
...Kenapa takdir seakan mempermainkan ku, aku seakan di letakkan di dasar yang paling dalam...
"enak ngga"
"Enak, apapun yang kamu masak Selalu enak"
Tangan Vin masih sibuk dengan sendok dan garpu nya. Matanya juga masih fokus menatap makanan di depannya. Jadi tidak melihat naera yang menatap nya
"Kamu sudah makan"
"Belum"
"Belum?"
"Emm, nanti aja sama kai"
"Sini aku suapin"
Vin menyodorkan sendok berisi nasi juga lauk ke arah naera
"Kamu aja Vin , aku nanti aja"
Vin tetap menyodorkan sendoknya
"Ayo nae, tangan aku sakit juga niyh Lama lama di abaikan"
Naera mengalah, dan membuka mulutnya,Vin tersenyum kemenangan karena sudah berhasil membuat naera makan
Naera menatap seksama ruangan Vin yang terlihat sangat besar, tidak ada perubahan dari yang terakhir kali dia lihat beberapa tahun lalu.
"Kenapa nae"
"Kamu ga pernah Nata ulang ruangan kamu Vin"
"Engga, aku suka dan ga ada juga yang harus di ubah"
"Kamu sudah nyaman sama ruangan kamu"
"Iyaa, kamu kaya baru kenal aku aja nae"
"Kamu kan tau kalo aku sudah nyaman sama sesuatu aku ga akan pernah merubah atau mengganti dengan yang baru"
Naera meremas ujung baju yang dia kenakan, kenapa kara kata yang baru Vin ucapkan membuat nya sadar dan ingat dengan ucapan ibu mertuanya.
Naera menunduk , mengigit bibir bawahnya, perasaan yang tadi bahagia seketika berubah hanya karena beberapa kalimat yang keluar dari mulut Vin.
"Nae"
"Hem"
Naera mengangkat kepalanya, matanya dan mata Vin salib beradu, Vin menatap naera heran, Vin bisa merasakan Perubahan suasana hati naera .
"Kenapa, ada yang salah"
"Ucapan ku ada yang nyakitin hati kamu"
Naera menggeleng, naera sendiri juga bingung ada apa dengan nya, kenapa dia jadi sensitif seperti ini
naera merapikan kembali tempat makan yang di gunakan Vin.
Tangan nya terhenti ketika Vin mencekal lengannya nya, naera melihat sorot mata Vin yang di penuhi tanda tanya
"Kenapa" ucap pin lembut
Naera melepas tangan Vin dari pergelangan tangannya, berbalik sepenuh nya kearah Vin, naera memeluk Vin menyandar kan kepalanya ke dada bidang Vin
Vin mengusap lembut Surai hitam naera yang tergerai indah
"Ada masalah, cerita sama aku, jangan di pendam sendiri"
Naera mengeratkan pelukannya sesekali wajahnya mengesek dada bidang Vin
"Nae"
Naera mengangkat kepalanya agar dapat melihat Vin
"Aku tidak mau kehilangan kamu Vin, kamu dan kai dunia ku, tidak akan pernah kubiarkan siapapun merebut kalian dari aku"batin Naera
" Ga papa Vin" cuman itu yang sanggup naera ucapkan
Vin mendarat kan bibirnya ke pipi naera secara bergantian, kemudian ke hidung dan berakhir di bibir ranum merah muda milik naera
Hanya saling menempel tidak ada yang lain.
"Aku boleh di sini aja kan Vin sambil nunggu jam pulang sekolah kai"
"Kamu tidak perlu ijin untuk itu nae"
Dreet
Dreet
Drett
Ponsel Vin berdering , tanpa melepaskan pelukannya Vin merogoh saku celananya.
Nama Clara tertera jelas di layar ponsel Vin, tanpa ragu Vin menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilan nya.
"Siyapa Vin"
"Bukan siyapa siyapa"
"Kenapa tidak di angkat"
"Ga penting juga"
Dreet
Drett
Drett
Lagi dan lagi ponsel Vin berdering
Kali ini naera melepaskan pelukannya, menegakan kembali posisi duduknya
"Angkat Vin nanti penting loh"
Vin mengeser tombol hijau, dan berucap lantang
__ADS_1
"Saya sedang bersama istri saya, bisa berhenti menelpon"
Vin langsung memutus panggilan secara sepihak, panggil dari Clara tentunya
Wanita itu tidak pernah berhenti menelpon Vin, Vin sudah janji akan melupakan Clara dan menjadi kan naera wanita satu-satunya dihidupinya.
Naera terkekeh melihat Vin
"Ganggu aja" ucap Vin dan meletakkan kembali ponselnya di dalam saku celana
..........
Terlalu lelah , naera tertidur di sofa ruangan Vin, Vin menyelimuti tubuh naera dengan jasnya
Sedangkan Vin melanjutkan pekerjaannya dengan berkas berkas yang menumpuk di atas meja
Naera memicingkan matanya setengah merasakan pipinya di elus dengan lembut
Naera membolakan matanya sadar akan sesuatu yang ia lupakan
"Astaga jam berapa Vin ,kai aku lupa"
Naera bergegas berdiri tapi lengangnya langsung di cekal Vin
"Tenang dulu nae"
"Vin aku harus jemput kai"
"Mamaaah"
Teriak kai dari depan pintu, bersama seorang pria, sekertaris Vin
Pria itu kembali menutup pintu dan kai berlari memeluk naera
Naera merendahkan tubuhnya agar mudah menggendong Kai
"Kamu yang jemput Vin"
Vin mengangguk
"Kenapa ga bangunin aku Vin"
"Kamu tidur nya lelap banget nae aku jadi ga tega banguninnya"
"Maaf, ya Vin pasti kamu kerepotan"
"Engga lah nae,kai anak aku juga, aku ga ngerasa anak aku ngerepotin"
"Tapi kan biyasanya itu kerjaan aku Vin"
"Naee, aku suami kamu , aku ga suka kalo kamu ngomong sudah ngerepotin aku , engga sama sekali nae"
Kai yang berada di gendong naera merentangkan tangannya ke arah Vin, Vin mengambil alih kai dari gendongan naera.
"Sudah sore kita pulang" ucap Vin lagi
"Aku bawa mobil Vin"
"Mobil kamu biar Erdan yang bawa, kita pulang bareng"
Naera hanya mengangguk.
...........
Kai yang duduk di pangkuan naera , terlelap mungkin terlalu lelah bermain saat di kantor papahnya.
Naera menatap jalanan dari kaca mobil di sampingnya. Melihat beberapa pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan
"Vin,Vin, berhenti dulu"
Naera memukul mukul lengan Vin.
"Ada apa nae"
"Sebentar aku pengen beli batagor"
"Batagor,kamu tunggu sini aja biar aku yang beli"
Naera mengangguk
Dreet
Dreet
Drettt
Ponsel Vin yang sebelumnya di letakkan di dasbor mobil berdering lagi, walaupun naera penasaran tapi Naera tidak mau lancang melihat ponsel milik Vin
Sampai akhirnya ponsel itu berhenti berdering.
Dreet
Drett
Drett
Lagi dan lagi ponsel Vin berdering, sama seperti sebelumnya naera tidak mau bersikap lancang , walaupun Vin suaminya naera tidak akan melihat apalagi mengangkat ponsel milik Vin.
Sampai akhirnya Vin kembali ke mobil dengan membawa 2 bungkus batagor , mata naera berbinar melihat Vin.
"Kita makannya di rumah aja ya"
"Iyaa" jawab naera
"Vin, ponsel kamu dari tadi bunyi"
Vin seketika gugup, takut yang menelpon Clara lagi dan naera melihatnya
"Kamu lihat siyapa yang nelpon"
Naera menggeleng, dan membenarkan posisi duduk kai di atas pangkuannya karena sedikit merosot
"Paling juga Erdan"
Vin kembali menjalankan mobil nya , dengan perasaan lega
...........
Selesai menidurkan kai,naera kembali keruang keluarga dengan membawa satu bungkus batagor yang tadi di beli vin
__ADS_1
Tidak lupa satu gelas air hangat
Naera meletakkan nampan nya di atas meja dan duduk di lantai, Vin juga ikut duduk di lantai di samping naera.
Naera menyuapi Vin terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri.
Naera mengunyah batagor nya dengan ekspresi bahagia
Tangan Vin terulur membersihkan sudut bibir naera yang sedikit kotor karena kuah batagor
"Kamu suka"
"Iyaaa Vin"
"Tumben biayasa nya kamu ga terlalu suka kacang"
"Entah , beberapa hari ini pengen makan sesuatu yang ada kacangnya terus"
Naera kembali menyuapi Vin
"Lama ibu jari Vin menempel di bibir naera, menatap lekat mata bening naera. Kemudian tangan.vin merapikan anakan rambut naera ke belakang telinga.
"Nae"
"Emm"
"Cantik"
Pipi naera bersemu merah karena gombalan Vin, naera memalingkan wajahnya kembali menatap batagor di depannya.
Vin tersenyum melihat naera bersemu malu.
"Nae"
"Apa Vin, jangan membuat ku salah tingkah seperti ini" naera terlalu jujur pada Vin membuat Vin terkekeh melihat nya, naera terlihat gemas kalo di goda seperti ini
"Vin"
"Kamu pernah pacaran sebelu menikah dengan ku"
Terkutuk lah mulut naera , bisa bisanya pertanyaan seperti itu keluar dari bibir yang baru saja di usap lembut oleh vin
Vin yang mendengar pertanyaan dadakan naera mengenai masa lalunya dibuat kebingungan
Vin mengerutkan keningnya , heran
"Pernah" jawab Vin singkat
Hening sesaat, naera yang lebih dulu memulai pertanyaan malah bungkam mengutuki dirinya sendiri.
"Kapan terakhir kali kamu menjalin hubungan"
Sudah terlanjur juga kata naera, jadi biar sekalian,
"Kenapa tiba tiba bertanya seperti itu"
"Yaa, engga aku cuman mau tau aja emang ga boleh, kan aku sudah pernah cerita sama kamu, kalo kamu orang pertama yang mengisi hatiku, terserah kamu percaya atau engga tapi aku sudah jujur, nah sekarang aku yang mau tau tentang kamu ,ga salah kan"
Pembelaan yang sempurna
Naera menatap wajah Vin yang kebingungan harus menjawab apa.
"Nae"
"Apaa"
"Harus banget yaa, dijawab"
"Yaa terserah kamu Vin, aku juga ga maksa ko"
Vin menghembuskan nafas kasar, mungkin naera juga bisa mendengar helaan nafas Vin
Vin menyibak rambutnya ke belakang,sebelum menjawab pertanyaan naera
"Sebelum kita manikah"
"Kenapa kalian berpisah, kenapa kalian tidak menikah, kenapa kamu malah menikah dengan ku"
Vin semakin di buat bingung dengan pertanyaan bertubi tubi dari naera
Naera meneguk air minum untuk mengurangi kegugupan nya, andai Vin duduk lebih dekat dengan nya pasti Vin bisa mendengar degupan jantung naera yang tidak normal
Naera meletakkan kembali gelasnya di atas meja, Vin memperhatikan sikap naera yang tiba tiba aneh ,
Usia pernikahan mereka hampir 6 tahun lamanya, dan baru kali ini naera menanyakan mengenai masa lalu Vin , bukan cuman sekedar bertanya tapi Vin merasa naera sedang mengintrogasi dirinya.
"Sebelum kita menikah aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang, hubungan kami berjalan cukup lama" ucapan vin terhenti, Vin perlu pasokan udara lebih banyak
"Tapi kami berpisah karena satu alasan"
"Kenapa" tanya naera lagi, sesak sebenarnya saat Vin menceraikan seseorang dari masa lalu Vin yang jelas naera sudah tau siapa orang itu
"Di pergi saat aku melamarnya, dia lebih memilih karir dari pada menikah"
"Lalu mamah mencarikan sosok pengganti untukmu, tapi kamu menolak nya dan lebih memilih menikah dengan ku"
"Ada apa sebenarnya dengan mu naera"
"Iya kan Vin, kamu cuman harus jawab iya atau tidak Vin"
"Apa sebenarnya maksud mu nae, katakan dengan jelas jangan bertele-tele seperti ini"
Vin mulai emosi tapi masih menjaga intonasi suaranya
"Apa kamu masih mengingat nya, atau lebih bahkan"
"NAERA!!!" Vin mulai kehilangan kesabarannya tanpa sadar membentak naera
Bagi Vin pertanyaan naera sudah keterlaluan, naera seakan mempertanyakan kesetiaan nya selama ini. Sudah jelas Vin sangat mencintai nya apa harus naera mempertanyakan ketulusan nya lagi
Bukan juga salah naera, pertanyaan konyol itu tidak akan pernah muncul jika keren tidak pernah memancing rasa penasaran naera
Suasana yang tadinya hangat, di penuhi gombalan vin, berubah tegang
"Aku lelah,aku ke atas dulu"
Naera berdiri dengan nampan di tangan nya meninggalkan vin sendiri.
............
__ADS_1