa, mamah"


Keadaan yang awalnya hangat menjadi kalut.


"Nae, kita kerumah sakit sekarang"


"Ga usah Vin , ini cuman efek sakit kepala aja, ga usah panik aku ga papa cuman Pusung aja"


"Apanya yang ga papa sih nae, mukamu pucat, kaya gini"


"Iya, nak kita kerumah sakit yaa"


"Ga usah mah nae ingin tidur aja,


Kepala nae pusing"


"Nae"


Naera menyentuh tangan Vin , yang sejak tadi menggenggam erat tangan kirinya.


"Aku ga papa sayang, aku cuman butuh istirahat, nanti juga pusing nya hilang"

__ADS_1


Vin tidak bisa memaksa , dan akhirnya menuruti kemauan naera


Tangan Vin dengan lembut menghapus bekas darah dari rongga hidung naera, darahnya sudah tidak keluar lagi, hanya menyisakan bekas di sana.


Kedua orang tua naera saling tatap dan kemudian menatap naera, naera yang paham maksut tatapan mereka dengan cepat menggeleng memberi isyarat kalo dia tidak papa


Kai yang tadi histeris kini duduk seperti anak koala di pangkuan Naera, memeluk erat leher sang ibu.


"Kai tidurnya sama nenek sama kakek ya nak"


Kai yang masih terisak hanya mengangguk mengiyakan ucapan naera.


"Udah jangan nangis, mamah ga papah"


Tangan lembut naera terangkat mengusap pelan punggung kai yang naik turun karena menangis


"Kita istirahat" ajak Vin


Kai anak yang pintar, setelah tenang, kai turun dari pangkuan Naera dan duduk di pangkuan Dewi neneknya. Dia paham ibunya butuh istirahat sekarang, dan tanpa cerewet membiarkan ayahnya menuntun ibunya masuk ke dalam kamar.


Vin membantu naera tidur di atas ranjang setelah membersihkan bekas darah yang mengotori pakaian istrinya.


Wajah Vin nampak begitu kawatir melihat kondisi naera, berbeda dengan naera yang malah tersenyum jahil gemes melihat ekspresi suaminya


"Kenapa malah tersenyum seperti itu"


"Kenapa emang, kamu lucu "


"Nae jangan bercanda wajah mu pucat harusnya kita kerumah sakit"


"Jangan lebay Vin aku ga papa"


Vin ikut berbaring di sebelah naera membenarkan selimut yang menutupi tubuh mereka.


Vin menarik naera agar lebih dekat dengannya.


"Apa masih sakit"


"Sudah mendingan, aku suka sentuhan mu di atas kepala ku membuat rasa nyerinya hilang"


"Kamu membuat ku kawatir aja nae"


"Apa sering seperti ini"


"Emm, 2 Kali" bohong naera


"Kenapa tidak pernah bilang, besok kita harus periksa aku takut mimisan kamu itu bukan mimisan biasa"


"Ga perlu Vin, aku sudah kedokter ko, dan dokter bilang itu wajar kalo suhu tubuh sedang meningkat"


Lagi lagi naera berbohong, memang apa yang bisa naera lakukan sekarang selain berbohong, naera takut Sangat takut jika suaminya tau kebenaran kondisinya yang memperihatinkan, apa lagi mertuanya tau bisa bisavin di paksa meninggalkan dirinya dan di tendang jauh dari kehidupan Vin


Naera menggeleng membayang kan saja naera tidak sanggup, apa yang akan terjadi jika dia hidup tanpa Vin juga kai.


"Syukur lah" Vin merasa lega mendengar kalo naera Hanya mimisan biasa.


"Apa masih sakit"


"Sudah mendingan"


"Jangan buat aku Kawatir lagi ok"


" Hemm"


" Vin mendekap tubuh kecil naera yang semakin hari semakin kurus, tanpa Vin sadari perubahan fisik naera.Vin meletakkan dagunya di atas kepala naera, tangan nya mengusap punggung naera, sedangkan naera mencari kehangatan di dada bidang Vin, tempat Kesukaan nya"

__ADS_1


"Kalo kepalanya sakit lagi bilang yaa, jangan di tahan sendiri "


"Hemmm"


Pelukan itu tidak terlepas sampai mereka sama sama masuk ke alam mimpi bersama, sesekali Vin terjaga dari tidurnya hanya untuk memastikan naera tidak merasa sakit lagi di kepalanya, Vin juga mengusap kepala naera dengan lembutnya.


.......


Besoknya mereka kembali ke Jakarta, di dalam mobil yang melaju di penuhi gelak tawa dari keluarganya kecil Vin , hangat tentu saja, kai putra semata wayang mereka dengan antusias menceritakan kejadian lucu saat dia tidur dengan kakek neneknya.


Begitulah suasana di dalam mobil mewah milik Vin, hingga akhir mobil mereka sudah terparkir rapi di halaman rumah.


Naera turun dengan kai di dalam gendongannya, di susul Vin dengan menenteng barang barang bawaan mereka.


Naera melangkah kan kakinya ke kamar kai, anaknya itu sudah tidur 5 menit sebelum mereka sampai kerumah.


Naera menidurkan tubuh kecil itu di atas ranjang.


Setelah selesai dengan kai, naera turun menemui Vin yang membereskan barang-barang bawaan mereka.


"Biar aku aja Vin, kamu istirahat aja"


"Ga papa , ini juga udah mau selesai"


"Mau minum teh"


Vin mengangguk, dengan cekatan naera membuat kan teh hijau kesukaan Vin dan meletakkan nya di atas meja makan di depan Vin.


"Makasih sayang"


Naera menyunggingkan senyum manisnya dan ikut duduk di dekat Vin.


"Nae"


"Iyaah"


"Kalo aku ajak kamu ke Festa pernikahan Mamah papah lagi Gimana, Kita sudah 2 tahun tidak ikut merayakan Festa itu"


Naera menatap lekat wajah Vin, banyak keraguan di sana, ajakan Vin bukan hal mudah ia terima, kembali ikut berpartisipasi dalam acara mertuanya itu membuat Naera mengingat kembali kejadian menyakitkan yang pernah ia alami 2 tahun silam. Bukannya menolak karena sikap keluarga Vin belum bisa menerima kehadirannya hanya saja kehadiran itu yang membuat Naera ragu mengiyakan ajakan Vin, sulit memang jika seseorang sudah terlanjur hilang kepercayaannya maka akan sulit mencari kepercayaan itu kembali


Vin menggenggam jemari naera yang saling terpaut di atas pangkuannya, Vin juga merapikan anakan rambut naera ke belakang telinga.


"Sayang kalo kamu belum siap aku juga ga akan maksa" sebenarnya Vin Selalu di desak orangtuanya untuk ikut dalam Festa hanya saja melihat kondisi naera yang tidak memungkinkan Vin ragu bisa ikut berpatisipasi walaupun hanya untuk sekedar hadir memberikan selamat, Vin juga tidak pernah pergi sendiri, baginya trauma yang naera alami merupakan rasa sakit untuknya,Vin begitu menyayangi naera jika naera terluka Vin ikut merasakan sakit, apa yang di derita naera Vin juga merasakannya.


Lama bungkam naera melipat bibir bawahnya, berusaha memikirkan jawaban terbaik untuk suaminya, dia tau jika ia dan Vin tidak hadir lagi Dalam acara tersebut ibu mertuanya akan datang memberikan makian juga hinaan padanya, menganggap naera lah yang membuat anak tercintanya tidak menghargai dirinya.


"Vin kita akan ikut dalam acara mamah papah" jawab naera menatap lekat wajah Vin


"Kamu yakin"


"Iyaah" jawaban singkat naera setelah nya Naera mendekap erat tubuh suaminya itu, menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, Vin mengusap kepala Naera, sebenarnya ia tidak ingin membuat Naera terpaksa menerima tawaran orangtuanya tapi ia juga tidak tega jika terus terusan absen dalam acara penting mereka.


"Kamu tenang aja, aku ga akan ninggalin kamu , aku akan terus jaga kamu juga kai"


"Janji"


"Iyaah, sayang aku"


Vin melonggarkan pelukannya, tangannya ia letakkan di wajah i Naera, matanya menatap lekat wajah sang istri


"Cantik"


"Gombal" naera ingin bangkit dari duduknya tapi dengan cepat Vin mencekal lengannya, tidak sampai di situ Vin menggendong naera ala bridal style


"Vin, turunin aku"

__ADS_1


Vin menggeleng dan terus mengumbar senyum menawannya, mengangkat tubuh wanita itu, menapaki setiap anak tangga di rumah mereka Hingga sampai di depan kamar yang bernuansa hitam putih itu. Vin tidak menurunkan tubuh naera ia menutup pintu kamar dengan bantuan kakinya,sebisa mungkin mengunci kamar memastikan kai tidak terbangun dan membuka pintu kamar mereka.


__ADS_2