
Di dalam kamar mandi , naera menumpahkan semua keluh kesahnya, rasa takutnya, air matanya, kenapa begitu sakit hanya dengan mencium bau wanita lain di tubuh sang suami, bagaimana jika apa yang selalu ia singkirkan dari pikirannya ternyata benar, apa yang akan terjadi padanya, apa ia masih bisa menghirup oksigen, apa ia masih bisa berjalan dengan tegap, jika hanya dugaan saja membuat hatinya sesak.
"cucuran air mata terjatuh bercampur dengan tetesan darah yang ikut mengalir dari rongga hidungnya, ketukan pintu tidak ia hiraukan
"naera, masih lama yaa "
"kamu ga ketiduran kan nae"
naera ingin berteriak tepat di wajah Vin sekarang, naera ingin mendengar kejujuran dari mulut Vin malam ini juga, naera lelah jika terus memendamnya sendiri, naera ingin memaki wanita bernama Clara, naera ingin menjambak rambutnya,
"nae, kamu bisa sakit , jika terlalu lama berendam"
naera membuka pintu kamar mandi, menarik Vin masuk, memastikan mengunci pintunya, takut takut kai terbangun membuka pintu kamar mandi dan menyaksikan adegan yang tidak seharusnya ia lihat
...
naera mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut sedangkan vin duduk menghadap Naera dengan handuk di atas kepala, Vin tersenyum jahil mengingat betapa agresifnya naera saat menariknya masuk untuk mandi bersama
"kenapa senyum, apa yang lucu"
naera berjalan mendekat berdiri di depan Vin, dengan telaten naera mengeringkan rambut suaminya
"kamu yang lucu"
"kenapa, aku"
"iyaa, kamu lucu agresif"
naera berdecak kesal, naera ingin kembali meletakkan pengering rambut ke meja tapi Vin menahannya dengan memeluk pinggangnya, Vin menciumi perut rata naera di Balik Baju kaos yang di kenakan naera, tangan Naera terulur mengusap rambut hitam Vin
"sabar sayang,belum ada apa apa di dalamnya"
"aku ga sabar pengen gendong bayi perempuan
"Iya aku tau"
"pokonya pulang dari rumah mamah kita bikin lagi sampai jadi"
"iyaaa, atur ajaa, aku ngikut aja"
"viiin makan malam dulu nak"
"iyaa mah, sebentar"
"Yoo kita makan nae"
"kamu aja Vin, aku ga laper"
__ADS_1
Vin tau betul alasan naera menolak, Vin mendudukkan naera di pangkuannya, hanya ada mereka di dalam kamar, kai sedang bermain bersama sepupunya
mereka saling memandang, Vin mencium tangan Naera yang sejak tadi mengusap wajahnya
"kamu ga perlu kawatir kan ada aku"
"aku ga lapar Vin"
"bohong, aku tau betul sekarang kamu menahan lapar, apalagi aktivitas yang baru saja kita lakukan di dalam kamar mandi"
"emang kita ngapain"
"membuat anak" keduanya terkekeh, naera memeluk Vin erat, hatinya sedang tidak karuan sekarang, meski sudah mencoba mengalihkan pikirannya tapi tetap saja Naera merasa tidak nyaman
"kita makan yaa, ga usah peduliin mamah, kan ada aku , kamu tenang aja"
"yah kita makan yah, kamu ga makan, aku juga ga akan makan, biar kita Sama sama lapar sekalian
"iyaa, iyaa, kita makan" Vin mencium pipi naera .
...
Naera ragu duduk di meja makan, seluruh keluarga Vin sudah berkumpul di sana termasuk Clara, lagi lagi keren berulah, keren meminta Clara pindah ke samping Vin, Vin ingin berdiri tapi Clara menahan tangannya dan mengancam Vin,
"mamah " kai mengangkat tangannya, anak kecil itu seakan mengerti kondisi ibunya, naera akhirnya duduk dengan kai di atas pangkuannya di samping Vin.
"kamu mau makan apa nae" perhatian Vin pada Naera mendapatkan tatapan sinis keluarganya termasuk Clara.
Vin tidak peduli dan tetap mengambilkan makan untuk Naera.
tidak ada obrolan hangat di meja makan, Hanya suara sendok yang saling beradu,
naera berniat membantu para pelayan merapikan meja makan,di hentikan oleh Vin,
"ga usah, banyak pelayan di sini"
"tapi Vin aku ga enak, aku sudah makan ga bantu masak lagi"
Vin menarik nafas panjang, bingung sendiri mencari cara membuat Naera mengerti
"iyaaa sayang aku paham, tapi ga usah yaah, kita masuk aja ke kamar, istirahat, besok acara nya akan panjang, kita perlu istirahat"
"Vin biarkan saja, itu kan memang tugasnya, melayani kita disini"
"maksud mamah apa, mamah nganggap naera pelayan di sini" Vin menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya
"kalo iya kenapa, kan memang ia pantas menjadi pelayan"
__ADS_1
air mata Naera tidak dapat di bendungan lagi, ia bukan wanita kuat yang tetap tegar saat di hina di depan suaminya sendiri, naera menyatukan jemarinya dengan jemari Vin, meminta Vin tidak memperpanjang masalah lagi
"udah Vin, ga papa, kita ke kamar aja yah"
"enak aja,cuci piring dulu lah" Clara menyunggingkan senyum liciknya
"MAMAH"
"Vin ga papa, ini ga banyak ko, biar aku cuci, akan sama kaya di rumah, pake alat , jadi tinggal di masukkan terus di tunggu sebentar"
Vin menutup matanya, mencoba mengontrol emosi, takut kelepasan lagi
"ya udah, aku bantu kamu"
keren dan Clara pergi meninggalkan mereka, bukan ini yang mereka inginkan sebenarnya.
selesai mencuci piring Vin menggenggam tangan Naera untuk ikut bergabung dengan keluarganya di ruang tamu, naera sungguh merasa seperti orang asing di rumah mertuanya sendiri, tidak ada sapaan apapun , hanya tatapan sinis yang terus ia dapatkan dari keluarga Vin, Untung selalu ada Vin di dekatnya, Vin tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya.
"Vin mamah udah buatin kue kesukaan kamu, duduk dan makan lah"
"Vin makan di kamar aja mah"
"kenapa , istri kamu merengek lagi?"
"jangan mulai mah"
"mamah kamu itu cuman minta kamu duduk dan makan kue buatannya Vin , kenapa susah sekali " areksa yang akhirnya buka suara
Vin mengalah karena naera yang sudah mulai ketakutan, takut masalah ini pun berkahir panjang,Vin akhirnya duduk, seakan sudah di atur sejak awal Vin duduk bersebelahan dengan Clara
"gimana kerjaan kamu Vin"
"lancar pah"
"masalah di Bandung waktu itu, sudah beres "
"sudah"
"berapa lama waktu di Bandung Vin"
" kurang lebih 3 bulan pah"
"lama juga Lo di sana Vin, betah banget Lo" jehan menimpali
"ya iya lah betah , kan ada yang nemenin "
jantung Vin berdetak kencang sesaat setelah keren mengucapkan hal yang ia tutupi. naera merasakan telapak tangan Vin yang mulai mendingin, setengah mati naera menahan sesak di hati , ia tau kemana arah ucapan keren.
__ADS_1
"iya kan Vin" keren beralih menatap Clara yang sudah tersipu malu.
oksigen seakan hilang di sekitar Vin, lidahnya kelu, ingin menimpali pun seakan sulit.