
Di kantor __naera memulai pekerjaannya dengan menyiapkan laporan harian yang harus di tandatangani Daffa.
naera menutupi bekas kebiruan di lehernya dengan pondesyen, tidak lucu sampai ada orang yang menanyakan bekas apa itu, secara mereka tau selama naera bekerja di sana , naera hanya hidup berdua dengan anaknya, tanpa pernah menceritakan di mana suaminya.
Naera menyadarkan tubuh lelahnya di punggung kursi, hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, sampai jam waktunya kai pulang sekolah, naera belum ada makan siang sedikit pun, naera bergegas untuk menjemput anaknya.
Sesampainya ia di sekolah kai ternyata sudah ada Vin yang lebih dulu di sana, naera mendekati Vin yang duduk melamun menunggu anaknya
Vin melihat intens pada Naera yang duduk di sebelahnya.
"Dari tadi ?" naera berbasa basi
"emm" jawab Vin singkat
"nae kamu kerja di mana"
"apa urusannya dengan mu"
"aku hanya bertanya nae, emang salah yah"
"ga semua harus kamu tau Vin, hubungan kita sekarang sudah beda, kamu mengerti kan maksud ku Vin" Vin mengangguk dan kembali fokus menatap taman bermain kosong di depannya
"kabar mamah papah gimana ?"
"mereka sehat, merek selalu menanyakan kamu dengan kai, mereka ingin meminta maaf dengan mu, entah kapan mereka bisa mendapat kesempatan itu"
"Aku sudah memaafkan mereka, jauh sebelum hari ini, setiap kali mamah kamu nyakitin aku, di hari yang sama aku selalu melapangkan dada untuk setiap perlakuannya pada ku"
naera menatap Vin sekilas dan ternyata Vin juga menatapnya, tatapan mereka bertemu, cukup lama ha itu terjadi, sampai naera lebih dulu mengalihkan pandangannya, suasana di antara mereka menjadi canggung.
"maafin aku yah, maaf kan keluargaku juga, terlalu banyak luka yang kami beri untuk kamu, tapi kamu masih mau memaafkan kami, sebenarnya hati kamu terbuat dari apa sih nae"
"kamu memang nggak pantas untuk pria brengsek seperti aku " Vin menunduk
"aku bukan wanita baik, dan kamu bukan pria sempurna, kita bisa belajar dari pengalaman rumah tangga kita Vin, agar kedepannya kita bisa lebih baik lagi"
__ADS_1
"dan Untuk apa menyimpan dendam Vin !!, nggak guna juga buat aku, semua rasa sakit yang aku terima membuat ku belajar banyak hal, tentang ketulusan cinta, tentang ke ikhlaskan, tentang pengorbanan__ aku jadi banyak belajar dari semua yang terjadi di hidupku, enggak semua yang kita inginkan harus kita miliki, Aku belajar menjadi lebih dewasa menyikapi permasalahan, dan memaafkan"
Naera menyibak rambutnya ke belakang, sekarang Vin bisa melihat dengan jelas wajah Naera dari samping, iyaa__ dari tadi Vin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Naera, Vin terenyuh mendengar ucapan Naera, Vin merasa benar benar bodoh menyakiti wanita sebaik naera
"Nae aku belum pernah mengucapkan terima kasih ke kamu, karena kamu sudah rela mendonorkan ginjal kamu ke aku, kamu memberikan hidup baru untuk ku"
"kamu pria yang berarti di hidupku Vin, walaupun pernikahan kita baru berjalan beberapa bulan, aku begitu takut kehilangan kamu, aku akan lakukan apapun untuk kamu meski nyawaku yang menjadi taruhannya "
"Kamu sakit dan kamu nggak pernah cerita ke aku nae, Kenapa kamu pendam sendiri sakitnya " Vin bertanya lirih
"a__aku hanya takut kamu pergi, a__aku takut kamu ninggalin aku karena aku wanita yang berpenyakit, aku takut mama kamu nyuruh buat ninggalin aku, aku takut kehilangan kamu Vin, aku takut "
entahlah naera juga tidak tau kenapa ia menangis, terlalu sakit rasanya membahas mengenai masa lalu lagi, terlalu sulit melupakan semuanya, tidak mudah menghilangkan Trauma yang amat menyiksa.
Vin bergeser lebih dekat dengan naera, Vin menghapus air mata Naera, dan memeluk wanita itu, naera tidak menolak, tapi air matanya tidak berhenti untuk mengeluarkan airnya
"maaf" ucap Vin lagi, kemudian menenggelamkan wajahnya ke celuk leher Naera.
...
Keadaan mobil Vin tenang, tidak ada obrolan hangat yang biasa keluarga kecil itu lakukan seperti sebelumnya, orang dewasa itu hanya diam, kecuali kai yang terus mengoceh__ menceritakan betapa bahagianya dia bisa mengenalkan Vin pada teman-temannya
"Kamu nggak boleh telat makan nae, asam lambung kamu bisa Naik" Vin terlihat begitu kawatir setelah tau di jam segini siangnya, tapi Naera belum makan juga
"tadi banyak kerjaan di kantor aku nggak sempat makan"
"kita makan siang dulu baru aku antar kamu ke kantor" lagi lagi Naera hanya mengangguk.
..
Mereka memesan menu yang sama, mereka menikmati makanan mereka tanpa ada obrolan di sana
"kai biasanya ikut kamu ke kantor nae ?"
"iya aku ajak kai ke kantor kalo dia lagi cerewet nggak mau di bawa ke rumah penitipan anak, atau enggak aku bawa dia ke rumah Hana, kai anak yang pintar dia juga nggak macam macam, jadi Hana bisa menjaganya"
__ADS_1
"hari ini aku yang bawa kai ke kantor"
"apa enggak ngerepotin kamu "
"aku justru senang nae, menghabiskan waktu bersama kalian"
"ya udah terserah kamu aja, langsung pulang jangan mampir mampir lagi"
"iyaaa" jawab Vin
..
"udah Vin di sini aja"
"loh ko gitu nae, biar aku antar sampai kantor kamu "
"nggak usah, takut karyawan lain di sana liat, apa kata mereka __ aku Tiba di antar pria, selama ini mereka tau aku hanya tinggal berdua dengan kai, aku nggak mau mendengar kabar miring tentang ku"
"kenapa ? kamu bisa bilang ke mereka kalo aku suami kamu nae, Kita masih sah Suami istri, emang salah kalo aku ngantar kamu "
mereka berusaha memelankan suara karena kai sudah tertidur di kursi belakang
"apa __ada hati yang kamu jaga" lanjut Vin, naera langsung menatap wajah Vin, tidak suka dengan ucapan Vin
"aku nggak kaya kamu Vin, bisa menaruh dua nama di satu hati, aku bukan wanita semurahan itu" malas berdebat naera segera turun dari mobil Vin dan segera naik ke taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Vin terus memperhatikan naera Hingga wanita itu hilang dari pandangannya
Vin menyibak rambutnya prustasi.
"Dengan tidak langsung kamu mengakui kalo aku masih ada di hati kamu nae" Vin memukul setir mobilnya
"tapi kenapa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali aja untuk memperbaiki semuanya, kenapa nae, apa aku harus berlutut di hadapan kamu demi bisa mendapatkan kepercayaan kamu lagi"
Vin menatap wajah anaknya yang tertidur pulas, Vin tidak sanggup melihat wajah anaknya, vin tidak ingin anaknya kehilangan kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya, hati Vin begitu sakit saat tau anaknya sering di ledek hanya karena Vin tidak pernah mengantar jemput kai di sekolah.
"papah janji nak, papah akan mendapatkan kepercayaan mamah kamu lagi, kira akan berkumpul lagi, papah janji sayang "
__ADS_1
Vin kembali melajukan mobilnya untuk sampai ke kantor.
...